"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapkan 18
"Run, Are you ok?"
Fitri baru saja di telpon oleh Arundari, sehingga wanita itu segera mendatangi temannya untuk menanyakan kabar.
Di ruang tengah rumahnya, Arundari menceritakan semua yang terjadi. Tak lupa dia juga mengucapkan terimakasih kepada teman terbaiknya itu karena sudah memberi informasi yang sangat berharga.
"Gila ya, aku beneran nggak nyangka dia bakalan sampe nikah,"ucap Fitri geram setelah mendengar semu cerita dari Arundari. "Tapi kamu beneran hebat lho, Run. Kamu bisa tenang begitu. Dan bagus, emang semua yang dia bawa langsung kamu ambil,"imbuhnya.
"Ya sebenarnya aku juga nggak sekuat itu. Apa kamu tahu,Fit. Tanganku juga gemetar hebat. Tapi aku berusaha buat nutupinnya. Gimana nggak gemetaran coba, di sana aku beneran sendirian. Bener-bener single fighter gue, haaah."
Arundari kembali mengenang apa yang dilakukannya tadi. Dia pun tak menyangka bahwa bisa berbuat sejauh itu dan seberani itu.
"Run,"panggil Fitri lirih ketika ia melihat sang teman yang seketika terdiam. "Kalau mau nangis, nangis aja nggak apa-apa. Nggak akan ada yang ngatain kamu lemah atau cengeng kok. Kamu udah bertahan sampai hari ini pun udah hebat banget. Sekarang luapin aja semuanya, tapi setelah itu kamu harus jauh lebih kuat,"sambung Fitri.
Hiks aaaahhh
Tangis Arundari benar-benar pecah. Pertahanannya langsung runtuh ketika Fitri berkata demikian. Dia menangis sejadi-jadinya.
Bukan menangisi Heri tapi menangisi nasib pernikahan yang sudah tiga tahun dibangunnya itu harus kandas juga. Arundari menangisi cinta tulus yang dimilikinya namun dengan tega dinodai.
Tangis yang pecah dan meluap-luap tersebut benar-benar sangat menyakitkan didengar oleh telinga Fitri. Fitri sendiripun tak bisa berkata apa-apa. Dia juga tak mampun menghibur. Sehingga yang dilakukannya hanyalah memeluk sang teman dan mengusap lembut punggungnya.
"A-aku beneran nggak nyangka hiks. Aku nggak nyangka bakalan ada di titik ini. Salah aku apa Fit sampai mereka tega ngelakuin ini ke aku?" Arundari mempertanyakan kekurangan dirinya. Sejauh ini dia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik dan menurut pada suami. Tapi balasan yang diterima malah sebuah pengkhianatan.
"Kamu nggak salah, Run. Kamu nggak ada kurangnya. Bukan karena aku temen mu. Tapi sungguh sebagai istri kamu udah luar biasa baik dan hebat. Bahkan aku aja nggak seberapanya sama kamu dalam hal memuliakan suami. Emang Heri nya aja yang brengsek dan nggak bersyukur. Lalu si pelakor juga kegatelan. Ya kalau nggak gatel, nggak mungkin jadi pelakor sih. Ih gedek banget gue sama tuh cewek. Pengen gue ulek tuh muka sok cantiknya,"jawab Fitri geram.
Sebenarnya sudah sejak lama dia tak menyukai Jelita. Padahal Jelita juga tidak pernah terlibat masalah dengan dirinya. Tapi Fitri benar-benar tidak menyukai wanita itu.
Setiap Arundari membawa wanita itu, Fitri hanya bersikap sewajarnya. Gaya Jelita ketika bersama Arundari, benar-benar seperi adik yang manja dan Arundari pun menanggapi dengan baik.
Mungkin karena Arundari adalah anak tunggal sehingga dia begitu senang dengan sosok Jelita.
Tapi siapa sangka, bahwa kebaikan Arundari malah dimanfaatkan. Siapa sangka Jelita mengincar posisi Arundari.
Haaah
Arundari melerai pelukan Fitri. Dia juga mengusap air matanya dengan cepat dan menegakkan punggungnya.
"Oke sekarang mari bekerja keras buat ngadepin dua kunyuk itu,"ucap Arundari sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Hahahah, gitu dong. Itu baru temenku. Oh iya, kapan kamu akan ngsih tahu abah dan ummi?"
"Setelah semuanya diproses. Aku belum ke pengadilan agama. Setelah laporan di kantor polisi di proses, mereka berdua di BAP. Barulah aku akan ngasih tahu abah sama ummi."
Fitri mengangguk paham. Dia akan setuju saja dengan langkah demi langkah yang dilakukan Arundari.
"Eh iya, entar aku bilangin suamiku lah ya. Biar prosesnya dipercepat. Dan aku baru inget. Nanti ada janji makan malam. Kamu ikut aja ya, Run. Nemenin aku. Aku pasti gabut kalau Paksu ngomongin kerjaan. Jadi kamu ikut aja oke?"
Arundari tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kalau temannya ini adalah istri dari seorang perwira polisi. Tentu saja jika bantuan ditawarkan, dia tidak akan menolak. Karena semakin cepat proses hukum yang berlaku maka semakin cepat juga urusannya dengan mantan suami dan selingkuhannya itu beres.
Tapi Arundari tidak hanya akan bergerak melalui hukum. Enak aja cuma gitu doang, begitulah pikirannya.
Ia akan membuat sebuah gebrakan yang mana tidak pernah dibayangkan oleh Heri dan terutamanya Jelita. Sanksi sosial, dia akan membuat mereka merasakan itu.
"Jadi, ayo kita siap-siap. Kamu ganti baju aja di sini. Ada baju baru tuh yang belum dipakai. Tapi emang suami mu nggak masalah kalau kamu nggak dateng bareng dia?" tanya Arundari kepada sang teman tentang janji makan malam.
"Nggak, aku udah bilang kok ke dia kalau aku lagi ke tempat kamu. Sebagian aku juga udah cerita ke dia, dan dia ngijinin aku buat nemenin kamu dulu. Nanti dia juga paling mampir bentar ke rumah cuma buat ganti baju dan langsung cuss ke tempat yang udah dijanjiin. Dah yuk, siap-siap. Sholat magrib dulu. Kamu udah beres kan haid nya?"
Dua wanita itu berjalan bersama untuk bersiap-siap pergi makan malam. Janji makan malam itu jam 19.00, tapi mereka akan berangkat setelah magrib agar tidak terkena macet.
Keduanya nampak rapi dan anggun. Fitri mengenakan gamis berwarna navy dengan hijab senda, sedangkan Arundari mengenakan gamis dan hijab berwarna hitam. Meski keduanya berwarna gelap namun mereka malah terlihat elegan.
Gamis yang digunakan juga tidak terlalu banyak aksen, atau bahkan lebih terlihat polos. Tapi itu malah tidak berlebihan untuk menghadiri makan malam.
"Lah itu mobil Paksu udah ada,"ucap Fitri sambil menunjuk mobil suaminya.
"Ya udah masuk aja, takutnya udah nunggu lama,"sahut Arundari.
Fitri menggamit lengan Arundari. Keduanya berjalan masuk ke restoran tempat dimana janji makan malam bersama seseorang dibuat.
Ketika sudah di dalam restoran, Fitri melihat sang suami melambaikan tangannya. Ia pun membalas lambaian tangan itu lalu berjalan mendekat.
"Maaf sayang, jalanan dikit macet tadi,"ucap Fitri kepada suaminya.
"It's oke, no problem. Run, gimana kabar?"sahut suami Fitri. Pria itu juga menyapa Arundari.
"Baik Bang Ahmad, alhamdulillah,"jawab Arundari sambil tersenyum lebar.
"Duduk dulu, rekan yang makan malam dengan kita lagi ke toilet. Eh itu dia sudah datang." Ahmad menunjuk orang yang dimaksud. Fitri dan Arundari seketika melihat ke arah yang ditunjukkan Ahmad. Dan betapa terkejutnya Arundari ketika melihat siapa orang yang akan ditemui Fitri dan Ahmada.
"Lho, Pak Adyaksa?"
"Oh Arundari, hahahah."
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣