NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Fahmi

Di sebuah rumah besar bercat krem, udara terasa lebih berat dari biasanya.

Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi suara televisi dan tawa tamu, pagi ini hanya diisi ketegangan yang tak terlihat tapi menyesakkan. Lampu masih menyala meski matahari sudah tinggi. Tirai setengah tertutup, seolah rumah itu sendiri ingin menyembunyikan aib yang baru saja terbuka.

Fahmi berdiri di tengah ruangan. Ia seperti terdakwa.

Di hadapannya, Ayah duduk tegak di kursi utama. Jubahnya rapi, tasbih masih berputar pelan di jemarinya. Wajahnya tetap terlihat tenang.

Ibu berdiri di sisi meja, tangan bersedekap. Di atas meja, ponsel Fahmi tergeletak.

Layar menampilkan foto yang menjadi awal badai itu. Foto Fahmi dan Hanin. Di dalam gambar itu mereka tampak terlalu dekat. Hanin terlihat tanpa hijab.

“Ayah tidak pernah mendidikmu untuk seperti ini,” suara Ayah akhirnya terdengar. Tidak keras. Tapi berat. “Kamu tahu betul siapa kamu. Kamu tahu keluarga kita dikenal seperti apa.”

Fahmi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Maaf, Yah ...," ucap Fahmi pelan. Keluarga terkenal dengan religi. Ayahnya seorang pengusaha di bidang travel umroh. Banyak perusahaannya di berbagai daerah dari desa hingga kota.

“Kesalahan?” Ibu memotong tajam. “Kesalahan itu sekali. Ini berbulan-bulan.”

Sunyi menggantung. Fahmi ingin berkata bahwa ia mencintai Hanin. Bahwa itu bukan main-main. Tapi kalimat itu terasa rapuh di situasi seperti ini. Bahkan ia sendiri tak yakin apakah selama ini ia benar-benar serius atau hanya terlena perasaan.

“Perempuan itu anak siapa?” tanya Ayah.

“Anak Ustaz Rahmat,” jawab Fahmi pelan.

Ayah terdiam beberapa detik. “Ustaz kampung?” Nada itu terdengar datar, tapi sarat makna.

Ibu menggeleng pelan. “Kamu ini tidak tahu diri. Kalau pun ingin menikah, Ayah sudah punya rencana. Anak pemilik pondok besar di desa sebelah. Keluarganya jelas. Terhormat.”

Fahmi mengangkat wajah. “Hanin bukan perempuan sembarangan, Bu.”

Ibu tersenyum tipis. “Perempuan baik-baik tidak membuka hijabnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya.”

Kalimat itu menghantam keras. Fahmi terdiam.

Bayangan sore itu terlintas jelas. Hanin yang ragu. Hanin yang berkata takut. Hanin yang berkali-kali memastikan foto itu aman. Dan ia … meyakinkan, menenangkan, bahkan sedikit memaksa dengan rayuan.

“Cuma buat kita,” ucap Fahmi waktu itu.

Sekarang foto itu tersebar. Dan Hanin yang akan paling hancur.

Ayah berdiri perlahan. “Mulai hari ini, kamu tidak keluar rumah tanpa izin. Dan ponselmu Ayah sita.”

Fahmi refleks merogoh sakunya. “Yah—”

“Serahkan!" Perintah itu tak bisa dibantah.

Dengan tangan kaku, Fahmi mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di meja. Layar masih menyala. Nama “Hanin” ada di bar notifikasi. Panggilan tak terjawab.

Dadanya terasa diremas. Ayah mengambil ponsel itu, mematikannya, lalu menyimpannya di saku jubahnya.

Seolah memutus satu-satunya jalur napasnya.

“Bulan depan kamu berangkat ke desa,” lanjut Ayah. “Ke pesantren sahabat Ayah. Kamu tinggal di sana. Belajar lagi. Mengajar. Sampai Ayah yakin kamu mengerti arti tanggung jawab.”

Fahmi tertawa kecil. Terdengar pahit. “Jadi aku diasingkan?”

“Kalau itu yang kamu sebut pendidikan ulang, silakan,” jawab Ayah datar.

Ibu menambahkan, “Dan lupakan perempuan itu. Dia tidak pantas untukmu.”

Tidak pantas. Kata itu menggema di kepala Fahmi. Tidak pantas atau mereka yang merasa terlalu tinggi?

Fahmi ingin membantah. Ingin membela Hanin. Tapi lidahnya kelu. Karena jauh di dalam hati, ia tahu satu hal yang lebih menyakitkan ia yang tidak pantas untuk Hanin. Ia yang tak mampu menjaganya. Ia yang tak berpikir panjang sebelum merusak batas.

Fahmi berbalik dan masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa.

Begitu pintu tertutup, ia bersandar lemah.

Kamar itu luas. AC menyala dingin. Rak buku rapi. Lemari penuh pakaian mahal. Semua tampak normal.

Tapi kepalanya kacau. Pikirannya hanya pada satu nama, Hanin.

Apakah ia baik-baik saja? Apakah ayahnya tahu? Apakah ia juga dimarahi? Apakah ia menangis?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti. Ia mendekat ke meja belajar, refleks mencari ponselnya.

Kosong. Ia baru sadar. Tak ada lagi akses. Tak ada lagi cara menghubungi.

Ia bahkan tidak hafal alamat rumah Hanin secara detail. Selama ini mereka lebih sering bertemu di luar. Di kafe kecil. Di taman kota. Tempat yang jauh dari pengawasan.

Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang bukan tentang dirinya. Tapi tentang Hanin.

Ia membayangkan Hanin berdiri di hadapan ayahnya. Ayah yang dikenal tegas. Terhormat. Seorang ustaz yang dihormati jamaah.

"Bagaimana kalau beliau tahu semuanya? Bagaimana kalau Hanin dipaksa berhenti sekolah? Bagaimana kalau ia membenciku sekarang?"

Dadanya sesak membayangkan semua itu.

“Kenapa aku bodoh sekali,” gumam Fahmi pelan. Ia memejamkan mata.

Terbayang wajah Hanin saat tertawa. Caranya menunduk saat malu. Semangatnya saat bercerita tentang hafalan. Suaranya yang lembut saat menegurnya kalau bercanda berlebihan. Dan hari terakhir mereka bertemu.

Hanin berkata pelan, “Kalau suatu hari orang tua kita tau, kamu akan tetap di sampingku kan?”

Ia menjawab cepat, tanpa berpikir, “Iya.”

Janji itu kini terasa seperti ejekan. Ia bahkan tak bisa menghubungi.

Sore menjelang. Tak ada yang memanggilnya makan. Mungkin memang sengaja dibiarkan merenung.

Di luar, suara adzan ashar terdengar dari masjid dekat rumah. Fahmi bangkit perlahan. Ia mengambil sajadah.

Sudah lama ia salat tanpa benar-benar menghadirkan hati. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia sujud dengan dada bergetar.

“Ya Allah …,” suaranya Fahmi terdengar lirih.

Ia tidak pandai merangkai doa. Ia hanya tahu satu hal. Ia takut kehilangan Hanin. Bukan karena gengsi. Bukan karena ego.Tapi karena baru sekarang ia sadar, perempuan itu tulus. Dan ia telah menyeretnya ke masalah.

Selesai salat, ia duduk lama. Pikirannya tak berhenti pada Hanin.

Apakah Hanin mencoba menghubunginya sekarang? Apakah ia menunggu balasan yang tak pernah datang? Apakah ia merasa ditinggalkan?

Bayangan itu menyiksa. Ia bangkit dan membuka jendela. Angin sore masuk pelan. Langit tampak biasa saja.

Di suatu tempat di kota yang sama, mungkin Hanin juga memandang langit itu. Mungkin menangis dan merasa sendirian.

Fahmi menelan ludah. Ia tidak bisa melakukan apa pun. Tidak bisa menghubungi dan menjelaskan semuanya. Tidak bisa meminta maaf. Ia hanya bisa memikirkan.

Dan penyesalan itu tumbuh pelan, seperti api kecil yang membakar dari dalam. Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Rumah terasa sunyi. Fahmi berbaring menatap langit-langit kamar.

Kalimat Ibu terngiang lagi. “Perempuan seperti itu tidak pantas.”

Ia menggeleng pelan. Kalau ada yang tidak pantas, mungkin justru dirinya. Ia yang tidak menjaga.Ia yang terlalu percaya diri bisa mengendalikan segalanya. Ia yang menikmati kedekatan tanpa memikirkan akibat.

Kini ponselnya disita. Kebebasannya dibatasi. Dan sebentar lagi ia akan dikirim ke desa.

Pesantren jauh dari kota. Jauh dari kenyamanan. Dan mungkin jauh dari Hanin selamanya.

Fahmi memejamkan mata. Di antara gelap kamar dan sunyi malam, hanya satu nama yang berputar tanpa henti di kepalanya. Hanin.

"Maafkan aku Hanin, aku tak bisa menepati janji untuk tetap di sampingmu. Aku tak pantas untukmu. Kau bisa dapat pria yang jauh lebih baik dariku," gumam Fahmi dalam hatinya.

1
Eka ELissa
kmu pasti bisaa nin jalanin smua nya...kmrin aj kmu bisa kan msk kmu kli ini GK mampu.... semngat nin....ada Arsen gantinya Fahmi 😄🤭
Soraya
lanjut mam
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
pleaseee Hanin lupakan Fahmi dia bukan jodoh mu , dan demi persahabatan mu dngn Ghania kamu harus melupakan Fahmi
💪💪 Hanin
Teh Euis Tea
udah ya hanin km harus semangat, lupakan si fahmi dia udah mau nikah dgn sahabat km ghania, semoga km dpt penganti yg lebih dari si fahmi
Patrick Khan
udah ahhhh jgn sedih trs 😖😖😖waktunya Hanin bahagia dan ada air mata lg😭😭😭
Ilfa Yarni
tumben cerita mama Reni ini mengandung bawang nangis trus dibuatnya
Supryatin 123
jujur lebih baik Fahmi daripada jadi lelaki pecundang lnjut thor 💪💪
Radya Arynda
alhamdulillah hanin tidak sama pecundang seperti fahmi,,,semogah kamu mendapat kan yang ter baik hanin.....
Eka ELissa
aduh knpaa pke nanya cih Fahmi....
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Soraya
lanjut thor
Teh Euis Tea
alhamdulilah aku baca marathon thor
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Mama Reni: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Teh Euis Tea
sabar ya hanin si fahmi bkn jodohmu, lupakan dia semoga km bertemu jodoh yg sayang sm km
ken darsihk
Fahmi akan berkata jujur kah tentang Hanin ??
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??
Oma Gavin
kenapa fahmi malah nyebut hanin sudah dibilang anggap asing malah cari perkara fahmi
Supryatin 123
jadi curiga kan si ghania.dasar si Fahmi rada bego lnjut thor 💪💪
Naufal Affiq
lanjut kak
Radya Arynda
mantap hanin,,buang lah sampah yang tidak menghargai,dan tidak membela mu,,,kalau tau kenyataanya tentang hidup hanin setelah kamu buat masalah,menyesal kamu,,,keluargamu sombong dan egois...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!