NovelToon NovelToon
Ibu Susu Berdarah Dingin

Ibu Susu Berdarah Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintamanis / Ibu susu / Balas Dendam / Transmigrasi / Agen Wanita
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.

Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.

______________________________________________

"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.

"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERKEJUT

Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden beludru, jatuh tepat di kelopak mata Jayden.

Begitu kesadarannya kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah empuknya bantal, melainkan kehangatan yang asing, sesuatu yang lembut, beraroma lavender, dan bernapas.

Jayden membuka matanya dengan sentakan kecil, detik berikutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Jayden melihat helai rambut hitam tersebar di atas dadanya, dan dia baru menyadari lengannya sendiri melingkar erat di pinggang seorang wanita, dan wajahnya terkubur di ceruk leher Calista.

Memori tentang malam tadi, demam, dan rasa takut yang melumpuhkan, menghantamnya.

"AAAKKKHH!"

Dengan reaksi spontan yang kasar, Jayden mendorong tubuh Calista menjauh hingga wanita itu nyaris terjatuh dari tepi ranjang.

Jayden melompat mundur ke sisi lain tempat tidur, napasnya memburu, matanya liar mencari belati, rasa jijik dan trauma yang tertanam belasan tahun mendadak meledak kembali.

"K-kau... apa yang kau lakukan di tempat tidurku?!" geram Jayden, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang campur aduk.

Calista, yang baru saja terbangun dengan cara yang sangat tidak menyenangkan, mengerjap kan matanya, dia mengusap punggungnya yang pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman lalu menatap Jayden dengan tatapan datar, khas seorang Yura yang sudah biasa menghadapi situasi kacau.

"Selamat pagi juga untukmu, Yang Mulia," ucap Calista tenang, suaranya serak khas orang bangun tidur.

"Jangan bercanda! Kau menyentuhku! Kau memanfaatkan keadaanku!" bentak Jayden menunjuk Calista dengan tangan yang masih gemetar.

Wajah Jayden kembali memucat, keringat dingin kembali muncul bukan karena demam, tapi karena ketakutan batinnya terhadap kedekatan fisik dengan perempuan.

Calista bangkit berdiri dengan perlahan, merapikan gaun hitamnya yang kini sangat kusut. Ia tidak marah, ia hanya menatap Jayden dengan sorot mata yang dalam.

"Tadi malam kau menggigil hebat, Jayden. Kau memohon padaku untuk tidak memukulmu, dan kamu memohon padaku untuk membiarkanmu menyayangi kakakmu," ucap Calista dengan nada suara yang rendah dan stabil.

Deg

Jayden terdiam, kata-kata Calista seperti kunci yang membuka kotak pandora memorinya yang paling memalukan.

"Kamu mengigau tentang cambuk ibumu," lanjut Calista, melangkah satu tindak mendekat.

"Kamu begitu ketakutan sampai kamu tidak bisa bernapas, jadi, aku melakukan apa yang harus dilakukan, yaitu aku menahan mu agar kanu tidak tenggelam dalam mimpi buruk mu sendiri, jika itu kau anggap memanfaatkan keadaan, silakan panggil algojo dan penggal kepalaku sekarang," ucap Calista, datar.

Mata Jayden yang tadi menatap Calista tajam langsung melunak, tangannya yang tadi menunjuk perlahan turun, dia melihat kain balutan di telapak tangannya sendiri yang masih terikat rapi, bukti bahwa Calista merawat lukanya, bukan melukainya, dia juga melihat handuk kecil yang sudah mengering di lantai, yang tadi malam digunakan Calista untuk mengompres dahinya.

Amarah dan rasa jijik di dada Jayden perlahan surut, digantikan oleh rasa malu yang luar biasa dan sesuatu yang asing.

Rasa hangat yang tadi dia rasakan saat terbangun sebenarnya adalah rasa paling aman yang pernah ia rasakan selama hidupnya, namun otaknya menolak mengakuinya.

"Maaf..." gumam Jayden, memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak sanggup menatap mata Calista.

"A-aku tidak terbiasa, jangan pernah lakukan itu lagi..." ucap Jayden, lirih.

Calista menghela napas panjang, lalu dia berjalan menuju meja dan mengambil cangkir teh yang sudah dingin.

"Aku tidak akan melakukannya lagi jika kau berjanji untuk berhenti menyakiti dirimu sendiri," jawab Calista, dingin.

Jayden tetap diam, namun bahunya yang tadi tegang perlahan mulai rileks.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan pelan. Suara Owen terdengar dari luar.

Tok

Tok

Tok

"Yang Mulia? Pangeran Lorenzo sedang menangis dan tidak mau menyentuh susunya. Beliau terus memanggil Ibu, maksud Saya Nona Calista," ucap Owen dari balik pintu.

"Sepertinya pangeran kecilmu lebih membutuhkan ku ini daripada kamu yang masih ingin merajuk. Aku pergi dulu," ucap Calista menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Jayden.

Saat Calista berjalan melewati Jayden menuju pintu, Jayden tiba-tiba bersuara, sangat pelan hingga hampir tak terdengar.

"Calista...."

 "Ya?"

"Terima kasih... karena tidak membiarkanku mati di dalam mimpi itu..." ucap Jayden, lirih.

Calista tersenyum tipis, sebuah senyum yang hanya bisa dilihat oleh bayangannya sendiri di cermin kamar.

"Sama-sama, Jay, mandilah, kamu bau keringat, kamu masih punya kerajaan yang harus diurus," jawab membuka pintu kamar Jayden.

Calista melangkah keluar dari kamar Jayden dengan perasaan yang campur aduk. Namun, begitu dia mendengar tangisan Lorenzo yang melengking dari ujung lorong, insting Yura yang tajam seketika beralih menjadi mode pelindung.

Di kamar bayi yang luas dan hangat, Lorenzo sedang meronta di pelukan pengasuhnya.

Wajah bayi itu merah padam, dan dia menolak botol susu yang disodorkan dengan tangan mungilnya.

"Nona Calista! Syukurlah Anda datang," seru sang pengasuh dengan wajah lega sekaligus cemas.

"Pangeran kecil tidak mau berhenti menangis sejak tadi subuh," lanjut pengasuh itu, terlihat sangat lelah.

Calista segera mengambil alih Lorenzo, dari gendongan pengasuh nya, begitu tubuh bayi itu bersentuhan dengan Calista, tangisannya yang tadinya memekakkan telinga mendadak mereda menjadi isakan kecil yang menyayat hati.

Lorenzo menyusup kan wajahnya ke dada Calista, mencari aroma yang membuatnya merasa aman.

"Cup, cup, jagoan kecil... pamanmu baru saja mengamuk, sekarang kamu juga?" bisik Calista sambil mengayunkan tubuh Lorenzo dengan lembut.

Calista duduk di kursi goyang dekat jendela, dia mulai memberikan Asi kepada Lorenzo.

Sambil memandang wajah tenang bayi itu, pikiran Calista melayang kembali ke drama tengah malam di kamar Jayden, luka di tangan pria itu, demamnya, dan ketakutan hebat yang dia tunjukkan.

"Keluarga ini benar-benar berantakan,"batin Calista.

"Ayah diracun, Kakak dikhianati, dan si bungsu Jayden dihancurkan mentalnya sejak kecil. Lorenzo, kau adalah satu-satunya harapan yang tersisa agar garis keturunan ini tidak hanya menyisakan kenangan darah," batin Calista, menatap anak susu nya.

Saat Lorenzo sudah selesai dan mulai tertidur dengan tenang setelah kenyang, Owen masuk ke ruangan dengan langkah sangat pelan.

"Nona Calista, maaf mengganggu tugas Anda," bisik Owen, melihat Calista yang sedang menggendong Lorenzo.

"Tapi ada sesuatu yang harus Anda lihat, di meja rias Mantan Ibu Suri, saat kami melakukan pembersihan total, kami menemukan sebuah kotak tersembunyi, tapi isinya bukan perhiasan," lapor Owen, dengan suara pelan nya.

Calista menaikkan sebelah alisnya, lalu dia memberikan Lorenzo kembali ke pengasuhnya dengan sangat hati-hati, memastikan bayi itu tidak terbangun.

"Apa itu?" tanya Calista.

"Sebuah surat dengan segel ketua Dewan, Nona, tapi tanggalnya, tertanggal lima tahun yang lalu, tepat sebelum Raja tua meninggal," jawab Owen dengan wajah pucat.

Raja tua yang di maksud Owen adalah Ayah Jayden.

1
Tiara Bella
lanjut semangat ya Thor ...
Tiara Bella
ibu susu Calista pnya bayi besar sabar ya pangeran Lorenzo...
Endang Sulistia
pinter nih si Lorenzo...
Endang Sulistia
ada lamaran kecil kecilan..🤔🤔🤔
T1 T1n
yg penting tiap hari up kak ❤️❤️❤️
IG : hofi03_sakroni: siap beb, di usahakan up stabil setiap hari 🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
gasken mak🏍🏍🏍
Maria Lina
cerita ya 2 ..ditamat kn dlu ya thor..tar yg lain dikit up nya.komen aj thor
Maria Lina: ok thor siap🫠
total 2 replies
Retno Palupi
wua... Calista punya 2 bayi😄😄
Lienaa Likethisyow
yura dilawan..salah sasaran oe🤣🤣..lanjut thor yg banyak ya💪💪👍👍 semangat😍😍
Lienaa Likethisyow
cie..cie..Jayden so sweet.😍😍..lanjut thor💪💪👍👍
Lienaa Likethisyow
ulet bulu ilang deh..digertak aja ngacir..sok sokan garang masih garang Calista lah🤣🤣🤣..semangat thor💪💪👍👍
IG : hofi03_sakroni: takot dia kak
total 1 replies
kaylla salsabella
seru🥰🥰🥰
IG : hofi03_sakroni: terimakasih kay, stay tune ya beb 🤍
total 1 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Mengungkapkan perasaan sangat penting untuk kelegaan hati, alih-alih memendamnya sendiri lebih baik kamu mengungkapkan apa isi hati kamu.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dengar baik-baik Diana, apa yang diucapkan Calista itu adalah sebuah peringatan keras bagimu...😤😰
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.
kaylla salsabella
cari mati aja tuh pelayan
kaylla salsabella
jangan pingsan Owen🤣🤣🤣
Leni Ani
kan habis thor up thor😭😭😭😘💪💪💪👍
Leni Ani
biar pun ngak calista bilang sm jay tp mimpi pun datang ke dia👍
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya keren banget, pokoknya kalian harus membaca nya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
aduhhhhh seru banget lagi cerita nya😭😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!