Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Cinta yang Pernah Ada
Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya Arga dan Alya menghabiskan waktu jam istirahat bersama. Mereka duduk berhadapan di sudut kantin yang agak sepi, ditemani semilir angin siang dan hiruk-pikuk siswa lain yang berlalu-lalang. Ada perasaan canggung, rindu, sekaligus bahagia yang tak terucap.
“Kamu apa kabar, Al?” ucap Arga pelan, menatap wajah Alya yang kini terlihat semakin dewasa.
“Baik…” jawab Alya dengan suara bergetar. Hatinya masih tak percaya, takdir benar-benar mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berpisah. Ingatan masa lalu seakan menyeruak, membawa kenangan manis sekaligus luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Alya menunduk sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu kembali ke Jakarta, Ga? Apa tujuanmu sebenarnya?”
Arga terdiam sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Dengan nada pelan dan jujur, ia menjawab, “Aku kembali karena aku bosan hidup bergantung pada harta orang tuaku. Aku ingin hidup mandiri, membangun jalanku sendiri.”
Ia berhenti sejenak, menatap mata Alya dengan penuh perasaan. “Dan tujuan sebenarnya… aku ingin bertemu kembali dengan pujaan hatiku. Kamu, Alya.”
Jantung Alya seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu mengguncang perasaannya, membangkitkan cinta lama yang tak pernah benar-benar padam.
Waktu pun berlalu tanpa terasa. Jam istirahat yang singkat itu akhirnya berakhir, memaksa Arga dan Alya kembali pada kehidupan dan tanggung jawab masing-masing.
Dengan langkah berat, Arga bangkit dari duduknya. Hatinya masih enggan berpisah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan, begitu banyak rindu yang belum sempat terungkap. Namun, kewajiban memanggilnya kembali ke dunia nyata.
“Aku harus kembali bekerja, Al,” ucap Arga pelan, seolah menahan kecewa.
Alya mengangguk lirih. “Iya… aku juga.”
Mereka pun berjalan berlawanan arah. Arga kembali ke ruang kantornya, sementara Alya melangkah menuju tempat kerjanya, tempat di mana ia menghabiskan hari-hari sebagai karyawan biasa, berjuang keras demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Hidup mengajarkannya untuk tegar, meski sering kali lelah dan ingin menyerah.
Di sepanjang langkahnya, pikiran Alya melayang jauh ke masa lalu. Kenangan saat pertama kali ia bertemu Arga di bangku sekolah kembali terputar jelas dalam benaknya. Sosok lelaki tampan, sopan, ramah, dan berprestasi itu begitu mudah mencuri perhatian. Arga adalah siswa idola—lelaki yang disukai banyak wanita di kelasnya. Namun entah bagaimana, justru Alyalah yang berhasil menempati ruang istimewa di hatinya.
Senyum kecil terukir di wajah Alya, diiringi perasaan perih yang samar. Masa-masa indah itu kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang manis, tetapi juga menyisakan luka dan rindu yang tak pernah benar-benar sembuh.
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, memantulkan cahaya lembut di jendela-jendela ruang kelas SMA Cendekia. Di bangku paling belakang, Raka duduk menatap kosong ke arah halaman sekolah, sementara di sampingnya, Alya sibuk merapikan buku-buku pelajaran. Meski tak banyak kata terucap, keheningan di antara mereka terasa begitu hangat.
Cinta mereka tumbuh tanpa suara. Bermula dari tatapan singkat di lorong sekolah, berlanjut pada senyum malu-malu di perpustakaan, hingga akhirnya menjadi kebiasaan duduk berdua selepas jam pelajaran usai. Raka adalah sosok pendiam, namun kehadiran Alya membuat dunianya terasa lebih hidup. Sementara Alya, yang lembut dan penuh perhatian, menemukan ketenangan dalam kesederhanaan Raka.
Mereka sering menghabiskan waktu di taman kecil belakang sekolah, tempat bunga kamboja tumbuh rindang. Di sanalah mereka berbagi mimpi. Raka ingin menjadi lelaki yang berguna bagi banyak orang, sementara Alya bercita-cita membahagiakan kedua orang tuanya. Dalam kesunyian sore, Raka menggenggam tangan Alya dan berjanji akan selalu ada, apa pun yang terjadi. Alya membalas dengan senyum tulus, menyimpan harap yang sama di dalam hatinya.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tekanan keluarga mulai membayangi langkah Alya. Ibunya menuntutnya fokus pada prestasi dan masa depan, tanpa memberi ruang bagi cinta remaja yang dianggap hanya akan membawa luka. Pertemuan mereka semakin jarang, percakapan kian singkat, hingga akhirnya jarak perlahan tercipta.
Perpisahan itu terjadi pada suatu pagi yang basah oleh gerimis. Di halte depan sekolah, Alya menunduk, menahan air mata yang menggenang. Dengan suara bergetar, ia meminta Arga melepaskannya, demi masa depan yang lebih baik menurut keluarganya. Arga terdiam. Dadanya sesak, namun ia memilih tersenyum, menyembunyikan perih yang mengoyak hatinya.
“Jika suatu hari takdir mempertemukan kita kembali, aku berharap kita sudah menjadi versi terbaik dari diri kita,” ujar Raka lirih.
Alya mengangguk, air matanya jatuh tanpa mampu ia bendung. Mereka berpisah tanpa pelukan, tanpa janji untuk kembali, hanya menyisakan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan.
Sejak hari itu, cinta mereka menjelma menjadi doa yang dipanjatkan dalam diam. Meski langkah mereka berjalan ke arah berbeda, hati keduanya tetap menyimpan kisah yang sama: tentang cinta pertama yang sederhana, tulus, dan tak pernah benar-benar usai.
Waktu pun berlalu tanpa terasa. Jarum jam kini telah menunjukkan pukul lima sore. Arga segera merapikan meja kerjanya, memasukkan laptop ke dalam tas dengan gerakan tergesa. Ada kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Sejak pertemuannya dengan Alya siang tadi, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Begitu semua beres, Arga beranjak cepat menuju pintu keluar. Langkahnya panjang dan terburu-buru, bahkan hampir berlari, seolah takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Hatinya dipenuhi satu keinginan: bertemu kembali dengan Alya.
Ia berlari menyusuri lorong gedung, napasnya sedikit terengah. Namun, harapannya runtuh ketika ia tiba di depan lobi. Sosok yang ditunggunya tak tampak di sana.
Arga terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Argh… terlambat…” gumamnya lirih.
Pandangan matanya menyapu sekeliling, berharap menemukan bayangan Alya. Namun, yang ia lihat hanya orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan masing-masing.
“Ternyata Alya sudah pulang duluan… dan aku bahkan lupa meminta nomor handphone-nya,” lanjut Arga dalam hati, nada suaranya dipenuhi penyesalan.
Ia menghela napas panjang, menutup wajahnya sejenak dengan telapak tangan. Rasa kecewa bercampur kesal pada dirinya sendiri. Setelah bertahun-tahun terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir, justru ia hampir kembali kehilangan jejak Alya.
Namun, di balik kekecewaan itu, terselip secercah harapan. Arga yakin, jika takdir mampu mempertemukan mereka sekali lagi, maka pertemuan berikutnya pasti akan terjadi.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰