Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33: Pondasi Dao Lima Warna
Di dalam kamar penginapan yang tertutup rapat, udara terasa panas dan menyesakkan seolah berada di dalam kawah gunung berapi.
Li Wei duduk bersila, tubuhnya gemetar hebat. Keringat yang keluar dari pori-porinya langsung menguap menjadi kabut putih sebelum sempat menetes.
Di depannya, Buah Jantung Bumi telah habis dimakan. Energi api bumi yang liar mengamuk di dalam meridiannya, membakar kotoran di dalam darahnya.
Target awalnya hanyalah mencapai Qi Condensation Lapis 7.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Saat energi buah itu menyentuh Giok Dao Abadi yang menyatu di jantungnya, giok itu bereaksi di luar kendali. Giok itu tidak hanya menyerap energi buah, tetapi juga "memuntahkan" kembali cadangan Qi murni yang selama ini ia simpan sisa energi Vena Naga Lembah Abu yang belum sempat dicerna, dan esensi darah ribuan musuh yang mati di tangan Li Wei.
"Argh!"
Li Wei mengerang, gigi gemeretak hingga berdarah. Rasanya seperti ada sungai besi cair yang dipaksa masuk ke dalam pembuluh darah sedotan.
Dantian nya (pusat energi) yang berwujud kabut gas (ciri khas Qi Condensation) dipaksa memadat. Giok itu bertindak sebagai palu raksasa, memukul kabut Qi itu terus menerus hingga menetes menjadi cairan.
Cairan Qi!
Itu adalah tanda Foundation Establishment!
"Tidak mungkin..." batin Li Wei di sela rasa sakit yang mematikan. "Aku baru Lapis 6... Melompati tiga lapis kecil dan satu gerbang besar? Tubuhku akan meledak!"
Tulang-tulang emasnya berderak, retak, lalu menyatu kembali lebih padat. Kulit perunggunya mengelupas, digantikan lapisan baru yang berkilau seperti giok transparan.
Ini bukan kultivasi. Ini adalah penyiksaan dan kelahiran kembali.
Sementara itu, di halaman luar kamar.
Suasana malam yang tenang pecah oleh suara langkah kaki mengendap-endap.
Lima sosok berpakaian hitam dengan topeng hantu mendarat di atap dan halaman. Mereka adalah Elang Malam, pembunuh bayaran lokal yang merasakan fluktuasi energi harta karun dari kamar Li Wei.
"Energi api yang sangat murni..." bisik pemimpin mereka, seorang kultivator Lapis 8 yang kejam. "Bocah di dalam pasti sedang memurnikan harta tingkat tinggi. Ini saat terbaik untuk menyerang. Dia tidak akan bisa bergerak saat meditasi."
"Bunuh dia, ambil hartanya!"
Mereka bergerak serentak menuju pintu kamar.
Namun, sesosok bayangan ramping berdiri menghalangi pintu.
Xiao Lan.
Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi dahinya karena tekanan aura musuh yang jauh lebih kuat darinya. Tangannya memegang segenggam jarum perak yang berkilau kehijauan.
"Maju satu langkah, mati," kata Xiao Lan, suaranya bergetar tapi matanya tajam.
Pemimpin Elang Malam tertawa meremehkan. "Gadis Lapis 5? Minggir, atau kami akan bersenang-senang denganmu dulu."
"Serang!"
Dua pembunuh menerjang.
Xiao Lan tidak mundur. Ia melempar jarumnya.
Wush! Wush!
Jarum itu menancap di titik akupunktur leher musuh. Racun Kelumpuhan Syaraf bekerja instan. Kedua pembunuh itu jatuh kaku dengan mulut berbusa.
"Racun?" Pemimpin itu mendengus marah. "Dasar wanita licik! Habisi dia!"
Sisa tiga pembunuh, termasuk si pemimpin Lapis 8, menyerang bersamaan. Tekanan Qi mereka membuat Xiao Lan terdesak mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar Li Wei.
TRANG!
Xiao Lan menangkis pedang pemimpin itu dengan belatinya. Pedangnya retak. Ia muntah darah karena perbedaan tenaga dalam.
"Li Wei..." batin Xiao Lan putus asa. "Cepatlah..."
Pemimpin itu menendang perut Xiao Lan.
BUAGH!
Xiao Lan terlempar ke samping, mengerang kesakitan.
"Sekarang, giliranmu, Tuan Muda yang sedang bertapa!"
Pemimpin Elang Malam itu menghantamkan pedangnya ke pintu kayu kamar Li Wei hingga hancur berkeping-keping.
"Mati kau!"
Ia melompat masuk, pedangnya mengarah ke leher pemuda yang sedang duduk bersila di tengah ruangan.
Pedang itu tinggal satu inci dari kulit leher Li Wei.
Tiba-tiba.
Mata Li Wei terbuka.
Tidak ada pupil manusia di sana. Hanya ada pusaran lima warna yang berputar lambat, sedalam samudra, setinggi langit.
[Foundation Establishment]
Waktu seolah berhenti.
Pedang pemimpin pembunuh itu... berhenti di udara. Bukan karena ditahan, tapi karena udara di sekitar Li Wei menjadi padat.
"A-Apa...?" Pembunuh itu mencoba mendorong pedangnya, tapi tangannya tidak bisa bergerak. Ketakutan purba merayapi tulang punggungnya.
Aura yang memancar dari tubuh Li Wei bukan lagi aura gas yang tipis. Itu adalah aura cair yang berat, menekan jiwa siapa pun yang berada di dekatnya.
Tekanan Roh (Spiritual Pressure).
"Kau mengganggu Pintu Dao ku," suara Li Wei terdengar pelan, tapi bergema langsung di dalam kepala si pembunuh seperti guntur.
Li Wei mengangkat satu jari. Hanya satu jari.
Lalu menekannya ke bawah perlahan.
"Berlutut."
KRAAAAAK!
Gravitasi di dalam ruangan itu seolah meningkat seratus kali lipat.
Lutut si pemimpin pembunuh hancur menghantam lantai. Tulang punggungnya patah karena tidak kuat menahan beban aura Li Wei. Dia dipaksa bersujud, wajahnya mencium lantai, darah muncrat dari hidung dan telinganya.
Dua pembunuh lain di luar pintu merasakan gelombang kejut itu dan langsung muntah darah, jatuh pingsan karena dantian mereka terguncang hebat.
Li Wei berdiri perlahan. Tubuhnya terasa ringan, namun bertenaga tak terbatas.
Di dalam Dantian nya, kabut Qi telah hilang. Gantinya adalah sebuah danau kecil berisi cairan lima warna yang berkilauan. Di tengah danau itu, sebuah pilar kristal transparan mulai terbentuk Pondasi Dao.
Ia telah menembus batas manusia fana. Ia kini adalah seorang Foundation Establishment Cultivator.
Li Wei menatap pembunuh Lapis 8 yang kini merangkak kesakitan di kakinya. Dulu, dia harus bertarung mati-matian melawan Lapis 7. Sekarang? Lapis 8 hanyalah semut.
"Ampun... Senior... Ampun..." rintih pembunuh itu, menyadari dia telah menendang papan besi.
Li Wei tidak memiliki belas kasihan.
"Pergilah bereinkarnasi. Dan ingat untuk tidak menjadi bandit di kehidupan selanjutnya."
Li Wei menjentikkan jarinya.
Poff.
Gelombang Qi menyapu kepala pembunuh itu. Tanpa suara, tanpa darah muncrat. Otaknya hancur dari dalam oleh getaran Qi. Pembunuh itu jatuh tak bernyawa.
Li Wei melangkah keluar kamar, melewati mayat-mayat itu.
Ia melihat Xiao Lan yang terbaring memegangi perutnya, menatap Li Wei dengan mata terbelalak tak percaya.
"Li Wei... aura itu..." bisik Xiao Lan. "Kau... kau berhasil membangun pondasi?"
Li Wei berlutut, menyalurkan Qi barunya ke tubuh Xiao Lan. Qi cair itu menyembuhkan luka dalam Xiao Lan dalam hitungan detik jauh lebih efektif daripada pil mana pun.
Li Wei melihat ke langit malam Kota Batu Hitam.
Dengan kekuatan Foundation Establishment, statusnya telah berubah total. Di dunia kultivasi, Qi Condensation adalah murid/prajurit. Tapi Foundation Establishment adalah Tetua / Jenderal.
Dia kini memiliki kualifikasi untuk mendirikan sekte kecil atau menjadi penguasa kota.
"Ayo pergi dari sini," kata Li Wei. "Penginapan ini sudah kotor oleh darah. Dan aku lapar."
Saat mereka berjalan keluar, Li Wei merasakan indra pendengarannya meluas hingga radius satu li. Ia bisa mendengar detak jantung tikus di selokan, dan bisikan orang di gedung seberang.