NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Rohman yang sedang menggendong Rina langkahnya mendadak terhenti di tengah jalan setapak menuju rumah depan. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang kini terlihat antara takut, penasaran, dan—tentu saja—masih sempat-sempatnya berpikir teknis dengan cara yang sangat blak-blakan.

​Rina memainkan kancing baju koko Rohman, matanya melirik ke sana kemari menghindari tatapan tajam suaminya. "Mas beneran nih mau apa-apain aku? Mas nggak takut khilaf terus lupa waktu? Inget lho, di depan ada Abah sama Kyai-Kyai besar!"

​Rohman tersenyum tipis, sorot matanya yang tenang justru terasa semakin mengintimidasi bagi Rina. "Sepertinya kamu yang lebih takut khilaf daripada Mas, sayang. Dan soal 'apa-apain', bukankah itu sudah menjadi hak dan kewajiban kita?"

​Rina menelan ludah, detak jantungnya kembali berderu kencang. "T-terus... mainnya di mana, Mas? Di kamar depan? Kamar aku itu dindingnya nggak kedap suara lho, Mas! Tipis banget kayak kerupuk. Kalau aku teriak atau Mas... eh, pokoknya kalau berisik, Cak Imron pasti bakal nempel telinga di tembok! Malu tau!"

​Mendengar kekhawatiran Rina yang sangat spesifik itu, Rohman tertawa rendah. Suara tawanya yang bariton terasa bergetar di dada, membuat Rina semakin merinding disko.

​"Mas tidak berencana melakukannya di kamar depan yang 'berisik' itu, Sayang. Mas masih punya harga diri untuk tidak membiarkan Cak Imron jadi penonton bayangan," bisik Rohman.

​"Terus di mana? Di rumah baru?" cecar Rina dengan polosnya. "Mas, di rumah baru itu belum pasang keramik! Masa mainnya di tanah? Kayak nggak punya rumah saja! Entar badan aku kotor semua, Mas tega lihat istri imutmu ini penuh debu konstruksi?"

​Rohman menghentikan tawanya, lalu menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam—jenis tatapan yang membuat Rina merasa seperti sedang ditelanjangi oleh pikiran suaminya sendiri.

​"Rina... kamu pikir Mas seceroboh itu?" Rohman mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan lagi. "Rumah belakang memang belum pasang keramik di ruang utama, tapi kamar calon kita sudah selesai diplester halus dan Mas sudah siapkan kasur lipat yang bersih di sana sejak kemarin sore untuk istirahat tukang... yang tentu saja sudah Mas sterilkan."

​Mata Rina membelalak. "Jadi... Mas sudah ngerencanain ini? Astagfirullah, Mas Arab ternyata visioner sekali urusan begini!"

​"Bukan visioner, tapi bersiap menghadapi istri yang hobi kabur seperti kamu," sahut Rohman santai sambil melanjutkan langkahnya menggendong Rina. "Dan soal

ap suara... rumah belakang jaraknya cukup jauh dari rumah depan. Kamu mau teriak sekeras apapun, hanya pohon mangga dan burung gereja yang akan dengar. Jadi, tidak ada alasan lagi soal keramik atau tembok tipis, kan?"

​Rina mendadak bungkam. Ia merasa terjebak dalam skenario yang ia buat sendiri. Dalam hati ia menjerit, 'Aduh, mampus! Gue kira dia cuma ustadz yang pinter ngaji, ternyata dia juga ahli strategi perang ranjang! Mana tempatnya sepi lagi, pnya gue beneran makin kedat-kedut ngebayangin 'hukuman' di kamar tanpa keramik itu!'*

​"Mas... tapi... tapi aku belum siap mental!" rengek Rina terakhir kalinya saat mereka hampir sampai di pintu dapur.

​"Mentalmu mungkin belum, tapi tubuhmu bilang sebaliknya, Khumairah," bisik Rohman final sebelum memasang wajah tegak dan berwibawa kembali untuk menemui mertuanya di ruang tamu.

...*****...

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!