NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Asisten Pribadi

Siang itu, udara di dalam kamar kos baru Bela terasa pengap, meskipun kipas angin kecil di sudut ruangan sudah berputar maksimal. Bela duduk bersila di depan MacBook Pro M3 Max miliknya yang tergeletak di atas meja minimalis. Jemarinya yang lentik menari di atas trackpad yang dingin, sementara matanya menatap tajam kursor yang berkedip-kedip di atas tombol 'Kirim' pada draf email. Isinya singkat namun berat yakni sebuah surat pengunduran diri resmi dari posisi staf administrasi di kampus ternama tempatnya bekerja selama ini.

Rencana awalnya, ia ingin menunggu kepastian dari perusahaan entertainment itu sebelum benar-benar memutus urat nadinya sendiri. Namun, entah keberanian atau fatalisme yang merasukinya siang bolong itu, jemarinya mendadak bergerak sendiri.

'Klik'.

Tombol enter itu ia tekan. Surat pengunduran diri itu resmi terkirim ke sistem kepegawaian kampus. Detik itu juga, rasa kecewa sekaligus lega yang mendalam menghantam dadanya. Ia merasa baru saja melakukan perjudian terbesar dalam hidupnya. Bagaimana jika ia tidak diterima? Bagaimana jika ia kehilangan segalanya? Bela mengembuskan napas panjang, sangat dalam, hingga bahunya merosot lesu menahan beban yang tak kasatmata.

'Ting!'

Sebuah notifikasi email terbaru muncul di pojok kanan layar retina MacBook-nya. Mata Bela membelalak. Itu adalah balasan dari perusahaan yang mewawancarainya kemarin. Dengan tangan yang mendadak gemetar, ia membuka pesan tersebut.

“Selamat, Bela Putri Mahendra. Berdasarkan hasil interview, Anda dinyatakan lolos sebagai Asisten Pribadi (Personal Assistant) untuk Ibu Melani Ayundira. Kami menantikan kehadiran Anda besok pagi pukul 08.00 WIB...”

Mood Bela seketika meledak seperti roller coaster yang baru saja menanjak tajam setelah terjun bebas. Rasa sedih yang menghimpitnya beberapa detik lalu lenyap, berganti dengan euforia yang meluap-luap.

"Yes! Gue lolos! Gue kerja!" teriaknya histeris dalam kesunyian kamar kos. Ia melompat-lompat di atas kasur, berputar-putar dalam ruangan sempit itu seolah-olah seluruh bebannya telah terangkat ke langit.

Namun, di tengah lonjakan kegembiraannya, sebuah rasa mual ringan dan denyutan di perut bawahnya membuat Bela mendadak berhenti. Ia terdiam sejenak, menatap ke arah perutnya. Ia lupa ada nyawa lain yang sedang menumpang di dalam sana. Kehidupan kecil yang tak pernah ia rencanakan, namun kini menjadi bagian dari anatominya.

"Ohh, sorry..." ucapnya lirih, refleks mengelus perutnya yang masih datar dengan lembut, seolah sedang berbicara dengan teman sebaya yang baru saja ia buat kaget karena ulahnya.

Bela tertegun dengan tindakannya sendiri. Apakah sekarang ia mulai memiliki jiwa keibuan? Mengapa ia mendadak begitu peduli pada keselamatan benda ini? Bukankah jikalau ia jatuh dan berhasil keguguran justru akan memutus semua kerumitan ini? Bela menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran gelapnya. Ia memilih untuk kembali tersenyum sumringah, memeluk dirinya sendiri, dan menikmati kemenangan kecil ini.

Keesokan harinya, Bela kembali berdiri di depan kompleks gedung perusahaan entertainment yang luar biasa megah. Lapangannya sangat luas, dibatasi oleh pagar hitam menjulang tinggi yang dijaga ketat, memberikan kesan eksklusif bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya.

Meskipun Bela terbiasa dengan kemewahan, arsitektur gedung ini tetap membuatnya merasa kecil. Hari ini, ia tampil dengan gaya "Quiet Luxury" yang menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan Silk Blouse dari Loro Piana berwarna pearl white yang jatuh sempurna di tubuhnya, dipadukan dengan High-Waisted Trousers dari Max Mara yang mempertegas kaki jenjangnya. Di bahunya, tersampir tas Celine Classique Triomphe yang simpel namun berharga puluhan juta. Ia menyukai gaya yang nyaman, namun tetap berkelas.

Untuk mencapai lobi utama, Bela harus menaiki ratusan anak tangga yang membentang begitu lebar ke arah kanan dan kiri. Tangga itu seolah-olah dirancang untuk membuat siapa pun yang mendakinya merasa sedang menuju sebuah singgasana. Bela melangkah satu per satu, menapaki ratusan anak tangga tersebut dengan sepatu Chanel Ballerinas yang nyaman namun tetap elegan. Di tengah tangga yang luas itu, sosok Bela tampak begitu mungil, kontras dengan beton-beton masif di sekelilingnya.

Saat ia hampir mencapai puncak tangga lobi, suara derap langkah kaki dari arah bawah menarik perhatiannya. Bela berhenti dan menoleh. Dari arah gerbang VIP, segerombolan orang dengan setelan kantor formal tampak mulai mendaki tangga dengan ritme yang cepat dan teratur.

Di tengah-tengah barisan itu, ada satu sosok yang seolah menjadi pusat gravitasi. Seorang wanita dengan rambut lurus sebahu yang berkilau sehat, mengenakan kacamata hitam dari Gentle Monster yang kontras dengan kulit putih porselennya. Ia mengenakan blazer Saint Laurent yang sangat pas di bahunya, berjalan dengan langkah mantap di antara kerumunan asisten dan ajudannya.

Begitu rombongan itu sampai di lobi, tepat di depan Bela, wanita itu melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan anggun. Sepasang mata elang yang tajam, dingin, dan penuh otoritas menyapu ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat pada mata Bela.

"Bela, ya? Yang interview kemarin," suara Angel, sang HRD, memecah keheningan yang sempat membeku sesaat.

Bela tersenyum ramah, mencoba menguasai degup jantungnya. "Iya, selamat siang, Ibu Angel."

"Ibu Melani, ini orang yang saya ceritakan kemarin. Dia yang paling menonjol di antara kandidat lainnya," ucap Angel kepada wanita cantik di sampingnya.

Melani Ayundira, B.B.A., M.B.A., menatap Bela dengan seksama. Tatapan tajamnya perlahan melunak menjadi sebuah senyuman hangat yang mematikan. Ia melangkah mendekat, aroma parfum Baccarat Rouge yang kuat segera memenuhi indra penciuman Bela. Melani meletakkan tangannya yang jemarinya dihiasi cincin berlian simpel di pundak Bela.

"Oh, bagus! Masuk kriteria. Saya memang nggak salah pilih. Kamu punya aura yang berbeda," ucap Melani dengan nada puas.

Bela takjub. Melani begitu sempurna. Dia kaya, berpendidikan, dan sukses di usia muda sebagai direktur utama perusahaan F&B dan pemilik berbagai kafe elit. Bela merasa seperti sedang menatap versi masa depan yang ia inginkan.

Bela kemudian diajak menuju ruang kerja pribadi Melani di puncak gedung, lantai 30. Ruangan itu begitu luas dengan dinding kaca yang menyuguhkan panorama Jakarta 360 derajat.

"Karena mulai hari ini kamu jadi asisten pribadi saya, ada beberapa aturan main," ucap Melani sambil duduk di kursi kebesarannya dan menyilangkan kaki jenjangnya. "Kamu harus siap tinggal di apartemen yang sudah saya siapkan agar mobilitas kita lebih cepat. Dan satu lagi, meskipun selera pakaianmu sudah sangat bagus, kamu butuh gaya yang lebih 'tajam' sebagai representasi saya di depan media. Besok kita akan belanja."

Melani kemudian bercerita tentang asisten lamanya yang harus berhenti karena kesulitan membagi waktu setelah memiliki keluarga.

"Mengurus suami dan anak membuatnya tidak bisa fokus pada jadwal saya yang padat. Itulah kenapa saya memilih kamu yang masih lajang. Saya butuh fokus penuh darimu, Bela."

Bela hanya bisa tersenyum getir. Kata-kata "lajang" dan "tanpa beban keluarga" itu terasa seperti sembilu yang menyayat rahasianya. Di balik kemeja sutra Loro Piana yang ia kenakan, ada detak jantung lain yang terus tumbuh bak sebuah bukti kesalahan yang ia sembunyikan rapat-rapat di bawah kain-kain bermerek miliknya.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!