NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIATAS SEHELAI BENANG KEPERCAYAAN

Suasana di kantor polisi yang biasanya bising dengan suara radio panggil dan derap sepatu lars mendadak senyap saat Amara melangkah masuk. Ia tidak datang dengan blus pastelnya yang lembut, kali ini ia mengenakan blazer formal berwarna hitam, memancarkan aura profesionalisme yang sulit dibantah.

"Saya mau bertemu Kompol Surya," ucapnya tegas kepada petugas piket.

Tak lama kemudian, pintu ruang kerja Surya terbuka. Sang Kompol berdiri di sana, tampak sedikit terkejut namun dengan cepat menguasai keadaan. Ia memberikan isyarat agar Amara masuk.

"Surya," sapa Amara singkat saat pintu tertutup.

"Amara," balas Surya, suaranya rendah. Ia mempersilakan Amara duduk namun matanya tetap menyelidik. "Tumben sekali kamu ke kantor polisi. Ada masalah di Asia Afrika? Atau ini soal adik saya?"

Amara tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sebuah map di meja Surya—map yang berisi kontrak kerja sama label musik Bandung yang tadi ia tunjukkan pada Nadine.

"Mas, aku datang ke sini sebagai teman lama, bukan cuma bosnya Nadine," kata Amara mulai melunak. "Berhenti menyuruh anak buahmu memantau kantorku. Itu membuat stafku tidak nyaman, dan itu membuat Nadine merasa seperti tahanan, bukan pekerja."

Surya menyandarkan punggung, melipat tangan di dada. "Aku melakukan tugasku sebagai kakak, Mara. Kamu tahu itu."

"Kamu melakukan tugasmu sebagai polisi, bukan kakak," koreksi Amara tajam. "Nadine sedang mencoba bahagia. Dia sedang mengerjakan proyek desain untuk label lokal di Bandung. Ini murni bisnis. Kalau kamu terus-menerus menaruh curiga pada setiap langkahnya, dia justru akan lari lebih jauh darimu."

Surya terdiam. Ia menatap map itu, lalu menatap Amara. "Kamu menjamin tidak ada keterlibatan orang Jakarta di proyek ini?"

Amara menatap lurus ke mata Surya, melakukan sebuah pertaruhan besar demi kebahagiaan Nadine dan Ghava. "Secara administrasi, ini bersih, Surya. Percayalah padaku. Biarkan dia bernapas. Dia butuh merasa dipercaya oleh kakaknya sendiri."

Surya menghela napas panjang, tampak ada pergulatan batin di wajahnya yang kaku. Di satu sisi, ia sangat menyayangi adiknya, di sisi lain, ia melihat Amara—wanita yang dulu juga pernah ia kenal baik—sedang memohon demi kebaikan Nadine.

Anda berkata

"Sekalipun nadine kembali bekerja di tempat Ghava atau sejenisnya aku akan menjamin dia aman dan tetap dibelakang layar"ucap Amara tiba tiba

Kalimat Amara menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di ruangan itu. Surya yang tadinya mulai melunak, seketika menatap Amara dengan sorot mata yang jauh lebih tajam—setajam elang yang baru saja melihat mangsanya bergerak.

"Apa maksud kamu, Mara?" tanya Surya, suaranya kini kembali dingin dan penuh tekanan. "Tadi kamu bilang ini proyek label lokal. Sekarang kamu malah bicara soal kemungkinan dia kembali bekerja di tempat Ghava?"

Amara tidak gentar. Ia sedikit memajukan tubuhnya ke arah meja Surya.

"Maksudku, Mas... kita nggak bisa memenjara bakat seseorang selamanya. Nadine itu jiwanya ada di industri kreatif. Mau dia di Bandung atau di Jakarta, risiko itu selalu ada," jelas Amara dengan nada tenang namun berwibawa. "Tapi kalau kamu izinkan aku yang jadi jaminannya, aku akan pastikan dia tetap di balik layar. Tanpa kamera, tanpa eksposur, tanpa bahaya. Dia hanya akan jadi kreator di ruangannya."

Surya terkekeh sinis, ia berdiri dan berjalan mengitari mejanya. "Kamu menjamin? Amara, kamu sendiri tahu betapa liarnya dunia Ghava. Kamu dulu adalah bagian dari itu, dan kamu pergi karena alasan yang sama: ketenangan."

"Justru karena aku pernah di sana, aku tahu caranya melindungi dia!" potong Amara cepat. "Aku tahu celahnya, aku tahu siapa yang bisa dipercaya. Daripada kamu mengekangnya sampai dia depresi, lebih baik dia berada di bawah pengawasanku dengan 'jarak aman' dari Ghava."

Surya terdiam lama, ia menatap foto keluarga di sudut meja. Ia melihat senyum Nadine yang sangat ceria di foto itu—senyum yang belakangan ini terasa sedikit pudar sejak ia paksa pulang ke Bandung.

"Aku nggak akan kasih izin untuk dia kembali ke Jakarta," ucap Surya akhirnya, suaranya berat. "Tapi... kalau dia bekerja dari Bandung untuk proyek manapun, dan kamu yang bertanggung jawab penuh atas keselamatannya... aku akan kurangi pengawasanku. Tapi satu saja ada nama Ghava muncul di depan mukaku, aku sendiri yang akan jemput dia dan bawa dia pulang selamanya."

Amara menghela napas lega, meski ia tahu ia baru saja menaruh kepalanya di bawah pisau demi Nadine dan Ghava.

Amara menghela napas panjang sembari meletakkan tasnya di atas meja. Wajahnya yang biasa tenang kini menyiratkan kelelahan yang nyata setelah menghadapi konfrontasi dingin dengan Surya di kantor polisi. Ia menatap Nadine dengan tatapan yang sangat dalam, campuran antara kasih sayang dan peringatan.

"Nadine, mulai sekarang kamu harus kerja yang benar, ya," ucap Amara dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Mbak sudah menjaminkan diri Mbak sendiri di depan Mas Surya. Mbak pertaruhkan kepercayaan kakakmu demi kamu bisa tetap berkarya."

Nadine tertegun, jemarinya membeku di atas keyboard. Ia tahu betul siapa kakaknya—pria yang tidak akan pernah melepaskan mangsanya jika sudah mencium bau kebohongan. Jika Amara sampai pasang badan, artinya taruhannya adalah reputasi dan hubungan baik Amara dengan keluarga mereka.

"Mbak... kenapa Mbak lakukan itu?" bisik Nadine penuh rasa bersalah.

Amara tersenyum tipis, lalu mengusap bahu Nadine. "Karena aku tahu rasanya kehilangan kesempatan. Tapi ingat, Na, Mas Surya nggak akan kasih kesempatan kedua. Kalau dia sampai tahu ada keterlibatan Ghava secara langsung atau kamu ketahuan berhubungan lagi tanpa sepengetahuan dia, Mbak nggak akan bisa bantu lagi."

Nadine mengangguk pelan, dadanya sesak oleh rasa haru sekaligus beban tanggung jawab yang besar. Ia kembali menatap layar monitornya, ke arah proyek "The Muse" yang sebenarnya adalah kiriman hati dari Ghava.

"Aku janji, Mbak. Aku nggak akan bikin Mbak malu di depan Mas Surya," jawab Nadine mantap.

Nadine menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia menutup semua aplikasi pesan pribadi di ponselnya dan menyimpannya jauh di dalam laci meja. Pesan Amara tadi adalah peringatan sekaligus amanah yang sangat berat. Ia tidak boleh egois.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka laman email kantor. Di sana, sudah ada satu pesan masuk dari alamat email resmi label mitra mereka: "Re: Project 'The Muse' - Visual Concept Discussion".

Nadine tahu, di balik subjek formal itu, ada Ghava yang menunggu. Namun, ia memantapkan hati. Ia mengetik balasan dengan gaya bahasa yang sangat kaku dan profesional, seolah-olah ia sedang berbicara dengan orang asing.

To: Project Manager - The Muse Label From: Nadine - Creative Dept. (Asia Afrika Office)

Subject: Re: Project 'The Muse' - Visual Concept Discussion

Selamat siang,

Terima kasih atas kiriman materi asetnya. Saya sudah meninjau folder "Brief_Final_SilentLove". Secara teknis\, konsep visual akan saya arahkan ke nuansa melankolis namun tetap elegan sesuai permintaan.

Mohon dipastikan semua revisi dikirimkan melalui jalur email resmi ini untuk kepentingan dokumentasi kantor kami. Kami akan mengirimkan draf pertama pada hari Rabu.

Salam, Nadine

Di Jakarta, Ghava membaca email itu dengan senyum kecut sekaligus kagum. Ia bisa merasakan "jarak" yang sengaja diciptakan Nadine. Ia tahu ini bukan karena Nadine menjauh, melainkan karena gadis itu sedang melindunginya—dan melindungi Amara.

Ghava pun membalas dengan nada yang tak kalah formal, namun ia menyisipkan sedikit "bahasa rahasia" dalam detail teknisnya.

From: Project Manager - The Muse Label

Diterima. Untuk palet warna, tolong gunakan kode warna #41264A (Deep Violet) sebagai dasar. Warna ini melambangkan kesabaran dalam menunggu.

Kami percayakan sepenuhnya pada profesionalisme Anda.

Nadine melihat kode warna itu dan segera mengeceknya di aplikasi desain. Saat warna ungu tua yang dalam muncul di layarnya, ia tersenyum tipis. Ia tahu Ghava sedang berkata: "Aku sabar menunggu di sini."

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!