Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rachel Sakit
"Gimana rasanya diprank sama Mika? Itu yang Abang rasakan kalau tiba-tiba disuruh bayar semua belanjaan dan jajanan kalian," ucap Ronand saat semua sudah masuk ke dalam mobil.
Mika sudah tertidur dalam pangkuan Susan karena terlalu kenyang makan mie ayam, bakso, dan es campur. Gadis cilik itu seakan puas sudah makan banyak dengan menggunakan uang Rachel. Rachel yang diajak bicara oleh Ronand pun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Seringkali dia menjahili Ronand dan Mama Martha dengan membuat mereka membayar semua belanjaan. Kali ini giliran Rachel yang kena getahnya untuk membayar ganti rugi rusaknya sepeda Mika.
"Biasa aja tuh," Rachel terlihat cuek. Badannya begitu lelah dan wajahnya pucat. Bahkan sedari tadi Rachel terlihat memejamkan matanya. Ronand yang mengemudikan mobil pun mengalihkan pandangannya ke arah Rachel.
"Sakit?" Ronand langsung menempelkan tangannya pada dahi Rachel.
"Sedikit panas," gumamnya saat tahu bahwa Rachel pasti akan demam setelah ini.
"Capek," rengek Rachel yang duduk di samping kursi pengemudi. Sedangkan Susan berada di kursi penumpang.
"Tidur lah," suruh Ronand sambil mengusap rambut Rachel dengan lembut.
Ronand sedikit khawatir dengan kondisi Rachel yang badannya hangat. Sepertinya Rachel memang kecapekan karena selama satu minggu ini disibukkan dengan kegiatan OSPEK. Beruntung besok hari terakhir OSPEK, sehingga bisa libur sebentar sebelum mulai perkuliahan. Susan yang melihat interaksi keduanya pun merasakan hal yang tidak enak.
"Kenapa sama Rachel, Bang?" tanya Susan yang juga khawatir dengan Rachel.
"Badannya hangat. Kayanya kecapekan," ucap Ronand mencoba tenang.
"Kita pergi ke rumah orangtuaku aja ya? Rachel kalau lagi sakit, agak manja. Kasihan Oma dan Opa kalau harus mengurus Rachel," lanjutnya.
Susan hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ide Ronand. Rachel ini jika sakit sangat rewel, kasihan Mama Martha dan Papa Fabio kalau harus mengurus cucunya itu. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi karena jarak kampus dengan rumah Julian dan Chiara lumayan jauh. Tangan Rachel digenggam erat oleh Ronand karena laki-laki itu takut kembarannya kenapa-napa.
Mikir apa kamu itu, Chel?
Sakit fisik bisa diobati dengan istirahat. Beda kalau ada luka batin dan banyak pikiran,
***
Tin... Tin...
"Gendong Achel, Pa." titah Ronand saat melihat Julian keluar dari rumah. Setelah sampai di depan rumah, Ronand langsung menekan klaksonnya berulangkali agar ada yang keluar.
"Ketiduran?" tanya Julian dengan sedikit mengintip Rachel di dalam mobil milik Ronand.
"Sakit," jawab Ronand membuat Julian memelototkan matanya.
"Sakit? Kalau sakit ya dibawa ke rumah sakit. Ngapain ini dibawa pulang ke rumah dulu, Ronand? Kamu ini gimana sih?" seru Julian dengan raut wajah paniknya.
Bukannya segera mengambil Rachel yang tertidur di dalam mobil dan membawanya masuk, justru Julian mengomel bak Ibu kos menagih biaya kontrakan. Ronand mendengus sebal melihat Julian yang lebih mendahulukan mulut dibandingkan aksi. Bahkan Susan sudah keluar sambil menggendong Mika dengan susah payah. Padahal awalnya Ronand yang ingin membawa Mika biar nanti Rachel digendong oleh Julian.
Papa, berhenti ngomelnya. Kaya emak-emak lagi gosip saja. Kasihan itu badan Achel pada pegal-pegal kalau kelamaan tidur di kursi,
Ah... Iya,
Iya, ini Papa gendong. Gitu amat matanya,
Happ...
Menyebalkan sekali punya Bapak kaya dia. Banyak omong, no action.
***
"Ma, anakmu demam. Cepat ambil es batu besar di kulkas lalu tempelkan pada dahinya," seru Julian sambil menggendong Rachel susah payah.
Walaupun kelihatannya kecil, ternyata Rachel sangat berat. Bahkan saat menggendong Rachel, Julian langsung berteriak mencari istrinya. Ia membawa Rachel masuk ke dalam kamar tamu di lantai bawah. Dia tidak mau membawa Rachel ke kamarnya yang ada di lantai 2 karena kejauhan. Saat sedang panik, ide aneh selalu saja keluar dari mulut Julian itu.
"Papa kok aneh banget. Masa es batu suruh tempelin langsung ke dahi Rachel. Ya kan dingin banget," bisik Susan yang berdiri di samping Ronand. Bahkan kini Mika sudah berada di dalam gendongan Ronand.
"Dia emang aneh. Nggak usah dekat-dekat sama Papaku. Nggak jelas banget dia," jawab Ronand dengan pelan.
"Untung aku nggak ikutan aneh kaya Papa," lanjutnya membuat Susan terkekeh geli.
"Oh ya... Mika kita bawa pulang ke rumah Oma atau di sini aja?" tanya Susan mengalihkan pembicaraan.
"Di sini aja. Dia kan nggak bisa jauh dari Achel. Kita menginap malam ini di rumah Mama nggak papa kan?" tanya Ronand meminta persetujuan dari istrinya.
Susan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Baginya tidak masalah mau tidur dimana pun asal bersama suaminya. Apalagi tak mungkin Ronand akan membiarkan istrinya tidur tidak nyaman. Ronand membawa Mika ke kamarnya yang ada di rumah orangtuanya. Kamar yang diberikan khusus untuk Mika karena gadis cilik itu merasa kalau rumah tersebut juga rumahnya.
"Tidur lah sama Mika dulu. Aku mau cek Achel dan Mama. Tahu sendiri kan kalau Papaku itu..."
"Tidak bisa diandalkan," sela Susan sambil terkekeh geli.
"Emang kok. Kalau dalam situasi genting, Papa tuh otaknya pindah ke dengkul makanya nggak bisa mikir." ucap Ronand sambil tertawa.
"Selamat istirahat, istriku." ucapnya yang kemudian mengecup singkat pada kening Susan.
So sweet...
Aaaa...
Rasanya mau teriak,
***
Dugh...
Aaaaa...
Anak nggak ada...
Nggak ada apa, Mas?
Nggak ada cicilan, Sayang.
Ronand masuk ke dalam kamar tamu yang kini ditempati oleh Rachel. Tampak sekali kalau Chiara sedang mengompres dahi Rachel. Sepertinya benar dugaan Ronand jika Rachel demam, mungkin karena kelelahan. Sedangkan Julian, malah berdiri di pinggir ranjang sambil makan apel.
Ronand sampai tak habis pikir dengan kelakuan dari Papanya itu. Karena kesal, Ronand menendang tulang kering pada kaki Julian. Julian yang terkejut pun hampir saja mengumpati anaknya itu. Namun Chiara langsung memelototinya membuat Julian terdiam. Sedangkan Ronand meledek Papanya yang tak bisa berkutik di hadapan Chiara.
"Sepertinya Achel kelelahan, Ma. Seharian kan kegiatannya emang di lapangan terus. Setelahnya malah Mika datang ke kampus, minta Achel yang bayar makanan anak-anak lain." ucap Ronand mengatakan tentang kegiatan Rachel hari ini.
"Apa? Jadi Achel yang bayar makanan anak-anak lain? Semuanya? Wah... Ini sakit karena duitnya habis." seru Julian sambil menggelengkan kepalanya.
"Isi itu rekeningnya Rachel, Ronand. Jangan jadi kembaran yang pelit. Kamu kan udah kaya melebihi Papa," lanjutnya menyuruh Ronand agar mengganti semua pengeluaran Rachel hari ini.
"Ngaca, Pa. Papa itu yang pelitnya minta ampun. Masa kasih jatah bulanan ke Achel cuma..."
Hmph...
Berapa emangnya jatah bulanan Achel, Onand? Bukannya 100 juta,
Iya, Sayang. 100 juta per bulan,
Dugh...
Arghhh...
Bohong, Ma. Cuma 10 juta,
Apa?