NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Keadilan

Hari kedua puluh tujuh. Pukul 07.00 pagi.

Jakarta masih dalam dekapan kabut tipis saat Dewa mengerem motor di depan gerbang kampus. Biasanya, parkiran pagi hanya dipenuhi suara mesin dan langkah kaki mahasiswa yang tergesa-gesa. Tapi hari ini, sesuatu berbeda.

Sesuatu yang menggoda indra penciuman.

bau minyak panas, aroma tepung yang digoreng sempurna dan wangi bawang putih kunyit yang menyeruak.

Di setiap sudut parkiran—biasanya kosong atau hanya ada satu-dua penjual kopi keliling—sekarang berdiri gerobak-gerobak gorengan, satu, dua mungkin tiga masing-masing dengan spanduk merah menyala yang berkibar angin pagi:

"GORENGAN MURAH MERIAH! BELI 2 GRATIS 1 KHUSUS MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI!"

Dewa mengerem mendadak, ban motor berdecit pelan di aspal. "Bu... ini apa?"

Dian yang duduk di belakang mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang biasanya tenang kini menyipit, mengamati dengan tatapan berbeda—bukan rasa penasaran, tapi pengenalan.

"Saya gak tahu, Dewa, mungkin ada yang ulang tahun," gumamnya pelan.

"Ulang tahun dengan gerobak gorengan ?"

Perempuan cantik itu turun dari motor, kakinya melangkah mantap mendekati gerobak terdekat, berdiri di bawah pohon ketapang dengan dudukan plastik biru bertumpuk rapi.

Di balik gerobak, seseorang berdiri dengan celemek putih dan senyum yang terlalu lebar, terlalu penuh kemenangan.

Budi.

"Selamat pagi, Ibu Dian!" serunya ceria—entah karena dingin pagi atau adrenalin yang tinggi.

"Se- la- mat, pagi Bu-di," Dian tergagap melihat nya. "Kamu tidak masuk kelas ?"

" Nanti siang Bu, pagi ini saya jual gorengan. Ibu mau goreng? Hari ini promo spesial untuk dosen dan asisten dosen favorit kami!"

Ia mengedip sekali dua kali terlalu berlebihan.

Dian berhenti di depan gerobak. Tangannya—yang biasanya memegang tas kulit berisi jurnal dan pena—kini terkepal ringan di sisi tubuh. "Budi... ini apa-apaan?"

Pemuda itu mencondongkan badan, suaranya turun menjadi bisikan hampir tenggelam dalam desiran angin dan gemericik minyak di wajan: "Operasi Gorengan, Bu, kode untuk mengumpulkan informasi."

Ia mengangkat alis tinggi "Informasi?"

"Duduk dulu, Bu. Saya jelaskan. Ada kopi panas juga—kopi item dari warung Pak Tarno, bukan sembarang kopi."

 

Pukul 07.15. Pojok parkiran yang tersembunyi di balik deretan motor.

Budi, Rani, Joko, dan kini Dewa serta Ibu Dosen duduk berjajar di "bangku darurat"—tumpukan kardus bekas yang disusun rapi ditutupi kain sarung. Di depan mereka, gerobak gorengan berdiri seperti benteng, mengeluarkan uap panas berdansa ke udara.

Budi membagikan gorengan gratis dari nampan aluminium yang mengkilap, tempe mendoan yang masih renyah, bakwan jagung dengan serat wortel terlihat segar dan pisang goreng dengan kulit garing berwarna cokelat keemasan.

Rina mengambil satu bakwan, tapi tidak langsung memakannya menatap "Bu, begini ceritanya, kami nggak terima Ibu diperlakukan nggak adil sama Pak Dekan."

Perempuan itu diam, wajahnya seperti topeng—tidak terbaca, tidak memberikan petunjuk hanya matanya yang bergerak, mengamati setiap anak di hadapan satu per satu.

Joko menyambung, suaranya lebih rendah penuh dengan kesungguhan "Jadi kami putuskan... mengumpulkan bukti."

"Bukti apa?" tanyanya penuh kekhawatiran yang disembunyikan.

Budi meletakkan nampan berdiri, tangan kanannya terkepal di depan dada seperti sedang berpidato—atau berjanji. "Bukti kalau Pak Dekan menyalahgunakan wewenang, balas dendam dan main kuasa."

Ia menghela napas panjang dalam, konflik dengan Prof Hadi dimulai. "Anak-anak... ini berbahaya."

Rani menggelengkan kepalanya bergerak tegas, rambut diikat kuncir kuda bergoyang sedikit. "Kami tahu, Bu. Tapi kami juga punya hak membela dosen yang baik, hak untuk membela keadilan."

"Ibu tidak mau kalian terkena masalah, kalian masih punya masa depan. Kalian—"

"Saya sudah siap, Bu." Joko tersenyum kecil "Dan kami punya rencana sudah kami pikirkan matang-matang semalaman."

"Rencana apa?"

Budi mengangkat tangan, menunjuk gerobak-gerobak yang tersebar di penjuru parkiran—masing-masing dengan penjual yang sibuk menggoreng, tapi mata mereka selalu waspada. "Ini. Operasi Gorengan. Kami sebar orang di setiap sudut kampus. Semua gerobak ini punya tugas ganda: jualan... dan memantau pergerakan Pak Dekan."

Dewa melongo mulutnya terbuka - tertutup persis ikan cupang. "Lo serius, Bud? Ini bukan cerita film loh, ini kampus."

"Gorengan gue sudah terkenal, Wa, semua orang datang, satpam yang baru pulang shift malam. Dosen lupa sarapan. Mahasiswa bokek. Bahkan Pak Dekan sendiri kadang beli—gue inget, dia suka tempe mendoan agak gosong." Ia tertawa kecil. "Mereka ngobrol bercerita. Dan gue... denger, gue denger semuanya."

Ibu Dian menatap mereka satu per satu, anak anak baik membuatnya terharu berkaca kaca "Kalian..." suaranya turun, hampir berbisik. "Kalian sungguh mau melakukan ini untuk ibu ?"

Rina mengangguk tegas "Untuk Ibu, kami ingin menghilangkan stigma negatif kepada teman mahasiswa lain bahwa ibu adalah dosen baik, mentor kami yang memberi kami ilmu, kekuatan untuk maju."

Ia menatap Dewa. Matanya bertanya—apakah ini benar? Apakah ini ide yang bagus?

Dewa tersenyum tipis mengandung ribuan makna. "Kita lihat nanti, Bu."

 

Pukul 10.00. Lorong Dekanat.

Rina duduk di bangku panjang berbalut kulit sintetis yang sudah mengelupas di beberapa tempat. Di pangkuannya, buku "Manajemen Strategi" terbuka di halaman 127—tapi matanya tidak pernah ke halaman itu. Matanya, di balik kacamata yang ia pakai hari ini (padahal biasanya tidak), mengawasi pintu ruang dekan dengan intensitas predator menunggu mangsa.

Kaki Prof Hadi terdengar lebih dulu—detak sepatu kulit yang khas, cepat dan tidak sabar. Pintu terbuka dengan hentakan keras, wajahnya merah padam, bukan karena panas, tapi amarah terpendam.

Di belakangnya, Bu Lastri muncul dengan wajah tegang—garis-garis halus di wajahnya yang biasanya ramah kini berkerut dalam kekhawatiran.

"Pokoknya saya tidak mau diganggu!" suaranya memecah keheningan lorong, membuat beberapa mahasiswa lewat menoleh kaget. "Kalau ada yang cari—siapapun itu—bilang saya rapat, tidak ada, kalau perlu mati sekalian."

Bu Lastri tersentak kaget," Bapak mau kemana? "

"Mau ke kamar mandi, kamu mau ikut ?"

Ia menggeleng, " Baik, Pak saya mengerti."

" Apa yang membuat kamu mengerti? "

Prof Hadi naik pitam berbalik, jas abu-abunya berkibar, berjalan ke arah kantin dengan langkah berat seperti membawa beban rahasia.

Rina menunggu tiga detik, lima detik memastikan Prof Hadi sudah cukup jauh. Lalu jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel.

Rina: [10.05]

🚨 BURUNG LEPAS! ARAH KANTIN! JOKO, SIAP! 🚨

 

Pukul 10.10. Kantin Utama.

Joko duduk di meja pojok, di sudut dekat jendela yang menghadap ke taman. Di depannya, sepiring nasi goreng sudah dingin—ia pesan tiga puluh menit lalu dan tidak pernah disentuh. Di sampingnya, buku "Ekonomi Mikro" terbuka, menjadi tameng sempurna.

Dua meja dari sana, Prof Hadi duduk dengan kopi hitam dalam cangkir keramik kampus. Ia tidak memesan makanan. Hanya kopi. Dan kegelisahan terlihat dari caranya menggerakkan kaki di bawah meja.

Ia lalu mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya bergerak cepat, menelpon. Joko mengangkat bukunya sedikit lebih tinggi, menyembunyikan ponselnya sudah dalam mode rekaman di balik sampul tebal.

"Ya..." suara Prof Hadi pelan, tapi di ruangan yang sepi, cukup jelas. "Sudah saya lakukan. Iya. Sekarang dia tahu posisinya." Jeda, napasnya berat. "Dia harus tahu... siapa yang berkuasa di sini. Siapa yang bisa menghancurkan kariernya dengan satu tanda tangan."

Joko mencatat bukan di ponsel—tapi di nota kecil yang ia sembunyikan di balik buku. Tangannya gemetar, kemenangan kecil bukti pertama.

---

Pukul 12.00. Markas Operasi (pojok parkiran yang sama, tapi kini dengan payung terpal sebagai atap darurat).

Tim berkumpul dengan wajah berbeda-beda. Budi membawa nampan penuh gorengan—sisa jualan pagi yang kini menjadi makan siang operasi. Rani membawa buku catatan kecil dengan tulisan tangan rapi. Joko membawa ponsel dengan file rekaman yang baru saja ia backup ke tiga tempat berbeda.

Rina berdiri, bukunya terbuka di halaman yang penuh dengan catatan. "Oke, update dari Pos 4: Pak Dekan dalam kondisi sensitif ekstrem. Jangan diganggu katanya—tapi yang gue lihat, dia seperti kerasukan jin ifrit."

Budi mengunyah bakwan, tapi matanya fokus. "Dari Pos 1: Satpam, Bang Udin cerita, Pak Dekan sering telepon orang tak dikenal. Biasanya sore, setelah jam kerja gesturnya... gelisah seperti berurusan dengan debt collector kredit panci."

Joko menarik napas dalam. "Dari Pos 2..." Ia mengeluarkan ponselnya, memutar rekaman dengan volume pelan tapi cukup jelas. Suara Prof Hadi terdengar—pelan, tapi menusuk: "Dia harus tahu... siapa yang berkuasa di sini."

Mereka diam. Sejenak, hanya suara kendaraan dari jalan raya yang terdengar. Udara terasa berat—seram, tapi juga penuh dengan potensi.

Rina menutup bukunya dengan bunyi pelan. "Ini bukti bukti pertama."

Budi menggeleng. "Tapi belum cukup. Kita butuh lebih. Kita butuh bukti konkret—dokumen, email, atau minimal nama orang yang dia telepon."

Joko menatap rekaman di ponselnya. "Kita butuh... apa yang dia rencanakan selanjutnya. Kita harus tahu langkahnya sebelum dia tahu langkah kita."

"Gimana caranya?" tanya Rina "Kita nggak bisa masuk ruangan, kita nggak bisa jadi nyamuk."

Budi tersenyum "Gue punya ide. Ide yang gila. Tapi bisa jalan."

 

Pukul 14.00. Ruang Dekan.

Bu Lastri mengetuk pintu dengan tiga ketukan halus—ketukan yang ia latih selama sepuluh tahun bekerja di kampus ini. "Pak, ada kiriman."

Prof Hadi mengangkat alis dari balik mejanya yang penuh tumpukan dokumen. "Kiriman? Dari siapa?"

"Tidak ada nama, Pak. Hanya ini."

Sebuah kotak makanan kertas cokelat—kotak yang biasa digunakan untuk kue ulang tahun, tapi kini berisi sesuatu berbau gurih.

Prof Hadi membuka, ada gorengan tempe mendoan masih hangat, pisang goreng berwarna keemasan sempurna dengan catatan kecil di atas kertas putih:

"Untuk Bapak Dekan tercinta. Semoga sehat selalu dan tetap berkuasa. - Pengagum Rahasia"

Pria perut buncit itu tersenyum sombong, penuh kepuasan diri. "Lihat, Lastri? Aku masih punya penggemar masih ada yang menghargai kekuasaanku."

Bu Lastri hanya diam, tapi matanya menunjukkan kebingungan disembunyikan dengan baik, " Siapa penggemar bapak? bapak bukan artis." Ups ia keceplosan omong, bibirnya bergetar.

"Lastri ! "

Cukup satu kalimat membuat perempuan paruh baya itu keluar dengan cepat menutup pintu.

 

Dewa menunggu di dekat motor, tangan kanannya memegang helm, tangan kirinya mengusap jok yang berdebu. Pikirannya masih dipenuhi Operasi Gorengan—gerobak-gerobak yang tersebar, teman-temannya yang berpura-pura jadi mata-mata, risiko yang mereka ambil.

Ibu dosen keluar dari gedung dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Wajahnya lelah—garis halus di sudut matanya terlihat lebih jelas di bawah sinar sore. Tapi ketika ia melihat Dewa, senyumnya muncul. Senyum yang tulus, mengubah wajah lelah menjadi berbinar.

"Tim kamu bekerja keras, Dewa" katanya sambil mendekat mengambil helm dari tangannya. "Saya lihat gerobak-gerobak itu masih di sana. Penjualnya... pura-pura sibuk, tapi mata mereka selalu mengawasi."

Dewa tersenyum tipis. "Mereka sayang Ibu, nggak mau Ibu disakitin."

Ia berhenti sejenak sebelum memasang helm. menatap kepedulian yang jarang ia temui di dunia akademik keras. "Saya nggak pernah menyangka... akan punya teman sebanyak ini. Saya selalu berkutat sebagai tenaga pengajar, datang, ngajar,lalu pulang. Tapi ternyata..." ia berhenti, mencari kata yang tepat. "Ternyata saya punya orang, punya tim dan keluarga."

" Ibu sudah melakukan yang terbaik, ini mungkin balasannya."

Motor melaju meninggalkan kampus. Sore Jakarta mulai redup, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan di spion motor, gerobak-gerobak gorengan masih berdiri tegak—benteng-benteng kecil yang menjaga keadilan.

1
D_wiwied
jangan cuma dijadikan pelarian lho pak, kasian bu Lastri.. btw selamat dulu deh selamat menempuh hidup baru smg berbahagia selalu dan cepat lupakan Dian, dia bukan untukmu dia milik Dewa 😆😁
D_wiwied: waahh 😍
total 4 replies
D_wiwied
ternyata aisyah orang baik 😁
Ddie: ya mba ..baik kaya mba tapi gak cerewet 🤣🤣
kalau Aisyah suka dewa, kacau deh mba ...ntah kemana cerita nya😄
total 2 replies
D_wiwied
yups, bodoh pake bangetttt
D_wiwied: gemes kak gemessss aku tuh

ya ampuuun mlh pake diwarning segala : komen terlalu cepat kata sistem 🤣🤣
total 2 replies
D_wiwied
awas lho Wa, kalo sampe kamu main hati sm cewek lain aku blebekin kamu di Ciliwung 😏
D_wiwied: ide yg bagusss 🤭😆
total 2 replies
D_wiwied
harusnya kamu nanya dirimu sendiri Di, apa kamu sanggup?
Ddie: gaya nya Bu dian aja mba, padahal hatinya resah
total 1 replies
D_wiwied
sorry bu, Dewa mau pergi hiling ke luar negri sama aku.. jd gausah ditunggu yaaa 🤭🤭
D_wiwied: moso ke luar negeri bantar gebang, emoh ah
total 2 replies
D_wiwied
mbuhlah Di, sakarepmu
D_wiwied: tau tu bu dosen, ikutan plin plan ky si Dewa
total 2 replies
D_wiwied
ego mengalahkan cinta,, putus ya putus aja mungkin lbh baik saling menjauh dulu agar kalian mengerti arti kehadiran seseorang setelah orang itu tdk ada di sisimu
Ddie: heheh...nyeplos kadang membuat ngakak ya mba, tapi ada ilmu yang terselip ...
total 3 replies
D_wiwied
kapokmu kapan Wa kamu be to the go sih, membiarkan ketidakjujuran smpe berlarut-larut, wes terima nasib aja kalo nanti kamu didepak bu D.. rekor ini belum lama jadian udah di putusin aja 😆😆🤭
berjuang dong Wa, tunjukkan kesungguhan mu smg bisa meluluhkan hati Dian
Ddie: hahahah🤣🤣🤣🤣...aduh tuhan
total 3 replies
D_wiwied
itu bukan cinta tp obsesi, sebenarnya kamu tau kans mendapatkan Dewa kembali sdh tdk ada,, dahlah stop smpe disini aja
Ddie: namanya juga usaha mba..siapa tahu berubah, sifat manusia begitu, penyesalan datang disaat semuanya telah terjadi. Sasha gak akan mengerti, tapi usaha nya tidak akan mempan..Dewa bukan seperti laki laki cengeng...dia pasti berusaha
total 1 replies
D_wiwied
resiko yg hrs kamu tanggung Wa, resiko yg hrs kamu bayar krn kepengecutanmu yg tdk mau terus terang,, rasain kamu klo bu D ntar ngambek 🤣🤣
D_wiwied: wkwkwk pengen ku tampol pake parutan kelapa 🤣🤣
total 2 replies
D_wiwied
cinta ternyata bisa bikin orang jd bodoh ya, mau2 nya kamu diperalat sm si micin masuk ke dlm jebakan yg bisa membuat kamu kehilangan integritas, selamat menikmati kehancuran pakdos 😆😆
D_wiwied: nahh, sok2 an pake acara menyesal segala.. kenapa penyesalannya hrs nunggu smpe 15 tahun? kemarin2 kemana kamuuu, andai istri Arif ga meninggoy pasti ga bakalan ada cerita mengejar cinta lama ya kaaan
total 2 replies
D_wiwied
ngarang banget bocah sstu ini, bukan Dewa yg mengkhianati tp kamu yg ninggalin dia krn kamu mikirnya Dewa adalah mahasiswa kere, dan setelah sekarang kamu tau Dewa anak orkay kamu ngejar dia lagi.. dasar gatau malu
Ddie: 🤣🤣🤣 oke siiip ...gak deh
total 3 replies
D_wiwied
nahkaan kumat lg kan di Dewa nya ngfreeze 🤣🤣
D_wiwied: jangan2 pengalaman pribadi ya thor 🤭😆✌
total 6 replies
D_wiwied
kenapa mlh jd insecure bu D, mana Dian yg galak yg tegar yg selalu percaya diri.. tunjukkan pesonamu bu D😆💪
D_wiwied: /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
total 4 replies
D_wiwied
sabar Wa sabaaar bu D ga kemana-mana🤭😆
D_wiwied
wah wah giliran bu D yg ngebet pengen dicium, tp ya ga di dkt ruang bedah mayat dong bu ntar kalo ada yg ikutan nimbrung gimana 😆😆🤣🤣🤭
Ddie: 🤣🤣🤣🤣..awas ya mba ...
total 3 replies
D_wiwied
woyy mulai berani ya kamu Wa,, sptnya krn sdh cerita sama bu D bikin perasaan dan hati kamu jd lbh plong ya Wa, jd lbh hidup n jd normal lg 🤭🤭
Ddie: 🤣🤣🤣...Dewa itu kadang baik dan sopan, terkadang acak adul, mba, tapi dia memang sayang dengan Bu Dian sepenuh hati😄
total 1 replies
D_wiwied
yaa cewek kan emang gitu Wa, awalnya aja jaim ntar kalo dah jadian keluar deh manjanya 🤭
Ddie: hehehe...mba wied benaran tuh, cewek emang susah ditebak...jinak jinak merpati 🤭
total 1 replies
sitanggang
udah bab 20 kok masalah cincin saja gak kelar2 yaa, gak lucu, parah 😂🤣😂🤣🤦🤦
Ddie: kalau di jelasin, ntar novel nya cepat tamat bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!