NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpuruk

Pagi itu rumah Naya terasa lebih sunyi dari biasanya. Tanpa ada pesan yang menyapanya. Tanpa ada nada dering yang menjadi alarmnya. Itu setelah Damar benar-benar tak lagi ada di dunia.

Halaman rumah yang setiap paginya disinggahi motor bersama laki-laki yang selalu dirindukannya, kini hanya menyisakan sunyi. Rutinitas sederhana yang selalu ditunggu-tunggu Naya, tak akan kembali lagi.

Tirai kamar masih tertutup rapat, membiarkan cahaya matahari hanya masuk melalui celah kecil di jendela. Naya duduk di sudut tempat tidurnya, memeluk lutut, menatap kosong ke arah meja belajar yang masih menyimpan foto Damar.

"Dam.... apa kabar? apa kamu tidak rindu?" hanya air mata yang setia mengalir di pipinya.

Hari-hari setelahnya menjadi hari yang buruk, waktu yang berputar cukup lama bagi Naya. Ingin bertemu Damar, tapi tak tau kemana benar-benar bisa menjumpainya.

"Dam, kemana aku bisa menjumpai mu?" Naya menangis terisak, menutup wajah dengan kedua tangannya.

Beberapa hari berlalu sejak pemakaman Damar, tapi Naya masih belum benar-benar keluar dari kamar.

Di luar, ibunya mengetuk pintu dengan pelan.

“Naya.....kamu sudah bangun, Nak?”suara Ibunya terdengar hati-hati.

Tidak ada jawaban.

Ibunya mencoba lagi.

“Sayang.....Ibu sudah buatkan sarapan ini. Kamu makan ya, sedikit aja,”

Tetap tidak ada respon.

Ibu duduk di tepi ranjang Naya, menggenggam piring di tangannya, "ini makanan kesukaan mu loh, Nak."

Menatap putrinya yang hanya tertunduk, tak membalas tatapannya.

Ayahnya berdiri di balik pintu kamar Naya, menghela napas pelan. Masuk mendekati istrinya dengan langkah pelan “Biarkan dulu, Bu. Naya mungkin butuh waktu. ”

Naya memang mendengar semuanya. Namun bibirnya terasa berat untuk bergerak.

"Ya sudah, ibu letakkan di meja, ya."

Ayah dan ibunya keluar melangkah keluar, meninggalkan Naya sendiri.

Pintu tertutup pelan, Naya mengangkat wajahnya, matanya beralih ke foto kecil di meja. Foto dirinya dan Damar saat duduk di taman. Damar tersenyum lebar sementara Naya terlihat tertawa setengah malu.

Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat.

“Hei.....kamu masih jelek kalau difoto dadakan,” gumamnya pelan, seolah Damar ada di depan mata.

Ia tertawa kecil.

Tawa yang singkat, ringan hampir seperti dulu.

Namun beberapa detik kemudian, matanya mulai berkaca-kaca.

“kenapa kamu pergi cepat sekali....Kenapa, Dam? ”suaranya pecah.

Tawa itu berubah menjadi tangis tanpa suara. Bahunya bergetar pelan.

Siang hari, Ibu Naya memberanikan diri lagi masuk ke kamar membawa sepiring nasi dan sup hangat.

“Naya....Ibu masuk ya,”

Naya tidak menoleh. Ia masih duduk di posisi yang sama.

“Kamu belum makan dari pagi, sayang.....” melihat piring itu tidak berpindah posisi.

Tidak ada jawaban.

Suasana hening.

Ibunya memandang punggung Naya yang terlihat kurus dan tidak segar.

“Ayah kangen dengar kamu cerita katanya,” lanjut ibunya pelan. Ibunya mencoba mencari topik lain agar Naya mau mengeluarkan suaranya.

Naya menggenggam ujung selimutnya lebih erat.

Tetap tanpa jawaban, hanya air mata yang membasahi pipinya.

Melihat keadaan putrinya yang terpuruk, Ibu Naya tak bisa menahan tangisnya. Akhirnya ibu Naya keluar kamar dengan langkah pelan. Menatap Naya dengan tatapan kasih.

Ibu Naya duduk di ruang tamu, menangis dalam diam. Suaminya menghampiri dan duduk di samping istrinya, lalu mengusap punggungnya perlahan.

"Sudah, Bu... " Ucapnya pelan.

"Bapak, lihat sendiri kan? Naya bukan seperti yang dulu. Dia makin terpuruk. Makan saja dia nggak mau. Bicara sama Ibu juga engga mau, Pak."

Ayah Naya menggenggam tangan istrinya, "kita bantu pelan-pelan ya, Bu."

_

Malamnya, hujan turun pelan. Suara kamar mengisi kamar yang gelap. Naya berbaring sambil menatap langit-langit. Pikirannya penuh kenangan.

Suara Damar seolah terdengar lagi.

“Naya, kalau hujan begini enaknya minum coklat hangat.”

Naya tersenyum di kegelapan.

“Kamu selalu bilang begitu,”bisiknya.

Ia membayangkan Damar duduk di dekat jendela, menyandarkan dagu di telapak tangan sambil tersenyum.

Tiba-tiba Naya tertawa kecil.

“Kamu itu sederhana sekali......tapi itu yang buat aku bahagia.”

Tawa itu berhenti mendadak ketika ia sadar kursi itu kosong. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Ia memeluk bantal, menekan wajahnya, mencoba meredam suara tangisnya.

Hari-hari berikutnya berjalan lambat.

Naya hampir tidak pernah keluar kamar kecuali kamar mandi. Ibunya sering meninggalkan makanan di depan pintu. Kadang makanan itu dimakan sedikit. Kadang tidak sama sekali.

Suatu sore, Ayah mencoba berbicara dari balik pintu.

“Naya.....Ayah duduk di sini ya,”

Naya mendengar suara kursi ditarik.

”Ayah nggak akan tanya apa-apa, cuman ingin melihat wajah putri Ayah yang sangat cantik” lanjut Ayahnya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Tanpa kata dari Naya.

“Dulu waktu kamu kecil, kalau sedih kamu suka duduk di dekat Ayah tanpa bicara” kata Ayah pelan.

Naya menggigit bibirnya, menahan tangis yang mulai naik lagi.

“A-Ayah......Ayah” ucap Naya terbata bata.

Ayahnya langsung menoleh.

“Iya, Nak?” jawabnya cepat.

Butuh waktu beberapa detik sebelum kata berikutnya keluar.

“Naya, nggak bisa. Naya terluka,” tangisan Naya pecah.

Ayah mendekat, duduk di sampingnya, memeluk Naya erat.

“Ayah akan selalu disini untukmu, Nak. Kamu pasti bisa.” Ayahnya mengelus rambut Naya.

Naya menangis, tangisan yang selama ini ia tahan. Tangannya memegang lengan Ayahnya.

Di antara tangis itu, Ibunya berada di belakang pintu kamar Naya.Ibu menutup mulutnya supaya suara tangisnya tak mengganggu Naya dan Ayahnya.

“Kita bisa mengingatnya bersama-sama, Nak” kata Ayah berusaha menenangkan.

Kesedihan itu masih ada. Tanpa ada yang bisa memastikan kapan itu akan berakhir.

Di tengah kehilangan yang besar, Naya mulai merasakan satu hal kecil yang kembali, dia tidak benar-benar sendiri.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!