Sawyer Reynolds, seorang mahasiswa miskin di Central International University, menghadapi penghinaan dari pacarnya, Stella Reed, dan mahasiswa kaya, Dylan Cooper, yang mencampakkannya karena uang. Setelah dipukuli dan dikeluarkan dari kelas, Sawyer ditemukan oleh seorang pria kaya, Samuel, yang ternyata adalah ayahnya yang telah lama hilang. Sawyer mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal kekayaan triliunan dolar. Dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder, Sawyer berencana untuk membalas dendam kepada mereka yang telah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pembayaran Berhasil
"180.000 dolar?" Stella dan Lisa sama-sama terkejut, mulut mereka terbuka lebar. Meskipun mobil itu sangat bagus, harganya jauh melampaui apa yang mereka bayangkan.
Pandangan Lisa kemudian tertuju pada sebuah Maserati MC20, model yang sama yang sebelumnya ingin dibeli oleh Sawyer. Ia mendekatinya dengan harapan harganya lebih masuk akal. "Berapa harga yang ini?" tanyanya, berharap angkanya lebih rendah.
Manajer itu mendekat sambil tersenyum dan menjawab, "Maserati MC20 ini dihargai 250.000 dolar, dengan diskon 1.000 dolar."
Lisa dan Stella terengah kaget. Mereka terlihat sangat terguncang. Mereka belum pernah melihat jumlah uang sebesar itu, apalagi mempertimbangkan membeli mobil dengan harga seperti itu.
Berusaha tetap tenang, Stella memuji harga tersebut lalu berkata, "Kami akan mempertimbangkan untuk membelinya lain waktu."
Jawaban yang tidak terduga itu membuat sales dan manajer terkejut. Mereka mengira akan terjadi penjualan saat itu juga, bukan keputusan yang ditunda. Setelah berdehem, manajer itu bertanya, "Maaf, aku kira kau datang kesini untuk membeli mobil hari ini."
Stella memaksakan senyum lalu berkata, "Oh tidak, pacarku yang berencana membelikanku mobil dalam waktu dekat, jadi aku datang ke sini untuk mencari informasi tentang harga dan memutuskan mobil mana yang ingin aku minta darinya nanti."
"Apa?" Ekspresi manajer itu berubah menjadi kesal. "Jadi kau tidak datang untuk membeli, dan kau hanya membuang waktuku sambil berdebat dengan seseorang di luar?"
Stella mengerutkan kening lalu membalas, "Apa salahnya datang menanyakan harga mobil tanpa berniat membeli sekarang?"
Manajer itu menyeringai dan berkata, "Lalu apa bedanya kau dengan pria yang tadi kau hina karena tidak mampu membelinya?"
Dengan marah, Stella menjawab, "Jangan bandingkan aku dengannya. Pacarku mampu membeli semua mobil disini, sedangkan dia tidak."
Manajer itu menjawab dengan nada meremehkan, "Bagaimanapun juga, datang ke sini dengan alasan seperti itu dan membuang waktu kami tidak kami hargai. Kami di sini untuk membantu pembeli yang serius, bukan orang yang hanya melihat-lihat untuk pembelian di masa depan. Harap mengerti posisi kami."
Wajah Stella memerah karena marah saat mendengar kata-kata merendahkan dari manajer itu. "Berani sekali kau menganggap aku bukan pembeli yang serius!" balasnya dengan suara yang meninggi.
"Aku datang ke sini untuk mencari informasi, seperti pelanggan lainnya. Apakah itu sebuah kejahatan untuk mencari informasi?"
Senyum sinis manajer itu semakin lebar. "Mencari informasi? Kau tidak datang untuk mencari informasi, kau datang untuk memuaskan rasa penasaranmu dan membuang waktu kami. Kami tidak punya waktu untuk melayani orang yang hanya melihat-lihat sepertimu."
Kemarahan Stella semakin memuncak. "Aku bukan orang yang hanya melihat-lihat!" teriaknya, suaranya menggema di seluruh showroom.
"Aku adalah calon pelanggan, sama seperti orang lain di ruangan ini. Aku berhak melihat-lihat dan menanyakan tentang produk tanpa harus menerima sikap merendahkan darimu."
Mata manajer itu berkilat kesal. "Dengarkan, Nona," katanya dengan nada penuh sindiran, "kami di sini untuk menjual mobil, bukan untuk menghibur orang yang tidak bisa memutuskan. Jika kau belum siap membeli, silakan keluar dari sini."
Rahang Stella mengeras, tangannya gemetar karena marah. "Baik," katanya dengan nada tajam, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar bersama Lisa. Saat melewati manajer itu, ia berhenti sejenak dan menatap langsung ke matanya.
"Kesombongan dan sikap kasarmu akan merugikanmu," katanya dengan suara penuh kemarahan. "Kau baru saja kehilangan calon pelanggan, dan aku akan memastikan semua orang mengetahui perilaku burukmu."
Segera setelah mereka pergi, manajer itu menatap sales pria dengan marah lalu menamparnya dengan keras.
"Lain kali jangan bawa orang yang hanya akan membuang waktuku, mengerti? Apa bedanya dia dengan pria yang tadi?"
Sales pria itu meringis kesakitan sambil memegang pipinya. "Maaf, bos, aku tidak tahu..."
"Diam!" bentak manajer itu sebelum berjalan pergi.
Sales pria itu mengusap pipinya yang sakit sebelum akhirnya ikut pergi.
Sementara itu, di showroom yang lain, sales wanita berlari menuju Sawyer dengan wajah penuh kegembiraan.
"Kak, kak," katanya dengan suara penuh semangat, "berhasil! Pembayarannya berhasil, dan sekarang kau adalah pemilik Maserati MC20! Dan yang lebih hebat lagi, aku mendapatkan komisi penjualan terbesarku!"
Sawyer mengangguk dengan senyum puas. "Tentu saja berhasil," katanya dengan percaya diri. "Aku bahkan punya cukup uang untuk membeli Bugatti di sana. Maserati hanya mainan kecil bagi ku."
Sales wanita itu sedikit terkejut dengan ucapan santai Sawyer. "Jadi, itu berarti semua rumor tentang kau miskin itu salah?" tanyanya dengan penasaran.
Sawyer tertawa pelan. "Jangan perhatikan omong kosong itu," katanya. "Orang-orang akan selalu berbicara, tetapi kata-kata mereka tidak menentukan siapa diri kita. Aku adalah diriku sendiri, dan aku membiarkan tindakanku yang berbicara."
Sales wanita itu mengagumi sikap percaya diri Sawyer. Awalnya ia memang ragu pada kata-kata Sawyer, tetapi tindakan Sawyer baru saja membuktikan semuanya.
"Kau benar-benar misterius, kak," katanya dengan nada kagum. "Aku senang bisa bertemumu dan melihat kesuksesanmu secara langsung."
Sawyer tersenyum hangat. "Terima kasih atas kata-kata baikmu," jawabnya. "Dan terima kasih atas pelayananmu yang luar biasa. Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuanmu."
Sales wanita itu tersenyum bangga. "Itu adalah kehormatan bagiku," katanya dengan penuh rasa syukur. "Aku berharap bisa berbisnis denganmu lagi di masa depan."
Setelah percakapan singkat itu, Sawyer meminta sales wanita itu untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk pembelian Maserati tersebut.
Saat sales wanita itu kembali membawa dokumen-dokumen itu, Sawyer memeriksa setiap halaman dengan teliti untuk memastikan semua detailnya benar dan lengkap. Setelah puas, ia mengambil pena dan menandatangani dokumen tersebut, secara resmi menjadikan Maserati itu miliknya.
Sales wanita itu berdehem lalu berkata, "Kak, bolehkah kau menyimpan nomorku? Dengan begitu, kapan pun kau ingin membeli sesuatu, cukup hubungi aku dan aku akan membantumu."
Sawyer mengangguk tanpa ragu. Ia mengambil ponselnya lalu menyimpan kontak wanita itu. Setelah selesai, ia membuka aplikasi bank di ponselnya lalu berkata,
"Bisakah kau memasukkan detail rekening bankmu di sini?"
Wanita itu terlihat bingung lalu bertanya, "Untuk apa ini?"
"Masukkan saja," jawab Sawyer sambil tersenyum meyakinkan.
Wanita itu menuruti permintaannya dan memasukkan detail rekeningnya. Tidak lama kemudian, ia menerima sebuah notifikasi. Saat melihat ponselnya, ia sangat terkejut karena ada pesan yang menunjukkan bahwa sejumlah 2.000 dolar telah ditransfer ke rekeningnya.
"2... 2000 dolar?" Matanya membesar karena kaget saat menatap Sawyer.
"Ini untuk apa, Tuan?" tanyanya.