"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN SANG PENAKLUK
Bandara Internasional Soekarno-Hatta biasanya menjadi tempat pertemuan yang hangat, namun pagi ini, Terminal 3 VIP terasa seperti medan perang yang dingin. Sebuah jet pribadi dengan logo Wei Properties mendarat, namun bukan Wei Jun yang menjadi pusat perhatian. Saat pintu hidrolik terbuka, sosok yang melangkah keluar membuat para pengawal yang berjaga di landasan menahan napas.
Alya—atau kini lebih dikenal dengan nama Alana Wiratama—melangkah turun dengan kacamata hitam besar dan setelan blazer emerald yang tajam. Di samping kanan dan kirinya, Bintang dan Cahaya berjalan dengan penuh percaya diri, mengenakan pakaian desainer yang dipesan khusus oleh Liyun.
Di belakang mereka, empat pria paling berpengaruh di Jakarta berjalan seperti pengawal pribadi. Zhang Liang, Wei Jun, Luo Cheng, dan Han Zhihao. Pemandangan ini begitu ganjil: empat naga yang biasanya saling menjatuhkan, kini berjalan serempak di belakang seorang wanita yang lima tahun lalu mereka anggap sebagai pion tak berharga.
"Mobil sudah siap di lobi VIP, Alana," ucap Wei Jun lembut, mencoba memegang siku Alya.
Alya menghindar dengan gerakan halus namun tegas. "Aku sudah menyiapkan transportasiku sendiri, Jun. Terima kasih."
Sebuah iring-iringan mobil hitam tanpa logo perusahaan mana pun telah menunggu. Itu adalah tim keamanan yang disewa langsung oleh Saraswati menggunakan dana dari saham pemberian nenek Zhang. Alya ingin menegaskan satu hal: ia tidak berada di bawah ketiak siapa pun.
Iring-iringan mobil itu tidak menuju hotel mewah atau apartemen. Alya memerintahkan sopir untuk melaju langsung ke kediaman utama keluarga Zhang—istana duri yang pernah memenjarakannya.
"Alya, apa yang kau lakukan?" tanya Liang yang mengikuti dengan mobilnya di samping. "Ibu masih di sana. Situasinya tidak aman."
Alya menurunkan kaca mobilnya. "Justru karena dia di sana, Mas. Aku datang untuk mengambil apa yang dia curi dari ayahku."
Sesampainya di depan gerbang raksasa kediaman Zhang, para penjaga mencoba menghalangi. Namun, saat mereka melihat Zhang Liang ada di sana, mereka ragu. Alya melangkah keluar dari mobil, tepat di depan kerumunan wartawan yang entah bagaimana sudah mencium aroma skandal besar ini—hasil bocoran halus dari Han Zhihao yang ingin melihat kehancuran Madam Liu Xian.
Alya berdiri di depan mikrofon yang disodorkan para jurnalis.
"Nama saya Alana Wiratama," suaranya tenang, bergema melalui pengeras suara. "Lima tahun lalu, saya meninggalkan rumah ini sebagai korban. Hari ini, saya kembali sebagai pemilik sah atas tanah di mana rumah ini berdiri."
Bisikan riuh rendah pecah di antara wartawan.
"Saya membawa bukti penipuan properti dan mineral yang dilakukan oleh mendiang Tuan Zhang Senior terhadap ayah saya, Wiratama. Saya menuntut pengembalian aset secara total dan permohonan maaf terbuka dari keluarga Zhang dalam waktu 24 jam. Jika tidak, bukti-bukti ini akan masuk ke meja hijau dan bursa saham akan melihat betapa busuknya fondasi perusahaan ini."
Liang terpaku di belakangnya. Ia tahu Alya serius. Ia melihat kerajaan bisnisnya di ambang kehancuran, namun anehnya, ia merasa lega. Inilah penebusan yang seharusnya terjadi sejak lama.
Pintu gerbang terbuka. Alya melangkah masuk ke dalam rumah, membiarkan anak-anaknya dijaga oleh Saraswati dan Liyun di dalam mobil. Ia tidak ingin Bintang dan Cahaya menghirup racun di dalam rumah ini.
Di ruang tamu utama, Madam Liu Xian duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya tampak pucat dan lebih kurus, namun matanya tetap memancarkan kebencian yang sama.
"Kau berani menginjakkan kaki di sini, Pelacur Kecil?" desis Madam Liu Xian.
Alya tidak duduk. Ia berdiri di depan wanita tua itu, menatapnya dari ketinggian. "Pelacur? Kata yang menarik dari seorang wanita yang membangun kekayaannya di atas darah dan air mata petani Lawu. Ibu, masa kejayaanmu sudah berakhir."
Alya melempar map berisi dokumen asli Lawu ke atas meja. "Aku tahu tentang mineral itu. Aku tahu tentang pemalsuan sertifikatnya. Dan yang paling penting, aku tahu Ibu yang membayar Yiren untuk membunuhku dan anak-anakku lima tahun lalu."
Madam Liu Xian tertawa sinis. "Kau tidak punya bukti kuat untuk itu, Alana. Pengakuan Yiren? Dia sudah gila di penjara. Tidak ada yang akan percaya."
"Mungkin mereka tidak percaya pada Yiren," Han Zhihao tiba-tiba masuk ke ruangan, memegang sebuah perangkat kecil. "Tapi mereka akan percaya pada rekaman satelit dan log komunikasi rahasia yang Ibu gunakan melalui satelit ilegal milik pihak ketiga. Aku menemukannya, Madam. Setiap transaksi, setiap perintah pembunuhan... semuanya ada di awan."
Madam Liu Xian menatap Zhihao dengan ngeri. Ia lupa bahwa di dunia modern, rahasia tidak lagi disimpan di bawah bantal, melainkan di dalam barisan kode yang dikuasai oleh pria di depannya ini.
Liang masuk dan berdiri di samping Alya. Ia menatap ibunya dengan perasaan hancur. "Ibu, menyerahlah. Berikan surat pernyataan pengalihan aset Lawu kepada Alya, dan aku akan memastikan Ibu bisa menghabiskan sisa hidup Ibu di rumah peristirahatan yang tenang, bukan di sel penjara."
"Kau mengkhianati ibumu sendiri, Liang?!" teriak Madam Liu Xian.
"Aku tidak mengkhianati Ibu. Aku menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan yang mungkin masih ada di keluarga ini," jawab Liang tegas.
Alya mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Madam Liu Xian yang membuat wanita tua itu gemetar hebat. "Bintang dan Cahaya adalah darah dagingmu, tapi mereka akan tumbuh besar dengan mengetahui bahwa nenek mereka adalah seorang monster. Kecuali... Ibu berhenti sekarang."
Dengan tangan gemetar, Madam Liu Xian mengambil pulpen. Di bawah pengawasan Saraswati, ia menandatangani dokumen penyerahan kembali aset Wiratama.
Setelah dokumen itu sah, Alya mengambilnya dan langsung berjalan keluar. Ia tidak menoleh lagi. Rumah itu bukan lagi istananya, bukan pula penjara baginya. Itu hanyalah sebuah bangunan kosong yang penuh kutukan.
Malam itu, Alya duduk di balkon sebuah suite mewah di pusat Jakarta. Di dalam, Bintang dan Cahaya sudah tertidur lelap.
Keempat pria itu—Liang, Wei Jun, Luo Cheng, dan Zhihao—berdiri di ruang tamu suite tersebut. Mereka menunggu keputusan Alya selanjutnya.
"Aset Lawu sudah kembali ke tanganku," ucap Alya sambil menatap pemandangan kota. "Besok, aku akan mendirikan Wiratama Foundation untuk mengelola mineral itu demi kesejahteraan petani di sana. Tidak ada dari kalian yang akan mendapatkan akses ke mineral itu secara eksklusif."
"Kami tidak peduli pada mineral itu, Alya," ucap Luo Cheng. "Kami hanya ingin tahu... apa posisimu terhadap kami sekarang?"
Alya berbalik. Cahaya lampu kota membuat wajahnya tampak begitu berwibawa. "Posisi saya? Saya adalah ibu dari anak-anak kalian. Itu fakta biologis yang tidak bisa saya hapus. Tapi sebagai wanita... saya tidak butuh naga di samping saya."
Liang melangkah maju. "Alya, aku tahu aku melakukan kesalahan besar. Berikan aku kesempatan untuk menjadi ayah bagi mereka. Aku tidak meminta jabatan suami, aku hanya meminta hak untuk mencintai mereka secara terbuka."
Alya menatap Liang cukup lama. Ia melihat ketulusan yang murni di mata pria itu—sesuatu yang baru muncul setelah kehilangan segalanya.
"Kita akan melakukannya secara bertahap, Mas. Mulai besok, Mas boleh menemui mereka di bawah pengawasan Saraswati. Dan itu berlaku untuk kalian semua," Alya menatap tiga pria lainnya. "Tapi ingat, satu langkah salah, satu manipulasi lagi... dan aku akan menghilang bersama mereka ke tempat yang bahkan satelit Zhihao tidak bisa temukan."
Keempat naga itu mengangguk patuh. Mereka tahu, kali ini, aturan mainnya ditentukan oleh Alya.
Namun, saat mereka semua pergi, Alya membuka sebuah laci rahasia di tasnya. Ia mengeluarkan sebuah foto lama ayahnya yang sedang tersenyum.
"Ayah... kita sudah pulang," bisiknya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
‘Kau pikir ini sudah berakhir? Kau baru saja mengambil mainan terbesar dari pihak-pihak yang lebih kuat dari keluarga Zhang. Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, Alana Wiratama.’
Alya menatap pesan itu dengan tenang. Ia tidak lagi takut. Ia telah melewati neraka, dan sekarang ia siap untuk membakarnya jika perlu.