"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa yang kau sembunyikan, Selir Xue?
Ruang sidang kekaisaran pagi itu dipenuhi keheningan yang berat, meski suara para menteri silih berganti berbicara. Pilar-pilar tinggi berukir naga berdiri angkuh, tirai-tirai berat menjuntai, dan cahaya matahari masuk dari sela jendela tinggi, memantul di lantai batu yang dingin.
“Yang Mulia, data tersebut telah tercatat sejak bulan lalu.”
Suara seorang menteri senior menggema, teratur dan penuh kehati-hatian. Ia menunduk dalam-dalam, tangan disatukan di depan dada, menunggu jawaban dari sosok yang duduk di singgasana tertinggi.
Li Chenghan bersandar santai di kursinya, satu tangan menopang pelipis, tatapannya sekilas jatuh ke gulungan dokumen di hadapannya.
“Ya,” jawabnya singkat. “Akan kucek.”
Namun, fokusnya telah lama teralihkan.
Di antara barisan permaisuri, ibu suri, dan selir-selir yang duduk tertata rapi, satu sosok terlihat berbeda. Bai Ruoxue duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan, namun matanya kosong. Tatapannya tidak benar-benar menatap siapa pun—seolah jiwanya tertinggal entah di mana.
Li Chenghan menyadarinya sejak awal rapat.
Biasanya, Selir Xue akan memperhatikan setiap detail, setiap perubahan nada, setiap gerak sekecil apa pun di ruang sidang. Namun hari ini, ia seperti bayangan dari dirinya sendiri. Tidak ada ekspresi lembut yang biasa, tidak ada ketenangan dingin yang selalu membuatnya tampak tak tersentuh.
Yang ada hanya keheningan yang aneh.
Tatapan Li Chenghan tertahan lebih lama dari seharusnya. Ia tidak sadar bahwa alisnya sedikit berkerut, bahwa matanya menyusuri wajah Bai Ruoxue, lalu—tanpa ia sadari—turun ke lehernya.
Kain tipis berwarna pucat melilit di sana.
Itu bukan aksesori yang biasa dikenakan Bai Ruoxue. Terlalu tertutup. Terlalu… disengaja.
Tatapan itu tidak luput dari mata Mei Yuxin.
Dari tempat duduknya, Mei Yuxin melihat semuanya—cara Li Chenghan tidak lagi memperhatikan laporan penting, cara pandangannya terus kembali pada Bai Ruoxue, dan cara ekspresinya berubah, lembut namun penuh kecurigaan.
Jari Mei Yuxin perlahan mengepal.
“Sialan…”
Suara itu hanya berupa gumaman, tenggelam di balik suara rapat.
“Bai Ruoxue…”
Rasa panas merambat di dadanya. Ia membenci tatapan itu. Membenci kenyataan bahwa bahkan dalam rapat sepenting ini, kaisar masih mampu melupakan segalanya demi satu wanita.
Rapat berlanjut hingga matahari semakin tinggi. Satu per satu isu dibahas, keputusan diambil, dan akhirnya, suara penutup diumumkan.
“Rapat selesai.”
Para menteri segera menunduk dan mundur teratur. Para wanita istana pun berdiri perlahan, mengikuti etika yang ketat. Bai Ruoxue ikut bangkit, gerakannya tenang, namun pikirannya kacau.
Ia menunduk, membungkuk dengan sempurna, kedua tangannya terlipat di depan perut.
Langkahnya baru saja bergerak mundur ketika—
“Tunggu.”
Satu kata itu menghentikan seluruh tubuhnya.
Suara Li Chenghan tidak keras, namun cukup untuk membuat ruangan kembali sunyi. Beberapa selir menahan napas. Mei Yuxin langsung menegang.
Bai Ruoxue berhenti.
Ia perlahan mengangkat wajahnya, namun tidak berani menatap langsung.
Langkah kaki Li Chenghan terdengar mendekat. Setiap langkah terasa seperti detak jantung yang menghantam telinganya. Ia berhenti tepat di depannya.
Terlalu dekat.
Li Chenghan menatap wajah Bai Ruoxue. Wajah itu pucat. Mata itu redup. Ada sesuatu yang salah, dan ia bisa merasakannya.
Tatapannya perlahan turun.
Ke lehernya.
Kain itu.
“Mengapa kau mengenakan ini?” tanyanya.
Nada suaranya tidak marah. Tidak juga lembut. Lebih kepada heran yang tertahan.
Bai Ruoxue membeku.
Ia tahu pertanyaan itu akan datang. Ia telah mempersiapkan jawaban, namun ketika saatnya tiba, kata-kata itu terasa berat di lidahnya.
Beberapa detik berlalu. Terlalu lama.
“Saya… ingin.” jawabnya akhirnya.
Jawaban itu membuat Li Chenghan terdiam.
Ingin?
Jawaban yang terlalu singkat. Terlalu kosong. Tidak seperti dirinya.
“Kau sakit?” tanyanya lagi, nada suaranya sedikit berubah.
“T-tidak, Yang Mulia.”
Jawaban itu tidak menenangkan. Justru membuat kerutan di dahi Li Chenghan semakin dalam.
Tanpa peringatan, tangannya terangkat. Jari-jarinya menangkap ujung kain di leher Bai Ruoxue.
Bai Ruoxue tersentak.
“Yang Mulia—!”
Ia refleks mundur setengah langkah. Nafasnya tersendat.
Li Chenghan tidak menariknya dengan kasar. Namun kekuatan di tangannya jelas menunjukkan niat.
“Ssh…”
Suara kecil itu keluar tanpa sengaja dari bibir Bai Ruoxue, bercampur antara kaget dan nyeri.
Hal tersebut membuat Li Chenghan semakin merasa janggal. Wanita itu yang tampak kesakitan ketika ia mencoba memegang kainnya itu. Niat melihat apa yang sebenarnya terjadi semakin menguat dalam dirinya.
“Lepaskan,” kata perempuan itu cepat, hampir memohon.
“Aku hanya ingin melihatnya,” jawab Li Chenghan, nada suaranya mulai mengeras. “Mengapa kau menolak?”
Mulai ada rasa curiga yang awalnya hanya dipenuhi rasa penasaran. Dari kain yang menutupi lehernya di tengah cuaca yang panas ini. Reaksi perempuan itu yang tidak biasa. Dan, Bai Ruoxue yang tampak kesakitan. Benar-benar mengganggu pikirannya.
“Saya tidak akan melepaskannya.”
Keheningan jatuh.
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan berbahaya.
Li Chenghan menatapnya tajam.
“Jadi,” katanya pelan, “kau mulai membantah sekarang?”
Ada diri Li Chenghan yang mempertanyakan sikap perempuan itu. Biasanya wanita itu tak pernah membantah apapun yang dikatakannya. Selalu bersikap sempurna tanpa cela. Tetapi, hari ini perempuan itu kembali menunjukkan sisi asing seperti ini.
Tekanan dari tatapan itu membuat Bai Ruoxue tanpa sadar mundur. Kakinya menginjak ujung hanfu yang panjang. Keseimbangannya hilang.
Ah, pakaian sialan ini.
Ia tahu tubuhnya akan jatuh. Ia sudah bersiap akan rasa sakit dan rasa malu. Kerasnya lantai dan tatapan mencemooh dari para selir di sini.
Namun lantai dingin tidak pernah menyentuhnya.
Sebuah tangan dengan cepat menangkap pinggangnya.
Li Chenghan.
Pegangannya kuat, refleks, seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Tubuh Bai Ruoxue terhenti di udara, terlalu dekat dengannya.
Dan pada saat itu—
Kain di lehernya terlepas.
Perlahan.
Seolah waktu sengaja melambat.
Kain itu meluncur turun, membuka kulit pucat di baliknya. Bekas kemerahan keunguan terlihat jelas. Jejak jari. Tidak samar. Tidak bisa disangkal.
Li Chenghan membeku. Ia seperti tidak percaya, namun ia harus tahu apa yang sedang terjadi.
“Apa ini…?”
Suaranya rendah. Terkejut. Tidak percaya.
Matanya berpindah dari leher Bai Ruoxue ke wajahnya.
Wajah itu kini benar-benar pucat. Bibirnya bergetar. Matanya dipenuhi kegugupan dan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
Bai Ruoxue tidak menjawab.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ruangan itu terasa semakin sempit. Tatapan-tatapan mulai tertuju pada mereka. Beberapa selir menutup mulut. Mei Yuxin menatap tajam, dadanya bergetar antara puas dan terkejut. Bisikan mulai terdengar dimana-mana.
Li Chenghan melepaskan pegangannya perlahan, namun tatapannya tidak pernah lepas.
“Jelaskan ini,” katanya, suaranya kini dingin dan berbahaya.
“Selir Xue.”
Nama itu jatuh seperti palu.
Bai Ruoxue menunduk.
Di dadanya, ketakutan menggulung hebat.
Ia tahu—ia tak bisa menyembunyikan hal sebesar ini di istana yang megah ini.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi