NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Pesantren Al-Hidayah yang berada di pelosok, perbatasan Jawa Timur bukanlah deretan gedung beton bertingkat dengan pendingin ruangan atau laboratorium komputer yang canggih. Pesantren ini adalah sebuah oase yang seolah berhenti di masa lalu, berdiri kokoh di bawah naungan pohon-pohon jati tua dan udara pegunungan yang senantiasa lembap oleh kabut.

Bangunan-bangunan di sana didominasi oleh kayu jati dan tembok . Alih-alih menggunakan lantai keramik yang mengkilap, asrama santri masih menggunakan lantai semen yang dipoles halus, terasa dingin dan menenangkan saat bersentuhan dengan dahi ketika sujud.

Masjid utamanya adalah bangunan kayu tanpa dinding, terbuka di keempat sisinya. Gus Azmi ingin para santrinya tidak hanya menghafal ayat-ayat Tuhan dari kitab, tapi juga membacanya melalui desau angin, gemericik air sungai di belakang pondok, dan aroma tanah basah setelah hujan.

Di sini, santri tidak hanya belajar nahwu, Sharaf , dan tahfidz Qur'an, Di bawah kepemimpinan Gus Azmi, mereka diajarkan untuk mandiri secara total, untuk sekolah umum, mereka mengikuti kejar paket.

 Tidak ada jasa katering. Para santri memasak sendiri menggunakan tungku kayu bakar, menghargai setiap butir nasi yang mereka tanam sendiri di sawah pesantren.

 Tidak ada seragam mewah. Sarung tenun dan baju koko sederhana adalah kebanggaan. Mereka mencuci pakaian sendiri di sungai atau sumur timba, melatih kesabaran melalui tarikan tali timba yang berat.

Malam hari di Al-Hidayah adalah simfoni cahaya dari lampu-lampu neon dan suara gumaman ribuan santri yang mengaji di bawah temaram. Tradisi Sorogan /mengaji satu-persatu di depan kyai tetap dijaga. Gus Azmi sering duduk di serambi rumahnya yang sederhana, hanya beralaskan tikar pandan, mendengarkan keluh kesah santri maupun warga desa.

___

Bagi Alendra yang terbiasa hidup dengan standar hotel bintang lima, Al-Hidayah adalah neraka sekaligus obat.

Di sini, ia harus belajar mandi dengan air sumur yang menusuk tulang.juga menggunakan gayung , tidak ada bak mandi ataupun shower.

Ia harus belajar bahwa rasa syukur tidak datang dari saldo rekening, tapi dari sepiring singkong rebus yang dimakan bersama-sama setelah lelah mencangkul.

Pesantren ini tidak berusaha mengubah Alendra menjadi ustadz secara instan, melainkan menelanjangi semua gelar kepemimpinan dan keangkuhannya, menyisakan hanya "Alen si manusia biasa" di hadapan Sang Pencipta.

Itulah sebabnya Patricia merasa sangat aman di sini. Di antara kehidupan yang begitu lambat dan tradisional, ia tidak perlu takut dikejar oleh kilatan lampu kamera atau drama dunia korporat yang kejam. Di Al-Hidayah, ia hanyalah seorang hamba yang sedang menunggu kelahiran buah hatinya di tengah kedamaian yang hakiki.

***

Langit di atas pesantren mendadak gelap gulita, seolah ikut merasakan pekatnya fitnah yang menghimpit dada Patricia. Hujan turun dengan sangat deras, mengubah tanah kebun yang dikerjakan Alendra menjadi kubangan lumpur yang licin.

Patricia sedang berjalan menuju area belakang untuk mengambil jemuran yang tertinggal. Di sana, Zulaikha, salah satu santriwati yang paling vokal memfitnahnya, sengaja menaruh beberapa papan kayu yang sudah dilumuri sabun cuci di jalan setapak yang miring.

"Rasakan itu, biar tahu rasa kalau jadi pelakor di pesantren ini," gumam Zulaikha dari kejauhan.

Patricia melangkah dengan hati-hati, tangannya menopang perut yang terasa semakin berat. Saat kakinya menginjak papan itu, keseimbangannya hilang seketika.

"Astagfirullah!" teriak Patricia. Tubuhnya limbung ke belakang.

Alendra, yang sedari tadi mengawasi dari balik gubuk alat, melesat bagaikan kilat. Ia tidak peduli lagi pada lumpur atau penyamarannya. Sebelum tubuh Patricia menghantam tanah keras, sepasang lengan yang kuat namun gemetar menangkapnya.

Alendra memeluk Patricia dari belakang, menahan beban tubuh istrinya dengan lututnya sendiri yang menghantam batu. Napas mereka memburu, beradu dengan suara hujan.

Wajah Alendra berada tepat di samping telinga Patricia. Aroma hujan bercampur dengan aroma tubuh Alendra, aroma maskulin yang sangat familiar, yang selama ini coba dilupakan Patricia.

"Mbak... Mbak Cia tidak apa-apa?" suara Alendra bergetar hebat, lupa mencemprengkan suaranya.

Patricia terpaku. Ia merasakan dekapan itu. Dekapan yang begitu protektif, begitu penuh kerinduan. Tangan Patricia tanpa sadar menyentuh lengan Kang Asep yang memeluknya. Otot ini, detak jantung ini...

"Akang..." bisik Patricia lirih.

Sadar akan posisinya, Alendra segera melepaskan pelukannya dan membantu Patricia berdiri dengan sangat sopan, namun matanya yang tertutup kacamata besar yang berembun menatap Patricia dengan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.

"Maaf, Mbak. Saya lancang. Tapi tadi bahaya sekali," ucap Alendra kembali menggunakan suara Asep. Ia segera memunguti kayu-kayu licin itu dan membuangnya jauh-jauh dengan emosi yang tertahan.

" kurang ajar, aku akan membakar kayu-kayu ini" gumamnya dalam hati.

___

Malam harinya, setelah kejadian itu, Alendra jatuh sakit. Tubuhnya menggigil karena kehujanan dan guncangan emosi. Di dalam tidurnya di kamar kuli yang sempit, ia bermimpi.

Suasananya sangat putih dan tenang. Di sana, duduk seorang wanita cantik dengan gaun putih yang bersinar. Kirana.

Alendra berlari menghampirinya. "Kirana... kamu di sini? Maafkan aku, aku gagal menjaga semuanya."

Kirana tersenyum, senyum paling damai yang pernah dilihat Alendra. Ia membelai wajah Alendra, menghapus air mata suaminya.

"Mas Alen... sudah cukup duka untukku," ucap Kirana lembut. "Aku sudah bahagia di sini. Tapi lihatlah wanita yang sekarang sedang berjuang untukmu. Dia membawa separuh jiwaku dan separuh jiwamu di rahimnya."

Alendra terisak. "Aku menyakitinya begitu dalam, Kirana."

"Maka sembuhkanlah dengan caramu yang dulu," bisik Kirana sambil perlahan memudar. "Kembalilah jadi Alendra-ku yang hangat, yang bisa membuatnya tertawa. Jangan biarkan dia sendirian dalam kegelapan, Mas. Karena cintanya padamu jauh lebih besar daripada rasa sakitnya."

Alendra terbangun dengan napas tersengal dan keringat dingin. Ia menyentuh dadanya yang sesak. Kata-kata Kirana terngiang jelas, Sembuhkan dengan caramu yang dulu.

Ia menatap cermin kecil yang retak. Ia melihat sosok "Kang Asep" yang konyol. Alendra tersenyum getir, namun kali ini ada binar kehidupan di matanya.

"Terima kasih, Kirana. Aku mengerti sekarang," gumamnya. "Aku tidak akan hanya menjadi kuli kebun. Aku akan menjadi pelindungnya, penghiburnya, dan pelayan setianya, sampai dia sendiri yang memintaku melepas topeng ini."

***

Malam itu, setelah memastikan seluruh penghuni pesantren terlelap dan Patricia sudah beristirahat, Alendra melepas capingnya. Ia berdiri di kegelapan kebun belakang, menatap tangannya yang kasar karena cangkul. Ia merogoh saku celana komprangnya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit yang ia sembunyikan di balik tumpukan pupuk.

Ia menekan satu nomor. Dingin. Otoriter. Sosok Kang Asep lenyap seketika, digantikan oleh sang pemimpin Suhadi Group.

"Ardiansyah. Kirimkan sepuluh orang kepercayaanmu. Sekarang," ucap Alendra dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Di seberang sana, Ardiansyah hampir melompat dari tempat tidur. "Bang? Kamu di mana? Ini jam dua belas malam!"

"Jangan banyak tanya. Bawa truk material tanpa logo perusahaan. Bawa pasir kasar, kayu jati terbaik yang sudah dihaluskan, dan lampu taman bertenaga surya. Aku kirim titik koordinatnya sekarang. Ingat, masuk ke desa ini tanpa suara. Matikan sirine, matikan musik. Kalian punya waktu empat jam sebelum subuh."

___

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!