Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Kehamilan Pertama
Waktu berjalan tanpa terasa.
Delapan bulan berlalu, setelah hari itu kehidupan mereka tidak lagi sekedar bertahan dari cacian dan hinaan, Zaki semakin sibuk, panas dapur restoran seolah sudah menjadi kebiasaannya, begitu juga dengan Anisa yang semakin menikmati perannya sebagai seorang istri yang benar-benar dijaga dan di ratukan oleh suaminya.
Pagi ini Anisa nampak terlihat pucat tidak seperti biasanya, biasanya setelah shalat subuh wanita itu akan memasak dan menyiapkan bekal suaminya tapi tidak untuk hari ini.
"Mas, aku libur masak dulu ya," ucap Anisa dengan nada lesu.
"Yank, kamu sakit ya," sahut Zaki dengan cepat.
"Gak tahu, dari semalam kepalaku pusing badan kaya berat gitu," ujar Anisa.
Zaki semakin khawatir ia pun tidak memperbolehkan istrinya untuk memegang apapun, seolah sudah mempunyai firasat tentang gejala sang istri.
"Ya sudah kalau gitu, mulai hari ini dan seterusnya," kata Zaki pelan. "Kamu gak boleh masak, gak boleh cuci baju," lanjut Zaki.
"Jangan dong Mas, nanti siapa yang nyiapin semuanya, kamu kan udah kerja keras untuk aku," tolak Anisa.
"Biar kita beli aja," ucap Zaki.
"Tidak," potong Anisa dengan cepat. "Kita harus hemat, agar punya tabungan," kata Anisa kembali.
Zaki pun sedikit terdiam, dan mencoba memahami apa yang dimaksud oleh istrinya itu. "Ok, baiklah kalau gitu, biar semua tugasmu aku yang gantiin."
Anisa tercengang, bahkan hanya sakit seperti ini saja, Zaki sudah mulai panik, seolah ia sakit parah.
"Mas, jangan dong, aku cuma pusing biasa," cegah Anisa.
"Ya sudah, nanti sore sepulang aku kerja, kita periksa ya," ucapnya dengan penuh kelembutan.
"Ya sudah terserah kamu, dan maaf ya untuk sekarang, aku gak masak dulu," kata Anisa.
"Iya," sahut Zaki, sambil menganggukkan kepalanya.
Pagi ini keduanya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil cari sarapan di luar, sepanjang perjalanan Zaki tidak pernah melepaskan gandengan tangannya, bahkan sesekali pria itu menanyakan pada istrinya masih kuat atau tidak.
Dan begitu sampai di tempat warung makan dengan antrian yang cukup panjang Zaki sengaja mencarikan kursi plastik agar Anisa tidak kecapean.
"Yank, duduk sini aja," ucap Zaki.
Anisa hanya tersenyum dan aksi Zaki barusan membuat beberapa kepala menoleh dan melihatnya dengan tatapan kagum.
"Baik banget ya suaminya," celetuk salah satu pembeli.
"Iya perhatian banget, kapan ya punya suami seperti itu," timpal yang lainnya.
Ucapan-ucapan itu terdengar langsung dari telinga Anisa entah kenapa wanita itu menjadi sedikit sensitif, mendengar pujian ibu-ibu tadi membuat mata wanita itu berembun atas kebaikan suaminya sendiri.
'Ya Allah terima kasih banyak, Engkau sudah baik menemukan aku dengan lelaki seperti suamiku ini,' batin Anisa, lalu ia menoleh ke arah suaminya yang ikut mengantri di barisan ibu-ibu itu.
Zaki Masih berdiri di deretan ibu-ibu yang sedang mengobrol itu, sesekali ia menatap sang istri yang duduk di kursi plastik warna hijau memastikan istrinya itu sedang baik-baik saja.
Anisa membalas tatapan itu dengan senyum kecil, meski hatinya terasa hangat sekaligus perih. Hangat karena dicintai begitu tulus. Perih karena merasa belum mampu memberikan apa yang diharapkan banyak orang.
Antrian bergerak pelan.
Aroma santan dan sambal goreng menguar dari balik etalase kaca. Uap nasi mengepul, bercampur dengan wangi ayam suwir, telur balado, dan mie goreng yang mengilap oleh minyak.
"Mas pesan apa?" tanya penjaga warung itu, saat giliran Zaki tiba.
“Dua nasi campur ya, Bu. Yang satu jangan terlalu pedas,” jawabnya lembut. “Bungkus aja.”
Ia menambahkan sedikit ayam dan telur, lalu diam-diam meminta tambahan sayur tanpa cabai. Ia tahu akhir-akhir ini lambung Anisa mudah perih.
Setelah membayar, Zaki berjalan cepat kecil menghampiri istrinya.
“Udah dapet,” katanya sambil mengangkat kantong plastik putih itu sedikit tinggi, seperti anak kecil yang bangga membawa hadiah.
Anisa berdiri pelan.
“Berat gak, Mas?”
Zaki tersenyum tipis. “Enggak. Yang berat itu kalau kamu capek.”
Ucapan sederhana itu kembali membuat dada Anisa sesak oleh rasa syukur. Zaki menggenggam tangannya lagi. Kali ini lebih erat.
Mereka berjalan pelan menyusuri trotoar. Matahari pagi belum terlalu terik, angin tipis berembus pelan, bercampur dengan suara kendaraan yang lalu-lalang. Di tengah hiruk-pikuk kota, langkah mereka terasa seirama.
Sesampainya di depan kost, Zaki membukakan pintu terlebih dahulu.
“Masuk duluan,” ujarnya.
Kamar kost kecil itu menyambut mereka dengan penuh kehangatan, tidak ada kemewahan di dalamnya tapi tangis tawa mereka pernah bercampur di tempat ini.
Zaki segera menggelar tikar kecil tipis di lantai.
"Duduk di sini," ujarnya seolah menjadi kebiasaan yang berulang.
Anisa duduk bersila, lalu Zaki menyodorkan satu nasi bungkus itu bersama lauk yang dia pesan tadi.
"Bismillah ya," ujar Zaki.
Mereka akhirnya makan berdua dengan begitu khidmat, sesekali Zaki menyuapi Anisa, kebiasaan yang sampai saat ini tidak bisa ia tinggalkan.
Setelah selesai sarapan, Zaki pamit untuk bekerja, dan berjanji jika nanti sore akan mengajak Anisa periksa ke dokter.
"Sayang, Mas pergi kerja dulu, istirahat yang cukup, jangan pernah mikir macam-macam," ujar Zaki.
Anisa hanya mengangguk kecil. "Hati-hati ya Mas."
"Iya, akan selalu hati-hati," kata Zaki lalu mencium keningnya.
Setelah ciuman hangat itu Anisa hanya bisa menoleh punggung suaminya dari kejauhan, di dalam benaknya ada sebuah doa yang tersemat untuk sang suami yang tengah mengais rejeki di luar sana.
☘️☘️☘️☘️☘️
Matahari sudah mulai meninggalkan jejak kekuningan, tumpukan piring-piring sudah menyusut banyak, dan jam kerja Zaki sudah berakhir, pria itu tidak pernah menyia-nyiakan waktunya meskipun hanya untuk sekedar mengobrol ataupun bercanda ria dengan kawan-kawannya.
Tujuannya hanya satu, yaitu istrinya, di dalam perjalanan pulang, Zaki sengaja menambah kecepatan lajunya, karena sesuai perkataannya tadi sore ini ia akan mengantar istrinya periksa.
"Kok, aku ngerasa jika tubuh Anisa berbeda," gumam Zaki di tengah-tengah hembusan angin sore.
Sesampainya di kosan, istrinya itu sudah terlihat cantik dan menunggunya di teras depan, Zaki segera memarkirkan motornya.
"Assalamualaikum Sayang," ucapnya penuh kelembutan.
"Walaikum salam," sahut Anisa sambil menjabat tangannya lalu menciumnya dengan takzim.
"Kok tambah hari makin cantik sih," ucap Zaki sambil menatap dalam wajah istrinya.
Anisa hanya tersipu malu. "Biasa aja," sahutnya pelan, padahal di dalam hatinya banyak kupu-kupu yang berterbangan.
"Bentar ya ganti baju dulu," ucap Zaki dia tidak pernah lupa akan janjinya tadi pagi.
Setelah semua beres Zaki mengantar Anisa di bidan setempat, yang tidak terlalu jauh dari kosnya, perjalanan kali ini terasa berbeda, entah kenapa hati Zaki merasakan sesuatu yang mendebarkan dari hari sebelumnya.
Setelah sampai, mereka duduk berdampingan di ruang tunggu yang sederhana. Aroma obat-obatan samar tercium.
Nama Anisa dipanggil. Zaki ikut masuk, tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Tes itu terasa seperti menunggu keputusan takdir. Beberapa menit yang begitu panjang.
Bidan itu tersenyum lembut saat menyerahkan alat tes tersebut pada Anisa. Anisa menatapnya. Tangannya gemetar.
Zaki ikut menunduk, mencoba membaca hasilnya.
Dan di sana.
Dua garis merah itu terlihat jelas, tidak samar ataupun berupa bayangan tapi benar-benar nyata. Dua garis tegas yang selama ini hanya menjadi harapan dalam doa, sekarang menjadi nyata.
Anisa menutup mulutnya dengan tangan, air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
“Mas…” suaranya bergetar.
Zaki terpaku beberapa detik. Seolah takut berkedip karena khawatir garis itu menghilang.
"Ya Allah," gumamnya penuh rasa syukur.
Zaki memeluk istrinya dengan rasa syukur yang yak bisa terbendung kembali, di tengah-tengah perseteruan itu, ternyata Tuhan merencanakan sesuatu, meskipun mereka tidak pernah tahu, akan ada banyak ujian lagi setelah ini.
Bersambung ...
Semoga suka ya ...