NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 DI DEPAN MATA

Keputusan itu diumumkan saat fajar kedua.

Kota penghubung dinyatakan status darurat terbatas. Pasukan tambahan kekaisaran akan mengambil alih pengamanan, sementara rombongan utama—termasuk Raja Utara—harus melanjutkan perjalanan ke ibu kota tanpa penundaan.

Tidak ada sorak. Tidak ada persetujuan terbuka.

Hanya wajah-wajah yang tahu bahwa keputusan ini menyelamatkan banyak hal di masa depan… dengan mengorbankan sesuatu hari ini.

Chen Long berdiri di luar gerbang timur kota, helmnya tergantung di tangan. Di balik tembok, asap tipis masih naik dari distrik barat yang terbakar semalam.

“Kalau kita pergi sekarang,” katanya pelan pada Chen Hao, “kota ini jadi ladang percobaan.”

Chen Hao menatapnya lama.

“Dan kalau kita tetap di sini,” jawabnya, “ibu kota jadi sasaran tanpa perisai.”

Itu bukan jawaban yang menenangkan. Itu pernyataan realitas.

Yin Sunxin mendekat. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan ketegangan yang sama.

“Korban terakhir terjadi satu jam lalu,” katanya. “Di luar zona patroli Selatan.”

Chen Long mengepalkan tangannya. Nadi di lengannya berdenyut, seolah merespons jarak yang semakin menjauh dari sumber ancaman.

“Umpan itu tidak lagi pasif,” katanya. “Mereka tahu kita akan pergi.”

Terompet ditiup. Gerbang dibuka.

Rombongan bergerak.

Beberapa warga berdiri di pinggir jalan, memandang pasukan yang lewat dengan mata kosong. Tidak ada teriakan. Tidak ada permohonan. Ketika orang berhenti berharap, mereka berhenti bersuara.

Itu lebih menyakitkan.

Hari pertama perjalanan berlalu tanpa serangan.

Hari kedua, desa kecil di jalur utama ditemukan sunyi.

Tidak ada mayat di jalan. Tidak ada bangunan terbakar. Namun semua pintu terbuka, dan di setiap rumah rumah di tengah ruangan tersebut tergeletak satu benda yang sama.

Cermin.

Cermin kecil, buram, retak halus di tepinya.

“Apa ini peringatan?” tanya seorang perwira.

Yin Sunxin menggeleng. “Ini ejekan.”

Chen Long berdiri di salah satu rumah, menatap pantulan wajahnya sendiri yang terdistorsi. Untuk sepersekian detik, ia merasa pantulan itu bergerak lebih lambat dari dirinya.

Ia menutup cermin itu.

Malam itu, saat pasukan berkemah di dataran terbuka, serangan terjadi bersamaan di tiga titik—bukan pada pasukan, melainkan pada desa-desa yang telah mereka lewati.

Sinyal asap terlihat dari kejauhan. Terlalu jauh untuk kembali. Terlalu dekat untuk diabaikan.

“Jumlah korban?” tanya Chen Hao.

“Belum diketahui,” jawab pengintai. “Namun pola serangan… berubah.”

“Bagaimana?”

“Tidak lagi memilih individu. Mereka menyentuh pusat desa.”

Chen Long menutup mata sejenak.

“Mereka menaikkan taruhan.”

Umpan kini bukan sekadar memancing pasukan.

Ia memaksa keputusan yang selalu salah, apa pun pilihan manusia.

Malam semakin pekat.

Di tengah kamp, Chen Long duduk sendiri, membersihkan bilah tombak latihan. Tangannya mantap, namun pikirannya tidak.

Yin Sunxin mendekat tanpa suara.

“Kamu merasa bersalah,” katanya, bukan bertanya.

“Kalau kita cepat,” jawab Chen Long, “lebih banyak kota bisa diselamatkan.”

“Dan kalau kita terjebak,” balas Yin Sunxin, “kekaisaran runtuh lebih cepat.”

Ia duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Umpan ini dirancang oleh seseorang yang memahami manusia,” lanjutnya.

“Bukan hanya kekuatan.”

Chen Long menatap api unggun. Di nyala itu, ia melihat bayangan masa kecil—insiden iblis pertama, teriakan, darah.

“Mereka ingin aku bergerak,” katanya pelan.

“Bukan ayahku. Bukan pasukan.”

Yin Sunxin tidak menyangkal.

“Dan semakin dekat kita ke ibu kota,” katanya, “semakin sedikit tempat untuk bersembunyi.”

Angin malam membawa aroma besi yang semakin jelas.

Di kejauhan, langit menyala samar bukan kilat, melainkan retakan Qi yang terlalu besar untuk disebut kebetulan.

Chen Long berdiri. Dadanya berdenyut kuat, nadi retaknya nyaris menyala.

“Serangan berikutnya,” katanya, “bukan lagi di belakang kita.”

Ia menatap lurus ke arah selatan.

“Ini akan terjadi di depan mata kita.”

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,

pasukan merasakan sesuatu yang lebih mengerikan daripada serangan mendadak—

perasaan bahwa mereka sedang digiring.

Serangan itu terjadi saat matahari tepat di atas kepala.

Tidak ada peringatan. Tidak ada aura besar yang mendahului. Tidak ada terompet perang dari arah mana pun.

Hanya jeritan.

Rombongan utama baru saja melewati sebuah jembatan batu yang membentang di atas sungai dangkal. Di sisi seberang, sebuah desa kecil berdiri—gerbangnya terbuka, bendera kekaisaran tergantung setengah tiang sebagai tanda perlindungan.

Pasukan belum sempat memasuki wilayah desa ketika udara bergetar.

Seorang wanita di pinggir jalan terhuyung, lalu ambruk. Disusul seorang anak. Lalu seorang prajurit pembawa perbekalan.

Tubuh mereka tidak terluka.

Mereka hanya… kosong.

“FORMASI!” teriak komandan.

Pasukan bergerak cepat. Lingkar pelindung dibentuk. Segel pertahanan aktif. Aura kolektif naik seperti dinding tak kasatmata.

Namun serangan tidak berhenti.

Dari dalam desa, satu demi satu warga runtuh, tepat di depan mata pasukan kekaisaran.

Chen Long berdiri kaku.

Nadi di lengannya menyala panas-dingin bersamaan. Retakan yang selama ini tertahan kini berdenyut liar, seperti ingin terbuka paksa.

“Arah serangan tidak terdeteksi!” teriak seorang kultivator.

“Tidak ada sumber!”

Yin Sunxin mengangkat tangan. Cahaya Yin lembut menyebar, mencoba menenangkan arus Qi warga yang tersisa.

Terlambat.

Sesuatu bergerak di udara—bukan sosok, bukan bayangan, melainkan tekanan niat. Ia menyapu desa itu seperti tangan tak terlihat.

“Ini jebakan terbuka,” kata Chen Hao tajam. “Mereka ingin kita melihat.”

Seorang anak kecil berusia tidak lebih dari tujuh tahun terlihat berlari keluar dari rumahnya, menangis memanggil ibunya. Ia berlari ke arah pasukan, ke arah perlindungan.

Chen Long bergerak.

Ia berlari lebih cepat dari pikirannya. Melewati garis formasi. Melewati batas aman yang ditetapkan ayahnya sendiri.

“Chen Long!” teriak Chen Hao.

Terlambat.

Saat Chen Long meraih anak itu, dunia seolah melambat.

Ia merasakan sentuhan dingin menyapu dadanya bukan menyerangnya, melainkan menguji. Nadi retaknya berdenyut keras, lalu… menahan.

Untuk sepersekian detik, serangan itu berhenti di sekelilingnya.

Namun desa tidak seberuntung itu.

Jeritan berhenti. Tubuh-tubuh jatuh. Sungai di bawah jembatan berubah keruh oleh sesuatu yang tak terlihat.

Chen Long berlutut, memeluk anak itu. Anak itu hidup dan gemetar, tapi bernapas.

Di sekeliling mereka, puluhan mayat tergeletak.

Formasi kekaisaran berdiri utuh.

Perlindungan ada.

Kekuatan ada.

Namun semuanya datang terlalu lambat.

Hening menyelimuti jembatan.

Seorang perwira berbisik, “(Kita… gagal melindungi mereka.)”

Chen Long menatap tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka.

Dan justru itu yang menghancurkannya.

Ia berdiri perlahan, tubuhnya gemetar tetapi bukan karena lelah, tetapi karena kesadaran yang menghantam penuh.

Kekuatan tanpa pilihan adalah keterlambatan.

Perlindungan tanpa keberanian hanyalah simbol.

Ia menoleh ke arah ayahnya. Untuk pertama kalinya, tatapan mereka tidak sepenuhnya selaras.

Bukan perlawanan.

Melainkan perbedaan jalan.

Malam itu, pasukan berkemah dalam keheningan berat.

Tidak ada perayaan selamat. Tidak ada laporan kemenangan.

Hanya angka korban yang ditulis pelan di atas papan kayu.

Yin Sunxin mendekati Chen Long yang duduk sendirian di tepi sungai.

“Kamu menyelamatkan satu,” katanya.

Chen Long menggeleng. “Dan kehilangan puluhan.”

Ia mengepalkan tangan. Nadi retaknya kini terasa… berbeda. Tidak lagi sekadar luka. Tidak lagi sekadar bahaya.

Melainkan pintu.

“Aku tidak bisa terus berjalan seperti ini,” katanya pelan.

“Menunggu izin. Menunggu perintah. Menunggu mereka mati dulu.”

Yin Sunxin menatapnya lama.

“Kalau kamu melangkah lebih jauh,” katanya, “kamu akan sendirian.”

Chen Long menatap arus sungai.

“Aku sudah sendirian sejak pertama kali mereka mati di depanku.”

Di kejauhan, langit bergetar halus dan sebuah respons jauh dari sesuatu yang telah lama menunggu.

Serangan berhenti malam itu.

Namun pesan telah disampaikan dengan jelas:

Umpan telah naik menjadi tantangan.

Dan Chen Long menatap tanpa mengetahui bahwa ia sepenuhnya telah menjawab.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!