Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang seharusnya menakutkan
Biasanya ia yang mengatur semuanya.
Sekarang aku.
“Aku mandi dulu ya, Mas. Nanti aku ke sini lagi.”
Ia hanya mengangguk pelan. Tatapannya mengikuti langkahku sampai aku keluar kamar.
Air hangat menyentuh kulitku, tapi pikiranku tidak tenang. Aku terus mengingat suhu tubuhnya yang makin panas. Selesai mandi, aku berdiri lama di depan lemari.
Tanganku tanpa sadar mengambil dress yang ia belikan tadi pagi.
Aku memakainya perlahan.
Entah kenapa, aku ingin ia melihatnya lagi. Ingin membuatnya tersenyum seperti tadi.
Saat aku kembali ke kamarnya, ia sedang setengah duduk bersandar di kepala ranjang.
Begitu melihatku, ia terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Sayang… kamu cantik banget.”
Pipiku langsung memerah.
Aku berjalan mendekat.lalu berkata “Mas, aku malam ini tidur di sini ya. Aku takut Mas kenapa-kenapa.”
Ia langsung menggeleng pelan.
“Jangan, sayang. Nanti kamu nggak nyaman.”
“Enggak kok, Mas. Aku percaya sama Mas. Lagian… aku juga mau manjain Mas.”
Ia terdiam. Tidak menjawab.
Aku naik ke ranjangnya.
Ia terlihat sedikit terkejut.
“Mas kenapa? Takut?” tanyaku jahil.
“Enggak takut. Cuma… aneh aja.”
Aku tidak langsung berbaring. Hanya duduk di sampingnya.
Ia malah membuang wajahnya ke arah lain.
Beberapa detik kemudian, adzan isya terdengar.
Ia langsung bangun dan berdiri, lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata.
Aku hanya diam.
Aku tahu ia hanya ingin shalat.
Setelah ia keluar, aku merasakan kamar menjadi gerah.
AC mati.
Aku ingin menyalakannya, tapi teringat ia sedang demam.
Aku menimbang beberapa detik.
Lalu akhirnya pergi ke kamarku untuk ganti baju.
Kali ini aku memakai tanktop dan celana pendek saja.
Kembali ke kamarnya, aku naik ke ranjang dan menutupi tubuhku dengan selimut tipis.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Ia masuk.
Begitu melihatku, ia langsung refleks menutup matanya dengan tangan.
“Sayang…”
Aku langsung memotong, “Panas banget, Mas. Mau aku hidupin AC tapi kamu sakit.”
Ia membuka sedikit matanya.
Lalu benar-benar membuka tangannya dan menatapku.
“Aku juga manusia normal loh,” katanya pelan. “Kamu emang nggak takut?”
“Takut apa?”
Ia tidak menjawab.
“Aku percaya Mas nggak akan ingkar janji.”
Ia hanya terdiam.
“Sini,” kataku lagi. “Pasti Mas kedinginan.”
Aku melentangkan tangan kiriku, memberi kode agar ia tidur di dalam pelukanku.
Ia tetap diam.
Akhirnya aku berdiri, menarik tangannya pelan dan membaringkannya.
Tanganku masuk ke bawah lehernya, menjadikannya bantal.
Aku memeluk tubuhnya erat. Tanpa sadar wajahnya menyentuh dadaku, membuatku sedikit tegang.
Tapi aku tidak memperdulikannya.Karena yang lebih terasa adalah suhu tubuhnya yang panas.
Ia langsung memberontak saat menyadari posisinya.
Tapi aku mempererat pelukanku.
“Udah. Jangan banyak gerak. Tidur, Mas. Biar cepat sembuh.”
Ia diam.
Beberapa detik.
Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit gemetar—entah karena demam, entah karena gugup.
Aku mengelus rambutnya pelan. “Nggak usah mikir aneh-aneh.”
Ia menghela napas panjang.
Perlahan tubuhnya mulai lebih rileks.
Beberapa menit kemudian, napasnya berubah teratur.
Ia tertidur.
Aku masih memeluknya.
Tangan kananku memainkan ponsel tanpa benar-benar fokus melihat layar.
Daguku menyentuh rambutnya, Aku mencium rambutnya pelan.
Wangi sabun bercampur aroma khas dirinya membuat dadaku terasa hangat.
beberapa waktu berlalu.
Tiba-tiba wajahnya bergerak di area dadaku yang membuatku tegang. Lalu disusul dengan tangannya yang sedari tadi diam, kini mulai memelukku balik. Ia masih menggerak-gerakkan wajahnya pelan, seperti mencari posisi paling nyaman, sambil bergumam lirih.
“Nyaman…”
Aku tersenyum kecil. “Tadi nolak, kok sekarang nyaman sih…” bisikku sangat pelan.
Tidak ada balasan.
Napasnya kembali teratur. Kali ini lebih dalam. Lebih tenang.
Ia benar-benar tertidur nyenyak.
Aku merasakan suhu tubuhnya perlahan menurun. Tidak sepanas tadi. Tidak segemetar sebelumnya.
Alhamdulillah…
Tanganku tetap mengusap punggungnya pelan, sampai akhirnya rasa kantuk ikut menyusup.
Aku memejamkan matamata, lalu tertidur....
Suara adzan subuh membangunkanku.
Allahu akbar…
Aku membuka mata perlahan.
Langit di luar jendela masih kebiruan. Udara terasa lebih sejuk.
Ia masih di pelukanku.
Belum bangun.
Padahal biasanya, begitu adzan subuh terdengar, ia sudah bangun lebih dulu.
“Mungkin karena terlalu nyaman,” gumamku pelan sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, ia bergerak lagi.
Wajahnya kembali menggeser pelan di area yang sama, membuatku langsung menegang.
“Nyaman ya, Mas?” godaku setengah berbisik.
Ia tiba-tiba terbangun.
Matanya membelalak sesaat, lalu ia sadar di mana posisinya.
Refleks ia menarik wajah dan tangannya, tubuhnya menjauh sedikit dariku.
“Zahraa—”
Aku langsung mendekatkan wajahku lagi ke arahnya.
Kini aku sadar wajahnya sudah jauh lebih segar. Tidak sepucat semalam.
“Kok Zahra? Siapa itu Zahra?” kataku pura-pura kesal. “Namaku sekarang sayang.”
Ia menutup matanya, seperti tidak berani menatapku. Jarak kami hampir tidak ada.
Aku mencium bibirnya cepat.
“Nyaman kan, Mas? Sini aku peluk lagi." Nada suaraku menggoda.
Ia langsung bangun dari ranjang dan berjalan cepat keluar kamar.
Aku terdiam dua detik. Lalu tertawa kecil.
“Mas! Lari dari mana sih?”
Aku turun dari ranjang, merapikan rambutku sebentar, lalu menuruni anak tangga perlahan. Langkahku sengaja dipelankan, supaya tidak berisik.
Saat sampai di ruang tamu—Schevenko sudah duduk di sofa.
Ia duduk membeku, kedua tangannya bertaut di depan, tatapannya lurus ke lantai. Wajahnya seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
Seolah-olah sedang mengingat apa yang ia lakukan semalam.
Aku menahan senyum. Oh… jadi lagi malu rupanya.
Niat jahil langsung muncul di kepalaku.
Aku berjalan pelan ke arahnya. Sengaja tidak bersuara. Sesampainya di belakang sofa, aku memutar langkah dan berdiri tepat di sampingnya.
Ia belum sadar.
Aku menunduk sedikit, memunculkan wajahku dari sampingnya—Lalu tanpa aba-aba, aku mencium bibirnya.
Lama.
Bukan sekadar singkat seperti tadi.
Benar-benar lama.
Awalnya ia terkejut. Bahunya sedikit menegang.
Tapi beberapa detik kemudian, ia tidak bergerak.
Diam.
Seolah menikmati.
Aku bisa merasakan napasnya yang masih hangat, bibirnya yang sedikit kering karena baru bangun tidur—tapi tetap terasa manis.
Aneh memang.
Baru bangun tidur, tapi tetap manis.
Saat aku akhirnya melepaskan ciumanku, aku tersenyum lebar.
“Manis banget, Mas.”
Ia masih diam beberapa detik, seperti butuh waktu untuk kembali ke dunia nyata.
Lalu—
“Zahraaa…”
....................