Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Langit Milan sore itu kelabu. Awan rendah menggantung berat, seperti ikut menahan napas, menggambarkan suasana yang tegang, mencekam, dan seolah dunia ikut diam sebelum sesuatu yang besar terjadi.
Di pinggir kota, berdiri bangunan tua bekas pabrik tekstil yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Dindingnya retak, jendelanya pecah, dan besi-besi rangka menjulur seperti tulang belulang. Tempat yang sempurna untuk transaksi yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Tiga mobil hitam memasuki area pabrik. Mesin berhenti serempak, lalu pintu terbuka. Alecio turun dengan setelan hitamnya yang rapi, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Di belakangnya, Patrick dan belasan anak buah membawa beberapa peti kayu besar.
Di dalamnya ada tiga ratus batang “emas”. Beratnya nyata. Nilainya? Itu cerita lain.
Patrick berbisik pelan, “Area atap terlalu sunyi.”
Alecio mengangguk tipis. “Aku tahu.”
Alecio mengangkat dagu sedikit. Dua orang anak buahnya menyebar, memeriksa sisi bangunan. Namun, bangunan itu terlalu luas, terlalu banyak titik buta.
Dari kejauhan terdengar suara mesin berat mendekat. Itu adalah truk. Truk dengan logo perusahaan milik Alecio.
Mata Alecio mengeras. Truk itu berhenti sekitar tiga puluh meter dari mereka. Pintu kabin terbuka.
Hugo turun dengan jas abu-abu khasnya, tersenyum seperti tuan rumah pesta. Di belakangnya, belasan pria bersenjata muncul dari balik reruntuhan.
“Ah, Alecio,” sapa Hugo dengan nada ringan. “Kau datang tepat waktu.”
Alecio menatapnya datar. “Aku bukan tipe orang yang suka menunggu.”
Tatapan mereka bertemu. Dua pemimpin. Dua predator.
Hugo menepuk-nepuk badan truk. “Barangmu masih utuh.”
Alecio memberi isyarat kecil.
Dua anak buahnya membuka salah satu peti. Batang emas tersusun rapi, berkilau di bawah cahaya redup sore.
Hugo tersenyum puas. “Indah sekali.”
Alecio tidak membalas senyum itu. “Mana Enzo.”
Hugo menjentikkan jari. Pintu belakang truk terbuka. Dua pria menyeret seseorang turun. Tubuh itu kurus, penuh luka, wajahnya bengkak dan lebam. Rambutnya lengket oleh darah kering.
Patrick menahan napas.
Alecio membeku sepersekian detik.
Enzo, jika bukan karena tatapannya yang masih hidup, ia hampir tak bisa dikenali.
Hugo mendorong tubuh itu ke depan. “Seperti yang dijanjikan.”
Enzo berdiri sempoyongan. Kakinya hampir tak sanggup menahan berat tubuhnya sendiri. Namun saat melihat Alecio .atanya menyala. Ia mulai berjalan dengan langkahnya yang goyah.
Alecio maju satu langkah. “Enzo.” Suara itu rendah, tapi terdengar jelas.
Jarak mereka tinggal sepuluh meter. Delapan meter, Enzo terhuyung. Lima meter ... dan saat itulah peluru dari ketinggian. Kilatan kecil muncul dari atap bangunan sebelah kiri.
Patrick melihatnya sepersekian detik lebih cepat. “Sniper!”
Terlambat. Suara letusan senyap memecah udara. Peluru melesat lurus ke arah kepala Alecio.
Namun, Enzo yang melihatnya terlebih dahulu atau mungkin hanya naluri. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, ia berlari dan mendorong tubuhnya ke depan. Tubuhnya menghantam Alecio.
Suara tembakan kedua terdengar. Peluru menembus punggung Enzo.
Waktu seperti berhenti. Tubuh Enzo tersentak. Darah muncrat dari balik kemejanya. Ia roboh tepat di depan Alecio.
Patrick berteriak, “Perlindungan!”
Dan dalam sepersekian detik pertempuran pecah.
Dari jendela-jendela pecah, dari balik tiang beton, dari atap, pria-pria dari kelompok Serigala Putih muncul. Rentetan tembakan menghujani area terbuka. Debu beterbangan. Pecahan semen berhamburan.
Alecio berlutut, satu tangan menahan tubuh Enzo yang terkulai. Darah mengalir deras di punggungnya.
“Bos ....” Suara Enzo parau. “Ma-af, aku tidak bicara ....”
Alecio menatapnya. Matanya bukan lagi dingin, tetapi membara.
“Kau bodoh,” gumam Alecio pelan. “Kenapa kau lari?”
Enzo mencoba tersenyum. “Karena kau lebih mahal dari tiga ratus emas ....” Tangannya jatuh lemas.
Patrick menarik Alecio dengan paksa ke balik peti kayu sebelum peluru berikutnya menghantam lokasi mereka.
“Ini jebakan!” teriak Patrick.
Alecio sudah tahu. Ia mendongak, melihat Hugo yang berdiri jauh di belakang dengan senyum puas.
Hugo mengangkat tangannya, seolah memberi salam. “Bisnis yang menyenangkan!” teriaknya di tengah tembakan.
Alecio bangkit dari balik perlindungan. Satu peluru hampir menyentuh bahunya.
Patrick berteriak, “Bos!”
Namun, Alecio tidak lagi peduli. Ia mengangkat pistolnya. Menembak tepat ke arah atap. Salah satu sniper terjatuh.
“Serang!” perintah Alecio.
Anak buah Serigala Hitam membalas tembakan. Gudang tua berubah menjadi medan perang. Kaca sisa-sisa jendela pecah total. Dinding berlubang. Suara peluru beradu dengan logam dan beton memekakkan telinga.
Patrick mengoordinasi sisi kanan. Dua orang berhasil memutari bangunan dan menyerang dari belakang.
Sementara, Alecio bergerak maju seperti badai. Ia tidak lagi sekadar bertahan. Ia juga memburu lawannya.
Satu pria Serigala Putih roboh. Yang lain mencoba melarikan diri ke dalam gedung. Alecio terus mengejar.
Di dalam bangunan, cahaya redup dan bayangan panjang membuat segalanya terasa seperti labirin kematian.
Hugo menyadari situasi mulai berbalik. “Tarik mundur!” teriaknya.
Namun, sudah terlambat. Alecio muncul dari balik tiang beton, pistolnya terarah lurus ke kepala Hugo.
Jarak mereka hanya beberapa meter. Suara tembakan di luar mulai mereda. Dunia seolah menyempit hanya untuk dua orang itu.
“Ini yang kau sebut transaksi?” tanya Alecio dingin.
Hugo tetap tersenyum meski napasnya sedikit cepat. “Kau terlalu mudah percaya.”
Alecio melangkah lebih dekat. “Dan kau terlalu percaya diri.”
Hugo menatap pistol itu, lalu kembali menatap wajah Alecio. “Kau tahu apa kelemahanmu?”
Alecio tidak menjawab.
“Kau mencintai anak buahmu.”
Di luar, suara sirene polisi jauh terdengar samar. Seseorang pasti sudah melapor.
Hugo tersenyum tipis. “Kita lanjutkan ini lain kali.”
Tiba-tiba ledakan kecil terdengar dari sisi belakang gedung. Asap tebal mengepul, pandangan terhalang. Saat asap mulai menipis Hugo sudah tidak ada. Hanya sisa tawa yang terasa menghina.
Alecio keluar dari bangunan. Beberapa anak buahnya terluka. Beberapa tergeletak tak bergerak.
Patrick mendekat dengan wajah kusut. “Dia kabur.”
Alecio tidak menjawab. Ia berjalan ke arah tubuh Enzo, lalu berlutut. Darah masih menggenang di bawahnya.
Langit mulai menurunkan gerimis tipis. Alecio menggotong tubuh Enzo dengan tangannya sendiri.
Suasana hening. Namun, ketenangan itu palsu.
Karena perang ini belum selesai. Ini baru pembukaan.
Alecio berdiri perlahan. Wajahnya basah oleh hujan atau mungkin oleh sesuatu yang lain.
“Patrick.”
“Ya, Bos.”
“Mulai malam ini ....” Alecio menatap reruntuhan yang masih berasap. “Tidak ada lagi negosiasi.”
Suara sirene dari mobil polisi makin dekat.
Alecio berbalik. “Serigala Putih ingin perang.” Tatapannya menjadi gelap dan mematikan. “Kalau begitu, kita pastikan mereka punah.”
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu