NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - TOPENG YANG RETAK

Setelah keluar dari rumah sakit, Akselia kembali ke apartemen sempit yang setahun terakhir jadi rumahnya.

Atau lebih tepatnya, bekas rumahnya.

"Astaga..."

Akselia berdiri di ambang pintu yang terbuka. Kunci sudah diganti, untung Pak Dharma punya koneksi dengan pemilik gedung. Tapi tetap saja isinya kosong total.

Benar-benar kosong.

Tidak ada kasur lipat yang Kevin bilang "pakai dulu ya sayang, nanti kita beli yang bagus". Tidak ada meja plastik tempat mereka makan mie instan sambil tertawa. Tidak ada lemari kayu murahan yang pintunya suka macet. Bahkan gantungan baju di dinding pun dicabut, meninggalkan lubang paku yang mencela.

Yang tersisa hanya sampah.

Plastik-plastik bekas, tisu berserakan, lalu Akselia berjongkok, mengambil sesuatu dari sudut ruangan, terdapat foto mereka.

Foto selfie Akselia dan Kevin di taman kota tiga bulan lalu. Kevin merangkulnya dari belakang, Akselia tersenyum lebar. Keduanya terlihat bahagia.

Foto itu disobek jadi dua. Bagian Kevin hilang, sedangkan bagian Akselia dibuang.

"Brengsek..." desis Akselia, meremas foto itu.

"Akselia?"

Pak Dharma muncul di belakangnya, membawa kardus. "Sudah lihat semuanya?"

"Dia buang semuanya," jawab Akselia datar... terlalu datar. Seperti kalau dia mengeluarkan emosi sekarang, dia akan meledak. "Barang-barangku, buku-buku, bahkan baju-baju... semua."

"Seperti kamu tidak pernah ada untuknya." Ucap Pak Dharma

"Ya." Akselia berdiri, menatap ruangan kosong itu. "Seperti aku tidak pernah ada."

Pak Dharma meletakkan kardus. "Aku bawa baju cadangan dan perlengkapan dasar. Kita tidak perlu lama-lama di sini. Ambil apa yang masih bisa diselamatkan, terus kita pergi."

Akselia mengangguk, tapi kakinya tidak bergerak. Matanya menelusuri setiap sudut apartemen, tempat dia tertawa, menangis, berharap. Tempat dia membayangkan masa depan bersama pria yang ternyata tidak pernah serius mencintainya.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk, nomor tidak dikenal.

Akselia membuka. Isinya cuma satu kalimat.

[Jangan coba hubungi Kevin lagi. Ini peringatan pertama dan terakhir. - K]

K \= Karina.

Jadi perempuan itu sampai repot-repot cari nomor Akselia. Merasa terancam, mungkin. Atau sekadar mau mastiin 'saingan' sudah menyingkir.

Jemari Akselia mengetik balasan. [Jangan khawatir! Aku tidak tertarik sama barang bekas.]

Send.

Tiga detik kemudian, telepon masuk. Nomor yang sama.

Akselia angkat, tapi tidak bicara.

"Dengar ya, pelayan murahan..." suara Karina melengking dari speaker, suara sok anggun yang dibuat-buat. "Aku tahu siapa kamu Akselia Kinanti, Kevin sudah cerita semuanya. Kamu cuma selingkuhan murah yang ngira bisa dapetin pria seperti dia."

Akselia masih diam, membiarkan Karina bicara.

"Kevin itu milikku... dari dulu, sekarang, sampai kapanpun. Keluarga kami sudah sepakat, perusahaan kami akan merger. Kamu? Kamu cuma... cuma hiburan lewat. Fase kelam Kevin sebelum dia sadar posisinya."

"Sudah selesai?" tanya Akselia dingin.

Karina tersentak, seperti tidak menyangka Akselia bakal jawab. "A... apa?" tanyanya tergagap.

"Aku tanya, kamu sudah selesai ceramah? Karena aku ada kerjaan."

"Kamu? berani sekali kamu...!"

"Karina." Nama itu terasa asing dan pahit di lidah Akselia. "Aku tidak akan hubungi Kevin, tidak akan dekati Kevin dan tidak akan ganggu hubungan kalian. Tenang aja!"

Hening sebentar, Karina seperti tidak percaya menang semudah ini.

"B... bagus, seharusnya dari awal kamu..."

"Tapi bukan karena aku takut sama kamu," potong Akselia, suaranya turun satu oktaf. Dingin, mematikan. "Tapi karena Kevin Pratama bukan lagi orang yang aku kenal, dia sampah! Dan aku tidak suka main-main di tempat pembuangan sampah."

"APA KAMU BILANG?!"

"Oh, satu lagi." Akselia tersenyum, meski Karina tidak bisa lihat. "Kevin bilang aku hiburan? Tapi kamu tahu tidak, malam-malam dia ke apartemenku, dia yang nangis-nangis cerita soal kamu? Katanya kamu dingin, kamu egois, kamu cuma mau image sempurna di depan kamera, tapi di kasur seperti patung."

Akselia mengarang, tapi efeknya luar biasa.

"BOHONG! KEVIN TIDAK PERNAH..."

"Mungkin iya, mungkin tidak." Akselia mengangkat bahu santai. "Tapi sekarang kamu pasti mikir, kan? Setiap kali Kevin bilang capek, kamu pasti ingat kata-kataku. Selamat menikmati pertunangan, Karina. Semoga awet."

Klik.

Akselia memutus sambungan sebelum Karina sempat balas.

Pak Dharma menatapnya dengan alis terangkat. "Kamu yakin itu langkah bagus?"

"Bukan langkah bagus." Akselia memasukkan ponsel ke saku. "Tapi aku tidak bisa diam aja waktu dia panggil aku pelayan murahan."

"Tiga bulan, Akselia. Aku bilang tiga bulan kamu..."

"Aku tahu, Pak. Aku tidak akan kontak Kevin, aku tidak akan dekati mereka. Tapi kalau mereka yang mulai duluan..." Akselia melirik Pak Dharma. "Aku boleh bela diri kan?"

Pak Dharma menggeleng, tapi senyumnya muncul. Senyum tipis. "Kamu masih Akselia yang dulu, keras kepala!"

"Anda yang ngajarin aku, Pak. Jangan mulai perang kalau tidak siap kalah."

"Itu prinsip di ring, bukan di kehidupan nyata."

"Memangnya ada bedanya?"

Pak Dharma tidak menjawab, dia tahu Akselia benar. Bagi orang seperti mereka, petarung, pejuang.. hidup memang ring raksasa. Kalah atau menang, tidak ada abu-abu.

"Ayo." Pak Dharma mengambil kardus. "Kita pergi sebelum kamu buat keputusan impulsif lagi."

Akselia mengikuti, tapi di ambang pintu, dia berhenti. Melirik ke belakang sekali lagi.

Apartemen kosong itu dulu penuh harapan, sekarang cuma kuburan mimpi-mimpi bodoh.

"Selamat tinggal," bisiknya. Tidak jelas dia bicara sama apartemen atau sama Akselia yang lama. Akselia yang lemah, Akselia yang percaya cinta bisa menyelamatkan.

Pintu tertutup, kunci diputar.

***

DUA JAM KEMUDIAN - DOJO PAK DHARMA

Akselia lupa betapa rindunya dia akan tempat ini.

Dojo sederhana di pinggir kota. Bangunan tua dengan lantai kayu dan matras tipis, samsak tergantung di sudut, cermin besar di satu sisi. Aroma keringat dan karet bercampur jadi aroma yang anehnya menenangkan.

"Kamarmu di belakang." Pak Dharma membuka pintu kecil di ujung dojo. "Sempit, tapi bersih. Ada kasur, lemari kecil, kamar mandi dalam. Cukup untuk seorang diri."

Akselia memasuki kamar. Memang sempit, separuh ukuran apartemennya yang tadi, tapi bersih dan... aman. Ada jendela kecil menghadap gang, tirai biru pudar, kasur single dengan seprai putih bersih.

"Terima kasih, Pak."

"Latihan mulai besok pagi, jam lima. Jangan telat." Pak Dharma mau pergi, tapi berhenti. "Akselia, aku harus tanya."

"Apa?"

"Kamu serius mau balas dendam sama Kevin? Sampai sejauh mana?"

Akselia menatap mentornya. "Sejauh yang dibutuhkan."

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban yang bisa aku kasih sekarang, Pak." Akselia duduk di kasur. "Aku tidak tahu sejauh mana, aku cuma tahu aku tidak bisa diam aja."

Pak Dharma mengangguk perlahan. "Baiklah... Tapi ingat, balas dendam itu seperti api. Bisa hangatin kamu di malam dingin, tapi juga bisa bakar kamu habis kalau tidak hati-hati."

"Aku siap terbakar, Pak. Asal Kevin ikut terbakar."

Setelah Pak Dharma pergi, Akselia berbaring di kasur. Menatap langit-langit kayu tua yang penuh retakan.

Ponselnya bergetar lagi, kali ini telepon dari nomor yang dia kenal.

Kevin.

Jantung Akselia berdegup kencang, tangannya melayang di atas tombol hijau.

Jangan! Tiga bulan... Jangan rusak rencana.

Tapi penasaran mengalahkan logika.

Akselia mengangkat, tidak bicara.

"Akselia." Suara Kevin. Masih suara yang dulu bikin Akselia meleleh, tapi sekarang cuma bikin mual. "Karina bilang kamu ganggu dia."

"Dia yang telepon aku duluan."

"Aku tidak peduli siapa yang mulai." Kevin terdengar kesal. "Aku sudah transfer uang kompensasi, aku sudah minta kamu menghilang. Kenapa kamu masih..."

"Kompensasi?" Akselia tertawa sinis. "Kamu pikir uang bisa bayar semuanya? Bayar perasaan aku? Bayar bayi kita yang mati?"

Hening.

"Bayi itu bukan tanggung jawabku," ulang Kevin. Dingin, tanpa rasa bersalah.

"Kamu benar." Akselia duduk, menatap refleksinya di jendela. "Bayi itu bukan tanggung jawabmu. Tapi Kevin, aku cuma mau kamu tahu satu hal."

"Apa?"

"Kamu akan menyesal."

Kevin tertawa, tawa meremehkan. "Menyesal? Menyesal kenapa? Kamu mau apa? Lapor polisi? Dengan bukti apa? Semua pesan sudah aku hapus, saksi tidak ada. Kamu cuma pelayan yang ngaku-ngaku hamil..."

"Aku tidak bicara soal polisi, Kevin." Akselia tersenyum. Senyum yang kalau Kevin bisa lihat, pasti dia tidak akan tidur nyenyak malam ini. "Aku bicara soal sesuatu yang jauh lebih personal, tapi kamu akan tahu nanti. Selamat menikmati pertunangan."

Akselia menutup telepon sebelum Kevin sempat jawab.

Ponsel itu dilempar ke kasur, Akselia berjalan ke cermin kecil di sudut kamar.

Perempuan di cermin terlihat kurus, pucat, lemah, mata cekung, rambut kusut.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Matanya... Matanya tidak lagi mata perempuan yang jatuh cinta, tapi mata perempuan yang siap berperang.

"Tiga bulan," gumamnya pada refleksi. "Tiga bulan aku jadi kuat lagi. Lalu Kevin Pratama, Karina Adelia... kalian akan tahu siapa sebenarnya Akselia Kinanti."

Di luar jendela, langit mulai gelap. Suara murid-murid Pak Dharma yang latihan sore terdengar samar.

Akselia menutup mata, menarik napas.

Besok, latihan dimulai.

Besok, transformasi dimulai.

Besok, Akselia yang lama mati sepenuhnya.

Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya akan lahir.

1
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
ikhlas itu latihannya seumur hidup dg bersabar dg airmata..hasilnya luarbiasa👍👍👍 goodjob akselia..💪💪💪 thor😍😍
Lienaa Likethisyow
goodjob👍👍 akselia..memaafkan membuat hati lega dan juga damai💪💪💪
Asyatun 1
lanjut
Dew666
👍👍👍👍
Nada She Embun
maafkan dirimu sendiri.... cintai dirimu sendiri... jangan beratkan dirimu dengan hal yg bahkan di luar kendali mu... kamu cukup untuk dirimu... 💜... mencintai diri sendiri bukan egois... itu pertahanan untuk mental yg lebih sehat... banggalah pada dirimu... kamu yg terbaik...
author terbaik.. 😍
Lienaa Likethisyow
semangat selia jadi diri sendiri,hargai,cintai dirimu sendiri👍👍👍💪💪💪
Soraya
mampir thor
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Erni Noviyanti
tuh dengerin,ada yg gampang ngapain nyari yg sulit.
Lee Mbaa Young
🤣🤣🤣 syukurin kalah kan. balas dendam kok naggung. lek ijek bucin rasah koar koar balas dendam memalukan.
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Erchapram: Jangan... ceritanya masih panjang, kita lihat dulu bagaimana perjuangan Akselia. 🙏
total 1 replies
vj'z tri
jurus buat ngalahin musuh ,malah dipakai musuh duluan 😅😅😅🤧🤧🤧🤧
Lee Mbaa Young: la dia bucin mkne gk tega kn menghancurkan lawan.
ngunu koar koar balas dendam.
wanita gk punya kemampuan kok bls dendam 🤣 apa nya yg di balas. yo mnding pergi jauh cari laki lain lah.drpd memalukan.
total 1 replies
Erni Noviyanti
kalau lemah ngga usah mikir bales dendam.mending pergi jauh mulai kehidupan yg baru.kasian orang yg udh banyak berkorban.
Lee Mbaa Young: laiya wong lemah kok balas dendam. yo mnding move on lah. cari laki lain. 🤣🤣🤣.
total 1 replies
Sunaryati
Setiap nongol langsung disikat, mana ada tabungannya🤣🤣🤭💪 Thoor
Sunaryati
Sudah berhasil menjerat Kevin, tapi tetap ragu ambil keputusan
Lienaa Likethisyow
lanjuuuuuuuuutttttttt....💪💪💪💪👍👍👍
Erchapram
Besok Novel ini libur update, jadi yang masih ditabung yukkk... bongkar dulu tabungannya, baca dulu sampai di bab akhir. Biar aku semangat lanjut...

Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.

Terima kasih.
Asyatun 1
lanjut
N Wage
maaf nih ya Thor,serius nanya...(apa ada bagian yg terlupa aku baca) kan Kevin dan selia cukup lama berhubungan,SMP selia hamil juga.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?
N Wage: iya KK,maaf...😅
total 2 replies
Nada She Embun
nahan nafas aq bacaa.... 😮‍💨.. pengen banget liat kevin babak belur d tangan akselia...
Erchapram: Gak ada Kak, akan ada plot twist yang gak terduga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!