NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Romansa / Menyembunyikan Identitas / Penyelamat
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Di Tengah Pesta

Di sisi lain, Leta yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik di sekitarnya, mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang berdiri terlalu dekat dengan kakaknya, Rion.

Leta berbisik sinis ke arah Tiffany dan Shyla. "Lihat wanita di samping Kak Rion itu. Menempel terus seperti ulat bulu. Benar-benar merusak pemandangan di acara sekelas ini."

Tiffany melirik sekilas, lalu mencibir. "Kenapa juga Kak Rion harus 'ketempelan' dengan model kelas dua seperti dia? Selera Kakak mu kadang memang perlu dipertanyakan, Leta."

Shyla masih dengan sisa air mata haru, namun ikut menoleh. "Mungkin dia takut kehilangan mangsanya di tengah kerumunan konglomerat ini. Benar-benar tidak tahu tempat.

Leta tersenyum sinis. "Tenang saja, setelah acara Sky selesai, aku sendiri yang akan memastikan ulat itu menjauh dari Kak Rion. Malam ini harusnya tentang keluarga, bukan tentang pengganggu. "

Setelah prosesi selesai, musik waltz yang lembut mulai mengalun. Para tamu turun ke lantai dansa. Sky merangkul pinggang Evelyn, membimbingnya bergerak mengikuti irama di tengah kerumunan yang mengagumi mereka.

Sky berbisik di telinga Evelyn. "Kau lihat wajah ayahmu di sana? Dia tampak seperti baru saja melihat hantu, Baby."

Evelyn tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah meja keluarga Alexander. "Biarkan saja, Sky. Malam ini bukan tentang dendam masa lalu. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa tanpa nama Alexander pun, aku bisa berdiri di puncak dunia bersamamu."

"Kau jauh lebih bersinar dari berlian manapun di ruangan ini. Mereka yang rugi karena telah membuang permata sepertimu."

Evelyn menyandarkan kepala di bahu Sky. "Terima kasih telah menemukanku, Sky. Mari kita nikmati dansa ini. Aku ingin Natalie dan Samantha melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya menang malam ini."

Kevin berdansa dengan adiknya, Tiffany. "Jangan injak kakiku, Tiff. Kau harusnya belajar berdansa lebih baik jika ingin mendapatkan pria sekelas Sky."

Tiffany mencibir. "Diamlah, Kak Kevin! Setidaknya aku punya pasangan, lihat tuh dua kurcaci di pojok sana."

Kamera beralih ke Shyla dan Leta yang berdiri di pinggir lapangan sambil memegang gelas jus

Shyla memutar bola mata. "Kenapa semua orang harus berdansa seolah-olah dunia akan kiamat besok?"

Leta menghela napas panjang. "Bilang saja kau iri karena tidak ada yang mengajakmu, Shy. Tapi tenang, aku juga lebih memilih menghabiskan sisa malam ini dengan dessert daripada pegal-pegal di lantai dansa."

Rion melintas sambil memeluk pinggang kekasihnya, menggoda adik dan sepupunya. "Kasihan sekali jomblo-jomblo kita ini. Mau dipinjamkan pengawal untuk jadi pasangan?"

Shyla dan Leta melotot. "DIAM, KAK RION!"

HAHAHAHAHA!

Shyla memutar bola mata. "Lantai dansa ini penuh dengan orang-orang yang pamer kemesraan. Memuakkan."

Leta mengangguk setuju. "Benar-benar tidak adil! Kenapa cuma kita yang berdiri seperti tiang listrik di sini? Aku tidak mau kalah!"

Leta mengedarkan pandangannya dengan tajam ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi tamu-tamu terpandang. Matanya tiba-tiba terpaku pada seorang pria berkacamata yang berdiri tenang di dekat meja buffet, tampak asyik dengan ponselnya. Tanpa babibu, Leta berjalan cepat dan menyambar lengan pria itu.

"Ikut aku!" Leta menarik paksa tangan pria itu.

Pria Berkacamata terkejut. "Eh? Tunggu dulu! Nona, kau siapa? Aku sedang membalas pesan kerja—"

Leta menyela dengan cepat.  "Simpan pesanmu! Namaku Leta, dan malam ini kau akan menjadi pasanganku di lantai dansa. Tidak ada penolakan!"

Pria Berkacamata itu tercengang, hampir menjatuhkan kacamatanya. "Tapi aku bahkan tidak tahu cara berdansa waltz..."

Leta langsung membentak pelan. "Diam dan ikuti saja langkahku. Anggap saja ini kontribusi sosialmu untuk menyelamatkan harga diriku!"

Shyla yang melihat tingkah laku sepupunya hanya bisa menepuk jidat, sementara keluarga Alexander di kejauhan masih berusaha mencerna kenyataan pahit bahwa "anak buangan" mereka kini telah menjadi bagian dari keluarga paling berkuasa di negara itu.

"Ini benar-benar di luar nalar," gerutu Elvira, yang berdiri tak jauh dari pusat dansa, berusaha menyembunyikan wajah kesalnya di balik mata dingin. "Bagaimana ceritanya Vans bisa terjebak berdansa dengan Bibi Leta?"

Vans, yang kini dipaksa mengikuti irama waltz yang elegan namun mencekik, hanya bisa merutuk dalam hati. 'Mungkin ini karma karena di masa depan aku selalu menjahili Bibi Leta tanpa henti. Dia pasti sedang balas dendam sekarang... tapi sial, harus kuakui, Bibi Leta di zaman ini benar-benar cantik dan anggun.'

Arthur, yang terhubung melalui perangkat komunikasi nirkabel dan bisa mendengar gumaman batin saudaranya, langsung menimpali dengan nada tajam yang penuh kekesalan. "Jaga bicaramu dan fokus, Vans! Dia tetap bibimu, secantik apa pun gaun vintage yang dia pakai malam ini. Jangan biarkan pesonanya membuatmu lupa... ingat tujuan kita malam ini!"

Elvira merapikan gaun sutranya, matanya terus berpindah dari satu wajah ke wajah lain dengan waspada. "Aku masuk, Art. Bau parfum mahal ini membuatku pusing. Ayah... maksudku, Sky... dia berdiri tepat di tengah ruangan bersama Evelyn. Mereka terlihat sangat bahagia, sangat murni. Rasanya berdosa jika kita harus mengacaukan malam ini."

Arthur berkata dengan tegas. "Ingat pesanku, El. Jangan mendekat lebih dari lima meter. Kakek punya insting seperti serigala. Jika kau terlalu dekat, dia akan mengenali frekuensi sihir mu. Kita ini darah daging mereka, El. Kepekaan mereka pasti lebih kuat."

Vans tersenyum kaku sambil memutar tubuh Aleta mengikuti irama waltz yang lambat. "Anda berdansa dengan sangat anggun, Nona Aleta. Sebuah kehormatan bisa berada di sini malam ini."

Leta menatap Vans dengan tatapan menyelidik, sedikit curiga namun terpesona. "Kau punya cara bicara yang aneh untuk pria seumuran mu, Tuan... maaf, siapa namamu tadi? Dan kenapa tanganmu terasa sangat dingin? Kau tampak seperti sedang memeluk bom, bukan wanita."

Vans tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupannya. "Hanya sedikit terpesona oleh interior ballroom ini... dan tentu saja, oleh Anda. Keluarga pengantin pria benar-benar memiliki selera yang tajam, bukan? Aku bisa merasakan... aura yang sangat kuat di ruangan ini.

Leta mendekat, berbisik. "Kau merasakannya juga? Sepupu ku—Sky—dan Paman kami memang tidak suka orang asing yang membawa 'getaran' aneh. Jadi, saran saya, tetaplah tersenyum dan jangan lakukan gerakan tiba-tiba. Karena jika kau bukan undangan resmi, kau tidak akan keluar dari pintu itu dengan kaki yang utuh

Elvira terlihat gelisah, namun matanya tetap tajam. "Vans, kau terlalu dekat dengan Bibi Leta! Dia itu detektor manusia berjalan di masa depan

Suara Arthur terdengar. "Tahan, El! Jangan gunakan sihir. Aku ulangi, jangan gunakan sihir. Ayah sedang menatap ke arahmu sekarang. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. El, merunduk! Ambil gelas di depanmu dan berlakulah seperti tamu biasa."

Tiba-tiba, suara Arthur di earpiece berubah menjadi tegang dan rendah.

Arthur menatap monitor dengan tajam.  "Elvira, Vans... Berhenti di tempat. Jangan lakukan gerakan mencurigakan sekarang. Elvira, jangan berbalik. Vans, putar posisimu perlahan dalam dansa."

"Ada apa, Arthur?" Tanya Vans dalam hati, karena saat ini dia sedang berdansa dengan Leta.

"Viona. Dia ada di sana. Berjarak tepat satu meter di belakangmu, Vans. Dia sedang memegang segelas sampanye dan matanya menyisir ruangan. Dia adalah ancaman terbesar bagi rencana kita malam ini... atau mungkin, dia memiliki tujuan berada di tengah pesta ini."

Elvira tersenyum licik. " Kau tau, Kakak... kedatangan wanita itu sudah aku prediksi sebelum nya. Ini akan lebih menyenangkan."

Tiba - tiba...

Bruk! Bruk!

Satu per satu tubuh jatuh menghantam lantai dansa yang mengilap. Enam orang tergeletak kaku, wajah mereka memucat dalam hitungan detik. Musik berhenti seketika, digantikan oleh jeritan histeris tamu undangan yang berlarian menjauh dari pusat ruangan.

Di tengah kekacauan itu, Elvira berdiri tenang di sudut bar, jemarinya melingkari gelas sampanye dengan keanggunan yang tidak terusik oleh kepanikan di sekitarnya. Tatapannya lurus ke depan, menembus kerumunan, hingga bertabrakan dengan sepasang mata tajam milik Viona yang berdiri di dekat panggung pelaminan

Viona berdiri tegak dengan aura percaya diri yang meledak-ledak, namun binar kemenangannya sedikit meredup saat menyadari orang-orang yang seharusnya menjadi sekutunya, kini tumbang satu per satu. Dia menatap Elvira dengan mata membara. ' Elvira membacanya... dia tau itu!'

Elvira menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang dingin dan mematikan. Dalam benaknya, suaranya menggema penuh ejekan, ' Kau lupa, Viona... kita dibesarkan di lingkungan yang sama, menghirup racun yang sama, dan mempelajari cara membunuh yang sama. Aku tahu persis apa yang kau rencanakan di balik dentuman musik itu.'

Di  seberang sana, Viona mengepalkan tangannya di balik gaun sutra mahalnya. Ia merasakan desiran dingin yang tidak biasa saat melihat ketenangan Elvira. ' Sial, ' batin nya geram. 'Aku terlalu meremehkan mu. Kau disini tidak hanya sebagai penonton, sekali lagi kau berada di depan ku, Elvira.'

Suasana ballroom yang megah itu kini tak lebih dari arena gladiator bagi dua wanita yang saling mengunci pandangan di atas tubuh-tubuh yang tak bernyawa.

Sementara itu, di atas gedung seberang, Arthur terlonjak dari monitornya. Matanya terbelalak melihat enam orang tumbang di layar pengawas. Di lantai dansa, Vans yang masih menggenggam tangan Leta terpaku, menatap dingin orang - orang yang tumbang.

Sementara Arthur dan Vans sama - sama memasang wajah datar. Mereka menatap Elvira yang masih dalam posisi tenang. Seharusnya target mereka hanya satu, namun sekarang bertambah. Sepertinya mereka salah! Bukan mereka yang mengendalikan permainan ini... tapi Elvira.

BERSAMBUNG

1
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!