Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANDA BARU
Menjelang sore harinya, Maya bertemu Tito di kantor Lingga. Ditemani oleh sang kakak, Maya pun menyiapkan dokumen2 untuk mengugat cerai Juan.
Tidak ada banyak kata dari Maya. Ia tau apa saja yang dibutuhkan dalam proses perceraian karena ia pun seorang pengacara.
Setelah dokumen selesai disiapkan, Tito izin meninggalkan Lingga dan Maya berdua untuk membawa berkas ke pengadilan sebelum tutup.
"Ponselmu masih mati, May?" tanya Lingga dan Maya mengangguk.
"Lebih baik beli nomor baru saja dan buang nomor lamamu jika memulai kehidupan yang baru" saran pria itu.
"Ya kak. Nanti aku akan beli" sahut Maya.
Lingga mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Tidak usah beli. Kakak udah belikan. Nomor spesial untuk mengawali hidup barumu setelah ini" ujarnya.
"Pakailah. Hanya keluarga kita yang tau untuk saat ini" lanjutnya.
Maya tersenyum tipis.
"Terima kasih, Kak. Kamu memang kakak terbaikku. Aku sudah merepotkan mu beberapa hari ini. Merepotkan Kak Hania dan anak anak juga" ucapnya.
"Ngrepotin apaan sih, sudah tugas saudara saling menjaga dan menemani, Maya. Kamu tidak usah sungkan pada kakak sendiri" sahut Lingga.
Lagi lagi Maya memandang kakaknya dengan sendu.
"Oh ya, untuk info saja jika kamu penasaran. Tadi pagi aku sudah bertemu dengan suamimu serta ayah mertuamu. Aku sudah mengatakan proses cerai ini dan mereka menyetujuinya. Aku rasa prosesnya akan cepat" jelas Lingga.
"Hmmm..begitu ya? Apakah Mas Juan tidak mengatakan apapun untukku melalui kakak?" tanya Maya.
"Ada. Dia meminta maaf padamu" jawab Lingga.
Maya tersenyum tipis.
"Maaf ya? Entahlah, saat ini aku merasa bahwa semua kesalahan bisa dimaklumi dengan kata maaf saja. Tapi ternyata, tidak semudah itu menghilangkan ketakutan dari kesalahan itu" ujarnya.
"Mangkanya, setelah ini kamu tidak perlu berada di Indonesia dan memupuk rasa takutmu. Di London kamu bisa mendapatkan suasana baru" sahut Lingga.
Maya mengangguk setuju.
.
Keesokan harinya, Erlan sudah bisa keluar dari rumah sakit dan pulang kerumahnya bersama Ayu serta Maya.
Maya pulang kerumah orang tuanya dan kembali ke kamarnya.
3 hari lagi proses sidang perdana perceraian Maya dan Juan, sehingga Erlan dan Ayu ingin putrinya tinggal bersama mereka.
Riko benar benar menghilang dari hadapan Maya. Ia tidak memunculkan diri didepan Maya karena sudah berjanji selama 2 tahun ini tidak akan menganggu adik Lingga itu.
Hingga 3 hari sudah terlewati, sidang perceraian dimulai. Tidak ada mediasi karena keduanya sepakat untuk bercerai.
Juan dan Maya saling berhadapan disela sela suara hakim. Hanya saling tatap tanpa berbicara diruang sidang, kecuali saat Juan menalak Maya secara langsung didepan hakim pengadilan agama.
Proses cerai memakan waktu sekitar 1 jam karena pengungkapan sudut pandang saksi diantara mereka untuk membuktikan ketidakcocokan sebagai alasan bercerai.
Yap, bukan KDRT yang menjadi alasan perceraian namun perbedaan pendapat dan ketidakcocokan.
Maya meminta Lingga serta Tito tidak mengungkit hal ini di pengadilan. Ia ingin Juan tidak dipermalukan didepan banyak orang karena ia sadar bahwa awal mula kerusakan rumah tangganya karena cinta kepada orang lain yang seharusnya tidak ia cintai.
Saat keluar ruang sidang, Juan memberanikan diri menghadapi Lingga dan Maya ditemani sang ayah, Leksono.
"Maya, aku ingin minta maaf sebelum kita benar benar berpisah" ucapnya lirih.
Lingg memberikan tatapan mematikan kepada pria yang kini sudah menjadi mantan adik iparnya.
"Sudahlah. Kamu minta maaf seribu kali pun tidak bisa mengembalikan Maya seperti dulu. Hiduplah bahagia dengan jalanmu" sahut Lingga terlebih dahulu seperti sindiran.
"Kak, beri aku 5 menit untuk berbicara dengan Mas Juan dan ayah" minta Maya.
Lingga dengan tatapan jenuh malas menurutinya.
"Kakak tunggu disitu. 5 menit tidak lebih" ujarnya dan Maya mengangguk.
Kini Maya berdiri didepan Juan dan Leksono.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Semua ini memang salahku. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu" ucap Maya.
"Aku juga ingin meminta maaf sama ayah karena tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk ayah" lanjutnya sambil menatap Leksono.
"Tidak, sayang. Kamu sudah menjadi menantu kesayangan ku. Ayah sangat menyayangimu seperti anak sendiri sejak awal. Tapi memang ayah salah tidak bisa mendidik putra ayah menjadi pria bertanggung jawab" sahut Leksono.
Juan diam saja karena memang dia salah.
"Semuanya sudah terjadi, Ayah. Mungkin memang kita semua punya salah, tapi aku ingin kesalahan kita menjadi pembelajaran di kemudian hari. Aku harap dan berdoa supaya ayah mendapatkan menantu yang lebih baik dari aku dan bisa mencintai Mas Juan setulus hati" ucap Maya.
"Harapan yang sama untukmu, May. Dan yang terpenting bukan pria itu, pria miskin yang sejak awal memang bertujuan merusak hubungan kita" sahut Juan lalu mendapatkan tenggoran dari sang ayah.
"Stop, Juan..jangan mulai" tegur Leksono.
Lingga datang dan mengatakan bahwa 5 nenit sudah berlalu.
"Ayo kita pulang, Maya. Dirumah sudah siap menyambut kehadiranmu dengan status baru yang bahagia" ucapnya dengan tetap melirik tajam kearah Juan.
"Hmm, baik Kak" ujar Maya.
"Aku harap kamu bahagia, Mas Juan" lanjutnya sambil menatap mantan suaminya itu.
"Aku juga mengharapkan mu bahagia, Maya" balas Juan.
Lingga pun menggandeng adiknya untuk berjalan meninggalkan pengadilan.
Saat masuk didalam mobil, Maya tidak bisa membendung tangisnya dan ia memeluk sang kakak.
"Sudah..sudah..setelah ini kamu akan memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri, May. Jangan nangis" ujar Lingga.
"Hu...hu...aku..hanya merasa gagal, kak" lirih Maya dengan isakan tangis.
"Setiap orang pasti pernah gagal dalam suatu hal, May. Yang penting kita bisa bangkit dan berdiri lagi" sahut Lingga.
Maya tetap memeluk dan menangis di pundak sang kakak untuk beberapa saat hingga tenang.
Barulah Lingga menyetir kembali mobil untuk pulang kerumah orang tuanya membawa Maya yang sudah berstatus janda atau kembali single women.
Di perjalanan, hanya ada suara musik yang mengisi keheningan di mobil.
Maya sibuk memperhatikan jalanan dari samping jendela dan Lingga sibuk menyetir di tengah tengah kemacetan ibukota Jakarta waktu jam istirahat kerja ini.