Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
Suasana kedai setelah badai fitnah pagi tadi terasa sangat berbeda. Meskipun beberapa warga masih memandang dengan tatapan curiga dari kejauhan, sebagian besar dari mereka justru merasa simpatik setelah melihat keberanian Pak Jaya mengusir Niko. Kedai justru kedatangan beberapa pemuda desa yang penasaran dengan keberanian Rian.
Gia baru saja mengunci pintu depan untuk istirahat siang. Di dalam, Rian duduk di barisan kursi belakang, sedang sibuk dengan beberapa lembar kertas sketsa yang ia buat tadi pagi di atas sisa bungkus semen.
"Rian," panggil Gia sambil meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula di depan pria itu. "Tadi kamu bilang punya 'kartu as' soal perusahaan ayah Niko. Kamu serius? Atau itu cuma gertakan kayak soal CCTV tadi?"
Rian berhenti mencoret-coret. Ia menyesap kopinya perlahan, uap panasnya membumbung di depan wajahnya yang mendadak serius. "Gia, waktu aku difitnah di Jakarta, aku nggak pergi dengan tangan kosong. Aku arsitek utamanya. Aku tahu setiap inci material yang mereka korupsi, setiap tanda tangan palsu yang mereka buat, dan ke mana aliran dana itu bermuara."
Gia menarik kursi dan duduk di depan Rian. "Lalu kenapa kamu diam saja selama ini? Kenapa kamu malah milih jadi tukang bangunan di sini?"
Rian tersenyum pahit, tatapannya menerawang ke arah jendela yang basah. "Karena lawanku bukan cuma Niko, Gia. Ayahnya, Tuan Mahendra, punya pengaruh sampai ke puncak kekuasaan. Kalau aku langsung lapor saat itu, aku mungkin sudah 'hilang' beneran sebelum sampai ke kantor polisi. Aku butuh waktu untuk mengamankan data-data itu di tempat yang nggak bakal bisa mereka lacak."
"Dan sekarang?" kejar Gia.
"Sekarang, Niko sudah memancing singa yang sedang tidur," ujar Rian dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Gia meremang. "Dia pikir dengan menghina kamu dan merusak nama baik kedai ini, aku bakal takut. Dia salah besar. Dia justru makin mempermudah jalanku untuk menarik dia keluar dari lubang persembunyiannya."
Gia terdiam sejenak. Ia melihat gurat kelelahan sekaligus kemarahan yang tertahan di wajah Rian. "Rian, aku nggak mau kamu bahayain diri sendiri lagi demi aku. Kalau kamu mau lawan mereka, biarkan aku bantu. Aku ini mantan manajer pemasaran, ingat? Aku tahu cara menghancurkan reputasi seseorang lewat narasi yang tepat."
Rian menatap Gia, sedikit terkejut dengan tawaran itu. "Neng, ini bahaya. Ini bukan cuma soal postingan di Lemon8 atau TikTok. Ini soal orang-orang yang nggak segan pakai kekerasan."
"Aku sudah kehilangan segalanya, Rian. Karierku, nama baikku di kota, bahkan tunanganku yang ternyata bajingan. Aku nggak punya beban lagi untuk takut," Gia menggenggam tangan Rian yang kasar karena kerja berat. "Kita lakukan ini bareng-bareng. Kamu punya datanya, aku punya cara untuk menyebarkannya tanpa mereka tahu dari mana asalnya."
Rian menatap tangan Gia yang mungil namun terasa sangat kuat menggenggamnya. Untuk pertama kalinya, Rian merasakan ada orang yang benar-benar berdiri di sampingnya, bukan karena butuh keahlian arsitekturnya, tapi karena peduli pada manusianya.
"Oke," bisik Rian akhirnya. "Tapi dengan satu syarat. Kalau keadaan jadi terlalu panas, kamu harus janji untuk mundur dan biarkan aku yang hadapi sisanya."
"Nggak akan," jawab Gia cepat sambil tersenyum menantang. "Kita sudah nyangkut di utang kopi yang sama, Rian. Nggak ada yang boleh mundur."
Mereka pun mulai menyusun rencana. Rian menjelaskan bahwa data-data korupsi itu ia simpan dalam sebuah flash disk yang ia titipkan pada salah satu orang kepercayaannya di Jakarta—seorang mantan mandor tua yang dulu sangat setia padanya. Masalahnya, Niko pasti sudah mengawasi orang-orang lama Rian.
"Kita butuh cara untuk mengambil data itu tanpa menarik perhatian," ujar Rian sambil menggambar peta sederhana di atas meja kayu.
"Kenapa kita nggak pakai cara yang paling 'manusiawi' saja?" usul Gia. "Bapak setiap bulan harus kirim kopi bubuk pesanan khusus ke beberapa toko di Jakarta. Kita bisa selipkan pesan atau barang di dalam karung kopi itu. Nggak akan ada yang curiga sama kiriman kopi desa yang bau tanah."
Rian tertawa lepas, tawa yang benar-benar tulus dan hangat. "Pinter juga ya, Neng Bos ini. Ternyata sekolah manajer itu gunanya buat jadi kurir rahasia juga."
Gia ikut tertawa, suasana tegang itu mendadak mencair. Namun, di tengah tawa mereka, pintu kedai diketuk pelan. Gia berdiri untuk membukanya, mengira itu pelanggan. Ternyata, itu adalah Siska, salah satu warga desa yang biasanya paling rajin bergosip, namun kali ini ia datang dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Gia... anu, maaf soal postingan di grup tadi pagi," ujar Siska sambil menunduk. "Kami tadi lihat Pak Jaya marah besar sama orang kota itu. Terus, si Rian tadi juga jelasin semuanya di depan orang banyak. Kami baru sadar, si orang kota itu kayaknya emang jahat ya? Dia yang bayar orang buat ambil foto itu, kan?"
Gia menarik napas lega. Ternyata keberanian Rian dan ayahnya mulai membalikkan keadaan. "Iya, Mbak Siska. Dia mantan tunangan saya yang nggak terima saya putusin."
"Duh, dasar laki-laki nggak tahu diri!" seru Siska kesal. "Eh, Gia, sebagai tanda permintaan maaf, ibu-ibu di pengajian tadi bilang, kami mau bantu kamu. Kalau ada orang asing yang mencurigakan masuk ke desa ini lagi, kami bakal langsung lapor ke kamu atau ke Rian. Desa kita jangan sampai diacak-acak sama orang kayak gitu!"
Gia menoleh ke arah Rian yang hanya mengacungkan jempol dari kursinya. Ternyata, strategi "kemanusiaan" mereka berhasil. Mereka tidak hanya mendapatkan dukungan moral, tapi sekarang mereka punya mata-mata di seluruh pelosok desa.
Malam itu, setelah semua urusan selesai, Rian membantu Gia menutup jendela terakhir.
"Rian," panggil Gia sebelum pria itu pulang.
"Iya, Neng?"
"Makasih ya. Untuk semuanya. Untuk sudah jadi orang jujur di dunia yang penuh kebohongan ini."
Rian terdiam di ambang pintu. Cahaya bulan menyinari wajahnya, memperlihatkan sisi lembut yang jarang ia tunjukkan. "Gia, aku yang harusnya makasih. Kamu kasih aku alasan buat berhenti bersembunyi. Ternyata, secangkir kopi amarah kamu itu beneran bisa bikin orang jadi berani lagi."
Rian berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Namun di kejauhan, di dalam kegelapan di balik semak-semak jalan keluar desa, Niko sedang duduk di dalam mobilnya, berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Lakukan sekarang. Jangan cuma gertak. Bakar tempat itu kalau perlu. Aku mau mereka tahu kalau nggak ada tempat aman buat bersembunyi dariku."
Niko menutup teleponnya dengan senyum kejam. Ia tidak tahu, bahwa di desa itu, ia bukan lagi melawan seorang wanita yang lemah atau seorang arsitek yang hancur. Ia sedang melawan sebuah ikatan yang dibangun di atas kejujuran, aroma kopi, dan keberanian yang baru saja bangkit.