NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Kerajaan Teatan.

Chapter 2 : Kerajaan Teatan.

Havenload malam itu tampak berbeda. Pulau melayang itu berpendar lembut dengan cahaya biru muda dari inti energinya, sementara bangunan-bangunan kayu yang baru selesai didirikan berdiri miring sedikit—seolah masih belajar bagaimana caranya “menjadi rumah” di langit. Angin tipis berdesir membawa aroma logam hangat dan jamur panggang dari dapur penginapan Vivi.

Di dalam penginapan, suasananya… aneh.

Chika duduk di bangku kayu panjang dengan pakaian biasa—bukan zirah ksatria Gurial Tempest—hanya kemeja longgar dan celana gelap. Namun, satu hal tetap sama: helm ksatrianya masih terpasang. Tidak mau dilepas, tidak bisa dilepas, atau mungkin… dia lupa cara melepasnya.

Bulu merah di puncak helm itu bergoyang-goyang pelan.

“Puuufff~”

Princes meniupnya dari belakang, pipinya mengembung seperti hamster.

Bulu helm: fwoosh fwoosh.

Chika menegakkan badan.

“Eh… berhenti, Princes. Itu sensitif.”

“Kelihatan kayak sikat WC,” gumam Princes polos.

“INI BULU KEHORMATAN KSATRIA.”

Sebelum perdebatan berkembang menjadi perang dunia kecil,—

BRAAAK!!

Pintu penginapan terbuka keras sampai dinding kayu bergetar. Beberapa papan berderit kreeeek seolah mengeluh.

Vivi berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sedikit berantakan, celemek dapurnya miring, satu alisnya terangkat tinggi. Senyum masih terpasang… tapi itu senyum yang terlalu lebar. Senyum orang yang sudah sangat lelah… tapi masih sopan.

“…….”

Sunyi.

Angin malam masuk lewat pintu, membuat lilin di meja bergoyang fwup fwup.

Chika langsung berdiri.

“Hai, Vivi! Kenapa buka pintu keras-keras?”

Vivi menutup pintu perlahan…

kreeeekk… tok.

Lalu berbalik dengan senyum makin lebar.

“Oh… knight-ku tercinta…”

Nada suaranya manis.

Matanya? Tidak.

“Siapa,” katanya sambil melipat tangan,

“yang memecahkan jendela penginapan… hmm?”

DUN.

Princes langsung menyelinap ke belakang Chika seperti kadal ketakutan, memegang punggung bajunya sambil berbisik gemetar,

“A… aku nggak sengaja, Chika… aku main baseball sama anak-anak MK… terus bolanya… nyuuung… ke arah jendela…”

Chika menelan ludah.

Tenang, Chika. Ini saatnya jadi ksatria sejati.

Ia melangkah ke depan, berdiri di antara Vivi dan Princes.

“Tenang, Princes. Biar aku yang urus.”

Ia menegakkan dada, helmnya mengeluarkan bunyi kecil klonk.

“Maaf, Vivi. Aku yang memecahkan jendelanya.”

Vivi memiringkan kepala.

“Oh… begitu ya…”

Dia melangkah mendekat.

Langkah kakinya berbunyi tok… tok… tok…

Setiap langkah terasa seperti genderang kematian.

Ia mengangkat lengan bajunya perlahan.

“Jadi… kamu ya, knight…”

Chika mundur setengah langkah.

“Eh… Vivi… jangan marah…”

Otaknya panik. Mulutnya lebih panik.

“Nanti… ha! Aku akan membasuh punggungmu saat mandi!”

Sunyi.

Princes:

“….”

Selena (dari tong kayu di pojok):

“….”

Vivi berkedip sekali.

“…Hah?”

Chika baru sadar apa yang ia ucapkan.

Helmnya sampai miring.

“BUKAN ITU MAKSUDKU—”

Beberapa menit kemudian...

Meja makan panjang dipenuhi piring.

Dan di atas piring Chika…

Paprika.

Banyak.

Merah, hijau, kuning.

Dipanggang.

Direbus.

Ditumis.

Dibentuk bunga.

Chika duduk gemetar, memegang garpu dan pisau seperti senjata penyiksaan.

“Huuu… aku nggak mau makan paprika… aku nggak mau… huuuu…!!”

Air mata keluar dari bawah helmnya, menetes ke meja pletok pletok.

Selena duduk di sampingnya, tong kayunya terbuka sedikit. Ia menyesap botol darah invader seperti minuman kaleng.

“Yailah… masak knight milih-milih makanan.”

slurp.

Princes mengunyah ayam panggang dengan lahap.

“Chika payah!”

“AKU KSATRIA, BUKAN PEMAKAN PAPRIKA.”

Vivi berdiri dengan tangan di pinggang, senyum puas.

“Ini hukuman karena kalian memecahkan jendela penginapan.”

Chika menusuk paprika dengan garpu seperti menusuk monster.

“…iya deh… iya… besok kasih makan yang enak ya, Vivi…”

Vivi menyeringai.

“Iya, iya. Besok aku masak steak daging sebelum kalian pergi mencari Hero kedua.”

Mata Princes berbinar.

“STEA—”

Chika langsung berhenti menangis.

“…beneran?”

“Beneran.”

Chika menjatuhkan garpu.

“AKU AKAN MAKAN PAPRIKA DENGAN TERHORMAT DEMI STEAK.”

Ia mengunyah paprika dengan wajah menderita.

“Ini… rasa kejahatan…”

Selena menatap ke luar jendela yang sudah diperbaiki.

“Aku akan tinggal di Havenload. Menjaganya bersama Vivi.”

Vivi menoleh ke arahnya, senyumnya melembut.

“Barrier Havenload belum sempurna. Kalau invader datang, kita yang menahan.”

Chika menatap mereka berdua, paprika masih menggantung di garpunya.

“…jadi cuma aku dan Princes ke Kerajaan Teatan?”

Princes mengangkat tangan penuh saus.

“Yup!”

Chika mendesah panjang.

“Baiklah… Hero Kedua…”

Angin malam berdesir masuk lewat jendela baru.

Cahaya Havenload berkilau di luar.

Di balik tawa, paprika, dan jendela pecah,

perjalanan mereka menuju Kerajaan Teatan pun mulai terbentuk.

Dan tanpa mereka sadari…

takdir sedang tersenyum di atas langit biru Havenload.

Keesokan paginya…

Cahaya biru lembut Havenload menyapu penginapan dari luar, seperti matahari buatan yang bangun lebih pagi dari semua orang. Angin tipis berdesir membawa bau kayu basah dan logam hangat dari mesin-mesin penjaga.

Di depan penginapan, mereka berdiri berjejer.

Chika sudah kembali memakai perlengkapannya:

Pedang Lumina tergenggam di tangan kanan, memercikkan listrik biru muda kecil—krek… krek…

Perisai putih-emasnya di punggung memantulkan cahaya Havenload seperti cermin surga.

Princes berdiri di sampingnya, membawa tas kecil yang terlalu besar untuk tubuhnya.

Tas itu bunyinya kletek kletek setiap kali dia bergerak, seperti diisi batu, panci, dan mungkin… satu ayam utuh.

Selena berdiri agak di belakang, terlindung payung merah besarnya. Bayangannya jatuh panjang di lantai kayu. Matanya setengah tertutup, masih sensitif pada cahaya pagi.

Dan Vivi…

bersandar di tiang penginapan, tangan terlipat, senyum tenang seperti biasa.

Vivi memecah suasana.

“Havenload sudah mendeteksi Hero kedua…”

Ia mengangkat satu jari, serius.

“…di Kerajaan Teatan.”

Chika berkedip.

“Eh? Siapa?”

Vivi mengangkat bahu.

“Itu yang harus kau cari sendiri. Kerajaan Teatan itu luas sekali. Kota demi kota, bengkel demi bengkel…”

Ia menunjuk ke punggung Chika.

“Tapi jangan khawatir. Hero Sword di punggungmu akan bereaksi saat kau mendekati Hero yang ditakdirkan.”

Pedang di punggung Chika bergetar kecil, seperti bersin.

ting…

Chika menoleh ke belakang.

“…barusan dia gerak sendiri.”

Princes langsung menunjuk.

“Dia lapar! Sama kayak kamu kalau lihat steak!”

“ITU BUKAN ALASAN ILMIAH.”

Princes mengepalkan tangan dengan semangat.

“Chika… ayo petualangan panjang lagi!”

Chika mengangkat jempol tinggi-tinggi.

“Siap laksanakan, Princes!”

Selena menghela napas pelan.

“Baiklah… saatnya mengantar kalian turun. Di bawah sana… Kerajaan Teatan.”

Ia menurunkan payung sedikit, lalu mengangkat tangan ke depan mulutnya seperti memanggil kucing.

“MK.99!!”

Hening.

Angin lewat.

Satu burung mekanik melintas.

“….”

Selena berkedip.

“MK.99!!!”

Masih tidak ada jawaban.

Vivi menghela napas panjang.

“Sebentar.”

Ia masuk ke dalam penginapan.

Terdengar suara berantakan dari dalam.

BRUK.

KLONK.

“Jangan tidur di situ—”

Tak lama kemudian, Vivi keluar…

sambil menyeret sesuatu.

Itu adalah robot penjaga cantik Havenload, MK.99.

Rambut metaliknya acak-acakan, satu matanya masih mati, dan dia menguap—secara mekanis.

“Zzz… mode tidur siang…”

Vivi meletakkannya di depan Chika dan Princes.

“Kalau kau tidak bangun…”

Vivi tersenyum manis.

“…aku matikan sistemmu.”

MK.99 langsung melonjak tegak.

“MK.99 AKTIF!”

Sayap kecil di punggungnya terbuka—shiiing!

Matanya menyala biru.

“Target: transportasi Hero. Mengunci tangan.”

cekrek!

Dia langsung memegang tangan Chika dan Princes.

Chika kaget.

“EH— TUNGGU—”

Princes malah senang.

“WAH TERBANG!”

Sayap MK.99 menyala.

VROOOOM—

Dalam satu tarikan kuat, mereka melesat turun dari Havenload, menembus awan tipis.

Chika berteriak:

“AAAAAAAAAAAAA— AKU MASIH TRAUMA KETINGGIAN—”

Princes:

“INI KAYAK AYUNAN NERAKA!”

Selena dan Vivi mengecil di kejauhan.

Di Tengah Perjalanan....

Angin berdesir keras. Awan lewat cepat seperti kapas robek. Di bawah mereka, daratan luas mulai terlihat—tembok kota, menara logam, dan bangunan tinggi dengan cerobong uap.

Tiba-tiba, suara bzzzt terdengar dari dada MK.99.

Sebuah cahaya biru muncul di depan mereka, membentuk layar transparan.

Wajah Vivi muncul di sana.

“Chika. Princes. Ada perubahan misi.”

Chika menggantung di udara, satu tangan dipegang MK.99.

“Apa… apa lagi…”

Vivi menatap serius.

“Invader telah memasuki wilayah Kerajaan Teatan.”

Princes menegang.

“Serius?!”

“Ya. Mereka menyusup dari jalur bawah tanah dan pinggiran kota.”

Vivi menyilangkan tangan.

“Tugas kalian bukan hanya mencari Hero kedua… tapi juga membantu memperkuat pertahanan Teatan.”

Chika menggertakkan gigi.

“…jadi bukan cuma petualangan…”

“Bukan.”

Layar berganti tampilan: siluet prajurit berarmor merah-hitam bergerak di antara gedung-gedung.

Vivi melanjutkan,

“Hero kedua di sana… adalah gadis Teatan yang jenius merakit mesin. Kalau dia benar-benar Hero… maka dia kunci pertahanan kota.”

Princes mengepalkan tangan.

“Kalau begitu… kita harus cepat!”

Chika mengangguk pelan.

“Kerajaan Teatan… Hero kedua… dan invader…”

Pedang Hero Sword di punggungnya mulai bersinar samar, seolah menyetujui.

MK.99 menurunkan sudut terbang.

“Tujuan: Kerajaan Teatan. Mode kecepatan maksimum.”

Chika memeluk Princes refleks.

“Pegangan yang kuat!”

“AKU PEGANG HELMMU!”

“ITU PEGANG KEPALAKU!”

Mereka meluncur turun menuju negeri logam dan uap…

Menuju

Kerajaan Teatan.

Dan di sana…

takdir Hero kedua

sudah menunggu di antara mesin, api,

dan suara perang yang baru saja dimulai.

...----------------...

Matahari pagi menyapu Kerajaan Teatan, memantul dari genteng tembaga di pasar kota, memercikkan kilau hangat ke jalan-jalan berbatu yang ramai. Bau roti panggang, rempah pedas, dan besi panas bercampur dalam udara, membuat Chika sedikit meringis.

MK.99, setelah menurunkan mereka di pinggir pasar, menepuk sayap mekaniknya, menguap, lalu… plok! langsung tertidur di lantai seperti boneka logam.

“Eh… serius?” Chika menunduk, menatap robot yang sekarang tampak seperti tiang besi tidur.

Princes terkikik kecil di sampingnya, menepuk punggung MK.99, lalu menutup hidungnya.

“Waduh… baunya… logam tidur!”

Chika mengangkat bahu, menahan senyum.

“Ya sudahlah… kita jalan-jalan saja, Princes. Cari Hero kedua.”

Mereka melangkah perlahan di pasar yang mulai sibuk. Pedagang berteriak menawarkan sayuran, buah, dan mekanik-mekanik miniatur.

Seorang anak menjatuhkan roda gigi, yang berguling dan krekk…krekk… menghantam sepatu Chika. Dia menekuk lutut, menunduk, menahan diri agar tidak menendangnya.

Princes menatap roda gigi itu, lalu menepuk pundak Chika.

“Kesatria… kamu serius banget…”

Chika menghela napas panjang, matanya menatap sekeliling. “Harus hati-hati… Hero kedua mungkin ada di sekitar sini.”

Tiba-tiba, teriakan keras terdengar dari ujung pasar.

“WAHH! Apa-apaan ini?!”

Sekelompok Invader berbaju baja merah-hitam muncul, mendorong kios dan mengacaukan pedagang. Aroma asap dan percikan api dari alat mekanik yang mereka rusak menyebar.

Chika dan Princes saling menatap.

“Princes… bersiap!” Chika menggenggam Hero Sword di punggungnya.

Princes menepuk dadanya sendiri, bulu matanya bergetar. “Aku ikut, kesatria!”

Namun sebelum mereka bisa maju, sebuah papan kayu jatuh di depan mereka, seperti tantangan:

Teka-teki pasarnya:

Di atas papan itu tertulis dalam bahasa kuno dan simbol roda gigi:

"Hanya yang tahu urutan kerja roda dapat menghentikan kekacauan. 1+3 \= ? … 2? \= Jawaban!"*

Chika menatap papan itu, alisnya berkerut.

“…Apa-apaan ini… teka-teki di pasar?”

Princes menatapnya, matanya melebar.

“Aku… aku nggak ngerti!”

Chika menepuk dahi, lalu menatap ke arah Invader yang mulai merusak kios.

“…baik, kita pecahkan sambil bertahan!”

Dia menarik pedang Lumina, yang berdesis kecil zzrrtt…, menyala biru lembut.

“Hero Sword… tunjukkan jalan.”

Pedang sedikit bergetar, menunjukkan arah yang benar. Chika dan Princes mulai memindahkan roda gigi dan tongkat kayu di lantai, mencoba menyesuaikan pola yang sama dengan simbol di papan.

Sementara itu, Invader yang mencoba merusuh pasar, melihat mereka, melengos untuk menyerang.

“Kesatria! Mereka menyerang!” teriak Princes sambil menahan seorang Invader yang hendak menendang kios buah.

Chika menangkis dengan pedang Lumina. ZRAAASH! Sebuah ledakan cahaya biru kecil menghentikan Invader itu, tapi beberapa lainnya mulai menyerang pedagang.

“Princes… lempar batu!” Chika menunjuk ke arah tumpukan batu di pinggir jalan.

Princes mengambil satu, melempar… TOK! Batu itu mengenai helm Invader, membuatnya terhuyung.

Chika akhirnya menyelesaikan teka-teki dengan menekan roda gigi terakhir ke posisi yang tepat.

KRRRRR

Sebuah mekanisme tersembunyi di lantai pasar terbuka, mengeluarkan semburan asap yang menahan Invader, membuat mereka berteriak, menunduk, dan tersingkir sementara.

Chika menghela napas panjang, keringat mengalir dari pelipisnya.

“…Huff… sulit juga ya teka-teki pasar ini.”

Princes tersenyum, kotor dan berdebu.

“Tapi… kita berhasil, kesatria!”

Chika menepuk pundak Princes, menatap pasar yang mulai tenang.

“Ya… tapi masih ada invader di selatan. Kita harus cepat ke sana.”

Mereka berjalan menuruni jalan berbatu, masuk ke gang-gang sempit, di mana asap dan suara pecahan kayu masih terdengar dari pasar.

Di selatan, beberapa Invader berserakan, mencoba membakar gerobak dan kios.

Chika mengangkat Hero Sword tinggi-tinggi. ZZRRAAAHSH! Cahaya biru meledak, menghantam Invader yang tersisa. Beberapa robot penjaga mini MK di pasar ikut aktif, menembakkan laser kecil untuk menghentikan mereka.

Princes memungut tongkat kayu yang jatuh, memukul satu Invader hingga terjatuh.

“HA! Aku juga pahlawan!”

Chika menatapnya, setengah tersenyum, setengah lelah.

“…Ya, kita berhasil, tapi ini baru permulaan. Hero kedua masih menunggu…”

Udara di Kerajaan Teatan bergetar dengan sisa energi Hero Sword. Pasar mulai dipulihkan oleh penduduk yang trauma tapi bersyukur. Bau asap dan rempah mulai bercampur lagi.

Chika menatap ke selatan, mata sedikit menyipit.

“…Mari kita temukan Hero kedua. Gadis jenius itu pasti di sekitar sini.”

Princes menatap Chika, mengangkat dagunya.

“Kita pasti bisa, kesatria!”

Chika mengangguk pelan, menggenggam pedang Lumina dengan lebih erat.

“…Kerajaan Teatan… kita datang.”

MK.99 masih tertidur di pinggir jalan, tapi beberapa bagian logamnya bergetar perlahan, seperti bersiap… untuk petualangan selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!