Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Disembunyikan
Pagi datang terlalu cepat.
Qiu Liong terbangun dengan sisa bayangan mimpi yang masih membekas di benaknya mata merah gelap itu, hamparan kehancuran, dan suara yang berkata bahwa itu hanyalah “kemungkinan.”
Ia duduk perlahan di tepi ranjang.
Tangannya terangkat, menatap telapak tangannya sendiri.
Tenang.
Tidak ada aura mengamuk.
Tidak ada bayangan mengerikan.
Namun jauh di dalam, ia tahu sesuatu telah berubah.
Bukan pada kekuatannya
melainkan pada kesadarannya.
Ia kini tahu bahwa kekuatan itu memiliki sejarah.
Memiliki jejak.
Dan mungkin… korban.
“Dewi Shura…” gumamnya lirih.
Nama itu terasa berat di lidahnya.
Ia tidak pernah mendengar legenda itu secara jelas di sekte. Hanya serpihan cerita lama tentang jalur terlarang, tentang pendekar yang menjadi iblis karena mengejar kekuatan terlalu jauh.
Apakah inti yang ia terima bagian dari legenda itu?
Atau sesuatu yang lebih tua?
Ketukan di pintu membuatnya tersentak dari lamunan.
“Masuk,” ujarnya singkat.
Pintu terbuka pelan.
Seorang murid pelayan berdiri membungkuk.
“Penatua Lin memanggilmu ke Paviliun Langit Tenang.”
Qiu Liong terdiam sesaat.
Penatua Lin.
Salah satu tetua tertua di sekte.
Jarang mencampuri urusan murid luar.
“Sekarang?” tanyanya.
“Ya.”
Setelah murid itu pergi, Qiu Liong berdiri.
Intinya berdenyut samar.
Bukan karena ancaman.
Melainkan seperti… kewaspadaan.
Paviliun Langit Tenang terletak di sisi timur sekte, jauh dari hiruk-pikuk halaman latihan. Tempat itu sunyi, dikelilingi bambu tinggi yang bergesekan lembut tertiup angin.
Saat ia melangkah masuk, aroma dupa tipis menyambutnya.
Penatua Lin duduk bersila di atas tikar bambu, rambutnya putih panjang menjuntai, wajahnya tenang namun sulit ditebak.
“Kau datang,” ucapnya tanpa membuka mata.
Qiu Liong memberi hormat.
“Penatua.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu
“Kau masuk ke Hutan Kabut Hitam,” kata Penatua Lin pelan.
“Ya.”
“Kau kembali hidup.”
“Ya.”
Akhirnya, Penatua Lin membuka mata.
Tatapannya tajam, jauh lebih tajam dari murid mana pun yang pernah memandang Qiu Liong.
“Dan kau membawa sesuatu kembali bersamamu.”
Jantung Qiu Liong berdetak sedikit lebih cepat.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Apa maksud Penatua?”
Penatua Lin tidak langsung menjawab.
Ia bangkit perlahan, melangkah mendekat.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Qiu Liong merasakan sesuatu
seperti aliran qi halus menyentuh tubuhnya, menyelidiki.
Bukan kasar.
Namun dalam.
Inti di dalam dadanya bereaksi.
Berdenyut satu kali.
Pelan.
Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka berubah tipis.
Mata Penatua Lin menyipit.
“Menarik…” gumamnya.
Qiu Liong menahan napas.
Ia tahu, jika penatua itu benar-benar ingin, ia bisa memaksa membuka rahasianya.
Namun beberapa detik berlalu
dan aliran qi itu ditarik kembali.
Penatua Lin berbalik, berjalan kembali ke tempat duduknya.
“Ada rahasia di Hutan Kabut Hitam yang bahkan sekte ini tidak sepenuhnya pahami,” katanya pelan. “Beberapa hal… lebih baik tetap terkubur.”
Kata-kata itu membuat dada Qiu Liong menegang.
Apakah penatua tahu tentang Inti Kekosongan?
Tentang Dewi Shura?
“Atau,” lanjut Penatua Lin, “beberapa rahasia hanya memilih orang tertentu.”
Tatapan mereka bertemu.
Dalam tatapan tua itu, Qiu Liong tidak melihat permusuhan.
Tidak pula ketakutan.
Hanya… kewaspadaan.
“Apakah Penatua akan menghentikanku?” tanya Qiu Liong pelan.
Hening.
Lalu Penatua Lin tersenyum tipis.
“Selama kau masih berdiri di sisi sekte ini, rahasiamu adalah milikmu.”
Jawaban itu bukan izin penuh.
Namun juga bukan larangan.
Qiu Liong memberi hormat lagi.
Saat ia melangkah keluar dari paviliun, angin bambu terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Ia menyadari sesuatu.
Rahasia tentang kekuatannya bukan hanya beban pribadi.
Itu bisa menjadi ancaman
atau senjata
tergantung siapa yang mengetahuinya.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami arti menyembunyikan sesuatu.
Bukan karena takut.
Melainkan karena belum waktunya dunia tahu.
Di bawah langit pagi yang cerah,
Qiu Liong berjalan kembali ke asrama dengan satu kesadaran baru
ia tidak lagi hanya menyembunyikan kekuatan.
Ia menyembunyikan sejarah.
Dan mungkin…
takdir yang lebih besar dari sekadar menjadi legenda.
jangan bikin kecewa ya🙏💪