"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - LENNA DIUSIR
Malam itu, rumah keluarga Adisaputra seperti medan perang.
Dara duduk di kamarnya, mendengar teriakan dari lantai bawah. Suara Nyonya Devi yang marah, suara Lenna yang menangis histeris, suara Arkan yang mencoba menenangkan tapi juga terdengar kecewa.
Ketukan di pintu.
"Masuk."
Regan masuk dengan wajah puas. "Kekacauan total di bawah, Ibu menyuruh Lenna berkemas. Malam ini juga harus keluar."
"Lenna bilang apa?"
"Dia mohon-mohon, nangis, bahkan sampai memeluk kaki Ibu. Tapi Ibu keras, bilang dia sudah cukup memalukan keluarga Adisaputra."
Dara berdiri, berjalan ke jendela. Dari sini dia bisa melihat halaman depan, mobil sudah disiapkan untuk mengantarkan Lenna pergi.
"Arkan?"
"Diam saja, terlihat hancur. Seperti dunianya runtuh." Regan duduk di sofa. "Dia baru sadar selama ini dia mencintai bayangan, bukan orang yang sebenarnya."
"Dia pantas merasakan itu."
Mereka terdiam, mendengar suara tangisan Lenna yang semakin keras dari bawah.
Kemudian langkah kaki tergesa-gesa di tangga.
Pintu kamar Dara terbuka kasar.
Lenna berdiri di sana wajah penuh air mata, mata merah, rambut berantakan. Di belakangnya, Arkan mencoba menariknya.
"Lenna, jangan..."
Tapi Lenna melepaskan diri, melangkah masuk, menatap Kiara dengan tatapan penuh kebencian yang tidak lagi disembunyikan.
"Puas?!" teriaknya. "Puas sudah menghancurkan hidupku?!"
Dara menatapnya tenang. "Aku tidak menghancurkan hidupmu, kamu yang menghancurkan hidupmu sendiri dengan kebohongan."
"AKU MELAKUKAN INI SEMUA KARENA CINTA!" Lenna melangkah maju, tangannya mengepal. "Aku mencintai Kak Arkan sejak aku berumur lima belas tahun! Saat dia menyelamatkanku dari jalanan, saat dia membawaku ke rumah ini, saat dia bilang aku akan aman di sini! Aku jatuh cinta padanya!"
"Itu bukan cinta... Itu obsesi!"
"KAMU TIDAK TAHU APA-APA!" Lenna berteriak histeris. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh di jalanan! Ibuku sekarat, utang menumpuk, tidak ada yang peduli padaku! Lalu tiba-tiba ada Kak Arkan, pria tampan, baik, kaya seperti pangeran dalam dongeng!"
"Lalu kamu memutuskan untuk merebut pangeran itu dari istrinya yang sah?"
"Kamu tidak layak untuknya! Kamu lemah! Kamu penakut! Kamu tidak bisa membuat dia bahagia!" Lenna menunjuk Kiara dengan jari gemetar. "Aku yang selalu ada untuknya! Aku yang mendengarkan keluhannya! Aku yang membuatnya tersenyum!"
"Dengan meracuni istrinya? Dengan mencoba membunuh cucunya?" Dara melangkah maju, menatap Lenna dengan tatapan menusuk. "Kamu pikir Arkan akan bahagia dengan pembunuh?"
Lenna tersentak... seolah baru menyadari apa yang dia lakukan.
"Aku... aku tidak berniat membunuh... aku hanya ingin kamu pergi..."
"Dengan membuatku keguguran? Dengan meracuniku perlahan?" Dara tersenyum pahit. "Kamu tahu bedanya kamu dan aku, Lenna?"
"Apa?"
"Aku pernah hidup di dunia kelam. Aku pernah melihat kematian, kekerasan, pengkhianatan. Tapi aku tidak pernah, tidak sekali pun mencoba menyakiti orang yang tidak bersalah." Dara menatapnya tajam. "Tapi kamu? Kamu dibesarkan dengan kasih sayang keluarga Adisaputra. Diberi makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kamu membalas dengan pengkhianatan."
Lenna menangis... kali ini tangisan yang tulus, bukan manipulasi.
"Aku tidak punya pilihan... aku takut kehilangan semua ini... takut kembali ke jalanan..."
"Semua orang punya pilihan, Lenna. Kamu memilih jalan yang salah."
Arkan akhirnya masuk, menarik Lenna menjauh dari Kiara.
"Sudah cukup, Len. Kamu harus pergi sekarang."
"Kak Arkan... kumohon... jangan usir aku... aku tidak punya tempat lain..." Lenna memeluk Arkan, menangis di dadanya.
Dara melihat Arkan terdiam, terlihat terguncang. Bahkan setelah semua ini, dia masih merasa kasihan pada Lenna.
Lemah.... Dia terlalu lemah.
"Arkan," kata Dara dingin. "Kalau kamu masih kasihan padanya setelah dia mencoba membunuh anakmu, mungkin kamu memang tidak layak jadi ayah."
Arkan tersentak, menatap Kiara dengan mata terluka.
Tapi kemudian dia melepaskan pelukan Lenna dengan tegas.
"Maafkan aku, Len. Tapi Kiara benar, kamu sudah keterlaluan. Aku tidak bisa memberimu tempat di sini lagi."
Lenna jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara.
Nyonya Devi muncul di pintu dengan wajah keras. "Sudah cukup dramanya. Lenna, kamu harus keluar sekarang. Sopir sudah menunggu."
"Tante..."
"Jangan panggil aku Tante lagi. Mulai sekarang, kamu bukan bagian dari keluarga Adisaputra."
Dua pegawai keamanan masuk, membantu Lenna berdiri dengan paksa.
"LEPASKAN AKU!" Lenna meronta. "KAK ARKAN! KAK ARKAN, TOLONG AKU!"
Tapi Arkan hanya berdiri diam, tidak bisa menatap Lenna.
Saat Lenna diseret keluar, dia menatap Kiara untuk terakhir kalinya dengan tatapan penuh kebencian murni.
"Ini belum selesai," desisnya. "Kamu akan menyesal, Kiara. Aku bersumpah, kamu akan menyesal!"
Kemudian dia hilang di koridor, tangisannya perlahan memudar.
Hening...
Nyonya Devi menatap Kiara untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di tatapannya. Bukan kasih sayang, tapi... respek... Sedikit... Hanya sedikit respek.
"Kiara," katanya pelan. "Maafkan aku... aku salah tentangmu."
Dara tidak menjawab langsung. Dia membiarkan hening menggantung, membuat Nyonya Devi merasakan tidak nyaman.
"Ibu tidak salah tentang aku," kata Dara akhirnya. "Ibu salah karena memilih percaya pada manipulator daripada menantu sendiri. Ibu salah karena lebih peduli pada citra keluarga daripada kebenaran."
Nyonya Devi terlihat seperti ditampar, tapi dia tidak membantah.
"Kamu benar. Aku... aku akan lebih baik mulai sekarang."
"Aku tidak butuh kata-kata, Bu. Aku butuh tindakan."
Nyonya Devi mengangguk, lalu keluar meninggalkan Kiara, Arkan, dan Regan di kamar.
Arkan melangkah mendekat ke Kiara, tapi Dara mengangkat tangan, menghentikannya.
"Jangan."
"Kiara, aku..."
"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kamu mau minta maaf, kamu menyesal, kamu janji akan berubah." Dara menatapnya lelah. "Tapi aku sudah dengar itu semua, dan aku masih belum bisa memaafkanmu."
"Aku mengerti... Aku tidak mengharapkan maafmu sekarang, aku hanya mau kamu tahu..." Arkan menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "...aku akan habiskan sisa hidupku untuk menebus kesalahanku padamu."
"Bagus, karena kamu punya banyak yang harus ditebus."
Arkan mengangguk, lalu keluar punggungnya terlihat bungkuk, seperti menahan beban berat.
Setelah pintu tertutup, Regan bersiul pelan.
"Kakak kejam juga ya."
"Aku tidak kejam, tapi aku realistis." Dara duduk di tepi tempat tidur, merasakan kelelahan menjalar. "Trauma tidak hilang dengan kata maaf, kepercayaan tidak dibangun dengan janji kosong."
"Tapi Kakak akan kasih Arkan kesempatan?"
Dara terdiam lama. "Entahlah... Mungkin... Kalau dia benar-benar berubah. Kalau dia membuktikan dengan tindakan, bukan hanya kata-kata."
"Dan Lenna?"
"Lenna..." Dara tersenyum dingin. "Dia bilang ini belum selesai, Dia benar... Karena aku belum selesai dengannya."
"Maksud Kakak?"
"Mengusirnya dari rumah ini baru langkah pertama, karena aku mau dia kehilangan semua yang dia sayangi. Seperti dia mencoba membuat aku kehilangan segalanya."
Regan menatapnya dengan campuran kagum dan sedikit takut.
"Kadang aku lupa, Kakak ini pernah hidup di dunia mafia. Pernah melihat hal-hal yang gelap."
"Dan aku tidak akan lupa pelajaran dari dunia itu." Dara menatap tangannya... tangan yang dulu memegang pisau bedah, memotong daging, menjahit luka. "Dunia mengajariku, kalau kamu tidak menghancurkan musuhmu total, mereka akan bangkit dan menusukmu dari belakang."
"Jadi apa rencana selanjutnya?"
"Besok," kata Dara. "Besok kita mulai babak kedua. Membuat Lenna kehilangan Rio, kehilangan hartanya, kehilangan masa depannya."
"Kakak yakin mau sejauh itu?"
Dara menatap Regan dengan tatapan yang tidak berkedip.
"Dia mencoba membunuh anakku. Tidak ada yang terlalu jauh untuk orang seperti dia."
lupita namanya siapa ya