Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Vania merasakan kakinya gemetar hebat saat turun dari mobil yang baru saja tiba di rumah sakit. Cahaya lampu menyorot wajahnya yang pucat, tetapi kabar yang didengarnya jauh lebih menyengat daripada sinar matahari. Vania langsung menanyakan ruangan dimana ibu dan ayahnya di rawat, namun yang dia denger malah kabar jika kedua orangtuanya susah dinyatakan meninggal setengah jam yang lalu oleh dokter yang menangani, selain itu beberapa staff yang bersama kedua orang tuanya juga meninggal hanya satu orang yang selamat itu pun masih dalam keadaan koma. Kata-kata itu bagai petir di siang bolong, menghantam keras ke dalam benaknya.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tangannya gemetar mencoba mencerna informasi tersebut. Vania merasa dunianya runtuh, lututnya lemas dan tak mampu menopang tubuhnya lagi. Dengan tiba-tiba, semuanya menjadi gelap, suaranya hilang, dan ia pun pingsan di tempat dengan dikelilingi kerumunan orang yang berusaha menolong.
Saat ia sadar, Vania mendapati dirinya di ruang tunggu rumah sakit dengan IV terpasang di tangannya. Beberapa rekan dekat duduk di sampingnya, wajah mereka muram dan mata sembab menahan tangis. Vania menatap mereka, mencoba memahami bahwa kenyataan pahit ini bukanlah mimpi.
Vania menahan tangis sambil memohon pada dokter untuk membolehkannya melihat wajah kedua orang tuanya untuk sekali lagi, terakhir kali. Namun, dokter dengan tegas menolak karena jenazah sedang dipersiapkan untuk diantarkan ke rumah Vania keesokan harinya. Vania yang terpukul dengan kenyataan pahit itu hanya bisa termenung, merasa dunianya hancur. Diiringi oleh kedua asistennya yang setia, ia meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai untuk mencari penginapan terdekat, sementara pikirannya terus melayang pada perpisahan terakhir dengan kedua orang tuanya esok hari.
Suasana masih cukup pagi Vania dan kedua asistennya tiba di rumah sakit. Ambulans sudah menunggu dengan pintu terbuka lebar, kedua orangtuanya yang telah tiada terbaring dengan tenang di dalamnya. Sebuah keheningan menyelimuti Vania ketika ambulans mulai bergerak menuju kediaman terakhirnya.
Perjalanan itu terasa amat panjang. Hatinya berkecamuk dengan berbagai emosi. Setibanya di kediaman, segalanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai. Prosesi pemakaman dimulai dengan cepat, dan tak lama kemudian kedua orangtua Vania sudah siap untuk dikebumikan.
Di tepi liang lahat, Vania berdiri gemetar. Tangannya berpegangan erat pada batu nisan sementara dia mencoba untuk tetap kuat. Namun, begitu peti mati kedua orangtuanya mulai diturunkan ke dalam tanah, segala benteng kesabarannya runtuh. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, tidak mampu lagi dia menahan rasa kehilangan yang mendalam.
Di sekelilingnya, kerabat dan para tetangga berdiri memberikan penghormatan terakhir, tetapi bagi Vania, dunianya seakan telah kehilangan warnanya. Tiap sekop tanah yang dilemparkan ke atas papan jenazah seolah membawa sebagian dari jiwanya. Kedamaian dan kehangatan yang selama ini diberikan oleh kedua orangtuanya kini telah tiada, meninggalkan kehampaan yang terasa menusuk ke dalam tulang.
Vania menatap makam kedua orang tuanya yang kini terbaring berdampingan di tanah yang telah dipadatkan. Matanya merah dan bengkak, sisa dari air mata yang tak henti-hentinya mengalir sepanjang upacara pemakaman. Ia terduduk lemas di sisi makam, tangan mungilnya sesekali menyentuh nisan sebagai seolah berusaha meraih kehangatan dari orang-orang yang sangat ia cintai itu.
Kedua asistennya, Rika dan Laras, berdiri beberapa langkah di belakangnya, saling bertukar pandang penuh kekhawatiran. Mereka telah beberapa kali mencoba membujuk Vania agar mau kembali ke mobil dan pulang, namun gadis itu seakan tidak mendengar. Suara mereka bagai terhempas angin lalu, tidak mampu menembus dinding kesedihan yang mengelilingi Vania.
Waktu terus berlalu, hampir setengah jam berlalu sejak orang terakhir meninggalkan pemakaman. Laras menghela napas, mengambil langkah ke depan, tapi Rika menahannya, memberi isyarat untuk memberi Vania waktu lebih.
Akhirnya, dengan gerakan lambat, Vania berdiri. Dia memandang sekali lagi ke makam tersebut, bibirnya bergetar seolah hendak berbicara namun tak ada suara yang keluar. Dia kemudian berbalik, langkah kakinya terasa berat seakan-akan setiap inci tanah menahan dia untuk tetap di sana. Laras dan Rika segera mendekat, masing-masing menggenggam satu tangan Vania, mendukungnya, membimbingnya kembali ke dunia yang sekarang harus dihadapinya tanpa dua pilar kehidupannya.
____
Satu Minggu setelah kepergian orang tuanya untuk selamanya, Vania sering mengunjungi makam ayah dan ibunya. Sebagai anak semata wayang, ia jelas sangat kehilangan kedua sosok tersebut. Semenjak mendapatkan kabar orang tuanya kecelakaan hingga saat ini, tubuh Vania mengalami penurunan berat badan. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya, nafsu makannya berkurang, wajahnya selalu menampakkan raut sedih juga mata yang selalu terlihat sembab. Dunianya benar-benar runtuh tanpa kedua orangtuanya.
Saat ini Vania tengah berbaring di tengah-tengah makam kedua orang tuanya, ia tak peduli tubuhnya banya beralaskan rumput. Rambut panjang di biarkan terurai dan terlihat berantakan. Wajah cantik dan kepribadian ceria yang ia selalu tunjukkan di depan kamera sekarang lenyap entah kemana, diganti dengan Vania yang pendiam dengan wajah muram.
Vania pasti selalu menangis histeris setiap kali mengingat kecelakaan yang menyebabkan kematian kedua orangtuanya. Sekarang Vania tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan ayah dan ibunya, yang bisa ia lakukan hanyalah menabur bunga dan menangisi kedua orangtuanya. Sesak di dadanya sampai hari ini belum juga pulih, kehilangan untuk kali ini benar-benar menyakitkan.
"Kenapa mamah gak dengerin Vania kemarin? Perasaan Vania gak enak waktu mamah bilang kalian mau keluar kota. Siapa yang akan jadi penyemangat Vania sekarang kalau bukan kalian,"ucap Vania lirih.
Vania merenung di depan dua makam yang telah mengubur kedua orang tuanya. Kedua bola matanya yang jernih itu kini kusam; cermin dari hati yang hancur dan kehilangan yang mendalam. Ingatannya melesat kembali ke masa-masa keemasannya, tawa riang di rumah yang selalu hangat karena hadirnya dua sosok penuh kasih. Ayah yang meski terjebak kesibukan, selalu menemukan celah untuk berbagi canda tawa, dan ibu, pemberi kehidupan yang memadukan kasihnya tanpa batas dalam setiap pelukan.
“Untuk apa Vania pulang ke rumah yang sunyi itu? Tidak ada lagi celoteh hangat mamah atau nasehat bijak papah. Hidup Vania sekarang terasa sangat hampa," gumam Vania, rasa bersalah mencekik lehernya, mencekam sesak di dada. “ Mamah, Papah, maafkan Vania. Vania terlalu sibuk bekerja, Vania gak berusaha untuk mencegah kalian pergi saat itu. Dan sekarang, setelah segalanya berlalu, hanya ada penyesalan yang begitu menyiksa. Vania tidak sanggup, mah, Vania gak sanggup menghadapi kehilangan ini.” Mata Vania terpejam, mencoba memburu serpihan-serpihan kenangan indah bersama orang tua yang telah tiada, mengais setiap detik yang bisa menghibur jiwa yang terasa retak ini.
"Anu, maaf mbak, ini susah sore. Sebaiknya mba pulang dulu ya, soalnya pagar pemakaman mau saya tutup," ujar seorang bapak penjaga makam yang entah sejak kapan berada di dekatnya.
Vania menoleh ke arah bapak itu." Pak, boleh gak saya di sini aja?"
Bapak itu menggaruk tengkuknya." Waduh, mbak maaf gak bisa. Kalau mbak di sini nanti takutnya terjadi sesuatu, nanti gak ada yang tolong loh. Lebih baik mbak pulang dulu, besok ke sini lagi. Pagi-pagi gerbangnya sudah saya buka lagi kok."
Vania terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk." Yasudah pak, saya pulang."
Penjaga itu mengangguk lantas pergi meninggalkan Vania. Vania perlahan bangkit, membersihkan rumput dan tanah yang menempel pada pakaiannya. Sejenak ia menyeka air matanya, rasanya ia ingin kembali menangis, tapi ia tidak mau debu di wajahnya semakin membuat wajahnya kusam.
"Pah, mah, besok Vania ke sini lagi ya. Vania mau nginap di hotel aja, Vania gak mau pulang ke rumah, pasti keluarga besar mamah dan papah mulai ribut mempermasalahkan warisan," ujar Vania. Ia terdiam sebentar sambil memandangi kedua makam di depannya, setelah puas ia berbalik dan pergi.