Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dara Menyelidiki Perselingkuhan Suaminya
"kamu sibuk gak dek? Kakak mau cerita panjang kali lebar ini" Tanya Dara kepada adeknya.
"Kebetulan ini enggak lagi sibuk kak,, mau cerita lewat telpon atau ketemu dimana?" Tanya Riza yang penasaran apa yang ingin di ceritakan.
"Di telpon aja dek, kakak lagi males keluar ini, mumpung di rumah sendiri, rasanya pengen menikmati hidup sebentar dengan rebahan sebelum nenek peyot pulang arisan" ucap Dara tanpa sadar.
"Nenek peyot siapa kak? Terus pengen menikmati hidup sebentar emang kakak selama ini gak pernah menikmati hidup?" tanya Riza yang bingung dengan ucapan kakak nya.
"Aduh ini mulut kok suka banget asal ceplos" batin Dara di dalam hati.
"Hehehe,, sebenarnya ini yang akan kakak ceritakan tapi sebelum kakak cerita tentang nenek peyot kakak ingin memberi mu tugas suruh orang kepercayaan mu untuk mengawasi mas Bagas, dia kayaknya ada main dibelakang kakak dek" ucap Dara.
"Kakak kenapa gak bilang dari tadi, kalau aku ketemu mas Bagas pengen aku jotos itu joni nya. " kata Riza geram
Dara pun menceritakan semua yang terjadi setelah menikah dengan Bagas. Dara menceritakan bahwa dia diberi nafkah 600 ribu perbulan, dijadikan seperti babu tanpa upah bahkan suaminya selalu membela ibunya. Riza yang geram mendengar cerita kakaknya langsung mengajak Dara pulang kerumah yang ada di desa.
"Kakak sekarang aku jemput ya kerumah kakak kita pulang ke Jawa timur. Ini mumpung Riza juga ada di jakarta gak jauh dari rumah mertua kakak" ajak Riza yang tidak terima karena kakak kesayangannya ternyata selama 2 tahun tidak bahagia seperti yang dibayangkannya.
"Jangan dek, kakak masih mau mencari bukti yang banyak tentang perselingkuhan mas Bagas. Nanti kalau semua bukti sudah terkumpul. Kamu tolong cari pengacara ya buat urus perceraian kakak dengan mas Bagas" ucap Dara yang menolak ajakan pulang ke rumah yang didesa. Dara lebih memilih menyelesaikan masalahnya baru pulang kepelukan ayah bundanya. Untuk Riza sendiri walaupun dia seorang pengacara namun dia tidak bisa menangani kasus kakak karena spesialis dia pengacara pidana bukan pengacara keluarga/penceraian.
"Ouh yah kamu jangan kasih tau bunda dan ayah ya dek, pliss. Kakak gak mau buat bunda dan ayah kepikiran" ucap Dara memohon.
"Terus Aku harus bilang apa kak ke ayah bunda?. Kakak tau gak, aku udah kirim orang kepercayaan aku untuk memantau keadaan kakak selama ini, karena bunda akhir- akhir ini selalu kepikiran kakak dan nanti jam 14:00 aku mau ketemu sama orang kepercayaan ku mau memberi tau tentang keadaan kakak sekarang" ucap Riza sambil memijat keningnya.
Dara yang mendengar adeknya menggerakkan orang kepercayaan untuk memantau dirinya tampak terkejut. Dara menyakini bahwa firasat ibu kepada anaknya memang sangat kuat. Sehingga menyuruh adek nya untuk memantaunya melalui orang kepercayaan Riza.
"Kamu bilang sama ayah dan bunda kalau kakak baik- baik saja, keluarga mas Bagas memperlakukan kakak dengan baik, jadi gak usah terlalu memikirkan kakak" kata Dara yang memohon kepada Riza.
"Iya kak, tapi aku gak janji, takutnya aku nanti kalau ditanya ayah malah keceplosan atau bisa jadi ayah mencari tahu sendiri diluar pengetahuan ku" ucap Riza yang pasrah.
"Kak Dar, aku masih penasaran ini sama nenek peyot. Nenek peyot siapa kak?" Tanya Riza yang sukses membuat Dara langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kamu yakin mau tau dek?, dari pada kamu mati penasaran kakak kasih tau aja deh, kasian adek kakak kalau mati penasaran masih jomblo soalnya, xixixi. Nenek peyot itu ibu mertua kakak dek. Dia itu sukanya tantrum. Kakak keluar dari rumah terlalu lama sampai rumah mesti disambut dengan barang yang terbang kan persis seperti nenek sihir tapi ibu mertua kakak gak punya sihir jadi kakak ganti jadi nenek peyot" ucap Dara sambil tertawa.
Riza yang mendengar ucapan kakaknya pun tercengang sungguh kakaknya spesialis yang unik. Ibu mertuanya bisa- bisa di panggil nenek peyot, membuat Riza tak habis pikir.
"Ya Allah, kak Dar kalau bunda tau kakak manggil ibu mertua kakak dengan nenek peyot bisa- bisa kakak dipecat jadi anak loh kak" sahut Riza dengan geleng- geleng kepala.
"Hust,, kamu diam aja dek, jangan kasih tau bunda, kakak begini karena kakak gak mau di tindas, kakak itu menantu yang harus di sayang bukan malah babu tanpa upah" ucap Dara
"ututu,, kasian sekali kakak ku, pasti tangannya saat ini kapalan ya.. semua pekerjaan rumah kakak yang ngerjain. Sabar ya kak, sebentar lagi kita pasti berkumpul kembali" ucap Riza yang memikirkan tangan kakaknya yang dia pastikan kapalan.
"hey,, punya adek satu kok malah yang dipikirin kapalan emang kamu rada rada dek" sahut Dara yang tak habis fikir dengan adeknya. Seharusnya yang ditanya bagaimana kesehatan mental nya apakah masih aman atau tidak malah yang dibahas tangan kapalan gara gara melakukan semua pekerjaan rumah.
DOR
DOR
DOR
Percakapan di telpon pun berhenti karena mendengar gedoran dari arah pintu.
"Dara... Kamu ngapain di dalam kamar. Piring kotor gak kamu cuci. Malah enak- enakan kamu didalam kamar, dasar menantu gak tau diri" teriak Bu Dewi yang ternyata sudah pulang dari arisan.
"Haduh,, ribet amat tu nenek peyot cucian piring nanti dicuci sekalian masak buat makan malam. Maunya bersih terus rumahnya tapi bantu- bantu gak mau" gerutu Dara yang masih bisa didengar oleh Riza.
"Ganas ternyata mertua kakak. Kok kakak bisa betah bertahan. Udah berjalan 2 tahun loh kak. Ingat kak sekali seumur hidup itu lama. Aku kalau jadi kakak udah dari awal- awal nikah minta cerai" ucap Riza yang geram.
"Kakak pikir mertua dan mas Bagas bisa berubah. Eh makin kesini semakin kesana dek. Makanya kamu kakak suruh buat nyuruh orang kepercayaan mu nyelidiki mas Bagas. Terus kalau sudah terkumpul buktinya baru deh kakak mengajukan gugatan ke pengadilan secara diam- diam" ucap Dara.
DOR
DOR
DOR
Bu Dewi yang tidak mendengar sahutan dara mengedor kembali pintu kamar Dara lebih kencang.
"Dara kamu budeg ya!. Buka pintunya sekarang. Cuci semua cucian piring sekarang!" teriak Bu Dewi.
"Udah dulu ya dek, kapan- kapan dilanjut lagi telponnya. Malu kakak, teriakan ibu didengar sampai tetangga. Assalamualaikum" ucap Dara sambil menuju ke pintu kamar
Ceklek
Dara pun membuka pintu kamarnya.
"Udah selesai apa belum Bu kalau teriak- teriak?. Gak malu apa Bu sama tetangga?, suara ibu sampai didengar ibu Diah sama ibu Bella loh Bu" ucap Dara dengan santai
"Makanya kalau dipanggil orang tua dijawab, lama banget buka pintunya. Ibu kira kamu budeg loh" ucap ibu Dewu sambil berkacak pinggang.
"Dara dengar kok Bu, Dara memang sengaja gak jawab, perintah ibu gak akan Dara lakukan. Dara disini menantu ya Bu bukan babu. Lagian kalau mata ibu merasa risih dengan cucian piring yang menumpuk ya cuci sendiri lah, atau ibu sewa ART" kata Dara yang tidak ada rasa takut ke mertuanya.
"Kamu itu kalau dibilangin ngejawab terus, gak takut kualat apa!" Kata Bu Dewi dengan mata melotot.
"Takut sih Bu kalau ibu baik sama aku, tapi berhubung ibu zolim sama menantu jadi aku gak takut, soalnya kita disini sama- sama merasa terzolimi" ucap Dara seenaknya dan sambil menahan tawa.
"Dasar mantu kurang ajar kamu!" teriak Bu Dewi sambil memegang kepalanya.
"Udah ya bu jangan marah-marah. Tuhkan darah tinggi ibu kumat. Mending sekarang ibu istirahat dikamar. Soal cucian piring nanti Dara cuci kalau sudah menggunung" ucap Dara.