NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:360.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 : Kesepakatan

"Ketiga janinmu yang saat ini ada di rahim Dayanti, Kamila, Citranti – tidak boleh terlahir di dunia manusia. Mereka sudah terikat ilmu hitam, cikal bakal kejahatan harus dimusnahkan agar terhenti garis keturunan Wara ….” sesaat Kinasih terdiam.

"Dengan kata lain, mereka harus meninggal, gugur? Lantas apa gunanya pertolongan yang kalian tawarkan?” Ainur tidak terima, merasa dipermainkan.

“Mereka tetap hidup, tapi di alam gaib. Jika di dunia manusia – berupa sukma, jiwa tanpa raga, sama halnya seperti para makhluk halus. Namun sebaliknya bila di dimensi lain, mereka sama persis dengan manusia. Dari mulai tumbuh kembang, kebiasaan, dan memiliki perasaan,” jelas Kinasih sedikit rumit ditangkap oleh Ainur.

“Sama seperti kalian kah? Siluman yang hidup dibalik gua itu?” ia mulai paham.

“Ya, benar.”

“Apa aku bisa melihat mereka? Memeluk, bercengkrama, selayaknya ibu dan anak?” bisiknya pasrah, merasa kalau hal tersebut tidak mungkin.

“Bisa. Asal kamu mau jadi salah satu seperti kami, dan anak-anakmu nanti.” Dwipangga menuang air pada cangkir bambu halus. Dalam sekali teguk langsung tandas.

“Aku pernah dengar dari seorang guru saat dulu masih sering masuk sekolah. Kalau ndak salah pas umur sekitar tujuh atau delapan tahunan. Kata beliau – Siluman adalah makhluk halus atau jadi-jadian yang mampu mengubah wujud, sering kali hidup bermasyarakat, dan menempati tempat tertentu. Mereka dianggap hantu atau roh yang menyerupai manusia atau hewan.”

“Ada juga, siluman bisa berasal dari makhluk halus sejak awal, maupun manusia yang bertransformasi, atau roh orang meninggal. Benar tidak?” tanyanya ketika ingatan dari masa kecil tiba-tiba muncul dengan sendirinya.

Kinasih mengangguk. “Itulah kami. Bila di dunia halus, kami hidup bermasyarakat, memiliki pemimpin, berpasang-pasangan, layaknya manusia normal.”

“Terus bagaimana caranya aku bisa seperti kalian?”

“Penyatuan darah dan tubuh dengan Raden Dwipangga, melalui ritual gaib. Sejumput kekuatannya ditransfer ke kamu. Memperbaiki jaringan tubuh mulai rusak, menetralkan racun yang telah mengendap dalam tubuhmu. Bila batas umurmu sebagai manusia telah habis, kamu menjadi bagian dari kami, hidup di dimensi lain,” sangat terang-terangan Kinasih menjelaskan.

Sungguh Ainur terkejut, dia langsung melirik pria yang masih menatap lekat padanya. ‘Aku dan dia?’

“Semua keputusan ada ditanganmu. Saya harap sesegera mungkin kamu memutuskan, jangan sampai para janin masih dua belas pekan itu bertambah kuat, sepenuhnya dikuasai oleh ilmu hitam ki Ageng.” Dwipangga melangkah ke belakang setelah memperingatkan Inur.

“Kinasih,” bisiknya dengan deru napas letih.

“Ya?”

“Jika aku setuju, apa bayi-bayiku benar-benar bisa diselamatkan?” sekarang ini yang paling penting untuknya.

“Kamu bisa memegang kata-kata ku ini, Inur. Bukan cuma dirimu yang memiliki urusan dengan para bedebah itu, kami – para penghuni hutan belantara Tugu Ireng, memendam kebencian tujuh generasi. Jadi, tidak mungkin asal ucap, mempermainkan sosok lemah seperti dirimu kalau seandainya tidak yakin,” ujar Kinasih, setiap kalimatnya tegas, ekspresi sangat berambisi membalas dendam.

“Kapan …?” akhirnya dia telah membuat keputusan. Melanggar norma, hilang sudah prinsip hidup yang dicengkeram erat. Ainur siap melakukan apapun demi membalas dendam serta merebut kembali buah hatinya.

“Malam Jumat Kliwon, tiga hari lagi dari sekarang. Di gua. Batas antara alam tak kasat mata, dengan fana”

“Baik … lah.” Dia mengangguk mantap.

Ainur mengusap kasar wajahnya, menghela napas panjang. Matanya telah kering, tak ada lagi jatuhnya buliran bening, seolah air matanya sudah kering.

“Apa aku tetap harus minum teh, hidangan yang mereka suguhkan? Aku ndak mungkin terus-terusan bisa mengelabui. Suatu saat nanti pasti bakalan ketahuan.”

“Hindari sampai ritual dilakukan, bila berhasil – apapun yang masuk ke dalam tubuhnya sudah layak konsumsi. Darah Raden Dwipangga adalah penawar racun. Lamban laun kamu kembali sehat, prosesnya tak instan agar mereka tidak curiga.” Kinasih memejamkan mata.

Tubuh di usia penyamaran setengah abad itu menegang, dahinya berkerut, lalu tiba-tiba matanya terbuka.

“Kamu harus kembali, Inur. Daryo menyadari dirimu tak ada di kamar kalian!”

Saat bersamaan, Dwipangga tiba-tiba sudah ada dibelakang Ainur. Tanpa aba-aba menokok titik saraf leher Ainur.

Ainur sempat memekik kecil, lalu pandangannya langsung bertemu kegelapan. Dia pingsan.

***

“Sayang, dek … kamu dikamar mandi?” Daryo mengetuk pintu kayu, sesaat menunggu. Saat dirasa terlalu lama, dia membuka dengan sekali hentakan.

Kosong, Ainur tidak ada di sana. “Kemana si boneka santet itu?”

Ya, Daryo menyamakan sang gundik dengan boneka kayu yang biasa digunakan dukun, sebagai media teluh atau menyantet orang. Menurutnya, Ainur sangat mirip dengan benda jelek tersebut.

Aryo membuka lemari memastikan kalau pakaian Ainur pada tempatnya. Semua masih seperti sedia kala. Ia berjongkok, mengintip kolong tempat tidur – pun tak ada sosok Inur.

“Ainur!” nadanya masih sedang. Daryo keluar dari kamar, memeriksa ruangan demi ruangan di dalam hunian mewah orang tuanya.

“Ainur!!!” kini suaranya naik beberapa oktaf, terdengar menggelegar.

“Ada apa, mas?” Kamila keluar dari kamar, mendekati suaminya. Dia memakai baju tidur satin hitam.

“Kenapa, le?” bu Mamik pun keluar dari dalam kamarnya. Terganggu oleh teriakan lantang sang putra.

“Boneka santet itu berulah lagi. Dia ndak ada di mana-mana!” Aryo berkacak pinggang, napasnya terdengar kasar, pelipis berkeringat. Hatinya meradang, emosi sudah di ubun-ubun.

Tukiran langsung marah sekaligus kelabakan. “Cari dia!”

Daryo keluar, berdiri di teras belakang, mengayunkan tali lonceng besar yang digantung pada ring atap genteng.

Bunyi keras lonceng membangunkan para pelayan. Satu persatu mereka keluar dari hunian khusus pekerja. Tak ada yang saling bertanya, seperti kehilangan rasa penasaran.

Para pelayan wanita dan tiga pria berjalan tergesa-gesa. Saat berdiri sedikit jauh dari sang majikan, mereka langsung membungkuk 90 derajat – memberi penghormatan tertinggi.

"Geledah semua tempat! Cari Ainur sampai ketemu!” suara Tukiran memecah malam tepat di jam setengah satu dini hari. Ia melirik pelayan istimewanya.

Mbah Neng mengangguk, paham kode rahasia – boleh menggunakan kekerasan apabila Ainur melawan.

Para pelayan langsung membubarkan diri, berpencar mencari wanita kurus, terlebih dahulu mengambil obor di dapur, menyalakannya – sehingga hunian Tukiran berwarna kuning kemerahan.

Citranti dan suaminya yang juga terbangun ikut berdiri di teras. Menyaksikan kegaduhan, nyala obor bergerak-gerak.

Ainur hampir kehilangan keseimbangan saat dijatuhkan dari punggung berbulu pendek, licin, beraroma kayu dan rumput.

Dwipangga dalam wujud Macan kumbang, menggeram rendah. Netra berkilau itu menatap pintu tertutup rapat, sedetik kemudian terbuka dengan sendirinya.

Ainur tidak sempat untuk sekadar mengagumi atau merasa takjub. Dia mendengar namanya dipanggil oleh Daryo.

Ia bergegas menyelinap di antara sela pintu terbuka, berjalan terburu-buru ke arah samping melewati gazebo, menghindari sorot lampu obor.

Saat tiba di persimpangan antara belakang rumah Citranti dan hunian para pelayan. Tubuh Ainur tersentak, tidak sempat memberontak maupun berteriak.

Mulutnya dibekap, sesuatu terasa dingin, tajam menempel di kulit lehernya.

Hmm … hmm ....

.

.

Bersambung.

1
Ayudya
akhir yg selalu menyedihkan buat keturunan wara🤣🤣🤣
imau
giliran siapa nih?
imau
bukannya menyesali dosa, tapi malah menyesali nasib
Shee_👚
nah sekarang waktunya tukiran, habiskan sampai tak tersisa.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.

kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil
Shee_👚
aku bayangin ngilu plus sakit tak tertahan😬😬
Astiana 💕
ini sih lebih parah sadis nya dari cerita KK cublik yg lain😱, aku malah gak kepikiran loh cerita beginian
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tinggal si daryo kemana tuh di sandera nya 🤣
Mawar Hitam
satu persatu kena hukumannya yà kak
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!