Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa di Atas Pihak yang Terkhianati
Setelah suara mesin mobil Mercedes-Benz milik Sky menghilang di kejauhan, Ozora masih berdiri di ambang pintu besar mansion-nya. Ia menyentuh bibirnya yang tanpa sadar masih menyisakan senyum sisa tawa mereka di taman tadi.
Udara dingin Moskow yang menyentuh pipinya bahkan tidak terasa dingin lagi karena kehangatan yang menjalar di dadanya.
Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.
"Ehem... Sepertinya salju malam ini tidak sedingin biasanya ya, Nona Bellvania?" sebuah suara menggoda terdengar dari arah belakang.
Ozora tersentak dan berbalik cepat. Di sana, Nyonya Bellvania berdiri sambil bersandar pada pilar marmer, memegang secangkir teh hangat dengan binar jenaka di matanya yang tajam namun lembut.
"Ibu! Sejak kapan Ibu di situ?" tanya Ozora, mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar kembali datar, meski rona merah di pipinya tidak bisa berbohong.
Nyonya Bellvania berjalan mendekat, lalu dengan lembut menyenggol bahu putrinya, gestur yang sangat akrab dan jarang mereka lakukan di depan umum.
"Sejak pangeran Remington itu membuatmu tertawa sampai terdengar ke beranda depan," goda ibunya sambil terkekeh. "Hey, anak gadis kesayanganku... sepertinya kamu sudah jatuh cinta, ya? Lihat matamu, Ozora. Terakhir kali Ibu melihatmu sebahagia itu adalah saat kamu mendapatkan izin untuk membuat tato bungamu itu."
"Ibu, jangan mulai," gumam Ozora sambil menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya di balik kerah mantel. "Kami hanya teman kelompok. Dia hanya mengantarkan tugas dan... ya, dia memang sedikit lucu tadi."
Ibu Ozora meletakkan cangkir tehnya di meja kecil dan memegang kedua bahu putrinya. Ekspresinya sedikit lebih serius sekarang, namun tetap penuh dukungan.
"Dengarkan Ibu, Ozora. Keluarga Remington memang punya nama besar, tapi Ibu melihat cara pria itu menatapmu tadi. Dia tidak menatapmu sebagai rekan tugas. Dia menatapmu seolah-olah kamu adalah satu-satunya hal yang berwarna di tengah salju ini," bisik ibunya.
Ia melirik ke arah perut Ozora yang tertutup mantel, mengingat tato yang sempat ia lihat tadi. "Dan dia sudah melihat sisi berani mu, kan? Jika dia tetap tinggal dan membuatmu tertawa setelah melihat siapa kamu sebenarnya, maka dia pria yang layak dipertimbangkan."
Ozora terdiam. Kata-kata ibunya masuk jauh ke dalam pikirannya. Selama ini ia merasa harus bersembunyi, tapi malam ini, Sky masuk ke dunianya dan tidak pergi meskipun melihat segala ketidaksempurnaan dan rahasianya.
"Tapi dia masih punya urusan dengan keluarga Romanov, Bu," bisik Ozora pahit.
Ibunya hanya tersenyum penuh rahasia. "Biarkan dia yang menyelesaikan masalahnya, Sayang. Tugasmu sekarang hanya satu, jangan biarkan rasa tidak percaya dirimu menghalangi kebahagiaan yang sudah ada di depan mata."
Nyonya Bellvania mengecup kening Ozora sebelum masuk kembali ke dalam rumah. "Sekarang masuklah, ganti baju bayimu itu sebelum kamu benar-benar flu!"
Ozora tertawa kecil, melirik sekali lagi ke arah gerbang yang sudah kosong, lalu masuk ke dalam mansion dengan hati yang terasa jauh lebih ringan.
Sementara itu, Di sebuah apartemen penthouse milik salah satu teman sosialitanya, Anastasia Romanov, gadis yang selalu diagung-agungkan sebagai pasangan sempurna bagi Sky, sedang menunjukkan wajah aslinya.
Jauh dari citra anggun dan terhormat yang ia tunjukkan di kampus, Anastasia sedang berada di pelukan seorang pria muda, seorang brondong simpanan yang sengaja ia bayar untuk memuaskan hasratnya yang tak terpenuhi oleh sikap dingin Sky.
Napasnya masih memburu saat ia menyalakan sebatang rokok tipis di atas ranjang yang berantakan. Pria itu, yang hanya peduli pada tebalnya dompet Anastasia, berbaring di sampingnya tanpa banyak bicara.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka sedikit. Stevani, pemilik apartemen itu, masuk sambil membawa dua gelas wine mahal. Ia bersandar di bingkai pintu, menatap Anastasia dengan seringai sinis namun akrab.
"Sudah selesai?" tanya Stevani sambil melemparkan pandangan meremehkan pada pria bayaran di ranjang itu.
Anastasia hanya mendengus, mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Dia jauh lebih berguna daripada Sky. Kamu tahu sendiri, Sky itu seperti robot. Empat bulan bersamanya, dan dia bahkan hampir tidak pernah menyentuhku lebih dari sekadar pelukan formal. Membosankan sekali."
Stevani tertawa renyah, menyerahkan segelas wine pada Anastasia. "Aku benar-benar kasihan pada si Tembok Sky itu. Dia bekerja keras menjaga reputasi dan martabat keluarganya, tapi tidak tahu kalau calon tunangannya yang suci ini punya mainan di belakangnya."
Anastasia ikut tertawa, suara tawanya terdengar tajam dan penuh kemenangan. "Dia terlalu sibuk dengan saham dan buku-buku hukumnya yang tidak berguna itu. Selama dia tetap menjadi tiketku untuk menjadi Nyonya Remington, aku tidak peduli. Dia bisa tetap jadi tembok yang kaku, sementara aku bersenang-senang di sini."
"Kasihan sekali Remington," gumam Stevani lagi sambil meneguk wine-nya.
"Dia pria paling diinginkan di Rusia, tapi diat sebenarnya adalah pria yang paling malang karena memilikimu."
Keduanya tertawa bersama, suara tawa yang memenuhi ruangan itu terasa begitu kontras dengan ketulusan yang baru saja dirasakan Sky di taman mansion Bellvania.
Mereka menganggap Sky pion dalam permainan status mereka, tanpa menyadari bahwa si tembok itu kini mulai menemukan alasan untuk meruntuhkan dindingnya sendiri demi gadis lain yang jauh lebih berharga.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰