NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PERLINDUNGAN

Revan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Benar. Anak ART ini sekarang adalah pemegang kuasa penuh atas aset hukum keluarga Anda. Satu kata dariku, dan audit perusahaan Anda akan dimulai besok pagi. Silakan pilih: keluar dengan tenang, atau kehilangan segalanya."

​Melihat kilat mata Revan yang tidak main-main, kedua orang tua Valerie terbungkam. Mereka pergi dengan gerutu kesal, membanting pintu apartemen.

​Suasana menjadi hening. Valerie masih mematung, menatap punggung tegap Revan. Baru kali ini ia melihat Revan menentang orang tuanya demi dirinya, hal yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh Arsen.

​"Kenapa Mas membelaku?" bisik Valerie. "Bukankah aku hanya 'tiket emas' untuk karirmu?"

​Revan berbalik, menatap Valerie dengan luka di matanya yang tidak bisa lagi disembunyikan. "Tiket emas tidak perlu dilindungi sampai berdarah, Erie," ucapnya lirih sebelum masuk ke kamar mandi, meninggalkan Valerie yang mulai meragukan semua hasutan Arsen.

Pagi itu, suasana apartemen terasa sangat canggung. Revan sudah berangkat lebih awal ke kampus, meninggalkan kesan dingin yang biasa, namun kali ini ada sesuatu yang tertinggal. Valerie melihat mantel hitam yang dikenakan Revan semalam tersampir di sandaran kursi kerja, tampak sedikit kotor dan berantakan.

Dengan perasaan bimbang, Valerie meraih mantel itu. Ia berniat merapikannya, namun matanya tertuju pada saku bagian dalam yang sedikit menganga. Di sana, ia menemukan sapu tangan kain yang semalam digunakan Revan untuk membalut tangannya. Kain itu sudah kaku karena darah yang mengering.

Valerie membawanya ke wastafel. Saat ia mulai mengucek kain itu di bawah kucuran air, ia merasa hatinya berdenyut nyeri. Darah ini adalah bukti bahwa Revan benar-benar melakukan kekerasan semalam. Namun, saat ia meraba saku mantel itu sekali lagi untuk memastikan tidak ada barang lain yang tertinggal sebelum dicuci, jemarinya menyentuh selembar kertas yang sudah sangat usang dan terlipat rapi.

Valerie menariknya keluar. Itu bukan surat baru. Kertasnya sudah menguning di bagian pinggir, seolah-olah sudah disimpan selama bertahun-tahun.

Dengan tangan gemetar, Valerie membukanya.

"London, 2018.

Erie, hari ini salju turun sangat lebat. Aku melihat seorang gadis kecil di taman yang menangis karena tidak bisa menggambar pohon dengan benar. Aku teringat padamu. Aku ingin mengirimkan surat ini, tapi kakekmu benar; aku harus memutus kontak agar aku bisa menjadi orang yang cukup kuat untuk menarikmu keluar dari sana.

Aku tahu ibumu masih sering bersikap keras. Aku tahu kau merasa sendirian. Tapi percayalah, aku sedang belajar sangat keras di sini agar suatu saat nanti, tidak akan ada satu orang pun yang berani menyebutmu 'bodoh' atau 'gagal'. Kau adalah seniman paling hebat yang pernah aku temui sejak aku masih kecil di dapur rumahmu.

Tunggulah aku, Erie. Jangan menyerah pada mimpimu."

Valerie menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tepat di atas tulisan tangan Revan yang tegas namun penuh perasaan itu. Surat itu tidak pernah dikirimkan. Revan menyimpannya di sakunya selama bertahun-tahun, membawanya melintasi benua hanya untuk tetap mengingat tujuannya pulang.

"Jadi... selama ini..." bisik Valerie lirih.

Hasutan Arsen tentang Revan yang hanya memanfaatkannya seketika terasa seperti sampah. Jika Revan hanya butuh harta, dia tidak perlu menyimpan surat usang dari masa lalu. Jika Revan hanya "anjing penjaga", dia tidak perlu diam-diam membela bakat Valerie di saat semua orang menghinanya.

Valerie teringat kembali momen saat ia merasa Arsen adalah penyelamatnya karena tidak memberi tahu keberadaannya saat pelarian. Namun sekarang ia tersadar, mungkin Arsen membiarkannya tetap di bar malam itu hanya agar Arsen punya kesempatan untuk menemukan nya dalam kondisi hancur, sementara Revan justru menerjang bahaya untuk membawanya pulang ke tempat yang aman, meski ia harus dibenci.

Tiba-tiba ponsel Valerie berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Pesan: "Valerie, jangan percaya apapun yang Revan katakan kepadamu, ia hanya ingin memperalatmu untuk tujuannya sendiri, apa kau tau, Revan baru saja menghancurkan bisnisku semalam karena dia takut rahasianya terbongkar. Siang nanti, Temui aku di kafe biasa jika kau ingin tahu apa yang dia lakukan pada ibunya sendiri agar bisa diangkat anak oleh kakekmu."

Itu Arsen. Dia mulai memainkan kartu terakhirnya untuk menghancurkan sisa kepercayaan Valerie.

​Valerie menatap sapu tangan yang sudah bersih di tangannya, lalu menatap surat lama di tangan lainnya. Ia mulai menyadari, selama ini ia buta karena kebencian, sementara pria yang ia maki setiap hari adalah satu-satunya orang yang memegang janjinya sejak mereka masih kecil.

"Cukup, Arsen. Aku tidak akan membiarkanmu membodohiku lagi," gumam Valerie dengan tatapan tajam.

Ia segera menyambar tasnya dan berlari keluar. Ia harus memberikan rangkuman tugas itu tepat waktu, dan mungkin, kali ini ia akan menatap mata suaminya bukan dengan kebencian, melainkan dengan permintaan maaf.

Saat sampai kampus Valerie berlari menyusuri koridor Fakultas Hukum dengan napas tersengal. Langkahnya terhenti tepat di depan ruang dekan yang pintunya sedikit terbuka. Di dalam, ia bisa melihat Revan berdiri tegak, memunggungi pintu, sementara Dekan Prasetyo duduk dengan wajah sangat serius di balik mejanya.

​Di sudut ruangan, Arsen berdiri dengan satu tangan dibalut perban dan luka lebam di sudut bibirnya, hasil karya Revan semalam. Arsen tampak sedang memasang wajah korban yang terzalimi.

"Pak Revan, laporan ini sangat serius," suara Dekan Prasetyo terdengar berat. "Saudara Arsenio membawa bukti medis dan saksi dari klub semalam. Sebagai dosen hukum, Anda tahu benar bahwa penganiayaan bisa mengakhiri karier akademis Anda seketika."

"Saya hanya membela apa yang menjadi hak saya, Pak Dekan," jawab Revan tenang, tanpa nada penyesalan sedikit pun.

Arsen menyela dengan nada sinis, "Membela hak? Anda menyerang saya seperti binatang buas di depan umum! Pak Dekan, pria ini tidak stabil. Saya khawatir dia juga melakukan kekerasan pada istrinya sendiri, Valerie, yang merupakan mahasiswi di sini."

Mendengar namanya disebut dengan cara yang menjijikkan oleh Arsen, darah Valerie mendidih. Ia tidak bisa lagi hanya diam di balik pintu.

BRAK!

Valerie mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, membuat tiga pria di dalam ruangan itu menoleh serentak. Revan tampak terkejut, matanya menyipit memberi isyarat agar Valerie pergi, namun Valerie mengabaikannya.

"Itu bohong!" seru Valerie lantang. Ia berjalan masuk dan berdiri tepat di samping Revan, lalu dengan berani ia meraih tangan Revan yang terluka, tangan yang semalam menghajar Arsen.

"Valerie, jangan ikut campur. Kembali ke kelasmu," perintah Revan dengan suara rendah yang menekan.

"Tidak, Mas. Aku tidak akan membiarkan pria ini memfitnahmu lagi," Valerie menoleh pada Dekan Prasetyo dengan tatapan yang sangat yakin. "Pak Dekan, apa yang dikatakan Arsenio itu tidak benar. Semalam... semalam Arsenio mencoba melecehkan saya di tempat umum, dan suami saya datang untuk menyelamatkan saya. Luka yang didapat Arsenio adalah bentuk pembelaan diri yang sah."

Arsen terbelalak, wajahnya memucat. "Valerie! Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah..."

"Kau diam, Arsen!" bentak Valerie, memotong ucapan Arsen. Ia menatap Dekan kembali. "Saya punya bukti bahwa Arsenio terus-menerus mengganggu saya melalui pesan singkat. Kejadian semalam bukan penganiayaan sepihak, tapi Revan melindungi saya dari tindakan kriminal yang dilakukan Arsenio."

Revan terpaku. Ia menatap profil samping Valerie, gadis kecil yang dulu selalu ia lindungi dari balik pintu gudang, kini berdiri sebagai tameng di depannya, berbohong demi melindunginya meskipun itu mempertaruhkan reputasinya sendiri sebagai mahasiswi.

Dekan Prasetyo mengerutkan kening, menatap Arsen dengan pandangan curiga. "Benar begitu, Saudara Arsenio? Jika ini menyangkut pelecehan terhadap mahasiswi kami, maka kasus ini akan berubah arah menjadi laporan kepolisian terhadap Anda."

​Arsenio tergagap, tidak menyangka Valerie akan membelot secepat ini. "Ini... ini tidak benar... Valerie pasti diancam oleh Revan!"

​"Satu-satunya ancaman di sini adalah kau, Arsen," ucap Valerie dingin. Ia lalu menyerahkan buku tugas rangkumannya kepada Revan di depan Dekan. "Ini tugas saya, Pak Revan. Dikumpulkan tepat waktu seperti yang Anda minta."

​Di dalam buku tugas itu, terselip sapu tangan milik Revan yang sudah bersih dan harum.

​Dekan Prasetyo menghela napas. "Baiklah, karena ada kesaksian dari pihak istri sekaligus korban, laporan ini akan saya tangguhkan hingga ada penyelidikan lebih lanjut. Saudara Arsenio, silakan tinggalkan ruangan saya sebelum saya benar-benar menghubungi pihak kepolisian terkait tuduhan pelecehan ini."

​Arsen pergi dengan wajah merah padam dan dendam yang semakin membara. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan.

​Revan menatap Valerie lama, lalu menariknya keluar menuju lorong yang sepi.

​"Kenapa kau berbohong, Erie? Kau tahu itu bisa menjadi masalah jika Arsen bisa membuktikan sebaliknya?" tanya Revan, suaranya tidak lagi dingin, melainkan sarat akan kekhawatiran yang tulus.

​Valerie menatap mata Revan, lalu ia mengeluarkan surat usang yang ia temukan tadi pagi dari sakunya. "Kenapa Mas juga berbohong soal surat ini? Kenapa Mas membiarkan aku membencimu selama bertahun-tahun padahal Mas selalu ada di sana?"

​Revan tertegun melihat surat dari London itu ada di tangan Valerie. Pertahanannya yang selama ini ia bangun setinggi tembok benteng, runtuh seketika hanya dengan satu tatapan dari gadis itu.

​"Karena aku tidak butuh kau berterima kasih, Erie," bisik Revan, jemarinya yang terluka menyentuh pipi Valerie dengan sangat lembut. "Aku hanya butuh kau aman. Meskipun kau harus membenciku seumur hidupmu."

​Valerie menggeleng, ia memeluk Revan dengan erat, membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Maafkan aku, Mas. Maaf karena aku begitu bodoh..."

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!