Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sang Pelindung dan Tawanan Cantiknya
Berdiri di samping Jerome Renfred selalu membuat Valerie merasa kecil, namun di saat yang sama, ia merasa berada di balik benteng yang tak tertembus. Jerome, pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya, adalah sosok yang telah membangun kekaisaran bisnis sebelum Valerie menyelesaikan kuliahnya. Kehadirannya selalu menuntut ruang dan perhatian.
Pagi itu, Jerome membawa Valerie ke pusat perbelanjaan paling eksklusif milik keluarganya. Valerie yang masih mengenakan pakaian santai milik asisten Jerome, merasa sangat kontras bersanding dengan pria itu yang tampil sempurna dalam setelan jas abu-abu gelap seharga ratusan juta rupiah.
"Pilih apa pun yang kau suka, Valerie. Jangan melihat label harganya," ucap Jerome datar sembari melangkah masuk ke sebuah butik couture kenamaan.
"Jerome, ini terlalu berlebihan untuk sebuah pernikahan kontrak," bisik Valerie, mencoba mengimbangi langkah kaki Jerome yang panjang.
Jerome menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Valerie nyaris menabrak dadanya yang bidang. Ia menunduk, menatap Valerie dari balik kacamata bacanya yang elegan. "Di mataku, tidak ada yang berlebihan untuk calon istri Jerome Renfred. Jika kau tampil lusuh, itu akan merusak reputasiku."
Valerie mendengus pelan. Selalu saja soal bisnis dan reputasi, batinnya. Padahal ia tahu, di kehidupan lalu, pria ini bahkan tidak memedulikan nyawanya sendiri demi mencari Valerie di puing-puing kebakaran.
Tiba-tiba, suara melengking yang sangat Valerie kenal memecah ketenangan butik. "Aiden, lihat! Bukankah gaun ini sangat cocok untuk acara pesta keluarga minggu depan?"
Langkah Valerie membeku. Di sudut ruangan, Serena sedang berputar di depan cermin besar dengan gaun sutra berwarna peach. Di belakangnya, Aiden berdiri sambil memegang ponsel, tampak bosan namun tetap memberikan pujian palsu. Begitu Aiden menoleh, matanya membelalak. Tatapannya segera tertuju pada tangan Jerome yang melingkar posesif di pinggang Valerie.
"Paman? Valerie?!" Aiden melangkah maju dengan wajah memerah. "Apa yang kalian lakukan di sini? Valerie, pulang sekarang! Ayahmu sudah gila mencarimu!"
Melihat Aiden berteriak pada Valerie membuat rahang Jerome mengeras. Ia bisa merasakan tubuh Valerie sedikit gemetar dalam rangkulannya. Seketika, rasa sesak yang familiar itu datang lagi menghantam dada Jerome. Jantungnya berdenyut nyeri, persis seperti ketakutan yang tengah dirasakan Valerie saat ini.
"Jaga bicaramu, Aiden," suara Jerome rendah, namun cukup tajam untuk membuat para pelayan butik menunduk ketakutan. "Dia tidak akan pergi ke mana pun. Mulai hari ini, Valerie tinggal bersamaku."
Serena mendekat dengan senyum licik yang memuakkan. "Tuan Jerome, bukankah ini sedikit keterlaluan? Valerie baru saja membatalkan pertunangan dengan keponakan Anda semalam. Apa kata orang nanti?"
Jerome menatap Serena dengan tatapan sedingin es. "Aku tidak peduli pada omongan orang yang bahkan tidak bisa menjaga martabatnya sendiri dengan mendekati tunangan adiknya."
Wajah Serena seketika pucat pasi, lidahnya seolah kelu. Jerome mengabaikan mereka berdua dan mengajak Valerie menuju ruang ganti. Namun, dalam ketergesaannya, Valerie tidak sengaja menyenggol gantungan besi tajam. Ujung besi itu menggores lengan atasnya hingga darah merembes.
"Aw!" Valerie meringis pelan.
Zrett!
Rasa perih yang tajam seperti sayatan silet langsung merobek lengan kiri Jerome di titik yang sama. Ia tersentak, memegangi lengannya yang tertutup jas. Tidak ada luka fisik di sana, namun rasa sakitnya membuat pandangan Jerome berkunang-kunang.
"Jerome? Kamu kenapa?" Valerie menatapnya cemas saat melihat Jerome berkeringat dingin.
"Bukan apa-apa," jawab Jerome terengah. Ia menatap luka kecil di lengan Valerie, lalu menarik wanita itu masuk ke dalam ruang ganti yang tertutup. Begitu pintu terkunci, Jerome menyandarkan tubuhnya ke dinding, mencoba mengatur napas yang memburu. "Luka itu... hentikan darahnya, Valerie. Sekarang."
Valerie tampak bingung namun segera mengusap darah di lengannya dengan tisu. Seiring dengan berhentinya pendarahan tersebut, rasa perih di lengan Jerome perlahan lenyap.
"Jerome... kamu merasakan sakitku lagi?" bisik Valerie dengan mata membelalak tak percaya.
Jerome menarik napas panjang, menatap Valerie dengan intens. "Sepertinya begitu. Dan jika ini terus berlanjut, sebaiknya kau belajar untuk tidak terluka sama sekali. Karena setiap kali kau merasa sakit, aku merasa seperti sedang dicabik-cabik hidup-hidup."
Jerome melangkah mendekat, mengurung tubuh Valerie di antara kedua lengannya yang bersandar pada pintu. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas mereka saling bersahutan.
"Katakan padaku, Valerie... apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa takdirku seolah terikat pada setiap tarikan napasmu?"
...****************...