Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Bendungan Api Dan Tekanan Tinggi
Roket-roket Congreve milik Inggris meluncur membelah langit malam yang pekat, meninggalkan jejak asap merah yang mengerikan. Target mereka jelas: Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tirta Kencana. Jika bendungan dan turbin itu hancur, seluruh pertahanan elektromagnetik Kendal akan mati. Kota itu akan menjadi gelap gulita, dan "sihir" Jatmika akan lenyap.
"Raden! Roket-roket itu akan menghantam tangki pelumas turbin dalam tiga menit!" teriak Yusuf melalui interkom kabel.
Jatmika berlari melintasi jembatan baja menuju ruang pompa utama. "Suro, jangan fokus pada infanteri dulu! Alihkan aliran air dari pipa pesat (penstock) ke Meriam Air Tekanan Tinggi!"
Jatmika telah merancang sistem pemadam kebakaran darurat yang memanfaatkan prinsip Hukum Bernoulli dan Pompa Sentrifugal raksasa. Dengan menyempitkan ujung nozzle perunggu, ia bisa melontarkan pancaran air dengan tekanan yang mampu memotong papan kayu pada jarak seratus meter.
"Arahkan ke lintasan roket! Kita akan menciptakan 'Tirai Air'!" perintah Jatmika.
Di tepi sungai, corong-corong baja raksasa mulai berputar mengikuti koordinat yang dihitung oleh Jatmika menggunakan sekstan dan tabel balistik. Detik berikutnya, semburan air masif melesat ke angkasa, membentuk dinding air yang menjulang tinggi di depan bendungan.
BOOM! BOOM! BOOM!
Roket-roket Inggris yang menghantam tirai air itu meledak di udara sebelum menyentuh bangunan pembangkit. Uap panas mengepul hebat, menyelimuti area bendungan dalam kabut tebal. Jatmika berhasil menyelamatkan jantung energinya, namun ia tahu Thorne tidak akan berhenti di situ.
Di sisi lain medan tempur, Kolonel Thorne menggeram melihat roket-roketnya rontok di udara. "Cukup dengan mainan terbang ini! Infanteri gelombang kedua, putar arah! Masuk melalui Celah Jati!"
Celah Jati adalah jalur sempit di hutan yang tanahnya berbatu keras—area yang tidak terpengaruh oleh getaran resonansi Jatmika yang menciptakan likuifaksi semalam. Dua ribu serdadu Marsose dan infanteri Inggris mulai merayap dalam kegelapan, menggunakan semak-semak sebagai pelindung.
"Raden, mereka mencoba memutar," bisik Suro melalui pipa bicara. "Sensor seismik kita tidak bisa mendeteksi mereka di tanah berbatu. Mereka sudah sangat dekat dengan tembok belakang."
Jatmika menyeka oli dari wajahnya. Ia melihat ke arah deretan Kapasitor Mika raksasa yang baru saja selesai diisi daya oleh turbin yang baru saja ia selamatkan. "Jika mereka ingin bermain di kegelapan, kita akan berikan mereka matahari."
Jatmika mengaktifkan Lampu Busur Karbon (Carbon Arc Lamp) raksasa yang ia pasang di atas menara pengawas. Menggunakan elektroda karbon yang dipacu dengan arus listrik ribuan Ampere, lampu ini menghasilkan cahaya putih yang sangat menyilaukan, mampu menembus kabut dan hutan.
CRAAAKKK!
Seketika, hutan Jati yang gelap menjadi terang benderang seolah siang hari. Pasukan infanteri Inggris yang sedang merayap tersentak kaget. Mata mereka yang terbiasa dengan kegelapan mengalami kebutaan sesaat akibat intensitas cahaya busur tersebut.
"Sekarang, Suro! Gunakan Pelontar Uap Panas!"
Jatmika telah memasang jaringan pipa bawah tanah yang terhubung ke boiler cadangan. Saat katup dibuka, uap air bersuhu $180^\circ\text{C}$ menyembur keluar dari lubang-lubang tersembunyi di sepanjang Celah Jati. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk menciptakan dinding panas yang tak tertembus dan memberikan efek kejut luar biasa.
Pasukan Thorne kocar-kacir. Di tengah cahaya yang menyilaukan dan uap yang mendesis, mereka kehilangan arah. Namun, di tengah kekacauan itu, seorang penembak jitu Inggris berhasil membidik menara lampu Jatmika.
PRANG!
Lensa utama lampu busur pecah. Area itu kembali remang-remang. Dan dari balik kabut uap, muncullah sosok yang paling ditakuti: Pasukan Kavaleri Berat Inggris yang mengenakan baju pelindung dari kulit tebal berlapis tembaga—sebuah upaya awal untuk meniru sangkar Faraday agar mereka kebal terhadap kejutan listrik.
Mereka mulai memacu kuda-kuda mereka, menerjang lurus ke arah gerbang kota yang kini terbuka sedikit akibat ledakan roket sebelumnya.
"Tutup gerbangnya!" teriak Yusuf.
"Jangan!" Jatmika menahan tangan Yusuf. "Biarkan mereka masuk ke koridor utama. Aku ingin menguji Induksi Statis kita."