NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Rumah kontrakan itu tidak besar. Dua kamar tidur dengan dinding cat putih yang sudah menguning di beberapa sudut, satu kamar mandi di dalam yang pintunya harus didorong keras karena sering macet, dan ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang makan karena memang tidak ada ruangan lain. Perabotannya sederhana, sofa kecil bermotif bunga yang sudah agak kempes di bagian tengah, meja makan plastik dengan empat kursi yang salah satunya sedikit goyang, dan lemari kayu tua yang pintunya tidak bisa menutup sempurna.

Tapi bagi Elena, rumah itu adalah rumahnya. Dan itu sudah cukup membuatnya bersyukur.

Pagi itu Elena sudah berdiri di dapur sempit di belakang rumah, jongkok di depan kompor gas kecil satu tungku dengan tabung gas melon hijau tiga kilogram di sampingnya. Nyala api biru yang kecil memanaskan panci berisi air untuk merebus mie sarapan paling praktis yang bisa ia siapkan sebelum Evan berangkat sekolah. Satu tangan mengaduk, satu tangan memegang ponsel jadul yang layarnya sudah retak di sudut kanan bawah, memastikan tidak ada pesan dari Adrian yang masuk semalam.

Dan ternyata memang tidak ada. Elena meletakkan ponselnya kembali di tepi meja dapur tanpa ekspresi. Sudah tiga hari Adrian tidak membalas pesannya. Tapi ia tidak mau berpikir terlalu jauh mungkin sinyal di kota sedang buruk, mungkin Adrian terlalu sibuk, mungkin ada banyak hal yang ia tidak tahu.

"Buuuu..."

Tirai motif bunga yang memisahkan dapur dengan ruang tengah menyibak dan Ara muncul dengan rambut yang awut-awutan, pipinya masih merah bekas bantal, dan ia menenteng boneka kelinci kecil yang sudah botak bulunya ke mana pun ia pergi.

"Sudah bangun?" Elena tersenyum.

"Ara lapar." Ara menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan.

"Tunggu sebentar lagi ya, mie-nya belum matang."

Ara mengangguk lalu duduk di lantai keramik dekat kaki ibunya, memeluk boneka kelincinya, memandangi nyala api biru di kompor dengan mata yang masih setengah mengantuk. Elena mengacak-acak rambut anaknya pelan.

Anaknya masih polos, masih percaya bahwa dunia ini baik-baik saja. Elena ingin ia tetap seperti itu selama mungkin.

"Evan!" Elena meninggikan suaranya sedikit ke arah kamar. "Sudah mandi belum? Setengah jam lagi berangkat!"

Tidak ada jawaban.

"Evaaan."

"Iya Bu sebentar!"

Elena menghela napas. Usinya baru tujuh tahun dan sudah ahli menunda. Ia mematikan kompor, meniriskan mie, lalu menuangkannya ke dua piring plastik, membagi satu porsi mie ke dalam dua piring, satu porsi sedikit lebih banyak untuk Evan, satu porsi lebih sedikit untuk Ara, dengan bumbu sachet yang ia aduk cepat.

Sepuluh menit kemudian Evan muncul dari kamar dengan seragam putih merah yang sudah disetrika kemarin malam oleh Elena, rambutnya basah setelah mandi kilat, dan tas ransel yang talinya sudah sedikit mengelupas di bagian jahitannya.

"Bu, uang jajannya masih ada?" ia bertanya sambil duduk dan langsung menyerbu mie di piringnya.

"Ada, di dompet ibu. Nanti ibu ambilkan." Elena menyendok mie ke mulut Ara yang sudah membuka mulutnya seperti anak burung. "Makan sendiri dong, Ara sudah besar."

"Tapi enak disuapin." Ara cemberut.

Evan mendengus. "Manja."

"Kamu manja juga waktu kecil," Elena menimpali datar dan Evan langsung diam.

Suasana dapur sempit itu penuh dengan suara sendok beradu dengan piring, suara Ara yang bersenandung tidak jelas sambil makan, dan suara motor tetangga yang lewat di jalan depan rumah. Sederhana, berisik, dan hangat dengan caranya sendiri.

Elena duduk di kursi plastik yang satu lagi, minum air putih dari gelas belimbing, dan memandangi kedua anaknya makan.

Ini yang ia pilih.

Delapan tahun lalu ketika ayahnya berteriak bahwa ia akan menyesal, ketika ibunya menangis memohon ia mengurungkan niat, ketika seluruh keluarganya kompak mengatakan bahwa menikahi Adrian adalah keputusan paling bodoh yang pernah ia buat, Elena tetap pergi.

Ia tidak menyesal. Adrian lelaki yang baik. Ia bekerja keras, ia mencintai Elena dengan cara yang sederhana tapi tulus, ia tidak pernah membuat Elena merasa kecil meskipun mereka hidup dengan uang yang selalu dihitung-hitung. Ketika Adrian di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja, ia tidak menyerah, ia langsung mencari peluang lain, melamar ke mana-mana, hingga akhirnya memutuskan untuk merantau ke kota karena katanya di sana kesempatannya lebih besar.

"Aku tidak akan lama, El. Paling tiga bulan sudah balik bawa rezeki lebih."

Elena masih ingat kalimat itu. Masih ingat bagaimana Adrian mengucapkannya dengan mata yang serius dan tangan yang menggenggam tangannya erat di terminal bus, sementara Evan yang waktu itu baru enam tahun memeluk kaki ayahnya tidak mau lepas dan Ara yang baru tiga tahun tertidur di gendongan Elena.

Janjinya hanya tiga bulan. Tapi sekarang, sudah hampir satu tahun.

Elena meneguk air putihnya, menelan apapun yang naik ke tenggorokannya, dan tersenyum saat Evan menatapnya.

"Bu kenapa ngelamun?"

"Tidak." Elena mengusap kepala anaknya. "Cepat habiskan, nanti telat."

Evan mengangguk dan kembali menunduk ke piringnya.

Di luar, matahari mulai naik, menerobos celah jendela yang kacanya sudah agak buram, meletakkan kotak-kotak cahaya di lantai keramik mereka yang sederhana. Kampung ini memang bukan kota, tidak ada mall, tidak ada gedung tinggi, tidak ada jalan tol yang ramai. Tapi ada ketenangan di sini, ada tetangga yang masih saling kenal, ada suara adzan yang terdengar jelas karena tidak terhalang gedung-gedung besar.

Elena berdiri, mengumpulkan piring kotor, dan mulai mencucinya di wastafel kecil dengan air yang mengalir pelan karena tekanan di kampung ini memang tidak pernah kencang.

Tangannya bergerak otomatis. Tapi pikirannya selalu tertuju pada suaminya.

Adrian, kapan kamu pulang?

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!