NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Menghitung Sisa Waktu

Bab 23: Menghitung Sisa Waktu

Sensasi setruman dari Bab 22 perlahan mulai memudar dari permukaan kulit, namun getarannya masih menguasai rongga dada Rafi. Bus antar kota ini kini telah meninggalkan hamparan kebun sawit yang membosankan dan mulai memasuki wilayah pinggiran Kota Kisaran. Namun, ada satu masalah besar yang muncul di depan mata: kemacetan.

Di depan, deretan kendaraan—truk pengangkut logistik, angkot, hingga motor yang saling selap-selip—bergerak merayap. Aroma aspal yang memuai karena panas matahari pukul 10.30 WIB masuk melalui celah jendela, membawa hawa gerah yang semakin menekan.

Rafi merogoh saku celananya dengan gerakan gelisah. Ia mengeluarkan ponselnya. Layarnya yang sedikit retak di pojok kanan bawah menunjukkan angka 10.32. Ia segera membuka aplikasi Google Maps. Sebuah garis merah tebal menghalangi rute mereka tepat di pintu masuk kota.

Estimasi kedatangan: 12 menit lagi.

Secara matematis, 12 menit bukan waktu yang lama. Namun, bagi seseorang yang memiliki anggaran waktu seketat Rafi, setiap menit adalah variabel yang bisa merusak seluruh rencana kencan di Bab 25 nanti. Ia merasa perlu mengecek posisi mereka setiap saat.

"Masih jauh, Rafi?" suara Nisa memecah lamunannya. Gadis itu sudah benar-benar terjaga sekarang. Meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kantuk, ada binar antisipasi di matanya.

"Dikit lagi, Nis. Ini cuma antrean masuk kota aja," jawab Rafi, berusaha terdengar tenang padahal jempolnya terus melakukan refresh pada peta digital di tangannya.

Ia kembali menunduk ke layar ponsel.

Estimasi kedatangan: 14 menit.

"Lho, kok malah nambah?" gumamnya tanpa sadar.

Kecemasan mulai merayap naik ke tengkuknya. Rafi mulai menghitung ulang simulasinya secara mental. Jika mereka sampai pukul 11.00, mereka butuh waktu untuk mencari tempat makan. Di Tanjungbalai, ia jarang mengkhawatirkan waktu, tapi di Kisaran—kota yang ia anggap lebih "metropolis"—ia merasa harus tampil sempurna dan terjadwal.

Ia melirik Nisa. Gadis itu kembali merapikan penampilannya. Nisa mengeluarkan bedak padat kecil dari tasnya, menatap cermin kecil, dan menepuk-nepuk pelan wajahnya yang mulai berkeringat. Rafi segera membuang muka, merasa tidak sopan memperhatikan ritual pribadi itu, namun ia tidak bisa menahan rasa bangga. Nisa sedang bersiap. Nisa ingin terlihat cantik. Dan itu artinya, Nisa menghargai momen ini sama besarnya dengan dia.

Rafi kembali mengecek Google Maps. 10.37.

Estimasi kedatangan: 11 menit.

Ia menarik napas lega. Angka itu turun sedikit. Ia merasa seperti sedang berjudi dengan takdir transportasi Sumatera.

Sambil menunggu bus bergerak maju sejengkal demi sejengkal, pikiran Rafi kembali ke dompetnya. Ia meraba saku belakangnya. Masih ada. Sensasi keras dari tumpukan uang kertas itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap waras. Ia membayangkan skenario nanti. Apakah ia harus memesan paket hemat atau langsung yang paling mahal agar Nisa terkesan?

Jangan boros di awal, bisik sisi logisnya dari Bab 5. Ingat tiket 5D dan biaya cadangan.

"Rafi, kamu dari tadi lihat HP terus. Ada urusan penting ya?" tanya Nisa sambil tersenyum tipis.

Rafi tersentak. Ia segera mematikan layar ponselnya. "Eh, enggak kok, Nis. Cuma... mau pastiin kita nggak kemalaman pulangnya nanti. Biar kamu nggak dicariin orang tua."

Itu adalah jawaban yang aman, namun separuh bohong. Realitasnya, ia sedang terobsesi dengan efisiensi waktu karena ia takut "waktu kencannya" terpotong oleh kemacetan yang tidak berguna.

Bus kembali bergerak. Mesin dieselnya meraung keras seolah ikut frustrasi dengan kepadatan jalan. Bau solar yang pekat menyengat hidung.

Rafi memperhatikan sekeliling. Di pinggir jalan, pedagang asongan mulai mendekati jendela bus, menawarkan kacang rebus dan air mineral dingin.

Rafi sempat melirik Nisa. Apakah dia haus lagi?

Tapi ia teringat botol mineralnya masih ada sisa.

Ia harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan uang 5.000 rupiah untuk air mineral tambahan sekarang. Setiap lima ribu rupiah sangat berharga untuk durasi kencan mereka di mall nanti.

Pukul 10.45.

Estimasi kedatangan: 5 menit.

Bangunan-bangunan permanen yang lebih besar mulai terlihat. Papan iklan berukuran raksasa menyambut mereka. Kisaran sudah di depan mata.

Rafi merasakan perutnya mulas—bukan karena lapar, tapi karena adrenalin. Ini adalah kencan pertamanya yang benar-benar terencana setelah sebulan penuh penderitaan nasi garam (Bab 2).

Seluruh pengorbanannya akan diuji dalam satu jam ke depan.

Ia melirik sepatunya untuk terakhir kalinya. Lem Alteco-nya masih bertahan. Syukurlah. Ia tidak ingin sepatu itu menganga saat ia membantu Nisa turun dari bus nanti.

"Siap-siap, Nis. Habis ini kita turun," ujar Rafi, suaranya sedikit lebih berat karena keberanian yang ia kumpulkan.

Nisa mengangguk, menyampirkan tasnya di bahu.

"Oke, Rafi."

Rafi mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku. Ia tidak butuh Google Maps lagi. Ia bisa melihat gapura kota di depan sana. Sisa waktu penantian di bus ini tinggal hitungan detik. Detak jantungnya kini bergerak lebih cepat daripada jarum jam di ponselnya.

Rafi mencengkeram erat ranselnya, matanya menatap tajam ke arah pemberhentian bus, sementara di dalam hatinya ia terus merapal doa agar sisa uang 295 ribu rupiahnya mampu membeli kebahagiaan yang ia janjikan untuk Nisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!