Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - PRIA YANG DATANG MEMINTA MAAF
Nomor enam belas digit itu Lily simpan di tempat yang tidak ada orang akan cari. Bukan di ponsel, terlalu mudah ditemukan kalau seseorang mengambil ponselnya. Dia tuliskan di bagian dalam label celana panjangnya yang sudah pudar, angka kecil-kecil dengan pulpen yang hampir habis tintanya. Terlihat seperti bekas cuci yang belum bersih kalau tidak tahu harus melihat apa.
Cara lama. Cara yang tidak butuh teknologi.
Lily tidak tahu dari mana dia belajar itu ... mungkin dari buku, mungkin dari intuisi. Tapi ruang rahasia semalam memberinya lebih dari sekadar kejernihan berpikir. Ada sesuatu yang berubah di caranya melihat setiap detail kecil di sekitarnya. Seperti resolusi yang dinaikkan tanpa dia minta.
Dia bisa menunggu untuk mencari tahu siapa S itu. Yang tidak bisa dia tunda adalah yang datang sore itu.
Dimas Arya tiba jam tiga lebih dua puluh menit.
Lily tahu sebelum melihatnya, suara mobilnya berbeda dari mobil ayahnya, lebih keras di putaran bawah karena Dimas terlalu sering pakai gigi dua di jalan kompleks. Hal kecil yang dulu Lily anggap lucu. Sekarang hanya jadi penanda.
Dia sedang menjemur handuk di tali jemuran samping rumah ketika Dimas masuk dari gerbang depan. Mereka melihat satu sama lain pada waktu yang sama.
Dimas berhenti melangkah.
Lily tidak berhenti menjemur.
Dia ambil handuk kedua dari ember, kaitkan di tali, rapikan ujungnya. Semua dengan gerakan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tangannya tidak gemetar, itu yang paling penting dia perhatikan. Tangannya tidak gemetar.
"Lily."
Suaranya sama. Persis sama seperti ratusan kali dia panggil namanya sebelum masalah ini, dengan nada yang sedikit naik di suku kata kedua, seperti kebiasaan. Dulu Lily suka dengan cara itu. Sekarang terasa seperti suara yang belum tahu dirinya sudah kedaluwarsa.
"Mas Dimas." Lily mengambil handuk ketiga. "Nindi ada di dalam. Kamar lantai dua."
"Aku tahu." Dia tidak bergerak ke arah pintu rumah. "Aku mau ngomong sama kamu dulu."
Lily memasang handuk ketiga. Mengambil yang keempat.
"Silakan."
Dimas menghela napas, seperti napas orang yang sudah latihan kalimat pembukanya di kepala selama perjalanan ke sini tapi tetap saja tidak bunyi benar waktu tiba saatnya.
"Aku minta maaf, Lily."
Lily mengangguk sedikit. Tidak berhenti bekerja.
"Aku serius. Aku tahu itu tidak cukup. Aku tahu semua yang terjadi tiga hari lalu..."
"Empat hari."
Dimas diam.
"Empat hari lalu," ulang Lily. "Bukan tiga."
"Iya. Empat hari lalu." Suaranya turun sedikit. "Aku tidak punya alasan yang bisa membenarkan itu. Aku hanya, aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak bermaksud menyakitimu dengan cara seperti ini."
Lily akhirnya berhenti menjemur. Bukan karena tersentuh, tapi karena handuk di embernya sudah habis dan tidak ada alasan untuk melanjutkan gerakan yang sama.
Dia berbalik menghadap Dimas.
Ini pertama kalinya sejak malam itu dia melihat wajahnya dengan cahaya yang cukup dan jarak yang wajar. Dimas kelihatan lebih kurus dari seminggu lalu. Pipinya lebih tirus, lingkaran matanya ada, tapi yang paling Lily perhatikan adalah tangannya yang tidak bisa diam. Jempolnya menggesek sisi jarinya sendiri, bolak-balik, ritme yang tidak beraturan.
Gelisah.
Bukan gelisah karena bersalah, Lily sudah cukup kenal Dimas untuk tahu bedanya. Ini gelisah karena sesuatu yang lain sedang menekannya dari dalam.
"Kamu oke?" tanya Lily.
Dimas berkedip. Sepertinya tidak mengharapkan pertanyaan itu. "Aku yang harusnya tanya kamu..."
"Aku tanya duluan."
Dia diam sebentar. Matanya menghindari tatapan Lily, jatuh ke suatu titik di antara mereka di lantai teras.
"Tidak sepenuhnya," jawabnya akhirnya. Pelan.
Lily menunggu. Tidak membantu, tidak mendorong.
"Situasinya lebih..." Dimas menghentikan kalimatnya di tengah. Mengganti arah. "Nindi dan aku tidak sesederhana yang kelihatan, Lily. Tapi aku tidak bisa cerita lebih dari itu sekarang."
"Kenapa?"
"Karena belum waktunya."
Kalimat yang sama persis dengan yang muncul di cermin tiga malam lalu, tapi dari mulut yang berbeda dan dengan konteks yang berbeda. Lily mencatat itu di sudut kepalanya.
"Aku tidak butuh ceritamu, Mas," kata Lily. Bukan dingin ... tapi jelas. "Aku cuma mau tanya satu hal."
Dimas akhirnya menatapnya langsung.
"Kamu tahu soal warisan ibuku?"
Dua detik.
Wajah Dimas tidak berubah ekspresi dan itu sendiri adalah jawaban. Orang yang benar-benar tidak tahu akan mengernyit, akan bertanya balik warisan apa, akan ada jeda bingung yang nyata sebelum responsnya keluar.
Dimas tidak melakukan itu.
Dia hanya berkata, "Aku tidak tahu detail apa pun soal itu," dengan nada yang terlalu terjaga untuk spontan.
Lily mengangguk. "Oke."
"Lily---"
"Nindi ada di kamar lantai dua," kata Lily lagi. Kali ini dengan nada yang menandakan percakapan selesai. "Tangga kanan."
Dia mengambil ember kosongnya dan berjalan ke pintu samping.
"Aku tidak berhenti memikirkan kamu," kata Dimas dari belakangnya. Cepat, seperti kalimat yang sudah terlalu lama ditahan dan akhirnya bocor tanpa izin. "Malam itu. Wajah kamu waktu buka pintu kamar itu. Aku tidak bisa..."
Lily berhenti di ambang pintu.
Tidak berbalik.
"Itu urusanmu, Mas. Bukan urusanku lagi."
Dia masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya dengan cara yang tidak keras tapi sangat final.
Di dapur, Lily meletakkan ember di bawah wastafel dan berdiri dengan tangan di tepi bak cuci, menunduk ke saluran air yang kosong.
Dimas tahu soal warisan itu.
Bukan detail, mungkin memang tidak... tapi dia tahu. Cukup untuk memilih jawaban yang hati-hati. Cukup untuk ada dalam lingkaran yang sama dengan informasi itu.
Pertanyaannya, dari siapa dia tahu?
Dari Nindi? Dari Tante Sari? Dari ayah Lily sendiri?
Atau dari seseorang yang belum ada di peta Lily?
Dari dalam rumah terdengar langkah kaki Dimas naik ke lantai dua. Lalu suara pintu kamar Nindi dibuka. Lalu sunyi.
Lily memutar keran, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan berdiri tegak.
Di balik jendela dapur yang menghadap ke halaman belakang, gudang tua itu kelihatan persis seperti yang lainnya ... tua, tidak menarik, tidak penting.
Lily tahu sebaliknya.
Malam ini dia akan masuk lagi. Ada satu pertanyaan baru yang perlu dijawab ruang itu atau setidaknya, satu arah baru yang perlu ditunjukkan.
S.
Dan Dimas yang tahu lebih dari yang dia bilang.
Tapi tepat sebelum Lily meninggalkan dapur, ponselnya bergetar.
Pesan dari Hendra. [Lily. Pak Syarif barusan hubungi aku. Ada masalah. Seseorang sudah mengakses arsip ibumu di kantornya. Bukan kami, bukan kamu. Orang lain.]
Lily membaca pesan itu dua kali, lalu membalasnya. [Siapa?]
Hendra membutuhkan dua menit untuk menjawab. Dua menit yang terasa seperti Lily berdiri di tepi sesuatu yang dalam dan tidak tahu seberapa dalamnya.
Balasan masuk. [Belum tahu namanya. Tapi yang kami tahu, dia menggunakan kuasa hukum dari firma yang sama dengan ayahmu.]