NovelToon NovelToon
Cariad

Cariad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya ketika Cassie terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar dari pinggang hingga ke pangkal pahanya. Ia mengerang pelan, mencoba mengubah posisi duduk di tepi ranjang, namun setiap gerakan kecil terasa seperti pengingat yang sangat nyata atas apa yang terjadi beberapa jam lalu.

Zion, yang sudah terjaga lebih dulu, bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menatap Cassie dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.

"Selamat pagi, Nona Vorcan," bisik Zion dengan suara serak yang sangat maskulin.

Cassie menoleh dengan kilat kemarahan di matanya. Topeng dingin dan angkuhnya kembali terpasang dalam sekejap, meskipun rambutnya masih berantakan. "Jangan tersenyum seperti itu, Zion! Kau pria brengsek, tidak tahu diri!"

Zion tertawa kecil, ia mencoba meraih tangan Cassie, namun wanita itu menepisnya dengan kasar. "Hei, semalam kau tidak memanggilku brengsek saat kau mencengkeram bahuku, sayang."

"Diam kau!" bentak Cassie, suaranya tertahan agar tidak sampai ke ruang kerja tempat Logan tidur. "Ini semua ulahmu! Lihat ini, pinggangku rasanya ingin patah! Kau pikir tubuhku masih sama seperti umur tujuh belas tahun? Semenjak melahirkan Logan, fisikku tidak sekuat dulu, Zion. Melahirkan itu taruhan nyawa, dan kau... kau menggempurku seolah aku ini mesin!"

Zion seketika terdiam, binar jenakanya sedikit meredup berganti dengan rasa bersalah yang tulus. Ia bergerak mendekat, mencoba memijat pinggang Cassie dengan lembut. "Maaf... aku benar-benar tidak berpikir sampai ke sana. Aku hanya... aku hanya sangat merindukanmu sampai aku kehilangan kendali."

Cassie mendengus, meskipun ia membiarkan tangan besar Zion menekan titik saraf yang pegal di pinggangnya. "Kau selalu begitu. Egois. Kau hanya memikirkan kepuasanmu sendiri, sama seperti dulu saat kau bercerita panjang lebar tentang balapanmu sementara aku sedang berjuang menahan napas di bawahmu."

Zion tersenyum miring, ia mendekatkan wajahnya ke leher Cassie, menghirup aroma sabun hotel yang masih tertinggal. "Tapi kau suka kan? Kau yang bilang semalam, Jangan berhenti, Zion. Apa aku salah dengar?"

"ZION!" Cassie memukul lengan Zion dengan wajah merah padam. "Itu... itu karena aku sedang tidak sadar! Efek hormon!"

"Ah, masa?" goda Zion lagi, jarinya kini menelusuri garis tulang punggung Cassie. "Ingat tidak, dulu di apartemen kecilku? Kau pernah bilang aku ini seperti mesin tanpa tombol off. Ternyata setelah sepuluh tahun dan satu anak, komentarmu masih sama."

Cassie memilih untuk berdiri, mengabaikan godaan Zion meskipun ia harus meringis kecil saat berdiri tegak. Ia berjalan menuju ruang kerja, melihat Logan yang masih tertidur pulas di sofa besar. Ia menghela napas lega, setidaknya anaknya tidak melihat kegilaan orang tuanya.

"Zion, cepat bangun dan pindahkan Logan kembali ke ranjang ini," perintah Cassie dengan nada angkuh. "Aku akan mandi dan bersiap. Jangan sampai ada yang curiga di bawah nanti."

Pukul delapan pagi, ruang makan Mansion Lopez sudah dipenuhi aroma bacon panggang dan kopi segar. Mateo Lopez duduk di kursi kebesarannya, sementara Mommy Lopez tampak sibuk memastikan piring-piring tertata sempurna untuk cucu tercintanya.

Zion, Cassie, dan Logan turun bersamaan. Zion tampak segar meskipun matanya sedikit sayu, sementara Cassie berjalan dengan sangat anggun, meskipun jika diperhatikan dengan teliti, langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.

"Selamat pagi, Sayang! Logan, kemari duduk di samping Oma," seru Mommy Lopez dengan ceria.

Lionel dan Laxia, yang sudah duduk lebih dulu, menatap kakak mereka dan Cassie dengan tatapan menyelidik. Mereka adalah ahli dalam membaca situasi.

"Wah, Kak Zion... Nona Cassie... kalian berdua tampak sangat... lelah?" Laxia memulai provokasinya sambil menopang dagu. "Apa tempat tidurnya kurang nyaman? Atau kalian berdebat soal proyek South Side sepanjang malam?"

Zion menyesap kopinya dengan tenang, menyembunyikan senyumnya di balik cangkir keramik. "Ya, begitulah. Cassie sangat keras kepala soal desain aula utama. Kami bicara cukup lama sampai dini hari."

Cassie hanya mengangguk kaku, ia fokus memotong sosis di piringnya tanpa berani menatap siapa pun. "Tuan Lopez memiliki standar yang sangat tinggi, jadi aku harus menjelaskan banyak hal secara mendalam agar dia paham."

Mateo Lopez menurunkan korannya, menatap putra dan calon menantunya, dalam pikirannya, dengan tatapan tajam. "Diskusi itu bagus, tapi jangan sampai mengabaikan kesehatan. Mata kalian berdua terlihat sayu. Zion, jangan terlalu menekan Nona Vorcan, dia tamu kita."

"Tentu, Dad. Aku hanya... memastikan semua posisi desainnya tepat," jawab Zion dengan nada ganda yang membuat Cassie nyaris tersedak air putihnya.

Lionel menyenggol lengan Laxia, berbisik pelan, "Mereka pasti bertengkar hebat semalam. Lihat wajah Cassie, dia terlihat seperti ingin menelan Kak Zion hidup-hidup."

"Atau mereka melakukan sesuatu yang lain?" balas Laxia dengan bisikan yang sama. "Tapi tidak mungkin, kan? Cassie benci setengah mati pada Kak Zion."

Mommy Lopez, yang tidak menyadari ketegangan seksual yang memenuhi ruangan itu, justru sibuk menyuapi Logan. "Logan, apa kau tidur nyenyak? Daddy tidak mengganggumu kan?"

Logan menelan makanannya, lalu menatap Daddy dan Mommy-nya bergantian. "Tidurku sangat nyenyak, Oma. Tapi tadi pagi Mommy bilang ada angin kencang di kamar sampai ranjangnya goyang. Aku tidak dengar apa-apa sih, mungkin karena aku terlalu lelap."

Hening.

Lionel hampir menyemburkan kopinya, sementara Laxia membeku dengan garpu di udara. Mateo Lopez menatap Zion dengan alis terangkat sebelah, sementara Mommy Lopez hanya berkedip bingung.

"Angin... kencang?" tanya Mommy Lopez polos. "Tapi semalam udara sangat tenang, tidak ada ramalan badai."

Cassie segera berdehem keras, wajahnya sudah memerah sampai ke telinga. "Maksudku... itu... pendingin ruangannya! Ya, pendingin ruangannya sedikit berisik dan bergetar. Zion harus memperbaikinya."

"Oh, tentu," Zion menimpali dengan suara yang ditahan agar tidak tertawa. "Aku akan memperbaikinya nanti malam, Cassie. Secara pribadi."

Kecurigaan orang-orang di meja makan akhirnya mereda ke arah perdebatan hebat. Mereka semua yakin bahwa Zion dan Cassie menghabiskan malam dengan saling bentak dan adu argumen soal masa lalu atau pekerjaan, yang menjelaskan mengapa mata mereka sayu dan suasana di antara mereka terasa begitu tegang.

Mereka tidak tahu bahwa ketegangan itu bukan karena kebencian, melainkan karena gairah yang baru saja menyala kembali setelah sepuluh tahun padam. Mereka tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Cassie, ada rasa nyeri di pinggang yang merupakan hadiah dari malam penyatuan mereka yang luar biasa konyol namun indah.

Cassie terus menunduk, mengutuk Zion di dalam hatinya. Pria ini benar-benar tidak punya rem! Namun di bawah meja, tanpa ada yang melihat, kaki Zion dengan nakal menyentuh kaki Cassie, seolah memberi tanda bahwa malam ini, angin kencang itu mungkin akan datang lagi.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Era Simatupang
aduh GK bisa nebak endingnya gmna, makin seru thor
ros 🍂: coba di tebak dulu kak 🤣🙏
total 1 replies
awesome moment
wkwkkwkwkwk...benang yg mbulet
awesome moment
logan n tll sombong dan...ogah blajar dri pengalaman jd...kalah pintar sm keledai
ros 🍂: mari kita kasih paham si logan Kak🤭🤣
total 1 replies
Manis
good issa👍👍👍
Fadhliyah
part paling menyedihkan. aku sampai jeda membaca Krn ikut nangis. malu ketahuan orang😭😭
ros 🍂: Terharu 😭😭😭🥰
total 1 replies
awesome moment
mmg terbuka soal hati tu g gampang
awesome moment
logan sdh dpt rumah
awesome moment
tu lah knp. menangislah saat berdo'a. krn smua akan mengabur
awesome moment
wkkwkwkwk...mo semarah p pun. sebenci p pun. kn d anak.
awesome moment
biar mrk 😭😭😭darah dlu. biar mrk menghargai org
awesome moment
baiknya mmg bgitu. biar zion...bisa menghargai
awesome moment
bagoosh. biar nyesel bin nyesek dlu
awesome moment
twins tu CCTV yg sgt kompeten
awesome moment
laxia n cerdas jg plus sarkastik
awesome moment
CCTV yg sgt detail. bahkan baca gerak bibir😄😄😄
ros 🍂: haha🤣
total 1 replies
awesome moment
hebat
awesome moment
nikmati penyesalanmu, Zion. hati manusia tu yg jd taruhan
awesome moment
logan sdg membohongi diirnya sndiri
awesome moment
bnr2 absurd
Rahayu Ayu
Baik banget dih keluarga Lopez,
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!