Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pemilik Tahta di Laci Rahasia
Perjalanan pulang menuju mansion terasa sunyi, namun bukan keheningan mencekam yang mereka rasakan pagi tadi. Ada ketegangan yang berbeda—sebuah antisipasi yang membuat dada Valerie berdebar kencang. Di dalam mobil, Jerome terus menggenggam tangan Valerie erat-erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya seolah mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki.
Begitu pintu mansion terbuka, Jerome tidak membawa Valerie ke ruang makan atau kamar tidur. Dengan langkah pasti, ia menarik Valerie langsung menuju ruang kerjanya yang selama ini menjadi area terlarang.
Klik.
Jerome mengunci pintu dari dalam. Suasana di ruangan itu mendadak terasa begitu intim dengan aroma kayu cendana dan maskulin khas Jerome yang menyeruak.
"Duduklah, Valerie," ucap Jerome dengan suara serak yang berat.
Valerie menurut, ia duduk di kursi tepat di depan meja besar milik suaminya. Jerome berdiri tegak di hadapannya, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menelanjangi rahasia tergelap yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Tangannya yang sedikit gemetar merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak.
Cklek.
Kompartemen rahasia di laci meja itu terbuka. Perlahan, Jerome mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dan beberapa lembar foto yang tepiannya sudah mulai menguning dimakan waktu.
Inilah saat yang paling Jerome takuti sekaligus ia nantikan. Seluruh pertahanannya runtuh di depan tatapan mata jernih Valerie. Ia meletakkan foto-foto itu satu per satu di atas meja, tepat di hadapan wanita yang menjadi pusat dunianya.
"Lihatlah sendiri, Val. Lihat siapa wanita yang membuatku gila selama sepuluh tahun ini," bisik Jerome, suaranya pecah oleh perpaduan rasa malu dan cinta yang meluap-luap.
Valerie tertegun. Ia mengambil foto pertama dengan jari yang bergetar. Di sana terlihat seorang gadis remaja mengenakan seragam SMA, rambutnya dikuncir kuda, sedang tertawa lebar di depan gerbang sekolah sambil memegang es krim.
Lalu foto kedua: gadis yang sama sedang duduk di perpustakaan, helai rambutnya tersinari matahari saat ia terlelap di atas buku.
Hingga foto ketiga: potret ulang tahun ke-17 yang Valerie lihat sekilas semalam.
"Ini... ini aku?" suara Valerie nyaris tak terdengar, tenggelam dalam isak yang tertahan. Ia mendongak menatap Jerome dengan mata yang berkaca-kaca. "Semua foto ini... ini aku, Jerome?"
Jerome berlutut di depan Valerie, mensejajarkan wajahnya yang keras dengan wajah lembut istrinya. "Hanya kau, Valerie. Sejak hari pertama aku menjemput Aiden sepuluh tahun lalu, jiwaku sudah tersesat padamu. Aku menguntitmu dari jauh, aku menyimpan setiap senyummu dalam laci ini karena aku tahu aku terlalu tua dan terlalu gelap untuk dunia ceriamu."
Jerome mengambil kotak beludru itu dan membukanya, menampakkan sebuah kalung permata biru yang sangat indah dengan inisial 'V' yang terukir halus di baliknya.
"Aku membelinya saat kau lulus SMA. Aku ingin memberikannya padamu, tapi aku melihatmu tertawa bersama Aiden... dan aku memilih tetap menjadi paman yang baik, meski itu membunuhku perlahan setiap harinya."
Air mata Valerie jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak semalam menguap seketika, berganti dengan kehangatan luar biasa yang merambat ke seluruh sarafnya.
Ternyata, kecemburuan yang menyiksanya semalam adalah pada dirinya sendiri. Foto yang ia kira wanita lain, nama yang didesahkan Jerome dengan penuh gairah... itu adalah namanya. Pria di hadapannya ini tidak pernah mencintai wanita lain; ia mencintai bayangan Valerie selama sepuluh tahun dalam kesunyian yang menyiksa.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?" isak Valerie pelan. "Kenapa kau membiarkanku merasa sekecil itu semalam?"
Jerome meraih wajah Valerie dengan kedua tangannya, ibu jarinya menghapus air mata itu dengan sangat lembut. "Karena aku malu, Val. Aku malu pada obsesiku yang menjijikkan ini. Aku takut jika kau tahu betapa aku menginginkanmu sejak kau masih remaja, kau akan menganggapku monster yang mesum."
"Kau bukan monster, Jerome..." Valerie menarik kerah kemeja suaminya, memaksanya menatap matanya dalam-dalam. "Kau adalah satu-satunya orang yang memelukku bahkan saat aku sudah hancur di kehidupan lalu. Kau adalah satu-satunya yang mencintaiku dengan tulus."
Jerome tertegun mendengar kata-kata itu, lalu tatapannya menggelap oleh gairah yang tidak lagi ia sembunyikan. "Jika kau sudah tahu segalanya sekarang... kau tidak akan bisa lari lagi, Valerie. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini sampai kau benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Bukan karena kontrak, tapi karena kau pun menginginkanku."
Valerie tersenyum di sela tangisnya, melingkarkan lengannya di leher Jerome dengan mantap. "Aku tidak ingin lari. Jadikan aku milikmu sepenuhnya, Jerome."
Malam itu, di dalam ruang kerja yang penuh rahasia, Jerome tidak lagi menahan diri. Ia mencium Valerie dengan lapar, sebuah ciuman yang mengandung kerinduan sepuluh tahun dan sumpah setia yang melampaui kematian. Di bawah cahaya lampu meja yang redup, laci rahasia itu tetap terbuka, menjadi saksi bahwa pemilik tunggal tahta di hati Jerome Renfred hanyalah satu nama: Valerie Vaughn.
...****************...