Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kesepakatan
Malam ini hujan turun. Setelah pertengkaran tadi sore, Ishani tidak mau keluar kamar. Bahkan makan pun dibawanya ke dalam kamar.
Langit berbaring di sofa. Matanya terjaga menatap pintu kamar Ishani yang terbuka sedikit. Ia mendengarkan napas Ishani, teratur dan lembut. Ia bersiaga kalau-kalau irama napas itu berubah.
Di meja berserakan buku-buku tentang kehamilan. Beberapa di antaranya terbuka, menandakan telah dibaca. Beberapa paragraf dilingkari pena merah, bab tentang insufiensi plasenta dan nutrisi untuk ibu hamil.
Langit menguap, matanya terasa berat. Ia bergegas ke dapur, mencuci wajahnya. Lalu kembali terduduk mengawasi celah yang terbuka itu.
**********
Beberapa hari berlalu, Bu Rina cepat memahami dinamika Ishani dan Langit. Ia pun sudah mengetahui kisah keduanya. Tentang Biru, tentang amanah yang harus dijalankan.
Bu Rina tahu kapan harus banyak bicara, dan kapan cukup mencatat dan tersenyum. Setiap kali datang, ia selalu menyapa Ishani sebelum melakukan pemeriksaan.
“Kalau ibu capek, bilang ya,” ucap Bu Rina di suatu pagi. “Nanti kita bisa atur ulang jadwalnya.”
Ishani mengangguk.
Langit biasanya tidak berada jauh dari situ. Kadang di dapur memasak, kadang di ruang tengah memeriksa laporan yang dikirimkan Bimo. Tidak ikut campur, tapi siap jika dipanggil.
Hari akan dimulai dengan sarapan pagi. Tanpa diminta, Langit dengan sigap menyiapkan semuanya. Saat Bu Rina memberikan obat dan vitamin untuk Ishani, Langit muncul dengan membawa air di gelas.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan tensi dan detak jantung bayi. Langit akan lewat depan pintu, menggumamkan angka-angka yang disebutkan Bu Rina.
Saat malam tiba, Bu Rina melihat Langit mengawasi kamar Ishani dengan tajam. Bahunya menegang, seolah siap jika ada perubahan mendadak.
Siang ini, Bu Rina melihat Langit terus berdiri di depan pintu kamar.
Setelah melakukan pemeriksaan, ia menutup buku catatan. “Ibu Ishani boleh istirahat, tidur saja.”
Ishani mengangguk.
Bu Rina memberi isyarat kecil pada Langit, memintanya keluar.
Mereka bergeser ke ruang tengah, menjaga suara tetap rendah.
“Ada apa? Ada yang salah?” tanya Langit sedikit panik.
“Tidak,” jawab Bu Rina cepat. “Justru kondisinya baik-baik saja.”
Langit menarik napas lega, terlalu cepat terlalu dalam.
Bu Rina melanjutkan, “Saya lihat Pak Langit terlalu tegang. Bapak merespon setiap gerakan Bu Ishani.”
“Itu tugas saya,” jawab Langit Refleks.
Bu Rina berbicara dengan nada hati-hati. “Iya betul. Tapi ketegangan bapak itu bisa terasa oleh pasien.”
Langit terdiam.
“Bu Ishani butuh rasa aman,” lanjut Bu Rina pelan. “Bukan diawasi.”
Kata-kata itu tidak tajam, tapi cukup membuat Langit menunduk, menatap lantai. “Tapi kalau saya lengah sedikit saja…”
“Bukan lengah,” Bu Rina menyela lembut. “Bernapas.”
Langit terdiam lagi.
“Pak Langit boleh tidak selalu siaga dalam jarak satu meter. Percaya pada saya, percaya pada Bu Ishani.”
Langit mengangguk. "Saya coba."
*********”
Keesokan harinya, Ishani bangun lebih pagi dari biasanya.
Rumah masih sunyi. Langit masih tertidur di sofa.
Ishani berdiri. Berjalan ke arah dapur. Ia ingin membuat teh manis hangat sendiri. Gerakannya pelan, hati-hati.
Tapi ketika air mendidih, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, perutnya mulai mengeras, napasnya tersenggal.
“Sedikit lagi,” lirihnya.
Tapi rasa sakit seperti ditusuk menyerang perutnya. Pandangannya mulai mengabur.
Prang
Ishani menjatuhkan cangkir yang digenggamnya, reflek memegang perutnya.
Langit terlonjak bangun mendengar suara kaca pecah.
“Shani,” teriaknya. Ia mengedarkan pandangan, melihat Ishani di dapur tengah memeluk perutnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Tangannya segera menangkap Ishani yang hampir terjatuh. Dipapahnya Ishani ke kursi.
Napas Ishani masih patah-patah.
“Ada yang sakit?”
Ishani mengangguk. “Bayi…”
Langit segera menempelkan tangannya di perut Ishani. Keras. “Hai jagoan, tenang dulu,” ucapnya.
Bayi bereaksi dengan berputar, lalu menendang kuat.
Ishani meremas lengan baju Langit.
“Napas Shani, jangan panik.”
Padahal Ishani mendengar suara Langit juga panik.
Bu Rina datang beberapa menit kemudian. Ia meminta Ishani untuk berbaring.
Tanpa bertanya, Langit segera menggendong Ishani ke dalam kamar. Kali ini, Ishani tidak protes. Ia merebahkan kepalanya di bahu Langit.
Bu Rina segera memeriksa Ishani, profesional. “Bu Ishani,” panggilnya lembut tapi tegas. “Ini tandanya ibu kelelahan, memaksakan diri.”
“Aku ingin melakukan sesuatu sendiri,” Ishani menunduk. “Aku capek selalu dibantu.”
“Kenapa kamu egois?” kali ini Langit yang berbicara di ujung ranjang. Matanya berkilat marah.
“Aku tidak egois, aku cuma nggak mau bergantung terus.”
“Nggak mau bergantung sama siapa? Aku? Bu Rina?” suara Langit meninggi.
Ishani terkejut dengan suaranya. “Kak, a—”
“Itu bahaya,” potong Langit. “Kamu hampir jatuh. Hampir kenapa-kenapa.”
“Aku cuma ingin bikin teh,” Ishani membela diri, pelan.
“Kamu hamil dengan resiko tinggi!” suara Langit pecah sebelum ia bisa menahannya. “Ini bukan soal bergantung atau tidak. Ini soal kamu dan anak Biru.”
“Aku capek merasa nggak berguna,” ucap Ishani lirih, matanya berkaca-kaca. “Aku capek cuma jadi orang yang ditidurkan, disuapi, dijaga. Aku masih bisa berdiri, Kak. Aku masih bisa jadi… diriku sendiri.”
Langit mengusap wajahnya, kasar. Suaranya menurun tapi ketegangannya masih terasa. “Aku sudah kehilangan Biru. Aku tidak bisa kehilangan kalian juga. Waktu Biru bilang semuanya akan baik-baik saja… aku percaya. Dan besoknya dia sudah nggak ada.”
Kalimat itu membuat Ishani menatap Langit. “Kak Langit….”
Langit berdiri, meninggalkan Ishani dan Bu Rina dalam keheningan.
Sorenya,
Suasana masih terasa kaku.
Ishani duduk di tepi ranjang, merapikan bantal. Langit yang baru turun dari lantai dua, masuk ke dalam kamar. Ia mengambil bantal dari tangan Ishani.
“Aku bisa sendiri,” tolak Ishani, cepat. Ia menarik bantal dari tangan Langit.
Langit tidak melepaskan. “Aku cuma jaga-jaga,” menarik bantal.
“Aku bukan anak kecil,” Ishani menarik kembali.
Bu Rina yang dari tadi mengamati, geleng-geleng kepala.
Bu Rina mengambil bantal dari tangan keduanya. Menaruh di sandaran ranjang, “Bu Ishani kelihatannya ingin lebih mandiri hari ini.”
Ishani menghela napas. “Aku takut kalau aku terus-terusan dijaga… aku bisa lupa caranya berdiri sendiri.”
Bu Rina menoleh ke arah Langit. “Dan Pak Langit kelihatan sangat waspada.”
Langit memijit tengkuknya. “Aku hanya tidak mau lengah.”
“Kalian benar,” sahut Bu Rina, tersenyum. “Tapi kalian juga berlebihan.”
Ucapan itu membuat kedunya terdiam.
“Bu Ishani,” lanjut Bu Rina. “Kemandirian memang penting. Tapi dalam kondisi ini, kemandirian bukan berarti melakukan semuanya sendiri.”
Bu Rina mengeluarkan buku catatannya.
“Saya sudah membuat batas aman.”
Ishani dan Langit menatap Bu Rina, Seperti anak yang sedang didamaikan ibunya.
“Ini poin-poin, hal-hal yang bisa dilakukan Bu Ishani sendiri, hal-hal yang harus ditemani, dan tanda-tanda Bu Ishani harus segera meminta bantuan.”
Bu Ishani memberikan bukunya pada Langit. Setelah itu, memberikan pada Ishani.
“Bagaimana? Deal?” Bu Rina mengacungkan jempol.
“Deal!” ucap Langit dan Ishani berbarengan.
Suasana sedikit mencair.
Namun belum sempat Bu Rina menutup bukunya, ponsel Ishani berbunyi.
Nama yang muncul membuat senyumnya memudar.
Bude Ratna. Kakak dari almarhum ibunya.
Ia menoleh ke arah Langit sekilas sebelum menerima panggilan itu.
📞 “Halo, Bude…”
Suara di seberang terdengar cukup keras sampai Langit bisa menangkap potongan kalimatnya.
📞 “Kamu benar-benar pindah ke rumah laki-laki itu?”
Ishani menelan ludah.
📞 “Bude, ini bukan seperti yang Bude pikir—”
📞 “Orang-orang sudah mulai bicara, Shani. Kamu masih dalam masa iddah. Kamu tinggal serumah dengan kakaknya almarhum suamimu. Apa kata keluarga?”
Langit berdiri perlahan. Rahangnya mengeras.
Bu Rina pura-pura sibuk menulis, tapi jelas mendengar.
📞 “Dia cuma menjaga aku, Bude.”
📞 “Menjaga? Atau menggantikan?”
Ishani terdiam.
📞 “Pulang saja. Kembali ke Pakde Handoko. Tidak baik perempuan hamil besar tinggal berdua dengan laki-laki yang bukan mahramnya.”
Langit menutup laptopnya sedikit lebih keras dari seharusnya.
📞 “Bude akan bicara dengan Pakde Handoko.”
Telepon terputus.
Sunyi.
Ishani menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
Langit berbicara duluan. “Siapa?”
“Bude Ratna.”
“Apa maunya?”
Ishani menarik napas. “Dia bilang… orang-orang mulai bicara.”
Langit tersenyum tipis. Tapi bukan senyum hangat. “Biar saja.”
“Kak, ini bukan cuma soal kita.”
Langit menatap Ishani lurus. “Sejak kapan hidupmu diatur oleh omongan orang?”
Ishani tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar
Konflik mereka bukan hanya soal mandiri dan protektif. Tapi juga soal dunia luar yang tidak akan tinggal diam.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!