Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Suasana kembali bergerak perlahan.
Percakapan bisnis muncul lagi. Tawa terdengar, tapi terasa tipis.
Nick berdiri di tengah ruangan seperti pusat gravitasi.
Orang-orang mendekat padanya satu per satu.
Direktur. Sepupu. Bahkan beberapa yang tadi berani
berbisik kini mendadak sopan.
Kekuasaan memang bekerja cepat.
Tessa berdiri sedikit di samping.
Tidak ada lagi yang menatapnya meremehkan.
Tapi ada sesuatu yang lebih berat dari tatapan merendahkan.
Jarak.
Nick terlihat berbeda sekarang.
Bukan hanya suami yang memarahinya di balkon.
Tapi pria yang tanpa ragu menggeser struktur kekuasaan hanya untuk menegaskan posisi.
Beberapa menit kemudian, Nick akhirnya kembali ke sisinya.
Wajahnya sudah kembali datar. Tegas. Stabil.
“Sudah selesai,” katanya singkat.
Selesai.
Seolah barusan bukan pergeseran saham bernilai jutaan dolar.
Tessa menatapnya beberapa detik.
“Kau sudah merencanakan itu?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak ayah mulai menguji batas.”
Jawaban itu cepat. Tanpa ragu.
Jadi ini bukan impuls karena makan malam.
Ini perang yang sudah disiapkan.
Tessa merasakan sesuatu mengendap di dadanya.
“Aku baru tahu.”
Nick menatapnya.
Tatapan itu bukan marah.
Tapi tetap keras.
“Tidak semua hal perlu kau tahu.”
Kalimat itu tidak dimaksudkan menyakiti.
Tapi tetap saja melukai.
“Aku istrimu.”
“Dan kau aman bersamaku.”
Bukan jawaban atas pertanyaannya.
Itu pernyataan posisi.
Tessa menelan ludah pelan,
“Aman… atau dikendalikan?”
Pertanyaan itu keluar pelan, nyaris seperti bisikan.
Nick terdiam satu detik.
Lalu rahangnya mengeras.
“Jangan mulai lagi, tessa,”
Nada suaranya rendah, tapi jelas peringatan.
“Aku melakukan ini untuk memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu.”
“Tapi aku bahkan tidak tahu kau sedang bertarung dengan ayahmu sendiri,”
“Karena itu tugasku, kau tidak perlu ikut campur," Satu kalimat itu jatuh berat.
Tessa menyadari sesuatu yang selama ini samar.
Nick tidak melihat pernikahan sebagai kemitraan setara dalam perang.
Ia melihatnya sebagai wilayah yang harus ia lindungi dan atur.
Ia tidak ingin Tessa ikut bertarung.
Ia ingin Tessa berada di zona aman yang ia tentukan.
Tessa mengalihkan pandangan.
Lampu kristal memantul di lantai marmer.
Semua terlihat megah.
Kuat.
Tak tergoyahkan.
Seperti Nick.
“Tessa.” Nick menatap tessa dengan tegas,
“Lihat aku.”
Tessa menoleh.
Tatapan Nick lebih tenang sekarang.
“Aku tidak akan kalah.”
Bukan tentang proyek, bukan tentang ayahnya, tapi tentang hidup, tentang posisinya.
Tentang siapa yang memegang kendali.
Dan di momen itu, Tessa sadar,
Ia menikah dengan pria yang tidak pernah setengah-setengah.
Tessa berdiri di sampingnya.
Orang-orang kembali tersenyum pada mereka.
Malam terlihat sempurna dari luar.
Tapi di dalam dirinya
Ada pertanyaan baru yang tumbuh.
Apakah ia siap hidup dalam dunia yang selalu terasa seperti medan perang?
Dan apakah ia cukup kuat untuk berdiri di samping pria yang tidak pernah menyerahkan kendali?
Beberapa menit kemudian, Nick selesai berbicara dan akhirnya menoleh padanya.
“Kita pulang.”
Tessa mengangguk pelan.
Sepanjang perjalanan ke mobil, ia berjalan di sampingnya dalam diam.
Begitu pintu mobil tertutup dan dunia luar menghilang, suasana berubah sunyi.
Lampu kota bergerak lewat jendela.
Nick membuka kancing jasnya.
Napasnya berat, tapi terkendali.
Tessa menatap keluar.
Diamnya bukan marah.
Bukan juga protes.
Hanya… menarik diri.
Nick menyadarinya.
“Apa lagi sekarang?”
Nada suaranya tidak setajam di balkon, tapi masih keras.
Tessa menoleh pelan.
“Tidak apa-apa.” jawaban tessa terdengar klasik.
Dan itu justru membuat Nick menghela napas kasar.
“Jangan bilang tidak apa-apa kalau jelas ada.”
Tessa hanya tersenyum kecil.
Senyum yang terlalu tipis.
“Aku hanya tidak terbiasa melihatmu seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti… siap menghancurkan siapa pun, bahkan keluargamu sendiri,” kalimat itu jujur.
Nick terdiam.
Tatapannya melembut sedikit, tapi hanya sedikit.
“Itu perlu, kau tidak tahu keluarga macam apa yang baru saja kau temui,”
“Aku tahu.” suara Tessa tetap halus.
“Aku hanya… takut.”
Bukan pada ayahnya, bukan pada keluarga.
Tapi pada sisi dirinya yang baru ia lihat.
Nick menoleh penuh sekarang.
“Takut padaku?”
Pertanyaan itu tidak marah, lebih seperti memastikan.
Tessa tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup jawaban.
Rahang Nick mengeras lagi, bukan karena tersinggung.
Tapi karena ia tidak suka reaksi itu.
“Aku tidak akan menyakitimu.”
“Aku tahu.” jawab tessa pelan,
Mobil berhenti di depan rumah.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan lagi.
Nick turun lebih dulu.
Ia membuka pintu untuk Tessa, tapi tanpa kata.
Bukan romantis, hanya kebiasaan.
Begitu masuk kamar, pintu tertutup dengan bunyi cukup keras.
Tessa melepas sepatu pelan.
Nick melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa tanpa rapi.
“Aku tidak suka ekspresi itu.”
Tessa menoleh heran,
“Ekspresi apa?”
“Yang kau pasang dari tadi.”
Suaranya tidak berteriak.
Tapi keras. Tegas. Tidak sabar.
“Aku tidak memasang apa-apa.”
Nick tertawa pendek. Sinis.
“Jangan bohong di depanku.”
Ia berjalan mendekat.
Langkahnya tegas.
“Kau menarik diri. Kau diam. Kau menatapku seperti aku orang asing.”
Tessa menelan ludah kasar,
“Aku hanya lelah, nick,”
“Tidak.” Satu kata terdengar lebih tajam.
“Jangan alihkan pembicaraan,"
Ia berdiri tepat di depannya sekarang.
“Kalau ada yang mau kau katakan, katakan. Jangan pakai diam untuk menghindariku.”
“Aku tidak menghindarimu.”
“Lalu apa?” nada suara nick naik setengah tingkat.
Tessa menghela napas pelan berusaha tetap lembut.
“Aku hanya merasa… caramu tadi terlalu keras.”
Hening sepersekian detik.
Lalu...
“Menurutmu aku harus bagaimana?” suara Nick meninggi.
“Aku didesak di depan keluargaku. Diuji. Dipancing. Dan kau pilih momen itu untuk membantahku.”
“Aku tidak bermaksud membantah...”
“Diam!” Bentakan kali ini jelas.
Udara kamar terasa menegang.
“Aku tidak suka dibantah. Apalagi saat aku sudah bilang diam.”
Tessa terdiam.
Napasnya sedikit gemetar.
Nick melihatnya. Dan justru semakin keras.
“Jangan pakai wajah itu.”
“Wajah apa lagi?” tessa menghela napas, terlihat lelah,
“Yang membuatku terlihat seperti monster.” Kalimat itu keluar kasar.
Tessa menggeleng pelan.
“Aku tidak pernah bilang kau monster.”
“Tapi kau takut.” nada suara nick terdengar menuduh.
Tessa tidak menjawab.
Dan diamnya seperti pengakuan.
Nick mendekat lagi.
“Dengar baik-baik.”
Suaranya rendah sekarang.
Tapi lebih berbahaya.
“Aku keras karena dunia di luar lebih keras. Kalau aku lunak, kita hancur.”
Ia menunjuk ke arah luar kamar.
“Ayahku tidak akan berhenti. Dan aku tidak akan kalah.”
Tessa berbisik pelan,
“Aku tidak pernah pernah mengira kau kalah…”
“Lalu jangan pertanyakan caraku menang.” Tegas. Final.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ponsel Nick bergetar di atas meja.
Ia melirik layar.
Nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.
Ayahnya.
Nick mengangkat.
“Ya.”
Beberapa detik ia hanya mendengar.
Wajahnya datar.
Lalu...
“Jangan libatkan dia.”
Suara Nick berubah lebih dingin.
Lebih keras.
Tessa menatapnya penasaran,
Di seberang sana, suara ayahnya jelas cukup panjang.
Nick memotong.
“Kalau ada yang ingin ayah uji, uji aku. Bukan istriku.”
Hening.
Lalu kalimat yang membuat dada Tessa terasa dingin.
“Undangan makan siang khusus untuknya? Tanpa aku?”
Nick tertawa pendek.
Tidak senang.
“Ayah mulai bermain kotor.”
Lalu ia menutup telepon tanpa pamit.
Kamar kembali sunyi.
Tessa berdiri kaku.
“Ayahmu… menelepon?”
“Iya.”
Nick meletakkan ponselnya agak keras,
“Dia ingin makan siang denganmu. Sendiri.”
Hening.
Tessa berkedip pelan.
“Mungkin dia hanya ingin mengenalku.”
Nick langsung menatap tajam.
“Jangan naif.” nada suaranya keras lagi.
“Itu bukan undangan. Itu strategi.”
Tessa menggenggam jemarinya sendiri.
“Bukankah kalau aku menolak justru akan terkesan tidak sopan.”
“Aku bilang tidak, berarti tidak.” kalimat itu tegas. Tanpa ruang negosiasi.
“Tapi dia ayahmu.”
“Dan kau istriku.” nada bicaranya lebih keras.
“Aku tidak akan membiarkan dia menekanmu untuk menekanku.”
Hening menggantung di antara mereka.
Tessa menunduk sedikit, bukan melawan, hanya bingung dengan situasi sekarang,
Nick melihat ekspresi itu.
Dan untuk sesaat, hanya sesaat, emosinya seperti berbenturan dengan sesuatu yang lebih pelan.
Tapi ia tetap keras.
“Jangan temui ayahku dengan alasan apapun, tanpa aku.”
Itu perintah bukan saran.
Dan di sinilah permainan baru dimulai.
Ayah Nick tidak menyerang lewat saham lagi.
Ia menyerang lewat Tessa.
Dan Nick menyadari itu.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna