Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Deru mesin mobil balap di sirkuit privat Chicago itu perlahan mereda, menyisakan bau ban terbakar yang menyengat. Zion Mateo Lopez keluar dari kokpit mobilnya, membuka helm dengan wajah yang basah oleh keringat. Di sekelilingnya, teman-teman satu circle-nya sejak SMA, termasuk Julian yang dulu memulai taruhan sialan itu, sedang berkumpul sambil menyesap minuman energi.
"Zion! Malam ini ada pesta besar di The Underground. Banyak model baru yang datang, dan aku dengar ada satu wanita yang tipenya persis seleramu," seru Julian sambil menepuk bahu Zion. "Ayo, lupakan sejenak masalah beton dan baja di kantor."
Zion menggeleng pelan, ia menyeka keringatnya dengan handuk. "Tidak. Aku ingin istirahat di rumah saja."
"Sejak kapan Zion si Raja Malam menolak pesta?" sahut salah satu temannya yang lain. Secara tidak sengaja, ia melirik ponsel Zion yang tergeletak di atas kap mobil. Layarnya menyala karena sebuah notifikasi.
Seketika, suasana di sirkuit itu berubah menjadi sunyi. Mereka semua melihat layar itu, foto seorang wanita dengan perut buncit yang sedang tersenyum lembut di sebuah taman. Cassie.
"Kau... kau masih menyimpannya, Zion?" Julian bertanya dengan nada yang tidak lagi mengejek, melainkan penuh rasa bersalah. "Zion, dengar. Kami semua tahu apa yang terjadi 10 tahun lalu adalah kesalahan terbesar kita bersama. Kami juga menyesal telah memicu taruhan bodoh itu."
Julian menarik napas panjang. "Tapi kau harus realistis. Dia sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Dia punya kebahagiaan, punya keluarga kecil, dan suami yang menjaganya. Menyimpan foto dia saat hamil hanya akan membuatmu semakin gila."
Zion tidak menjawab. Ia meraih ponselnya, menatap foto itu sejenak sebelum memasukkannya ke saku. "Aku tahu dia sudah bahagia. Tapi biarkan aku menyimpan ini sebagai pengingat betapa brengseknya aku."
Tiba-tiba, ponsel Zion bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari kekasih barunya yang sekarang—seorang model cantik yang ia kencani hanya untuk mengisi kekosongan.
"Halo?" suara Zion terdengar dingin.
"Zion Sayang! Aku sedang di Water Tower Place, tanganku penuh dengan belanjaan dan kakiku sakit sekali. Bisa jemput aku sekarang? Aku ingin makan malam di tempat romantis," rengek wanita di ujung telepon.
Zion memutar bola matanya, ekspresinya datar tanpa ada secercah kasih sayang. "Apa kau pikir aku ini supir pribadimu? Aku ini kekasihmu, bukan pelayan."
"Tapi Zion..."
"Berhenti bersikap manja. Naiklah taksi atau hubungi asisten mu. Aku sibuk," Zion langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Teman-temannya tertawa melihat tingkah Zion. Mereka sudah biasa. Bagi Zion, kekasih barunya hanyalah pajangan, sebuah cara agar ponselnya tidak sepi dan agar Mommy-nya berhenti menjodoh-jodohkan nya. Tidak ada perasaan, tidak ada komitmen. Hatinya tetap tertinggal di masa lalu, di sebuah apartemen kecil bersama gadis yang ia panggil Cariad.
"Kasihan sekali gadis itu," tawa Julian. "Dia pikir dia bisa menggantikan posisi Gadis Es itu di hatimu."
Zion hanya menyeringai sinis. "Tidak akan ada yang bisa."
Ia kemudian berjalan menuju mobil hariannya, meninggalkan teman-temannya yang masih merasa bersalah. Zion ingin segera pulang, menutup diri di kamar kedap suaranya, dan mungkin kembali menatap foto USG yang dikirim Cassie, tanpa tahu bahwa saat ini, mahakarya dari foto USG itu sedang berada di sebuah taksi, menuju ke arahnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.