NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB

Amane tersenyum.

Senyum yang sangat manis—bahkan membuat Kai sedikit salah tingkah.

"Jangan terlalu tegang begitu."

"Anggap saja kami ini bonusnya."

Ia melanjutkan dengan nada santai.

"Selama perjalanan, kami akan mengikuti semua perintah Anda."

Ucapan itu terdengar seperti Amane mempercayai Kai.

Padahal sebelumnya di guild ia jelas mengatakan tidak percaya pada Kai.

Kai jadi bingung.

"Ini sebenarnya aku dipercaya… atau sedang diuji?"

Kai berdehem sekali, lalu mengumpulkan semua anggota.

"Baiklah pertama-tama soal formasi."

Semua orang langsung memperhatikannya.

Kai menunjuk kereta kuda.

"Sebagai pemimpin, nona putri harus berada di tengah."

"Tiga orang akan berjaga di sekitar kereta."

"Aku sendiri akan bertindak sebagai pemimpin lapangan sekaligus petarung."

Ia menoleh pada dua orang.

"Aku meminta bantuan dari Nia-san dan Marina-san."

Nia tersenyum lebar.

"Siap!"

Marina hanya mengangguk kecil seperti biasa wajahnya tetap datar.

Kai lalu menoleh pada gadis berambut ungu yang berdiri agak jauh.

"Violet-san tolong maju duluan untuk mengintai."

Violet mengangguk.

Ia mengangkat papan kecil lalu menulis sesuatu.

"Oke."

Violet memang punya kebiasaan unik sekaligus aneh.

Ia berkomunikasi lewat tulisan karena sangat tidak suka berbicara dengan laki-laki.

Kai kemudian menoleh ke belakang.

"Cecil-san tolong jaga bagian belakang."

Cecil langsung menggeleng keras.

"Aku tidak mau pisah dari master!"

Kai langsung menjawab datar.

"Nyawa mastermu justru bergantung padamu loh."

Cecil langsung terdiam.

Lalu ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Kalau begitu…aku melindungi nyawa master , keren!"

Ia lalu berjalan mendekati Amane.

"Amane-san tolong jadi kusir dan lindungi nona putri kalau ada keadaan darurat."

Amane langsung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Serahkan saja padaku!"

Setelah itu Kai melanjutkan penjelasan.

"Selanjutnya soal rute."

Ia menggambar jalur sederhana di tanah.

"Jalur gunung timur memang yang paling pendek, tapi monsternya juga kuat."

Ia melanjutkan dengan serius.

"Ditambah hujan deras kemarin ada kemungkinan tanah longsor."

Kai menunjuk jalur lain.

"Karena itu demi keselamatan klien…kita akan mengambil rute dataran rendah di barat."

"Di sana lebih mudah menghadapi monster dan bandit."

Amane mengangguk pelan.

"Hmm rencanamu tidak buruk juga."

Sementara itu Febriana terlihat sangat serius.

Ia bahkan mencatat semua penjelasan Kai dengan tekun.

Melihat itu Kai tiba-tiba teringat masa sekolahnya dulu.

"Rasanya seperti melihat murid rajin di kelas…"

Kai menepuk tangannya.

"Baik kalau begitu mari kita berangkat."

Kai dan Marina berjalan berdampingan di depan kereta kuda.

Marina tiba-tiba membuka suara.

"Kai kamu hebat juga ya."

Kai menoleh.

"Apanya?"

"Kamu memberi instruksi dan menjelaskan semuanya dengan sangat rapi."

Kai mengangkat bahu.

"Bukankah itu hal yang biasa?"

Marina menatapnya sebentar.

"Hmm…sulit dipercaya kamu ini petualang solo."

"Kalau begini, kamu bisa naik rank dengan mudah."

Kai tersenyum kecil.

"Ternyata latihan komunikasi dari halusinasi manga yang dulu ku baca… benar-benar berguna."

Namun wajah Marina tiba-tiba sedikit murung.

"Terus…maaf ya."

Kai terkejut.

"Eh?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Kamu ngomong apa?"

Marina menjawab pelan.

"Gara-gara aku sering bareng kamu…"

"Aku dengar reputasi mu di guild jadi buruk."

Kai langsung menggeleng.

"Soal itu?"

"Aku tidak pernah menyalahkan mu."

Ia bahkan tertawa kecil.

"Justru aku lebih khawatir kalau aku yang bikin reputasi mu jadi jelek."

Tiba-tiba—

Seseorang berlari dari belakang.

Cecil langsung memeluk Marina dengan panik.

"Dasar mesum!"

"Jangan coba-coba merayu master!"

Ia menunjuk Kai dengan wajah merah.

Kai yang melihat Cecil memeluk Marina dengan erat hanya bisa menjawab dengan nada datar.

“Aku tidak merayunya. Dan jangan abaikan penjagaan di belakang, loh.”

Cecil langsung menimpali dengan santai.

“Aku mengawasi dengan magic detection, jadi aman-aman aja.”

Kai mengerutkan kening.

“Magic detection?”

Cecil melepaskan pelukannya dari Marina, lalu berjalan mendekat ke Kai dengan senyum mengejek.

“Kamu bahkan tidak tahu apa itu magic detection?”

Kai mengangkat bahu dengan canggung.

“Maaf, aku memang tidak terlalu paham soal sihir-sihiran.”

Marina lalu menjelaskan dengan ringan.

“Sederhananya itu semacam deteksi musuh yang memakai mana. Tekniknya cukup simpel… mungkin Kai juga bisa mempelajarinya.”

Kemudian ia menatap Kai dengan mata berbentuk segitiga terbalik—tanda kalau ia sedang bersemangat.

“Nanti aku ajarin, deh.”

Cecil yang mendengar itu langsung menghela napas panjang dengan dramatis.

“Hahhh… sialan.”

“Aku malah memberinya kesempatan untuk dekat dengan Master.”

Nada suaranya terdengar kesal, tapi ekspresinya justru seperti anak kecil yang sedang cemburu.

Anak ini benar-benar terlihat menikmati hidupnya.

Tiba-tiba seseorang muncul di belakang Cecil itu Nia.

Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik kerah belakang Cecil.

“Iya, iya… sudah sana kembali ke posisimu.”

Dengan senyum lebar, Nia melempar tubuh Cecil ke belakang seolah-olah tubuh itu tidak ada beratnya sama sekali.

“Sialan kau, Nia-san!” teriak Cecil dari kejauhan.

Kai hanya bisa berkedip kaget.

“Wah… kekuatan yang hebat, ya,” ucapnya.

Nia tertawa ringan.

“Makasih.”

Namun beberapa detik kemudian, matanya berubah sedikit lebih serius.

“Tapi kamu juga… kelihatannya cukup kuat, kan?”

Pernyataan itu membuat Kai langsung tegang.

“Eh…?”

Nia kembali tertawa, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang lucu.

“Soalnya intuisiku bilang begitu.”

Kai menggaruk pipinya sambil tertawa canggung.

“Ha… haha… jadi cuma itu.”

“Sayangnya aku ini cuma pendekar pedang Rank D, loh.”

Nia mengibaskan tangannya.

“Tidak usah merendah begitu! Intuisiku selalu tepat, tahu!”

Ia lalu melangkah makin dekat.

Tanpa peringatan, Nia menarik Kai ke arahnya hingga wajah Kai menempel di dadanya.

“Ah, sudahlah. Pokoknya aku suka cowok kuat,” katanya dengan nada santai.

“Kalau begitu bagaimana kalau malam ini kita berduaan aja?”

Kai langsung membeku.

“Akan ku buat kau bersenang-senang sampai puas, loh.”

Wajah Kai yang masih terjebak di pelukan itu langsung memerah.

“Hah?! Berduaan aja… mau ngapain?!”

Belum sempat Nia menjawab, sebuah suara memanggil dari belakang.

“Nia!”

Marina berdiri dengan tangan di pinggang.

Nia melepaskan pelukannya dan menoleh.

“Ada apa sih, Marina?”

Marina menatapnya tajam.

“Jangan rebut Kai. Aku sudah punya janji duluan untuk mengajarinya sihir.”

Lalu ia melirik Kai dengan tatapan sinis.

“Kai juga sama saja. Awas jangan lupakan janji kita.”

Kai langsung panik.

“Eh, tunggu! Aku kan tidak melakukan apa-apa!”

Ia mengangkat kedua tangannya defensif.

“Lagipula tidak perlu sampai semarah itu, kan?”

Marina membalikkan badan.

Walaupun ia berkata santai, wajahnya jelas sedang cemberut.

“Tidak apa-apa kok,” katanya.

“Aku tidak marah.”

“….”

Kai hanya bisa terdiam.

Sepertinya perjalanan ini… akan penuh dengan godaan.

( Untuk kedepannya hanya akan mengupload 1 bab setiap 2 hari Jadi....)

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!