melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pintu yang sedikit terbuka
Malam di apartemen terasa tenang.
Hanya suara kendaraan yang sesekali terdengar dari jalan raya di bawah gedung. Lampu kota menyala seperti lautan cahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Alya masih berdiri di dekat jendela.
Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai sering memandang kota seperti ini.
Dulu, ketika ia masih menjadi Melda, hidupnya jauh lebih sederhana. Pagi bekerja di kedai kopi milik kakaknya, sore membantu membersihkan tempat, dan malam berbicara santai dengan Wulan.
Hidup mereka tidak mewah.
Namun terasa hangat.
Sekarang semuanya berbeda.
Ia tinggal di apartemen modern, bekerja di perusahaan investasi besar, dan setiap hari berhadapan dengan orang-orang yang dulu hanya ia lihat di berita.
Kadang perubahan itu terasa seperti mimpi.
“Alya.”
Suara Raka memecah pikirannya.
Alya menoleh.
Raka berdiri di dapur kecil sambil membuat dua cangkir teh hangat.
Ia membawa satu cangkir untuk Alya.
“Jangan terlalu lama berpikir,” katanya.
Alya menerima cangkir itu.
“Kadang aku merasa semuanya berjalan terlalu cepat.”
Raka bersandar di meja dapur.
“Cepat?”
Alya mengangguk pelan.
“Beberapa bulan lalu aku masih hidup sebagai Melda.”
Ia memandang pantulan lampu kota di jendela.
“Sekarang aku menjadi orang lain.”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya memperhatikan Alya dengan tenang.
Kemudian ia berkata pelan, “Bukan menjadi orang lain.”
Alya menoleh.
Raka melanjutkan,
“Kamu masih orang yang sama. Hanya saja dunia yang kamu masuki sekarang berbeda.”
Alya memikirkan kata-kata itu.
Mungkin Raka benar.
Ia tidak benar-benar berubah.
Ia hanya sedang berjalan di jalur yang belum pernah ia lewati sebelumnya.
Keesokan paginya, kantor Aurora Capital terasa lebih sibuk dari biasanya.
Beberapa tim sedang mempersiapkan presentasi proyek baru.
Suara printer, telepon, dan diskusi kecil terdengar hampir di setiap sudut ruangan.
Alya duduk di mejanya sambil memeriksa laporan keuangan sebuah perusahaan energi.
Matanya bergerak cepat membaca angka demi angka.
Ia membuat beberapa catatan kecil di pinggir dokumen.
Dina yang duduk di sebelahnya menatap layar komputer dengan wajah sedikit lelah.
“Aku tidak suka laporan seperti ini,” keluhnya.
Alya tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Karena terlalu banyak angka.”
Alya tertawa pelan.
“Itu memang pekerjaan kita.”
Dina bersandar di kursinya.
“Kadang aku iri dengan bagian pemasaran. Mereka hanya perlu berbicara dan presentasi.”
Alya menutup dokumen di tangannya.
“Setiap pekerjaan punya kesulitannya sendiri.”
Dina menatapnya beberapa detik.
“Kamu benar-benar aneh.”
“Kenapa?”
“Karena kamu terlihat menikmati semua ini.”
Alya tidak menyangkal.
Ia memang menikmati pekerjaannya.
Bukan karena angka atau laporan.
Tetapi karena pekerjaan ini adalah jalan yang membawanya semakin dekat ke dunia yang ingin ia pahami.
Dunia keluarga Kusuma.
Sekitar pukul sebelas siang, Daniel keluar dari ruangannya.
Ia melihat ke arah meja Alya.
“Alya, ikut saya sebentar.”
Alya berdiri.
“Baik, Pak.”
Beberapa karyawan lain melirik ke arah mereka.
Dina langsung berbisik ketika Alya lewat.
“Lihat? Kamu dipanggil lagi.”
Alya hanya tersenyum kecil sebelum masuk ke ruang Daniel.
Daniel menutup pintu setelah Alya masuk.
“Aku punya sesuatu yang ingin kamu lihat,” katanya.
Ia menyerahkan sebuah dokumen tebal.
Alya membuka dokumen itu.
Matanya langsung membaca judul di halaman pertama.
Proposal kerja sama energi – Kusuma Group.
Alya menahan ekspresi wajahnya.
Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Daniel duduk di kursinya.
“Agung Kusuma mengirimkan proposal ini pagi tadi.”
Alya membaca beberapa halaman dengan cepat.
“Perusahaan mereka ingin bekerja sama dengan Aurora Capital?” tanyanya.
Daniel mengangguk.
“Mereka sedang mencari partner investasi untuk proyek energi baru.”
Alya menutup dokumen itu perlahan.
Daniel menatapnya dengan serius.
“Aku ingin kamu menganalisis proposal ini.”
Alya sedikit terkejut.
“Saya?”
Daniel tersenyum tipis.
“Kemarin kamu memberikan analisis yang cukup tajam tentang sektor energi.”
Ia menyilangkan tangannya di meja.
“Sekarang aku ingin melihat bagaimana kamu menganalisis proyek langsung dari Kusuma Group.”
Alya mengangguk pelan.
“Baik.”
Daniel menambahkan,
“Tidak perlu terburu-buru. Tapi aku ingin laporan awal dalam dua hari.”
Alya membawa dokumen itu keluar dari ruangan.
Ketika ia kembali ke mejanya, Dina langsung bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kenapa lagi?”
Alya meletakkan dokumen itu di meja.
“Proyek baru.”
Dina mencoba mengintip halaman depan.
Namun ketika melihat nama perusahaan di sana, matanya langsung membesar.
“Kusuma Group?”
Alya mengangguk.
Dina menutup mulutnya sendiri.
“Kenapa kamu yang menganalisis ini?”
Alya tersenyum tipis.
“Mungkin karena aku analis baru.”
Dina menggeleng.
“Tidak. Ini bukan pekerjaan untuk analis baru.”
Alya tidak menjawab.
Namun di dalam hatinya ia tahu satu hal.
Pintu kecil menuju dunia Kusuma Group perlahan mulai terbuka.
Di sisi lain kota, di gedung tinggi milik Kusuma Group, Agung sedang berdiri di ruang rapat bersama beberapa manajer.
Presentasi proyek energi sedang berlangsung.
Salah satu manajer berkata,
“Jika Aurora Capital setuju berinvestasi, proyek ini bisa berjalan lebih cepat.”
Agung mengangguk pelan.
“Daniel cukup berpengalaman dalam proyek seperti ini.”
Manajer lain bertanya,
“Apakah Anda yakin mereka akan menerima kerja sama ini?”
Agung menjawab tenang,
“Jika analisis mereka menunjukkan potensi keuntungan, mereka pasti tertarik.”
Ia kemudian menutup laptopnya.
“Sekarang kita hanya menunggu hasil analisis mereka.”
Agung berdiri dan berjalan keluar dari ruang rapat.
Ketika ia berjalan melewati koridor kantor, pikirannya sempat mengingat kembali diskusi kecil di acara makan malam beberapa hari lalu.
Analis muda dari Aurora Capital itu.
Alya.
Ia mengingat cara wanita itu menjelaskan data dengan tenang.
Namun pikiran itu hanya lewat sebentar.
Bagi Agung, bisnis selalu lebih penting daripada orang yang terlibat di dalamnya.
Ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Tanpa mengetahui bahwa di kantor Aurora Capital, orang yang sedang menganalisis proposal perusahaannya adalah orang yang sama.
Sore hari, Alya masih duduk di mejanya membaca proposal Kusuma Group.
Semakin ia membaca, semakin jelas terlihat bahwa proyek itu memiliki potensi besar.
Namun juga memiliki risiko.
Ia menuliskan berbagai catatan di laptopnya.
Dina yang melihatnya masih bekerja berkata,
“Kamu belum pulang?”
Alya menggeleng.
“Masih membaca proposal ini.”
Dina menatap dokumen tebal di mejanya.
“Kamu benar-benar serius dengan pekerjaanmu.”
Alya tersenyum.
“Ini kesempatan yang bagus untuk belajar.”
Dina mengangguk pelan.
“Kalau begitu jangan pulang terlalu malam.”
Ketika kantor mulai sepi, Alya akhirnya menutup laptopnya.
Ia mengumpulkan dokumen-dokumen itu ke dalam tas.
Ketika keluar dari gedung kantor, udara malam terasa lebih segar.
Raka sudah menunggu di mobil seperti biasa.
Ia membuka jendela ketika melihat Alya datang.
“Kerja lembur?”
Alya masuk ke dalam mobil.
“Sedikit.”
Raka menyalakan mesin mobil.
“Proyek baru?”
Alya menyerahkan dokumen itu kepadanya.
Raka melihat halaman pertama.
“Kusuma Group.”
Ia tersenyum kecil.
“Jadi permainan kita benar-benar dimulai sekarang.”
Alya memandang lampu kota di depan mereka.
“Sepertinya begitu.”
Mobil mulai bergerak meninggalkan area kantor.
Lampu-lampu kota kembali melewati jendela seperti garis cahaya panjang.
Alya memandang ke luar dengan tenang.
Ia tidak tahu bagaimana perjalanan ini akan berakhir.
Namun satu hal terasa jelas sekarang.
Langkah-langkah kecil yang ia ambil mulai membawa dirinya semakin dekat dengan pusat dunia yang dulu menghancurkan hidupnya.
Dan kali ini…
Ia tidak datang sebagai Melda yang lemah.
Ia datang sebagai Alya.
Seseorang yang perlahan mulai membuka pintu menuju masa depan yang bahkan belum disadari oleh orang-orang di dalamnya.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.