Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: HARI PERTAMA TES
Matahari baru saja muncul di ufuk timur saat Yun-seo dan Yehwa tiba di gerbang Akademi Pedang Iblis Langit.
Suasana hari ini berbeda dari tiga hari lalu. Lapangan depan yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh setidaknya lima ratus calon murid. Mereka datang dari berbagai penjuru Murim—ada yang mengenakan seragam sekte, ada yang berpakaian sederhana seperti mereka, bahkan ada beberapa yang datang dengan tandu mewah ditemani puluhan pengawal.
Yun-seo menelan ludah. "Ini... lebih ramai dari yang kukira."
"Setiap tahun memang begini," kata Yehwa pelan. "Akademi ini hanya menerima seratus murid baru. Persaingannya ketat."
"Seratus dari lima ratus? Berarti satu lawan lima?"
"Lebih tepatnya satu lawan sepuluh. Karena setengah dari mereka sudah punya bekal ilmu dari sekte masing-masing." Yehwa menatap Yun-seo. "Kau siap?"
Yun-seo menarik napas dalam-dalam. "Siap atau nggak, ini jalan satu-satunya."
Mereka berjalan menuju lapangan utama. Seorang petugas memeriksa nomor pendaftaran mereka dan memberi tanda pengenal sementara—pita kuning yang diikat di lengan.
"Tes pertama dimulai satu jam lagi di Lapangan Naga," jelas petugas itu. "Ikuti pengumuman."
Mereka berjalan ke arah kerumunan. Di sana, Jo Cheol-soo sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Yun-seo-hyung!" sambutnya. "Aku dari tadi cari kalian. Gugup banget!"
Yun-seo menepuk pundaknya. "Tenang, kita hadapi bareng-bareng."
Cheol-soo mengangguk, tapi raut wajahnya tetap tegang. Matanya beralih ke Yehwa yang berdiri tenang di samping Yun-seo.
"Nyonya Hwang kelihatan tidak gugup sama sekali," komentarnya.
Yehwa mengangkat bahu. "Aku sudah hadapi hal lebih menegangkan dari ini."
Yun-seo tersenyum masam. "Dia mantan—" Ia hampir bilang "ratu iblis" tapi cepat menahan diri. "—mantan atlet. Terbiasa dengan tekanan."
Cheol-soo mengangguk polos. "Wah, hebat!"
Tiba-tiba, kerumunan di depan mereka bergerak. Seseorang berjalan melewati, dan semua orang minggir secara otomatis. Yun-seo menoleh dan melihat Seo Jung-won lewat dengan jubah putih bersih, wajah dinginnya tidak menoleh ke kanan atau kiri.
Di belakangnya, beberapa murid akademi yang lebih tua mengikuti seperti pengawal.
"Itu Seo Jung-won," bisik Cheol-soo dengan kagum. "Murid terkuat akademi. Katanya tahun ini dia diangkat jadi asisten guru. Bayangkan, umur 21 tahun sudah jadi asisten guru!"
Yun-seo mengamati pemuda itu. Tinggi, tampan, penuh percaya diri—tipe yang selalu ia benci di sekolah dulu. Tapi ia ingat saat Seo Jung-won menyelamatkan mereka dari iblis. Mungkin di balik sikap dinginnya, ada kebaikan.
"Jangan terlalu dekat dengannya," kata Yehwa tiba-tiba.
Yun-seo menoleh. "Kenapa?"
"Dia terlalu pintar. Bisa curiga."
Yun-seo mengangguk. Yehwa benar. Mereka tidak butuh perhatian ekstra.
---
Satu jam kemudian, tes pertama dimulai.
Semua calon murid dikumpulkan di Lapangan Naga—lapangan luas dengan batu kristal raksasa di tengahnya. Batu itu tingginya sekitar tiga meter, berwarna biru kehitaman, berkilauan di bawah sinar matahari.
Seorang guru tua dengan jubah hitam—Kepala Sekolah Baek Sang-ho, menurut bisik-bisik di sekitar—mengumumkan aturan tes pertama.
"Tes bakat ki. Kalian akan maju satu per satu, meletakkan tangan di Batu Naga. Semakin terang batu itu bersinar, semakin besar potensi ki kalian." Suaranya berat, penuh wibawa. "Mereka yang tidak mencapai tingkat tertentu akan langsung gugur."
Yun-seo meraba gelang di pergelangan tangannya—pemberian Hwang Cheol-soo. Semoga berfungsi.
Satu per satu calon maju. Ada yang membuat batu bersinar terang, disambut tepuk tangan. Ada yang hanya membuatnya berkedip redup, lalu berjalan turun dengan wajah tertunduk. Beberapa bahkan tidak membuat batu bereaksi sama sekali—mereka langsung disuruh pulang.
Yun-seo menghitung. Dari lima puluh calon pertama, hanya dua puluh yang lulus. Tingkat kegagalan tinggi.
Giliran Jo Cheol-soo tiba. Ia melangkah gemetar, meletakkan tangannya di batu. Batu itu bersinar—tidak terlalu terang, tapi stabil. Kuning keemasan.
"Lulus," kata petugas. "Tingkat menengah bawah."
Cheol-soo hampir menangis bahagia. Ia melompat-lompat kecil sambil melambai pada Yun-seo.
Giliran Yehwa. Ia berjalan tenang ke depan, meletakkan tangannya. Batu itu langsung bersinar—biru terang, menyilaukan. Beberapa guru terkesima. Kepala Sekolah Baek Sang-ho sendiri mengangkat alis.
"Tingkat menengah atas... mendekati tinggi," gumam petugas. "Lulus dengan pujian."
Yehwa kembali ke tempatnya tanpa ekspresi, meski dalam hati lega. Sisa kekuatan iblisnya cukup untuk menipu batu itu.
Sekarang giliran Yun-seo.
Jantungnya berdebar kencang. Ia melangkah maju, meletakkan tangan di batu. Dingin. Lalu ia merasakan gelangnya menghangat—bekerja.
Batu itu bersinar. Merah muda, redup, tapi cukup untuk terlihat.
Petugas mengamati sebentar. "Tingkat pemula. Lulus... minimal."
Yun-seo hampir terjatuh. Ia berhasil!
Saat kembali ke tempat, Yehwa tersenyum tipis. "Kerja bagus."
Yun-seo menghela napas lega. Satu tahap selesai. Masih dua lagi.
---
Tes kedua diadakan siang harinya: tes ketangkasan fisik.
Rintangan sepanjang satu kilometer telah disiapkan di hutan belakang akademi. Peserta harus berlari, memanjat, berayun, dan melewati berbagai jebakan. Waktu maksimal tiga puluh menit.
Yun-seo dan Yehwa start bersamaan dengan kelompoknya—sekitar lima puluh orang. Begitu peluit dibunyikan, mereka berlari.
Yehwa melesat cepat, teknik larinya sempurna. Yun-seo berusaha mengikuti, tapi tertinggal. Ia fokus pada satu hal: bertahan, jangan cedera, selesaikan.
Di tengah rintangan, ia melihat peserta lain jatuh dari jembatan tali. Yang lain tersangkut jaring. Beberapa menyerah di tengah jalan.
Yun-seo terus maju. Tangannya lecet, lututnya berdarah, tapi ia tidak berhenti. Di kejauhan, ia melihat Yehwa sudah hampir mencapai garis akhir.
"Aku harus sampai," batinnya. "Demi dia. Demi kita."
Ia memanjat dinding tanah liat terakhir, melompat turun, dan berlari sekencang mungkin. Garis akhir! Dua langkah lagi!
BUM!
Ia tersandung batu, jatuh tersungkur. Wajahnya membentur tanah. Darah mengalir dari hidung.
"Bangun, Bangun!" teriak seseorang.
Yun-seo merasakan tubuhnya lemas. Tapi di garis akhir, ia melihat Yehwa berdiri, menatapnya dengan mata penuh harap—dan sesuatu yang lain. Kekhawatiran.
Ia memaksa tubuhnya bangkit. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Byuur!
Ia melewati garis akhir, lalu jatuh pingsan.
---
Saat sadar, Yun-seo terbaring di tenda medis.
Kepalanya pusing, hidungnya terasa sakit, tapi ia masih hidup. Ia menoleh dan melihat Yehwa duduk di sampingnya, wajahnya tegang.
"Kau... bodoh," kata Yehwa. Suaranya bergetar. "Kenapa kau paksakan?"
Yun-seo tersenyum lemah. "Janji... hadapi bareng-bareng."
Yehwa menunduk. Tangannya meraih tangan Yun-seo, menggenggam erat.
"Jangan lakukan itu lagi," bisiknya. "Aku tidak mau kehilanganmu."
Yun-seo terkejut. Kata-kata itu... tulus. Bukan akting.
"Aku... tidak akan," janjinya.
Dokter masuk, memeriksa Yun-seo sebentar. "Lecet dan memar, tapi tidak parah. Istirahat semalam, besok bisa ikut tes terakhir kalau mau."
Yun-seo menghela napas lega. Satu tes lagi.
---
Malam harinya, di penginapan dekat akademi, Yun-seo dan Yehwa duduk berdua.
Yun-seo masih terbaring, tubuhnya diperban di beberapa tempat. Yehwa duduk di samping, mengawasinya seperti elang.
"Kau tidak perlu jaga aku," kata Yun-seo. "Istirahat saja."
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
Yehwa diam. Lalu pelan, "Tadi... saat kau jatuh... aku merasa takut. Takut kehilanganmu."
Yun-seo membeku. Ini bukan percakapan biasa.
"Yehwa..."
"Aku tahu ini salah. Aku ratu iblis, kau manusia biasa. Tapi..." Ia menatap Yun-seo. "Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang peduli padaku."
Yun-seo meraih tangannya. "Kau tidak akan kehilangan aku. Janji."
Mereka berdua diam, saling pandang. Lalu perlahan, Yehwa menunduk, meletakkan kepalanya di dada Yun-seo.
"Besok," bisiknya. "Kita hadapi tes terakhir. Bersama."
Yun-seo mengelus rambutnya pelan. "Bersama."
Malam itu, di penginapan kecil dekat akademi, dua makhluk dari dunia berbeda tertidur dalam pelukan satu sama lain—bukan lagi pasangan palsu, tapi sesuatu yang lebih.
---