NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 9 YANG MERASA PALING TAHU TEMPAT

Pagi itu rumah besar terasa lebih ramai dari biasanya.

Bukan karena tawa.

Tapi karena langkah-langkah kecil yang mulai berani.

Kabar kepindahan kamar menyebar lebih cepat dari aroma kopi.

Pelayan-pelayan saling bertukar pandang.

Ada yang menunduk.

Ada yang tersenyum tipis—bukan hormat.

Gadis itu keluar dari kamar utama dengan langkah pelan.

Rambutnya disisir rapi.

Pakaiannya sederhana, bersih.

Ia menuruni tangga.

“Eh.”

Suara itu terdengar dari dapur.

Seorang pelayan perempuan, usia sekitar tiga puluh, berdiri dengan tangan bersedekap. Tatapannya tidak ramah.

“Kamar utama,” katanya tanpa senyum.

“Cepat juga naik kelas.”

Gadis itu berhenti.

“Iya.”

Pelayan itu mendecak.

“Padahal biasanya yang masuk situ… perempuan yang jelas asal-usulnya.”

Ia berjalan mendekat, suaranya dibuat pelan tapi sengaja terdengar.

“Bukan yang numpang nama.”

Dua pelayan lain tertawa kecil.

Gadis itu menunduk.

Tidak membalas.

Pelayan itu semakin berani.

“Kamu jangan salah paham ya. Aku cuma mengingatkan.”

Ia mengangkat dagu.

“Di rumah ini, bukan cuma keluarga yang punya aturan.”

Ia melirik pakaian gadis itu.

“Dan kelihatan sekali… kamu belum siap.”

Gadis itu mengangguk kecil.

“Iya.”

Jawaban itu membuat pelayan itu tersenyum puas. “Bagus,” katanya.

“Perempuan tahu diri memang seharusnya begitu.”

Ia berbalik, berjalan pergi, masih sempat berkata keras-keras,

“Jangan sampai sok jadi nyonya.”

Langkah gadis itu kembali berjalan.

Dadanya terasa sesak.

Di ruang makan kecil, sarapan sudah hampir selesai.

Ia duduk di kursi yang sama seperti kemarin.

Pelayan yang sama datang membawa teh.

Ia meletakkan cangkir agak keras.

“Hati-hati,” katanya datar.

“Cangkir ini mahal.”

Gadis itu mengangguk.

“Maaf.”

Pelayan itu tertawa kecil.

“Kamu memang cocoknya bilang itu.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Dengar ya. Aku sudah lama kerja di sini.”

Ia menunjuk sekeliling.

“Aku tahu siapa yang betul-betul punya tempat.”

Ia menatap gadis itu tajam.

“Dan siapa yang cuma lewat.”

Kata lewat itu ditekankan.

Gadis itu menunduk lebih dalam.

Tangannya gemetar memegang serbet.

Dari sudut ruangan, ibu pemuda mengamati tanpa menyela.

Tatapannya dingin.

Diam yang memberi izin.

Pelayan itu semakin panjang omelannya, seolah mendapat restu.

“Kamu pikir pindah kamar itu hebat?”

Ia tertawa pendek.

“Perempuan sepertimu itu naik turunnya cepat.”

Ia menggeleng.

“Sekarang di atas, besok bisa kembali ke bawah.”

Ia menatap lurus.

“Dan biasanya, yang jatuh… jatuhnya lebih sakit.”

Gadis itu tidak bergerak.

“Kenapa diam?” pelayan itu mengejek.

“Takut salah bicara?”

Ia menepuk meja pelan.

“Pintar.”

Ibu pemuda akhirnya berdiri.

“Sudah.”

Pelayan itu langsung mundur setengah langkah.

“Maaf, Nyonya.”

“Jangan berisik,” kata wanita itu datar.

“Ada tamu nanti.”

Ia melirik ke arah gadis itu.

“Kamu ikut ke ruang tamu.”

“Iya, Bu.”

Di ruang tamu, dua tamu perempuan duduk anggun.

Pakaian mahal.

Senyum tipis.

“Oh,” salah satunya berkata sambil menatap gadis itu.

“Ini istrinya?”

Nada suaranya penuh rasa ingin tahu—dan penilaian.

“Iya,” jawab ibu pemuda singkat.

Tamu itu tersenyum.

“Manis.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan,

“Walaupun… sederhana sekali.”

Tamu satunya tertawa kecil.

“Ya, mungkin memang seleranya berbeda.”

Gadis itu berdiri di samping, diam.

Pelayan tadi masuk membawa minuman.

Ia melirik gadis itu sekilas, lalu berkata ke tamu dengan suara manis palsu,

“Tehnya, Bu.”

Lalu, tanpa menoleh, ia menambahkan pelan tapi jelas,

“Maaf kalau penyajiannya kurang rapi. Kami masih penyesuaian.”

Kata penyesuaian itu sengaja.

Salah satu tamu mengangguk paham.

“Ya, adaptasi memang perlu.”

Ia menatap gadis itu.

“Masuk keluarga besar itu berat.”

Ia tersenyum lembut.

“Tidak semua perempuan kuat.”

Kalimat itu seperti doa—atau peringatan.

Di ambang pintu, pemuda itu berdiri.

Ia mendengar semuanya.

Tatapannya menyapu ruangan.

Pelayan.

Ibu.

Tamu.

Ia melangkah masuk.

“Siapa yang bertanggung jawab di sini?” tanyanya datar.

Pelayan itu tersentak.

“Saya, Tuan.”

“Sejak kapan,” lanjutnya pelan, “pelayan menilai keluarga?”

Sunyi.

Pelayan itu gugup.

“Saya hanya—”

“Cukup.” Satu kata.

Tidak keras.

Tapi final.

Ia menoleh ke kepala pelayan.

“Ganti orang ini.”

Kepala pelayan membungkuk.

“Baik, Tuan.”

Pelayan perempuan itu memucat.

“Tuan, saya—”

Pemuda itu menatapnya dingin.

“Kamu lupa tempatmu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi mematahkan.

Pelayan itu ditarik keluar.

Langkahnya tergesa.

Tidak ada yang membela.

Pemuda itu lalu menoleh ke ibunya.

“Dan mulai hari ini—”

Ia berhenti sejenak.

“Tidak ada lagi ‘penyesuaian’.”

Ibunya menatapnya lama.

“Kamu terlalu jauh.”

Pemuda itu menjawab pelan.

“Aku baru mulai.”

Ia menoleh ke gadis itu.

“Makan.”

Gadis itu mengangkat kepala.

Matanya berkaca-kaca.

“Iya.”

Tamu-tamu saling pandang.

Tidak ada yang tertawa lagi.

Di rumah itu, untuk pertama kalinya,

omelan tidak lagi aman.

Dan semua mulai sadar—

perempuan yang mereka injak diam-diam

sudah membuat satu orang berdiri melawan.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!