Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Buronan
Udara berderak dengan listrik saat Ye Feng meluncurkan pukulan terkuatnya. Namun, Ye Chenxu hanya mengangkat satu tangan. Serangan guntur itu tidak meledak, justru diserap, dibelokkan, dan dihilangkan ke dalam kehampaan di sekitar telapak tangan Ye Chenxu.
Ye Feng menyerang lagi dengan jurus Pedang Bayangan Kilat, namun Ye Chenxu bergerak seperti bayangan kosong.
Setiap tebasan pedang hanya menembus udara kosong. Ye Chenxu seolah-olah ada di sana, namun secara bersamaan ia tidak ada di dimensi yang sama.
Di akhir pertarungan yang brutal namun singkat itu, Ye Chenxu melesat maju. Satu tusukan pendek yang dibalut energi kehampaan murni menembus tepat ke tengah dada Ye Feng.
Ye Feng terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya. Ia menatap ke bawah, ke arah lubang di dadanya, lalu kembali ke arah Ye Chenxu dengan mata yang penuh dengan ketidakpercayaan dan kengerian murni.
“Kau ... kau benar-benar monster ...” bisiknya dengan sisa napas terakhir.
Ye Chenxu menatapnya dingin. Tidak ada kepuasan atau dendam yang tersisa. Yang ada hanya kekosongan.
“Tidak,” jawab Ye Chenxu datar. “Kalianlah yang mengajariku bahwa di dunia ini, hanya ada pemangsa dan mangsa."
Pedang ditarik keluar dari tubuh Ye Feng dengan suara yang tajam. Tubuh murid inti yang angkuh itu roboh ke tanah, mendarat di atas tulang-tulang kuno yang kini menjadi teman barunya.
Sunyi kembali menyelimuti Lembah Tulang Kelam. Hanya suara tetesan darah yang jatuh ke tanah yang terdengar.
Ye Chenxu berdiri lama di antara mayat-mayat itu. Tangannya gemetar ringan—bukan karena takut, melainkan karena reaksi tubuh fananya terhadap energi kehampaan yang terlalu besar.
Namun, di dalam dadanya, tidak ada sedikit pun penyesalan. Moralitas manusia yang sebelumnya mengikatnya kini terasa seperti pakaian yang terlalu sempit dan telah robek.
Roh Dewa Kehampaan di dalam jiwanya berbisik dengan nada setuju.
“Hari ini, kau telah membunuh manusia untuk pertama kalinya dalam hidup. Ingatlah rasa ini. Besok, seluruh dunia akan mencoba membunuhmu jika kau menunjukkan keraguan sedikit pun.”
Ye Chenxu memejamkan mata, membiarkan energi itu meresap kembali ke dalam meridiannya yang kini terasa jauh lebih luas dan kuat.
Dengan lambaian tangan, Ye Chenxu melepaskan sedikit energi kehampaan untuk mengikis jejak-jejak pertempuran.
Mayat-mayat itu tidak akan ditemukan dalam waktu dekat, dan jika ditemukan, mereka akan terlihat seperti korban serangan siluman yang ganas.
Setelah itu dia segera berbalik, tetapi tidak lagi menuju kota, melainkan menghilang lebih dalam ke dalam kegelapan Pegunungan Hitam.
Sejak malam itu, nama Ye Chenxu secara resmi menghilang dari daftar hidup Klan Ye.
Mereka mungkin menganggapnya mati di perut siluman. Namun, jauh di dalam dunia gelap dan sunyi Pegunungan Hitam, sebuah legenda baru mulai lahir.
Sosok pembunuh sunyi yang tidak membawa cahaya, namun membawa kehampaan yang akan menelan siapa pun yang berani menghalangi jalannya.
***
Malam di Kota Awan Biru biasanya tenang, hanya dihiasi suara serangga dan gemericik air sungai. Namun malam ini, ketenangan itu hancur berkeping-keping.
Suara lonceng peringatan di kedalaman kediaman Klan Ye berdentang tujuh kali—sebuah sinyal duka sekaligus amarah besar yang jarang terdengar dalam satu dekade terakhir.
Balai utama Klan Ye diliputi aura pembunuhan yang begitu kental hingga lilin-lilin di dinding seolah meredup.
Di tengah ruangan, sisa-sisa zirah biru yang hancur dan pedang perak yang patah milik Ye Feng diletakkan di atas meja marmer.
Delapan murid tewas. Ye Feng, jenius harapan klan dan salah satu murid inti kesayangan, mati tanpa jasad yang utuh.
Hanya potongan pakaian dan ceceran darah yang tersisa, seolah-olah dia bukan dibunuh oleh manusia, melainkan ditelan oleh lubang hitam yang lapar.
“Ye Chenxu!”
Raungan Ketua Klan menggetarkan langit-langit balai. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua yang mencekik.
Dia tidak bisa menerima bahwa 'sampah' yang selama ini mereka injak telah menghancurkan investasi masa depan klan.
“Cari dia! Geledah setiap jengkal Pegunungan Hitam!” perintahnya dengan suara parau yang mengandung otoritas mutlak.
“Bawa kepalanya kepadaku, atau bawa dia hidup-hidup agar aku bisa menguliti setiap inci dagingnya di depan seluruh kota!”
Surat perburuan dikeluarkan malam itu juga. Tidak main-main, hadiah yang ditawarkan mampu membuat siapa pun di Kota Awan Biru menjadi gila, seribu koin emas, satu pil pembuka meridian kualitas tinggi, dan akses ke teknik bela diri tingkat menengah klan.
Dalam sekejap, nama Ye Chenxu masuk ke dalam daftar buronan paling dicari, bukan lagi sebagai seorang pengecut, melainkan sebagai iblis yang harus dimusnahkan.
Di saat amarah klan memuncak, mereka membutuhkan pelampiasan.
Gubuk kecil di halaman belakang didobrak tanpa ampun. Pintu kayu yang sudah rapuh hancur menjadi serpihan di bawah tendangan sepatu bot prajurit klan.
Ibu Ye Chenxu, wanita yang hanya menginginkan kedamaian bagi anaknya, diseret keluar. Rambutnya yang mulai memutih ditarik, tubuhnya yang lemah dipaksa berlutut di atas lantai batu balai klan yang dingin di bawah tatapan ratusan pasang mata yang penuh kebencian.
“Di mana anak harammu menyembunyikan kekuatannya?” tanya seorang tetua sambil mencengkeram rahangnya.
“Anakku ... Chenxu bukan iblis ...” bisik wanita itu dengan suara gemetar, air mata mengalir membasahi wajahnya yang pucat.
“Bohong!”
PLAKK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
“Melahirkan pengkhianat berarti kau adalah sumber dari pengkhianatan itu sendiri!”
Para tetua memutuskan untuk tidak membunuhnya segera. Bagai mereka, kematian adalah anugerah yang terlalu murah. Ia dijadikan umpan hidup. Wanita malang itu dirantai di ruang bawah tanah klan, sebuah sel lembap tanpa cahaya matahari.
Tubuhnya yang lemah dipertontonkan kepada murid-murid lain sebagai peringatan akan nasib mereka yang berkhianat.
“Jika Ye Chenxu muncul,” Ketua Klan mengumumkan dengan kejam, “setiap kali dia melangkah mendekat, potong satu bagian tubuh ibunya. Mari kita lihat seberapa kuat hatinya saat melihat ibunya sendiri dicincang.”
Di saat yang sama, jauh di dalam kerimbunan Pegunungan Hitam, Ye Chenxu berdiri di atas sebuah dahan pohon raksasa. Indra Kehampaan-nya berdenyut.
Dia bisa merasakan gelombang niat membunuh yang menyebar dari arah kota seperti jaring laba-laba yang berusaha menjeratnya.
Para pemburu datang dalam berbagai bentuk. Ada rombongan murid inti yang ingin membalaskan dendam Ye Feng, kultivator bayaran yang haus akan koin emas, hingga tentara klan yang terlatih.
Ye Chenxu harus berpindah tempat setiap beberapa jam agar tidak ditemukan oleh orang-orang tersebut.
Kondisinya sangat jauh dari ideal. Luka tusukan dari Ye Feng belum sepenuhnya pulih, setiap gerakan yang terlalu tajam membuat darah kembali merembes melalui balutan kain kasarnya.
Energi kehampaan di meridiannya masih bergejolak, belum sepenuhnya stabil setelah ledakan emosi di Lembah Tulang Kelam.
Namun, ia tidak punya pilihan lagi, sebab berhenti berarti mati.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭