DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pelukan
Fattah, Jefan dan Mattew terdiam dengan pias-menghiasi wajah masing-masing saat melihat video dan foto yang sempat Noel abadikan ketika bersama Sandrina dan teman-temannya di club, sebelum Sandrina mencium pipinya.
Sedang Aqqela sendiri sampai menutup mulut saking tidak percayanya.
Sandrina... segila itu?
"Gue rubah semua identitas gue. Bahkan mutusin buat pisah rumah dari bokap gue, biar semua orang nggak tau," kata Noel serak.
Noel mengalihkan wajah sambil menyeka air matanya yang kembali jatuh di pipi, "Mungkin semua orang mikir Xixin Araga Nicholas udah sekolah di luar negeri atau bahkan mati."
Aqqela memandangnya, "Kenapa lo pindah cuma ke Jakarta Selatan? Elo bisa aja pindah lebih jauh kalau lo mau, biar hidup lo nggak makin di usik," katanya bingung.
Noel mengangguk pelan, "Tadinya gue mau pindah ke Malaysia aja, ikut tante gue. Gue trauma di bully dan di cap penjahat temen-temen deket gue yang tau kasus ini. Tapi gue pikir, gue nggak perlu segitu takutnya karena gue nggak salah."
"Jeha hamil, kan? Terus itu anak siapa?" tanya Mattew.
"Anaknya Damar-temen gue. Mereka nggak sengaja lakuin itu waktu lagi sama-sama mabuk. Dan kejadiannya satu Minggu setelah gue di fitnah."
"Terus?" tanya Jefan.
"Jeha hamil. Damar nggak mau mengakui anak itu, karena dia sayang banget sama Bella. Dan karena itu... Jeha ungkit kasus di club itu lagi. Dia justru jadiin gue kambing hitam dan bilang kalau gue ini ayah bayi itu."
Noel mengusap pangkal hidungnya sebentar, "Harusnya dia bisa aja buat laporin Damar ke polisi karena cowok itu nggak mau tanggung jawab. Tapi Jeha udah terlanjur terobsesi sama gue. Jadi dia ngancam laporin gue biar gue mau tanggung jawab."
"Apalagi ada banyak saksi-kejadian di club. Itu mempermudah dia buat menang di persidangan," lanjut pemuda tampan itu.
"Lo tau darimana kalau bayi itu bukan anak lo?" tanya Mattew.
"Setelah gue menang di persidangan, gue mutusin tes DNA setelah bayi itu lahir. Karena walaupun gue menang dan bebas, gue beneran takut kalau itu emang anak gue, tapi gue yang nggak sadar. Dan syukurnya, bayi itu bukan anak gue."
"Jeha dimana sekarang?" tanya Aqqela.
"Meninggal," jawabnya membuat Aqqela dan lainnya tersentak, "Jeha depresi berat sebelum anaknya lahir. Dan setelah bayi itu lahir, Jeha bunuh diri dengan loncat dari rooftop rumah sakit."
"Ck, karma tuh karma!" umpat Mattew kesal sendiri dengan Jeha, tapi dia segera di tabok Jefan agar diam.
Noel menoleh ke Fattah, di ikuti oleh Aqqela.
Gadis itu terdiam, melihat wajah tampan Fattah nampak dingin dan melamun menatap foto di HP Noel yang memperlihatkan foto Sandrina sedang di rangkul seorang pemuda di club.
Bahkan Fattah tidak pernah tau bahwa Sandrina bisa datang ke tempat seperti ini.
"Gue minta maaf atas nama bokap gue, Fat! Karena ide dia dan om Michael, Sandrina harus meninggal," kata Noel membuat Fattah mengerjap, "Tapi gue berani sumpah Fat, nggak ada sedikit-pun gue mikir buat bunuh Sandrina sekalipun gue benci banget sama dia."
Fattah meliriknya dingin, "Kenapa lo nggak ngomong dari awal?" tanya cowok itu tajam.
Noel tercekat merasa tenggorokannya kering, "A-apa?"
"Tentang semuanya brengsek! Kenapa lo tutup-tutupi semuanya dari gue?" bentak Fattah nyalang.
"Fattah, tahan dulu!" tegur Aqqela menarik lengannya untuk mundur.
Mata Fattah memerah tajam, "Kenapa baru sekarang?" tanyanya serak, "Gue selama ini selalu percaya sama lo sebagai sahabat baik gue."
Fattah menggigit bibir, memandang Noel yang terdiam dengan tatapan tak terbaca.
Marah, pilu, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
"Kenapa nggak dari dulu lo bilang tentang Sandrina dan diri lo yang sebenarnya? Saat lo lihat gue hampir depresi karena kematian cewek itu," katanya terdengar lirih.
"Satu tahun penuh gue kayak orang gila, yang nyari siapa penabrak itu dan siapa anak pejabat itu," lanjutnya dengan mata memerah.
Fattah mengalihkan wajah dan terkekeh miris, "Bego ya gue? Padahal tersangka yang gue cari ada di dekat gue selama ini," katanya pelan dengan tatapan menerawang, "Lo mungkin lagi ketawa keras waktu lihat gue yang selalu datang ke makam Odit, seakan-akan gue cowok paling menyedihkan di dunia yang di tinggal pacarnya mati."
Noel meneguk ludah. Benar-benar bungkam tidak berani angkat bicara.
Melihat tatapan kecewa dan marah Fattah membuat Noel berpikir, jika dia berdehem saja, mungkin dia bisa mati.
Fattah mengeraskan rahang samar, "Setelah lo jelasin semuanya... gue percaya kalau lo cuma di fitnah. Karena lo sahabat gue."
Noel merapatkan bibir dan menaikkan pandangan-menatap pemuda itu nanar.
Fattah tersenyum miring yang tipis, "Tapi apa lo pikir gue nggak bisa tersinggung denger penjelasan dari lo tadi?"
Fattah menekan pipi dalamnya dengan lidah dengan mata memerah tanpa di duga.
"Selama ini ... elo selalu ngatain gue cowok bego, bucin akut yang masih ingat sama Sandrina, padahal dia jelas-jelas udah mati. Elo berusaha jauhin kami dan bikin gue lupa sama Odit. Elo juga kenalin gue sama banyak cewek di luaran sana." Pemuda itu menggigit bibirnya keras-keras, sementara yang lain tetap diam.
Terutama Aqqela, yang matanya berkaca-kaca -merasa ikut terluka. Kepalanya tanpa sadar merunduk, melihat Fattah menautkan jari-jemari mereka dan di genggam erat seolah meminta kekuatan.
"Tapi elo nggak pernah kasih alasan yang tepat, kenapa gue nggak boleh ingat-ingat sama Odit terus." Fattah memandang Noel dengan helaan napas berat, "Apa lo pikir ini nggak keterlaluan buat gue?"
Noel tersentak diam, merasa tersudut sekarang.
"Fat... gue bisa jelasin," kata Noel, "Gue sengaja nggak bilang, karena gue takut."
Noel meneguk ludah susah payah, "Gue takut kalian jauhi gue. Gue takut kehilangan sahabat baik kayak kalian semuanya. Gue juga nggak tega buat bilang, kalau selama ini lo cuma di bodohi sama Sandrina. Karena gue tau, se-sayang apa lo sama dia."
Fattah mengalihkan wajah dan mendesah berat, "Terus apa lo pikir kita bakalan tetep baik-baik aja, setelah gue tau semuanya?"
Noel merunduk penuh sesal.
"Sorry!" katanya lirih, "Gue pikir bakalan ada waktu lebih tepat buat gue bilang semuanya. Gue minta maaf soal semua kebohongan gue. Tapi gue nggak ada niat buruk selama jadi sahabat lo, Fat."
Fattah memejamkam matanya sambil mendongakkan lehernya dan menarik napas sedalam mungkin. Lalu menghembuskan-nya berat dan panjang.
"Kalau lo masih nggak percaya soal Sandrina yang selingkuh, gue bisa bawa lo ketemu Miko-"
"Nggak perlu!" katanya, "Gue males buat makin kecewa."
Setelah mengatakannya, Fattah melonggarkan genggamannya dan melepaskan tautan jari-jemari Aqqela sambil berbalik badan cepat.
"Fattah!" panggil Aqqela cemas, saat melihat Fattah hendak menuruni tangga, "Mau kemana?" tanyanya hendak menyusul.
Fattah menoleh, "Jangan ikut!" katanya serak membuat langkah Aqqela terhenti, "Gue bener-bener lagi nggak ada kekuatan buat ngomong sama siapapun."
Setelahnya, Fattah berlari cepat menuruni tangga membuat tetes bening yang berkumpul di kelopak mata Aqqela perlahan menetes.
***
KRINGGG!
Bel pulang berbunyi.
"Qell, nanti jadi kerja kelompok di rumah Catu, kan?" tanya Aya.
Aqqela yang lagi memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan kecepatan kilat jadi menoleh.
"Hah? Jam 7, kan?"
"Iya jam tu-"
"Oh, oke-oke sip." Aqqela menaruh ranselnya di bahu kanan.
"Qell, ke parkiran, kan? Bareng, ya!" kata Catu mendekatinya ceria.
"Enggak, gue mau ke IPS. Duluan!" pamitnya dan berlari keluar kelas membuat teman-temannya jadi menatapnya bingung.
"Sorry-sorry, permisi!" kata Aqqela berlarian di koridor dan beberapa kali menabrak bahu murid.
Dia berhenti di depan kelas 11 IPS 1 dan melongok.
"Mattew!" teriaknya lantang sambil menoleh kiri kanan mencari, "Heh, Fattah mana?"
Mattew berdiri setelah menghapus papan karena di paksa piket.
"Nggak tau. Dari tadi belum balik ke kelas. Itu tasnya di sana!" tunjuknya.
Aqqela melebarkan mata, sementara Jefan mendekat sambil membawakan ransel hitam milik Fattah.
"Nih, bawa!" ujar Jefan.
Aqqela menerima itu dengan wajah agak panik.
Tuh cowok kemana, sih?
"Biasanya dia di danau belakang, kalau nggak ya ke taman sekolah. Coba cari ke sana!"
Aqqela tersentak, "Oh oke, makasih ya!"
katanya dan berlarian di koridor menuju ke danau belakang sekolah.
Setelah Fattah melarangnya untuk menyusul, Aqqela menurut.
Tapi sampai waktunya pulang, cowok itu belum muncul juga, membuat Aqqela khawatir.
Takutnya tuh cowok nyemplung ke danau, kan nggak lucu. Jadi janda dong gue?
"Zera... Zera!" Aqqela mengejar Nazera dan Arsen yang berjalan bersama di koridor, membuat keduanya menoleh.
"Kenap-loh-loh, apaan nih?" tanya Nazera bingung saat air mineral di tangannya yang baru beli di kantin di rebut.
"5000, kan?" Aqqela merogoh sakunya mencari uang dan memberikannya ke Nazera yang melongo, "Thanks, ya!" pamitnya dan ngacir pergi.
Nazera ternganga dan hampir mengumpat pelan, "Di kira gue kerja sampingan jadi tukang kantin keliling apa?" gerutunya mengomel.
Arsen berdehem sesaat, "Mirip, sih."
"Masa dia bayar gu-bentar, APA?" Nazera melotot sementara Arsen segera melangkah pergi dengan cewek itu menyusulnya kesal.
***
Aqqela melewati gedung H dan melangkah ke taman bunga sekolah menuju ke area danau yang ada di belakang.
Langkahnya langsung terhenti begitu saja saat melihat seorang pemuda duduk menekuk lutut dan menatap ke arah danau. Dia sendirian dengan ponsel di telinganya.
Kepala Fattah tampak tertunduk membuat Aqqela tertegun begitu saja.
"Nggak perlu cari tau soal apapun lagi Pi..."
Fattah merunduk, "Udahin aja! Aku udah nggak pengen tau soal apapun yang berhubungan sama Odit."
Aqqela terdiam dengan jarak tidak lebih dari 20 meter di belakang pemuda itu.
Tetapi Fattah tidak menyadarinya.
Aqqela hanya bisa mengintip kecil dari balik pohon.
"Fattah nggak papa..." kata Fattah bergetar dengan HP di tangannya, "Aku cuma udah tau semua kebenarannya sekarang dari Noel. Aku udah nggak penasaran lagi," lanjutnya dengan suara berat.
Pemuda itu semakin menunduk dan bergetar kecil, "Papi berhenti aja! Aku udah benci banget sama Sandrina sekarang."
Fattah mendengarkan suara di sebrang telepon. Dia mendesah berat dan mengangguk.
"Hm. Ini udah bel, habis ini pulang. Iya, see you! Titip salam buat mami dan Eca!"
Fattah menutup telponnya.
Cowok itu menarik oksigen sebanyak mungkin. Dia memejamkan matanya mencoba menenangkan diri.
Dia merogoh saku mencari rokok dan mulai menyalakannya dengan korek api, kemudian menghisapnya. Cowok itu merunduk, menarik rambutnya ke belakang sambil terus menghisap rokoknya.
"Fattah!" panggil Aqqela akhirnya memutuskan mendekat membuat cowok itu tersentak.
"Rokok nggak akan bikin lo tenang," kata Aqqela.
Fattah mendongak, melihat Aqqela yang kini berdiri di depannya. Gadis itu berjongkok di depannya dan tersenyum kecil.
"Nih, minum!"
Fattah mengerjap pelan dan tertegun seketika. Cowok itu menurut, membuang rokoknya yang masih menyala, lalu menginjaknya dan mengambil botol air itu.
Fattah mulai meneguk air mineral itu.
Sementara Aqqela yang lagi berjongkok, tampak melipat tangan di atas lutut.
Keduanya bertatapan.
"Napa lo?" tanya Aqqela memandanginya.
Fattah tidak merubah ekspresinya.
"Jangan salah paham!" kata Fattah membuat Aqqela tersentak samar, "Gue bukan sakit hati atau kecewa karena di bohongin Sandrina."
Alis Aqqela terangkat tinggi.
"Tapi gue ngerasa bego selama se-tahun-an ini karena jadi orang yang nggak tau apa-apa."
Fattah tersenyum miring dengan tipis, memandangi rumput di bawahnya dengan tatapan lirih.
"Kematiannya yang buat gue berubah jadi monster paling mengerikan. Gue jadi Fattah yang nggak punya hati. Susah payah gue cari tau kebenaran soal kematiannya. Tapi cewek yang gue bela mati-matian... justru hampir serahin tubuhnya ke cowok lain dengan sukarela."
Fattah merasakan jantungnya melemah.
Meruntuki hal bodoh apa saja yang dia lakukan setahun ini.
"Gue nggak pernah tau Sandrina bisa se-murah itu. Gue nggak tau kalau dia ternyata diam-diam punya pacar lain. Gue pikir selama ini hubungan gue sama dia baik-baik aja. Ternyata semuanya udah toxic dari lama."
Aqqela terpaku dan bergetar kecil.
Fattah mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bercerita.
"Gue nggak tau kenapa Tuhan jahat banget dengan biarin gue harus jatuh cinta sama cewek kayak dia."
Mata Fattah memerah membuat Aqqela tertegun.
"Sejak dulu, gue selalu mikir kalau Sandrina itu cewek lugu dan polos. Gue berusaha selalu ngelindungin Odit, karena gue tau dia se-rapuh apa setelah perceraian orang tuanya."
Fattah tersenyum miris, "Tapi gue bener-bener nggak nyangka kalau dia bisa khianatin gue."
Fattah mendongak, menatap Aqqela tepat.
"Ini bukan tentang Noel aja..." Dia meneguk ludah, "Tapi juga tentang Miko. Gue nggak yakin mereka nggak pernah ngapa-ngapain, kalau dia aja bisa dengan mudah serahin tubuhnya buat Noel yang baru dia kenal."
Fattah mengalihkan wajah, "Pantesan..." gumamnya pelan, "Tiap gue main ke rumahnya, gue selalu di suruh masuk kamar aja. Gue pikir dia polos, nggak tau se-bahaya apa kalau cowok-cewek di kamar yang sama. Ternyata dia udah ngerti begituan."
Aqqela terdiam begitu saja, "Ka-kalian pernah lakuin itu?"
Fattah menggeleng pelan, "Gue emang bandel. Tapi gue tau batasan." Fattah menarik napasnya panjang dan menghembuskan-nya pelan -berusaha menguasai diri.
"Gue nggak mau ngerasa kecewa berlebihan karena gue takut lo mikir gue masih sayang sama dia..." kata Fattah membuat Aqqela melebarkan mata samar, "Tapi gue nggak bohong, gue tetap ngerasa marah setelah tau fakta ini. Rasanya kayak sia-sia aja gue sayang dia."
Fattah menatapnya nanar, "Za, gue nggak bohong kalau gue udah nggak sayang sama Sandrina. Tapi izinin gue satu hari ini aja, buat marah dan benci karena dia udah bohongin gue selama ini."
Aqqela meneteskan air matanya dan mengangguk pelan.
Fattah masih menerawang jauh. Suaranya semakin lirih dan terdengar makin serak.
"Dada gue sesek banget..." Fattah tercekat, kehilangan kata-katanya.
"Gue jadi jahat karena pengen Odit dapat keadilan. Gue ancam bokap lo sampai bikin dia ketakutan dan mutusin buat bunuh diri..." Fattah merunduk penuh sesal dan mulai terisak tertahan, "Gue minta maaf buat semuanya, Za!"
"Maaf karena mungkin pertemuan kita, bikin lo kehilangan banyak hal di hidup lo," lanjutnya bergetar.
Aqqela terpaku dengan bulir air mata semakin banyak berjatuhan di pipi.
"Bokap lo, Oliver, temen-temen lo dan entah berapa hal lagi yang hilang setelah gue datang. Gue tau, gue terlalu jahat cuma karena balas dendam atas kematian Odit." Fattah menarik napas panjang, berharap sedikit mengurangi sesak di dadanya.
"Gue nggak tau kalau cewek yang gue bela mati-matian bisa se-brengsek itu. Sandrina sialan..."
"Harusnya gue nggak usah kenal sama dia."
Fattah mengalihkan wajah, mencoba mengendalikan diri. Dia berkali-kali menarik napas, tidak mau terlihat semakin lemah.
Tapi sayangnya, sulit sekali untuk tetap terlihat kuat di depan gadis ini.
Karena sekarang, Aqqela mendengar jelas isak tertahan cowok itu.
Aqqela menghapus air matanya sendiri dan mencoba tersenyum.
Gadis itu mengulurkan tangannya dan meraih kedua pipi Fattah-meminta pemuda itu mendongak agar melihatnya.
Mata Fattah terlihat memerah dan berkaca-kaca, sementara kedua sudut bibirnya tampak tertarik ke bawah samar.
"Nggak ada kebetulan di dunia ini. Termasuk pertemuan singkat lo dan Sandrina."
Aqqela menghapus bulir air mata yang jatuh di pipi Fattah.
"Entah kehadirannya bisa merubah hidup lo atau sebaliknya. Tapi kalau udah tau ending-nya kayak gini, nggak ada yang perlu di sesalin. Ya?"
Gadis itu masih menangkup wajah Fattah, "Mungkin bukan sekarang. Tapi suatu hari nanti, elo bakalan sadar kenapa Tuhan minta kalian buat ketemu, walaupun akhirnya dia pergi dan ninggalin banyak luka di hidup lo."
Bibir Fattah mulai bergetar pelan. Dia merunduk dan terisak pelan.
"Fattah..." Aqqela tercekat dan hilang kata. Entah kenapa dadanya ikut sakit melihat kesakitan pemuda itu, "Gue nggak tau harus apa biar lo tenang. Tapi gue bisa peluk lo, kalau lo udah nggak kuat. Mau peluk gue aja?" tawarnya tak tega.
Fattah meneguk ludah dan menggeleng pelan, "Nggak usah," tolaknya tanpa melihatnya, "Nanti elo capek..."
"Nggak papa. Biar beban lo berkurang, taruh juga di bahu gue. Sini gue peluk!"
Aqqela sedikit membungkuk untuk mendekap tubuh Fattah, sementara cowok itu terjatuh pasrah di bahu gadis itu.
Tubuh Fattah mulai bergetar dengan suara isakannya terdengar. Membuat tangan Fattah secara sadar menarik pinggang Aqqela-merengkuh tubuh gadis itu dan terisak pelan.
"Pasti sakit banget, ya?" tanya Aqqela tak tega, mengusap kepala belakang Fattah naik turun dengan lembut, "Hm?"
"Hmm..." Fattah mengangguk pelan dan bergumam pelan menjawabi.
Kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu dengan wajahnya di sembunyikan di bahu Aqqela.
"Sssshhh udah nggak papa! Nggak usah cengeng!" kata Aqqela sambil mengusap punggung Fattah.
"Tolong jangan jadi kayak Odit!" pinta pemuda itu pelan, "Gue takut elo kayak gitu juga."
Aqqela mengangguk pelan dan mengusap kepala belakang cowok itu, "Iya, enggak."
Aqqela diam-diam berdecak sebal dengan wajah geram, "Si Odit tuh ya, kalau aja masih hidup pasti bakalan gue jambak rambutnya sampai dia botak. Bodo amat gue kalau dia nangis," gerutunya, "Enak aja bikin lo sedih gini," lanjutnya walau sambil celingukan melihat sekitar, takut ada guru yang lihat mereka pelukan.
Fattah tidak bisa menahan diri untuk tak merengek kecil di pelukan gadis cantik itu.
"Udah ya, jangan sedih terus! Gue nggak bisa peluk lo lebih lama. Takut pak Bondan atau guru lihat," bujuk Aqqela membuat Fattah mengangguk.
Aqqela melepaskan pelukan dan mengusap kelopak mata Fattah yang basah.
"Ayo pulang!" ajaknya sambil berdiri menjulurkan tangan ke arah Fattah.
Cowok itu terperangah melihat tangan itu.
"Ayo!" ulang Aqqela saat tangannya belum di raih oleh Fattah.
Fattah kali ini tidak bisa menahan untuk tak tersenyum begitu saja dan meraih tangan gadis itu, lalu berdiri.
Aqqela agak berjinjit, kemudian menjulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya sambil tersenyum riang.
"Harus semangat ya, Fat! Nggak boleh sedih lagi pokoknya. Odit cuma masa lalu. Masih ada banyak hal yang harus lo kejar di masa depan."
Tepuk-tepukan pelan di kepalanya itu berubah jadi usapan lembut, membuat Fattah tertegun.
"Soal papa, gue udah pernah bilang sama lo, kalau gue udah maafin semuanya. Jadi elo nggak perlu ngerasa bersalah lagi." Aqqela menoleh padanya, "Elo tau nggak?"
"Apa?" tanya Fattah.
"Awalnya, kita di pertemukan karena luka. Gue nggak tau kenapa takdir harus buat kita saling ketemu. Entah di minta saling menyembuhkan atau justru kita yang malah saling buat luka baru." Aqqela menghela napas panjang dan tersenyum tipis.
Aqqela mengacak-ngacak pelan rambut Fattah, "Tapi buat sekarang, gue nggak mau peduli tentang itu."
Alis Fattah terangkat sebelah, "Kenapa?"
Tanyanya serak.
"Karena besok, lusa, satu tahun, atau sepuluh tahun lagi, kita berdua bisa tau alasannya, kenapa kita harus ketemu," kata Aqqela mencoba agar ceria sambil menggenggam tangan Fattah yang terpaku diam.
"Ayo pulang!" ajak gadis itu, lalu
menggerakkan bola mata gugup, "Ke rumah kita," katanya mencicit pelan agak malu.
Fattah melebarkan mata samar dan terdiam begitu saja.
Sebelum senyum tipis cowok itu terbit dan menautkan jari-jemari mereka.
"Ayo!"
Keduanya saling menoleh dan tersenyum lebar sambil beranjak pergi dari sana, dengan tangan mereka terayun pelan.
"Tadi ke kelas? Kok tas gue sama lo?" tanya Fattah mencantelkan tasnya ke bahu kanan.
Aqqela mengangguk cepat, "Kirain, elo udah di kelas. Eh, ternyata masih galau di sini. Udah kayak di sinetron India aja, drama."
"Yeee enak aja." Fattah mengacak-acak poni cewek itu.
"Bener tau. Harusnya turun hujan sekalian biar kayak di novel-novel," katanya tertawa.
Fattah mengulum senyum dan tanpa sadar terkekeh pelan.
"Elo segitu cemasnya sama gue? Sampai nyariin ke kelas segala? Dah cinta mati sama gue ya lo?" ledek Fattah.
Aqqela membuang muka sok tidak sudi, "Pede."
Fattah tertawa lagi, "Sayang suami sendiri sah-sah aja kok."
Alis Aqqela terangkat sebelah, "Emang lo udah sayang gue?" tanyanya menoleh begitu saja ke Fattah membuat cowok itu tersentak saat kedua mata bulat itu menatapnya tepat.
Fattah mengalihkan wajah, mendadak gugup sendiri.
"Eh, Noel tadi di kelas nggak?" tanyanya mencoba tidak salah tingkah.
"Tadi sih nggak ada." Aqqela menggeleng, "Eh, kenapa jadi ngalihin gitu, sih? Panik, ya?"
"Paan sih lo?" Dengusnya sok sewot.
"Nah, gini dong sewot. Suka deh lihat Fattah yang sewotan, nggak sedih gitu. Pokoknya, harus ceria terus, ya! Nggak boleh pikirin Odit lagi. Oke?" Aqqela mengedipkan sebelah matanya genit membuat Fattah gelagapan sendiri.
"Emang kenapa kalau gue pikirin Odit?" tanya Fattah menantang, "Elo kan nggak suka gue, jadi nggak papa deh kalau gue mikirin cewek lain."
Aqqela mendelik dan hampir maju mencakarnya.
Fattah terkekeh, "Iya-iya, nggak akan pikirin Odit! Gue cuma bakalan mikirin istri gue.
Oke?"
Aqqela tersentak dan menoleh kaget.
"Why? Salah? Kan dosa mikirin cewek lain pas udah punya istri."
Aqqela mengalihkan wajah, di susul senyum kecil setelahnya. Sebelum wajahnya berubah sok jutek.
"Oh."
Fattah mendelik dan menarik gemas pipi kanannya, "Dih, jutek?" Fattah tertawa kecil, "Udah ya, nggak usah cemburu-cemburu lagi!" Ledeknya.
"Nggak cemburu, dih."
Keduanya masih melangkah di koridor sekolah.
Aqqela bernyanyi-nyanyi pelan, walau entah kenapa kepalanya tertoleh ke arah Fattah, bersamaan dengan cowok itu menoleh padanya juga.
Keduanya berpandangan dan tersenyum singkat kompak tanpa sebab.
Lalu kompak memandang depan lagi, sementara genggaman tangan mereka tidak di lepaskan.
***