"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Fitnah 34
Ditolaknya Jelita dan Heri ketika meminta bantuan pendampingan hukum di berbagai kantor hukum, membuat mereka pasrah dan harus puas hanya dengan meminta bantuan dari Posbakum atau Pos Bantuan Hukum yang disediakan oleh pengadilan negri jika memang kasus mereka sampai ke pengadilan.
Tapi bukan hanya sekedar 'jika' karena surat panggilan dari pengadilan memang sudah datang ke kantor HTU.
Disaat Heri masih pusing dengan pengembalian dana kepada jamaah, sekarang dia harus menghadapi persidangan tanpa pengacara pribadi. Mau tidak mau dia dan Jelita menggunakan Posbakum tersebut dalam menghadapi persidangan.
Namun sebenarnya Heri sudah sangat pasrah atas hasilnya. Semua bukti yang dimiliki oleh Arundari pasti lebih dari cukup untuk membawanya ke sel tahanan.
Tok tok tok
"Masuk!"
Suara Heri sungguh sangat lemas nyaris tak ada tenaga. Dua orang masuk ke ruangannya. Heri mengenal betul siapa mereka. Itu adalah Roby dan Anis.
"Ada apa?" tanya Heri tanpa basa-basi.
"Ini pak,"jawab Roby. Pria itu mengulurkan sebuah amplop diikuti oleh Anis.
Heri mengerutkan keningnya, dia mengambil amplop itu lalu membuka isinya. Meski sudah mengira tentang apa isinya, tapi tetap saja dia merasa terkejut dengan tujuan dua karyawannya itu.
"Kalian mau resign?" tanya Heri memastikan.
"Iya Pak, maaf,"jawab Roby. Sedangkan Anis, dia hanya diam tanpa suara. Apa yang ingin disampaikannya sama dengan yang disampaikan oleh Roby, jadi ia tak perlu membuang tenaganya untuk ikut berbicara.
"Ya sudah kalau gitu. Aku hormati keputusan kalian,"jawab Heri. Ia tak bisa menahan Roby dan Anis, karena tak ada yang bisa ia berikan juga. Terlebih perusahaan ini juga diambang kejatuhan.
Roby dan Anis langsung meninggalkan ruangan. Sesampainya di depan pintu, Anis nampak sangat lega dengan menghembuskan nafasnya.
"Kayaknya kamu lega banget, Nis?" tanya Roby kepada rekannya itu.
"Ho oh, sumpah ya Rob, gue empet banget di sini. Sumpek pol kerja sama orang model Pak Heri ini. Apalagi lihat Jelita, uuugh pengen aku kruwes itu mukanya. Sok cantik dan wajahnya nggak ada ngerasa bersalah barang sedikit pun. Kek nggak punya dosa aja udah ngelakuin hal begitu. Masih heran aku sampai sekarang, kok ada wanita kayak dia yang pede banget pacaran sama laki orang. Bahkan sampe nikah juga. Sekarang kayaknya dia lagi ketakutan tuh karena mau masuk penjara. Cuma bisa bilang SUKURIN emang enak!" jawab Anis tajam.
Meski tidak diungkapkan, tapi Roby sependapat dengan Anis. Dia juga merasa kesal sekali dengan pasangan itu.
Roby sudah bekerja di HTU sejak HTU didirikan. Dia mengenal baik Arundari yang memang baik dan sangat menghargai karyawan. Dan jujur saja, Roby juga merasa kesal serta tidak ikhlas Arundari mendapat perlakuan seperti itu dari Heri dan Jelita.
"Ya sudah pergi yok, udah nggak ada alasan juga kita di sini,"ucap Roby.
Anis mengangguk setuju. Mereka pun berpamitan kepada rekan-rekan kerja mereka. Diantara semuanya, banyak juga yang ingin mengajukan resign sepeti Roby dan Anis, tapi ada juga yang ingin bertahan hingga akhir.
Itu semua adalah pilihan setiap individu yang tidak perlu dikomentari.
Persidangan yang semakin dekat membuat Jelita dan Heri merasa was-was tapi tidak dengan Arundari. Saat ini dirinya malah merasa heran melihat kedekatan Adyakasa dengan ibu nya. Meski sudah mendapat cerita bahwa Adyaksa adalah anak dan cucu dari kenalan keluarga Darsuki, tapi tetap saja Arundari merasa bingung karena ibunya begitu perhatian dengan pria tersebut.
Dan karena perhatian dari Lintang itu, saat ini Arundari tengah duduk canggung di ruangan Adyaksa.
"Jadi ini makanan buatan Ummi? Waaah makasih ya kamu jadi repot-repot nganterin ini sendiri ke sini, padahal kan bisa pake ojol," ucap Adyaksa dengan tersenyum lebar. Ada satu hal yang baru Arundari sadari bahwa pria itu memiliki lesung pipi di salah satu pipinya. Dimana akan terlihat jelas ketika dia tersenyum lebar.
"Kata Ummi kalau dibawa ojol takut berantakan. Maaf kalau jadi ganggu waktu Mas kerja,"jawab Arundari dengan sungkan.
"Nggak kok, ini pas banget jam makan siang. Kamu udah makan siang belum?Ayo makan bareng. Tapi aku sholat luhur dulu ya."
Adyaksa bangkit dari duduknya lalu dengan cepat menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ini sudah jam satu siang, ia harus segera menjalankan kewajibannya.
Sekitar lima belas menit berlalu, Adyaksa kembali dengan wajah yang tampak segar. Dengan kembali tersenyum, di duduk di depan Arundari.
Awalnya Arundari ingin menolak. Tapi entah mengapa ia tak bisa mengungkapkannya.
Terbesit sebuah gundah dalam hati dan pikirannya. Apa dia boleh duduk bersama pria ini sedangkan dirinya sekarang tengah berada dalam proses hukum terhadap mantan suaminya?
Meskipun secara agama dia sudah bercerai tapi secara hukum memang belum. Dan dimata hukum saat ini Arundari masih berstatus sebagai istri Heri.
"Mas maaf, sepertinya aku nggak bisa makan siang bersama. Aku takut ada fitnah yang muncul kepada Mas. Sekali lagi maaf ya Mas,"ucap Arundari sambil berdiri dan bersiap untuk keluar.
Arundari sedikit khawatir kalau apa yang diucapkannya akan menyinggung hati Adyaksa. Tapi reaksi Adyakasa yang tersenyum sontak membuat Arundari lega. Terlebih apa yang diucapkan oleh pria itu.
"Nggak apa, aku paham. Seharusnya aku nggak nahan kamu di sini. Kalau gitu hati-hati ya pulangnya. Salam buat Ummi dan Abah. Aku akan minta Beni buat antar kamu sampai bawah."
Tak berselang lama Beni datang, dan benar saja ia mengantarkan Arundari sampai ke tempat parkir.
"Bos, perintah sudah selesai dilaksanakan dengan lancar," lapor Beni setelah mobil Arundari melesat pergi.
"Bagus, lihat ke sekeliling pastikan nggak ada mulut yang bocor. Kalau ada yang macem-macem, langsung bungkam."
"SIAP!"
Adyaksa berkata demikian sambil menatap lurus dengan tajam. Dia tidak ingin ada celah barang sedikitpun terhadap Arundari. Terlebih ternyata keluarga mereka berhubungan baik dari kakek nenek mereka masih muda.
"Tenang aja, jalan mu akan lurus, Arun. Nggak akan ada yang berani buat nge-jegal kamu. Aku berani jamin itu."
TBC
Aku tunggu rencanamu Ady untuk ngerjain Jelita
jangan ngimpi bisa deketin Adyaksa, dia gak seperti si sampah Heri itu. kau emang cocoknya sama Heri 🤣