"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
"Akhirnya aku dapat rumah baru! Harganya juga lebih murah..." seru Nila bersuka cita, tak henti tersenyum menatap kuwitansi pembelian di tangannya.
"Sisa 50 juta, bisa buat simpenan."
"Untung ketemu Pak Herman, jadi aku bisa dapat rumah yang udah lengkap sama perabotannya."
Gadis itu memasukkan kertas tadi ke dalam tas lalu mengambil ponselnya. "Sekarang, aku tinggal nelfon Elang."
"Halo.." sapa Nila merendahkan suara,
"Iya, ada apa?" sahut suara pria di balik telfon,
Tak henti Nila tersenyum bahagia seakan tak sabar memberi kabar kepada suaminya. "Kamu ada dimana sekarang?"
"Aku ada di kos," jawabnya berdusta, mana mungkin dia mengatakan kalau dirinya ada di tempat yang sama dan mengawasi Nila dari kejauhan.
"Apa aku boleh kesana?" tanya Nila mengangkat alis, raut penuh harap menghiasi wajah.
"Boleh...tapi mau ngapain?" penasaran,
"Aku habis beli rumah buat kita, jadi aku mau ngajak kamu pindah kesana." lugasnya bersuka cita, begitu semangat membagikan berita tersebut.
"Rumah buat kita? Jadi dia membeli rumah untuk kami berdua?" batin Elang terkejut,
Tak pernah menyangka bahwa gadis itu sebegitu memikirkannya hingga rela menggunakan uang untuk menyediakan tempat tinggal.
"Halo?" seru Nila mencoba memanggil pria yang masih terdiam tak memberi sahutan.
"Aa...iya," sontak Elang tersadar dari lamunan,
"Oh, iya! Aku juga ketemu sama temenmu. Pak Herman, dia yang membantuku memilih rumah."
"Kamu punya teman yang baik, dia juga memberi diskon!" celoteh Nila bersemangat.
"Kalau begitu, share lok ya?! Aku jemput sekarang," pintanya bergegas menutup panggilan,
Gadis itu masih terlihat riang sambil menatap layar ponsel, membanggakan diri karena telah berbuat sesuatu untuk suaminya tadi.
"Ga sabar mau lihat reaksinya."
Sedangkan di sisi lain,
Terlihat Herman melangkah menghampiri pria yang telah lama dia cari. Karena sebelum ini Elang harus menghilang menyembunyikan diri agar tak berpapasan dengan Nila,
"Tuan," panggilnya,
"??" Elang sekilas menoleh sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku,
"Sudah selesai?" bertanya singkat,
"Sudah, saya sudah melaksanakan sesuai perintah anda." Herman mengangguk sambil tersenyum puas,
"Saya sudah memecat karyawan tadi, dan memastikan 2 pelanggan itu di blacklist dari semua bisnis DaungGroup."
"Saya juga bantu membelikan nyonya rumah bagus," tambahnya membanggakan diri, berharap akan mendapat pujian atas kerja kerasnya.
"Membelikan? Kalau gitu, bayarannya akan kupotong dari gajimu ya.." sahut Elang menyeringai,
"Tidak--tidak! Saya salah bicara. Tuan lah yang membelikan rumah untuk Nyonya," spontan melambaikan tangan dengan wajah panik.
Lagian enak saja mengaku dan bersikap seperti pahlawan, padahal semua keuangan berasal dari dana pribadi Elang.
"Huft, hampir saja potong gaji."
Pria itu mendengus, sengaja memberi ancaman agar Herman menyadari statusnya. Di sisi lain Elang hanya ingin menjaga harga dirinya sebagai pria,
"Jadi dia kesini untuk membelikanku rumah?"
"Seorang jutawan sepertiku, dibelikan rumah? Yang benar saja," bergumam remeh,
Elang menoleh ke arah lain, bersiap memberikan tugas pada asistennya tadi. Karena terlanjur bersandiwara, mau tidak mau dia harus menyiapkan tempat yang tepat agar Nila percaya.
30 menit kemudian,
"Jadi selama ini dia tinggal disini?" batin Nila mengamati sekeliling.
Ruang sepetak yang terasa sempit dengan perabotan tak seberapa, bahkan hanya tersedia kasur tipis di atas lantai.
Entah kenapa melihat seorang pria kaya sepertinya harus tinggal di tempat kecil, membuat Nila merasa prihatin.
Padahal keluarga Wijaya tinggal di istana megah, tapi Elang justru tidur di kamar yang bahkan lebih sempit dari kamar Nila.
"Hey, aku juga punya kipas seperti ini di rumah." celetuk Nila menunjuk kipas angin yang menempel pada dinding.
Pandangannya teralih pada foto yang menghias kamar, terdapat seorang anak kecil dan juga foto keluarga yang terlihat usang.
"Apa ini kamu?" bertanya tanpa menoleh, memunggungi pria yang duduk di sebuah kursi di belakangnya.
"Iya, itu foto lama." jawab Elang santai,
Untung saja asistennya berhasil mengatur semua hal dengan cepat. Mengatur seakan kos itu sudah lama dihuni,
Nila menoleh dengan wajah ragu, begitu banyak rasa penasaran di hatinya namun tak mungkin dia ungkapkan. "Dulu, kalian tinggal dimana?"
"Hng? Aku tinggal di rumah besar yang kemarin kita kunjungi," mengangkat alis, tak menyangka gadis itu akan menanyakan hal tersebut.
"Semua Keluarga Wijaya tinggal di sana. Cuma beda halaman saja," tambahnya menjelaskan,
"Oh, terus kenapa kamu tidak tinggal di sana saja?" lanjut Nila dengan polos, sedetik kemudian merasa bersalah karena melihat mulut Elang yang tertutup rapat.
"Sepertinya dia ga mau membahasnya."
"Ng, kalau gitu aku langsung beres-beres saja." ujar Nila mengalihkan pembicaraan, segera berbalik.
Mulai mengemasi beberapa barang milik Elang yang ada, "Cuma ini aja?"
"Iya, aku baru seminggu di sini. Jadi hanya itu yang ada," mengangguk singkat,
"Kakau gitu, ayo! Kita berangkat ke rumah baru," ajak Nila bersemangat meraih tubuh pria yang masih duduk, membantunya berdiri sebelum meraih tas yang telah dibereskan.
"Tidak kusangka, aku menikah dengan brondong." batin Nila menangisi diri sendiri,
Sebelum ini dia juga mengemas barang dan segala berkas yang diperlukan untuk di bawa ke rumah baru.
Nila pun tanpa sadar melihat kembali buku nikahnya, lalu mengetahui usia Elang yang jauh 5 tahun lebih muda.
Entah mengapa dia merasa bersalah seperti kriminal yang mengincar para bocah di bawah umur.
Sepanjang perjalanan Nila terus memikirkan hal itu, sempat membuat Elang terheran karena sikapnya yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kenapa kamu mengajakku?" celetuk Elang bertanya pada gadis yang duduk di kursi samping.
"Hng? Aku kan sudah bilang, kalau rumah ini milik kita berdua." jawab Nila bersungguh-sungguh, berhasil mengembalikan mentalnya yang sempat terguncang.
"Padahal aku tidak masalah tinggal sendiri di kosan," merendahkan suara,
Elang hanya ingin memuaskan rasa penasarannya dengan berbasa basi. Mengapa gadis itu bersikap baik kepadanya?
"Kita kan suami istri, sudah seharusnya tinggal serumah." sahut Nila menoleh,
"Tapi kan hanya selama satu tahun," ungkap Elang memberi kenyataan yang tidak bisa mereka lupakan.
Kalau dipikir bukankah lebih baik mereka tetap menjaga jarak dan bertemu di saat penting saja? Lagipula hubungan itu hanyalah perjanjian di atas kertas dan akan berakhir dalam waktu singkat,
Dari awal tujuan Elang menikahi Nila hanya untuk mengganggu keluarga pamannya, juga sebagai pengalihan agar mereka tidak curiga dengan rencana Elang yang tengah menyelidiki tentang kecelakaan 10 tahun lalu.
"Biar saja, berapapun lamanya itu tidak penting. Yang jelas sekarang kamu adalah suamiku," tegas Nila penuh tulus, berhasil membuat Elang terpukau oleh senyumannya.
"Dasar gadis bodoh," cibirnya lirih, bergegas mengalihkan muka.
"Kamu bilang sesuatu?" Nila mendekat tak mendengar jelas ucapan Elang. Rautnya begitu penasaran mengamati pria yang menghindari tatapan matanya.
Tanpa sengaja perhatian Nila tertuju pada kacamata hitam yang Elang pakai. Kira-kira seperti apa penampilannya tanpa kacamata itu,
"Bibirnya warna pink," bergumam dalam hati.
"Berhenti menatapku," pinta Elang dengan nada ketus, menyadari sorot mata yang tak henti memandangnya.
"Dih, dasar pelit." ejek Nila menekuk bibir, kembali bersandar pada kursi mobil.
"Bukannya kamu dulu bilang tidak mau menikah dengan pria sepertiku?" Mengingatkan Nila pada percakapan pertama mereka,
"Aku ga berniat merendahkanmu. Aku cuma ga mau keseret masalah," menundukkan kepala,
"Apalagi aku cuma pelayan katering yang ga sengaja ngaku jadi calon istrimu." merendahkan suara,
"Lalu apa yang membuatmu berubah pikiran?" bertanya dengan nada datar,
"Aku membutuhkan uang untuk pengobatan ayahku."
"..." Elang melirik sekilas, tak menyangka kalau alasan yang membuat gadis itu setuju adalah keluarganya.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" menunjukkan simpati,
"Sakitnya sudah parah. Dokter ga bisa menyelamatkannya," ucap Nila semakin lirih,
Pembicaraan itu sengaja terhenti seakan tak ada lagi yang ingin membahas. Suasana dalam taksi juga menjadi hening, mereka sibuk dengan pandangan masing-masing.
Elang menatap jalanan yang terlihat dari kaca mobil, perlahan sampai setelah melewati aspal.
"Jadi disini tempat tinggalku yang baru?"