NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Syukur

Dua sudut bibir tuan putri membentuk senyuman tipis. Chen Li mencurigai sesuatu. Walaupun dia melihatnya seperti seorang tuan putri yang elegan, anggun dan seperti peri, dia ingat jika tuan putri tetap keluarga kekaisaran.

Pelayan yang ada di sampingnya berjalan menjauh dan tidak ingin melihat hal seperti ini. Dia sepertinya bertanya-tanya mengapa tuan putri bisa melakukan hal seperti ini.

Tuan putri mengambil satu kue dan memperhatikannya. Dia lalu menatap Chen Li, “Apa kamu tidak akan merasa jijik memakan bekas bibir orang lain? Aku ingat tentang seseorang berkata, orang miskin yang menerima belas kasihan bangsawan sepertiku tidak jauh berbeda dengan penjilat. Apa kamu mau menjadi anjingku?”

Chen Li mendengus. “Pada akhirnya aku melakukan ini demi hidup. Sejarah sering mencatat orang yang bertahan hidup meskipun itu terhina. Yang mulia, aku rasa menjadi anjing sesekali juga tidak apa-apa.”

Tuan putri menggigit setengahnya lalu mengulurkannya.

Chen Li menatap bekas gigitan itu beberapa saat.

Tuan putri berkata, “Kenapa kamu terdiam? Apa kamu merasa jijik makan bekas gigitanku? Aku dengar orang miskin selalu mengutuk para bangsawan yang berjalan di punggung mereka.”

“Tapi aku harus makan demi bertahan hidup.”

Chen Li membuka mulutnya dan mengunyahnya.

Tuan putri memperhatikannya beberapa saat. Dia termenung lalu mendongak menatap langit berbintang dan kubah malam. Menghela nafas dia berkata, “Kamu tahu, menjadi tuan putri itu tidak berbeda dengan sebilah pedang.”

“Aku mengerti dan aku benci keluarga kekaisaran yang merenggut wanita yang aku sukai. Dan karena ada bangsawan juga aku jadi berpikir aku merasa tidak layak menikahi wanita yang aku sukai. Tuan putri tolong cepat, kuenya manis.”

Tuan putri mengulurkannya lagi setelah mencobanya. Chen Li makan dengan Lahap.

“Sepertinya kamu tidak pernah makan kue. Apa kamu suka cerita? Aku punya cerita untukmu malam ini.”

“Ah, Kenapa anda lembut sekali. Tuan putri, ingatlah aku bukan orang baik.”

“Aku tahu,” katanya. “Bagaimana? Apa kamu ingin mendengar cerita?”

“Kenapa anda ingin bercerita?”

“Aku hanya merasa bisa menemukan kejujuran ketika melihat ekspresi orang ketika mendengar cerita.”

“Jadi anda ingin mencari sesuatu dari wajahku? Sayang sekali aku tidak tertarik.”

“Bodoh. Tentu saja jika aku berniat melakukannya aku tidak akan mengungkapkanya padamu. Dan lagipula sebenarnya orang yang ingin aku tangkap gadis yang menulis puisi ini, bukan dirimu yang tidak aku kenal. Kenapa kamu harus berkorban demi gadis itu? Apa dia kekasihmu? Cinta yang harus berkorban?”

Chen Li menghela nafas. “Ok, yang mulia, kamu banyak bicara. Cepat beri aku makan lagi dan aku akan mendengar cerita anda.”

Tuan putri menyuapi Chen Li lagi. Dia lalu menatap kusirnya yang sedang tertidur dan pelayannya yang sibuk memandang pedang di tangannya.

“Ini kisah seorang wanita.” Tuan putri mengunyah lalu memberi Chen Li.

“Aku kurang tertarik.”

“Bagaimana jika seorang gadis yang akhirnya mendapatkan kesempatan menjadi immortal dan berguru dengan seseorang, lalu akhirnya merebut kesuciannya sebagai imbalan atas pengajaran guru itu. Menurutmu bagaimana kehidupan gadis itu setelah kesuciannya di rebut paksa?”

“Ya tentu saja akan bersedih tapi itu adalah hal yang harus dia lakukan untuk membayar. Gurunya terlalu licik dan bukan orang baik. Bagiku gadis itu hanya bodoh.”

“Tentu saja bersedih. Dia bahkan merasa tidak pantas mencintai seseorang dan fokus berkultivasi. Ketika ada laki-laki yang mendekat dia merasa tidak pantas dan akhirinya menjauh. Menurutmu apa dia akhirnya bisa mencitai seseorang?”

Tuan putri mengulurkan kuenya dan Chen Li memakannya.

“Sepertinya begitu.”

“Mungkin begitu,” kata tuan putri lalu makan dan membaginya pada Chen Li.

Mereka makan beberapa saat lagi dan ketika habis tuan putri pamit lalu masuk ke dalam keretanya. Chen Li hanya memandangnya dan berpikir putri ini sedikit aneh. Gadis itu langsung membuka buku, membacanya sejenak lalu tertidur. Pelayan yang melihatnya segera menyelimutinya dengan selimut dan melihat ekspresi damai tuan putri. Pelayan itu merasa nyaman lalu turun. Melihat Chen Li dia mendekatinya lalu memperingati, “Jangan bermain-main dengan tuan putri.”

“Aku tidak bermain-main. Putri kalian saja yang ingin bermain denganku. Sepertinya tuan putri kalian sedikit gila karena memberi makan pada tahanannya.”

“Tuan putri memang seperti itu. Namun jangan harap yang mulia akan gegabah. Dia hanya mengungkapkan sikap seperti itu karena ingin menghibur diri.”

“Menghibur diri? Itu aneh.”

Pelayan itu segera berbalik dan mengabaikan Chen Li yang bertanya meminta selimut. Dia berteriak tapi pelayan itu mengabaikannya.

Malam itu rombongan tuan putri berdiam di atas bukit. Chen Li hanya mendengar beberapa kali raungan hewan buas dari hutan dan tidak ada yang mendekat.

Pagi-pagi sekali, Pelayannya pergi mencari buah-buahan dan memberi pada tuan Putri dan Chen Li. Kemudian mereka lanjut berjalan melintasi hutan.

Di tengah hari, mereka bertemu dengan kelompok perampok kecil yang menampilkan seringai lebar. Namun pelayan hanya sedikit menggerakkan tangannya untuk memunculkan sebilah pedang melayang yang bergerak zig-zag untuk menghancurkan seluruh jantung mereka dan memaksa memuncratkan darah lalu membunuh secepat kilat.

Kejadian itu sangat cepat sehingga mengakibatkan kelompok kejahatan kecil dengan anggota lima orang itu kebingungan dan sebelum lari menyelam diri dan tahu lawannya, tubuh mereka sudah terjatuh dan bersimbah darah.

Chen Li mengagumi kemampuan bertarung pelayan itu, yang kini diam sebentar di samping kusir lalu kembali ke sisi tuan putri.

Tuan putri hanya sibuk membaca. Dia mengabaikan darah yang mengalir di tanah ketika melewati kelompok bandit yang malang itu.

Kemudian perjalanan mereka terus berlangsung.

Di sore hari, ada dua serigala yang muncul. Kali ini tuan kusir sedikit mendengus dan mengeluarkan auranya, sehingga membuat dua lutut serigala itu ketakutan. Lalu suara mereka yang menggelegar sebelumnya kini di penuh ketakutan dan berlari terbirit-birit. Dua serigala itu berhasil lari namun mereka tentu belajar cara memilih mangsa selanjutnya.

Pada malam hari akhirnya mereka tiba di sebuah desa tradisional yang bangunannya dipenuhi kayu-kayu. Ini adalah desa yang pernah di lewati tuan putri. Namun bendanya di sepanjang jalan ada lampion-lampion merah yang di pasang dan para penduduknya berpakaian rapi.

Para penjual di sisi-sisi jalan sangat antusias menawarkan barang-barang mereka.

Rombongan tuan putri menikmati sebentar suasana itu, dan dari pembicaraan para penduduk, malam itu ada ritual ucapan syukur pada dewa sungai atas panen melimpah mereka. Tuan putri tertarik dan memerintahkan untuk mendekati sungai yang terakhir kali dia kunjungi.

Sementara melihat kelompok tuan putri yang datang dan membawa tawanan, beberapa orang memperhatikannya dan menduga pemuda yang di bawanya merupakan penjahat dan memandang hina.

Chen Li hanya bisa menghela nafas dan berusaha mengabaikannya.

Kereta itu terus berjalan beberapa saat dan akhirnya mencapai bibir sungai yang di mana para penduduk yang memakai pakaian indah sudah memenuhi bibir sungai sembari menampilkan kegembiraan. Suara mereka ricuh membicarakan ritual yang akan berlangsung ini.

Tuan putri turun dan menyaksikan ini dengan tenang.

Sementara itu di luar desa, seseorang gadis memakai gaun merah muda tersenyum. Kedua tangannya ada di depan dadanya dan pandanganya jauh melesat ke depan kemudian mendengus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!